NASKAH DRAMA DARI CERPEN SIBOA (BUAH LONTAR) ASAL ROTE NDAO

NASKAH DRAMA DARI CERPEN SIBOA (BUAH LONTAR) ASAL ROTE NDAO

Asifyon Batuk
Karya Asifyon Batuk Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Januari 2018
NASKAH DRAMA DARI CERPEN SIBOA (BUAH LONTAR) ASAL ROTE NDAO

SIBOA (BUAH LONTAR)

(Ada dua orang bersaudara yang bersaudara, bernama To’o Edu dan Te’o Susana, mereka hanya tinggal berdua, mereka tinggal di Rote Landu Leko Desa Daiama Dusun Bakaroulean. Dusun  Bakaroulean berada di pesisir pantai, dan mata pencaharian masyarakat di dusun Bakaroulean adalah nelayan dan mencari hasil laut, Tiap hari To’o edu dan Te’o Susana mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan mereka. Didalam usaha melaut, mereka mendapatkan banyak hasil. Mereka ke laut mecari ikan,siput dan sayur laut. Pada suatu hari mereka berdua pergi mencari nafkah dilaut dan di pagi itu To’o edu masih tertidur pulas.)

Te’o Susana    : Edu foa leo te ledo a ti mai so,foa leo fo ita dua kata leo tasi teu leo.

To’o Edu         :Ado na sono ela au safe mata ka dei, tehu o dode ubea so ela ita ta de fo de la’o.

Te’o Susana    : Au nasu pela de taon nai mei lain ria de mu fo mua leo te au ua basa so.

(Setelah To’o Edu selesai makan merekapun langnsung pergi ke laut, sesampai di laut mereka tidak hanya mendapatkan ikan, siput dan sayur laut namun mereka juga menemukan dua buah siboa yang ada di dalam laut.)

To’o Edu         :  Buah apa ni Te’o, ko selama ini beta belum pernah liat buah seperti ini.

Te’o Susana    : coba mana beta liat, awi na Beta ju belum pernah melihat buah seperti ini.

To’o Edu         : klau begitu na biar beta buang sa, ko kotong ju snde tau ini buah apa ni na

Te’o Susana     : ho na buang jau jau su.

(Walaupun siboa sudah di buang jauh-jauh namun baunya sangat harum dan tajam. Oleh karena itu, buah siboa di pilih kembali.)

To’o Edu         : ehh tunggu do ini buah pung bau talau tajam e, beta ke sonde rela mau kasi tinggal ni.

Te”o Susana    : iya kalau begitu na pi pilih kembali su

(Setelah dipilih kembali buah siboa itu, To’o Edu dan Te’o Susana langsung pulang ke rumah mereka, sesampai di rumah to”o edu sudah tak sabar untuk mencoba memakan buah siboa tersebut.)

To’o Edu         : Te’o ada liat b pung parang ko,?

Te’o Susana     : ko mau potong apa

To’o Edu         : beta mau potong ini buah ni.

Te’o Susana     : oh na tadi beta ada liat parang di dapur, ada tasandar di dinding situ

To’o Edu         : iya makasi Te”o

To’o Edu         : awi Te’o. ini b uah pung isi ni talalu enak mamati, coba Te’o tes makan dolo

Te’o Susana    : coba mana ko beta tes, awi memang talau enak e. To’o simpan ini buah pung biji e ko su musim hujan na kotong tanam.

 

 (Waktu pun berlalu dan musim hujan pun tiba, lalu Te’o Susana mengambil biji buah siboa yang telah disimpan oleh To’o Edu untuk ditanam.)

Te’o Susana     : Edu u ada simpan itu biji siboa dimana ko beta mau tanam ni.

To’o Edu         : Owhh iya beta ada simpan di atas loteng, tunggu ko beta pi ambil.

Te’o Susana     : iya To’o

To’o Edu         : beta su bawa ini biji ni Te’o, ini sudah ko Te’o tanam

(Mereka menanamnya dengan maksud agar dapat diketahui juga oleh orang lain bahwa buahnya dapat dimakan. Setiap hari mereka memeriksanya karena takut dicuri orang. Biji yang ditanam itu mulai tumbuh dan berkembang. Tak lama kemudian matilah To’o Edu . dan yang tinggal hanyalah saudara perempuannya yaitu Te’o Susana. Walaupun  saudara laki-lakinya sudah meninggal tiap hari setelah pulang dari laut Te’o Susana pergi melihat tanamannya.)

(Waktu semakin berjalan pohon itu pun semakin berkembang dan sudah besar dan Te’o Susana pun sudah tua, setelah mayang pohon itu mengeluarkan air dan menetes ke bawah lalu dan anjing menjilat batang pohon tersebut karna rasanya manis dan juga banyak lebah yang mengelimuti mayang pohon itu, Te’o Susana pun heran dan ia mulai berpikir untuk bagaimana caranya agar bias mendapatkan air yang menetes itu, Te’o Susana pun bertanya pada tetangganya.)

Te’o Susana    : Susi kira-kira kotong harus bekin karmana ee supaya bisa dapat itu air nira yang ada malele tu.

Tetangga perempuan : Beta ju sonde tau mau bekin cara karmana ni, tapi ini pohon tuak (lontar) talalu tinngi ko ni Te’o ini hanya laki-laki sa yang bisa naik.

Tetangga laki-laki : Owhh kalau begitu tunggu ko beta nae pi atas ko b maloi coba.

(Ketika tetangga laki-laki naik ke atas pohon lontar dan ia melihat mayang pohon lontar itu lalu timbul sebuah ide. Tetangga laki-laki pun segera turun dari atas pohon lontar.)

Tetangga laki-laki : beta su tau dia pu cara Te’o, kotong harus ame kayu pelat dua yang dia pu panjang tu harus sama, supaya pake jepit ini pohon lontar pung mayang, ais itu kotong harus bekin satu tempat penampung ko pake tada ini pohon pung air.

Te’o Susana     : owh kalau begitu na bu tolong bekin ame dolo.

Tetangga laki-laki : iya Te’o.

(Dengan adanya pohon lontar maka Te’o Susana dan tetangganya tidak hanya pergi ke laut untuk mencari hasil laut saja tapi mereka juga mengambil air nira untuk diminum karena air nira yang rasanya sangat manis dan enak.)

  • view 46