cerpen asal daerah kabupaten rote ndao

Asifyon Batuk
Karya Asifyon Batuk Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 Januari 2018
cerpen asal daerah kabupaten rote ndao

SIBOA (BUAH LONTAR)

Ada dua orang yang bersaudara, bernama To’o Edu dan Te’o Susana, mereka hanya tinggal berdua, mereka tinggal di Rote Landu Leko Desa Daiama Dusun Bakaroulean. Dusun  Bakaroulean berada di pesisir pantai, dan mata pencaharian masyarakat di dusun Bakaroulean adalah nelayan dan mencari hasil laut, Tiap hari To’o edu dan Te’o Susana mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan mereka. Didalam usaha melaut, mereka mendapatkan banyak hasil. Mereka ke laut mecari ikan,siput dan sayur laut. Pada suatu hari mereka berdua pergi mencari nafkah dilaut dan di pagi itu To’o edu masih tertidur pulas.

 “Edu foa leo te ledo a ti mai so,foa leo fo ita dua kata leo tasi teu leo.” Te’o Susana berusaha membangunkan Te’o Edu karena  matahari sudah tinggi dan mereka harus ke laut. Dengan keadaan badan yang masih lesu dan mengantuk To’o Edu langsung terbangun dari tidurnya.

“Ado na sono ela au safe mata ka dei, tehu o dode ubea so ela ita ta de fo de la’o,” To’o Edu terbangun lalu berangkat mencuci muka sembari bertanya apa yang dimasak Te’o Susan untuk sarapan.

“Au nasu pela de taon nai mei lain ria de mu fo mua leo te au ua basa so,” Te’o Susana yang telah memasak jagung dan memberi tahu To’o Edu untuk sarapan.

Setelah To’o Edu selesai makan merekapun langnsung pergi ke laut, sesampai di laut mereka mendapatkan ikan,suput dan juga sayur laut. Tapi mereka tidak hanya mendapatkan ikan, siput dan sayur laut namun mereka juga menemukan dua buah siboa yang ada di dalam laut. To’o Edu yang menemukan siboa itu, To’o Edu pun sempat heran dan bertanya pada Te’o Susana.

 

 “Buah apa ni Te’o, ko selama ini beta belum pernah liat buah seperti ini.”

“Beta ju belum pernah melihat buah seperti ini.”

Dengan wajah yang kelihatan bingung Te’o Susana menjawab pertanyaan dari To’o Edu. Buah lontar itu berwarna hitam dan berbau tajam. Kemudian To’o Edu membuang buah itu. Walaupun siboa sudah di buang jauh-jauh namun baunya sangat harum dan tajam. Oleh karena itu, buah siboa di pilih kembali. To’o Edu dan Te’o Susana saling bertanya, juga bertanya pada tetangga yang lainnya tentang buah yang warnanya hitam ini.

To’o Edu mencoba memotong buah tersebut dan memakan isinya dan ternyata terasa enak sekali, Te’o Susana pun ingin mencoba buah tersebut dan rasanya enak sekali, lalu Te’o Susana menyuruh To’o Edu untuk menyimpan bijinya untuk ditanam.waktu pun berlalu dan musim hujan pun tiba, lalu Te’o Susana mengambil biji buah siboa yang telah disimpan oleh To’o Edu untuk ditanam.

“Edu u ada simpan itu biji siboa dimana ko beta mau tanam ni.”

“Owhh iya beta ada simpan di atas loteng, tunggu ko beta pi ambil.”

Mereka menanamnya dengan maksud agar dapat diketahui juga oleh orang lain bahwa buahnya dapat dimakan. Setiap hari mereka memeriksanya karena takut dicuri orang. Biji yang ditanam itu mulai tumbuh dan berkembang. Tak lama kemudian matilah To’o Edu . dan yang tinggal hanyalah saudara perempuannya yaitu Te’o Susana. Walaupun  saudara laki-lakinya sudah meninggal tiap hari setelah pulang dari laut Te’o Susana pergi melihat tanamannya.

Waktu semakin berjalan pohon itu pun semakin berkembang dan sudah besar dan Te’o Susana pung sudah tua, setelah mayang pohon itu mengeluarkan air dan menetes ke bawah lalu dan anjing menjilat batang pohon tersebut karna rasanya manis dan juga banyak lebah yang mengelimuti mayang pohon itu, Te’o Susana pun heran dan ia mulai berpikir untuk bagaimana caranya agar bias mendapatkan air yang menetes itu, Te’o Susana pun bertanya pada tetangganya bagaimana caranya agar bisa mendapatkan air itu.

“Susi kira-kira kotong harus bekin karmana ee supaya bisa dapat itu air nira yang ada malele tu.”

Tetangga perempua yang kelihatan bingung dan memasang muka yang berkerut.

“Beta ju sonde tau mau bekin cara karmana ni, tapi ini pohon tuak(lontar) talalu tinngi ko ni Te’o ini hanya laki-laki sa yang bisa naik.”

Kemudia ada seorang tetangga laki-laki yang kebetulan juga berada disitu dan dia langsung menyambung pembicaraan dari tetangga perempuan.

“Owhh kalau begitu tunggu ko beta nae pi atas ko b maloi coba.”

Ketika tetangga laki-laki naik ke atas pohon lontar dan ia melihat mayang pohon lontar itu lalu timbul sebuah ide yaitu mengambil dua potong kayu yang pelat dan ukurannya sama dan sama-sama panjang, dan panjangnya sekitar satu meter, yang fungsinya untuk menjepit mayang pohon itu agar airnya bisa keluar lebih banyak lagi.

Lalu mereka membuat tempat penampungan air nira yang dibuat dari daun lontar dan orang Rote menyebutnya haik, dan mereka pun membuat haik dalam berbagai ukuran, ada yang besar dan ada juga yang kecil, yang besar untuk mengumpulkan air nira dan yang kecil digunakan untuk meminum air nira. Mereka juga membuat sebuah wadah yang fungsinya untuk membungkus batang mayang pohon lontar, dan untuk menutupi air nira dari lebah, karena lebah sangat suka dengan air nira yang rasanya sangat manis.

Dengan adanya pohon lontar maka Te’o Susana dan tetangganya tidak hanya pergi ke laut untuk mencari hasil laut saja tapi mereka juga mengambil air nira untuk diminuman karena air nira yang rasanya sangat manis dan enak.

  • view 68