VOLTA SANG PEMBANGUN PERADABAN

Muhammad Sopian
Karya Muhammad Sopian Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Februari 2016
VOLTA SANG PEMBANGUN PERADABAN

?? Aku sejak tadi hanya sibuk mendengarkan suara menggerutu lambung perutku, aku seperti kehabisan akal untuk bisa menutupi yang sebenarnya aku inginkan. Bulan yang meruncing seolah mengancam aku dengan perkataan yang sadis.

?Kau yakin sanggup bertahan? Berikan seisi lambungmu, biar ku cabik-cabik dengan runcing sabitku.?

Aku yang menantang bungas, seolah tak mau walau sejengkal mengalah apalagi menyerah.

??Kau hanya bulan bodoh yang mati dan berhayal atas imajinasiku. Lebih baik kau diam.?

?

?? Menelusuri sudut-sudut gelap Kota mati ini bak mencari sepotong roti di dalam tumpukan gandum busuk, aku seolah menemukan sesuatu, padahal sebenarnya hanya bau-bauan tak sedap yang siapapun tak mau menciumnya. Aku semakin menggerutu menahan sisa-sisa energi yang menopang tubuhku, aku kehabisan rasa, aku kehilangan pengetahuan akan kegunaan otakku, imajinasiku buntu, aku nyaris tak menemukan satu jalan keluar yang bisa ku perbuat. Di sisa-sisa pandanganku menghadap tembok berwarna gelap yang di bias cahaya bulan sabit. Di sisa-sisa nafas terakhirku, aku mendengar suara isak. Suara itu menyadarkanku akan satu hal. Aku harus kuat, aku tak boleh roboh dalam ronde ini, aku masih punya satu cara. Aku harus mencoba melakukan cara ini, aku yakin, semakin aku mendengar isak itu semakin keras, aku akan semakin bisa menjalankan cara yang ada di kepala ini. Ya, aku harus membakar sesuatu. Tapi dengan apa? Entahlah, aku harus menggedor sumber isak itu berada sepertinya, menemukan alat yang bisa kugunakan untuk membakar sesuatu.

?Korek, apa kau punya korek?? Tanyaku pada wanita yang memeluk erat bantal guling dan duduk diatas sofa kumal, sambil berisak.

?

?? Entahlah, aku berani saja. Tak tau pasti dari mana keberanian dan kemampuan ini datang merasuk. Padahal jelas sekali, wanita itu hanya terisak. Harusnya aku tak menanyakan perihal korek api. Harusnya aku mendiamkan isak yang mengekangnya.

?Apa yang kau inginkan dari sisa-sisa manusia tak berdaya ini? Sudahlah, kau tanyakan Korek? Aku tak pernah suka korek api sejak kejadian lima bulan lalu. Kebungasan lalapan api membuat kota ini mati. Asteroid yang ganas telah meluluh lantakkan bangunan-bangunan kota ini.?

?

?? Wanita itu seperti mengenang sesuatu, sekilas tampak sekali ia membenci. Membenci api. Kelahapannya membakar apa yang ada, kebungasannya menghanguskan seisi yang diselimutinya.

?Aku sudah sekian lama mengidamkan rona merah yang menyala di ujung seperdua malam hari. Hanya itu saja yang aku inginkan. Tidakkah kau menginginkan hal sama?? Aku putuskan untuk lebih meminta pada wanita itu.

?

?Aku tak berminat sedikitpun.? Jawabnya.

?Apakah semua tentang kota ini? Aku bertanya.

Suara nyit di ujung pintu masih terngiang di telinga. Pintu ini seperti tak pernah terbuka untuk beberapa lama. Ketakutan yang amat dalam.

Ia melepaskan guling yang di peluknya. Ia bangkit dengan kepayahan.

?Hari itu aku bersandar nyaman di pundak suamiku. Menikmati dan meresapi kesetiaan cinta. Hanyut dalam balutan kebersamaan. Cahaya bulan sabit yang mungil kala itu seolah membisiki telinga kami. Cinta kami akan abadi, katanya.? Wanita itu memulai ceritanya. ?Cinta kami akan abadi, hidup kami akan bersama selamanya. Itulah isyarat cinta yang terngiang hingga detik ini.?

?

?Suamiku pernah berkata, seandainya ia lebih dulu pergi jauh ke tempat yang berbeda. Maka jangan tangisi kehilangan, simpan saja isak itu untuk kelak di pertemuan yang abadi.? Tidak mudah menghilangkan kesedihan ini. Aku semakin hari semakin terpuruk meratapi sisa-sisa hidupku. Kota ini telah mati. Kenangan menyesakkan tak akan hilang walau kehidupan kembali membalut kota ini. Semua manusia yang ada di kota ini lebih memilih membuang jauh kenangan yang tersisa. Mereka meninggalkan kota ini, mereka lebih memilih pergi jauh menata kehidupan yang baru, memulai semuanya. Memori yang kosong.

Wanita itu menangis, isak perlahannya terdengar. Aku masih berdiri dari jarak yang tidak terlalu dekat dengannya. Otakku yang berpikir tentang korek api perlahan mulai melupakan.

?Aku, dengan kelemahanku ini, tak pernah bisa melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan. Cintaku amat besar, kesetiaanku membuatku hingga detik ini masih bertahan.? Wanita itu melanjutkan.

?

?Sudahlah.? Aku membaiki posisi berdiriku. Mulai mendekatinya dan duduk di dekatnya.

?Kehidupan akan terus berjalan, tidak peduli seberapa sakit yang kau derita, tidak pernah akan peduli seberapa kau dilema. Kehidupan akan terus berjalan, meninggalkan segala yang pernah terjadi, menyisakannya jadi memori yang terkenang. Namun ketahuilah, tidak semua kenangan menyenangkan akan terus abadi dalam ingatan. Pun, sama halnya tidak semua kenangan membosankan dan menyesakkan akan terus bertahan dalam ingatan. Seiring dengan kehidupan yang kau lanjutkan, kau akan bertemu dengan banyak hal baru. Itu semua yang kemudian menggantikan sisa-sisa kenangan yang menyesakkan dihatimu. Kau dihadirkan dengan hal yang serupa, tapi sejatinya itu bukan untuk membuatmu terkenang.? Aku membaikkan dudukku.

?

?Bagiku, apa yang kau temui saat ini hanyalah tak disengaja. Masa lalu, kenangan buruk tentang kekasihmu. Masa-masa indah yang hangus terbakar bersama ganasnya api cukuplah kau letakkan di sudut hati terdalammu. Berikan ruang spesial untuknya, biarkan dia dengan seluruh kenangannya. Hidup akan terus berlanjut, jika ternyata kau dikalahkan oleh nafsumu, egomu dan inginmu. Maka, semakin hari keterpurukanmu akan semakin menggila. Kau tak di lahirkan untuk menangis dan mengenang bukan? Sudahlah. Rindumu, inginmu, rasamu biarlah tertinggal di belakang. Kau lebih pantas bahagia, lakukan apapun yang bisa membuatmu bahagia. Karena semakin kau mencoba melupkan kenangan itu, maka iapun akan semakin dalam menghujam hatimu, menikam dan mengoyak-ngoyakan semua yang terbungkus rapi sebelumnya. Aku yakin kau bisa menerima. Sudahi dilema ini.?

?

?? Waktu menujukkan pukul 11:38, awan-awan tipis menyelimuti cahaya sabit dari satelit planet ini. Kegelapan semakin mencekam. Hening hingar bingar manusia. Tak ada transportasi yang berlalu lalang. Kota ini nyaris tak berpenghuni setelah peristiwa mengganaskan itu terjadi di lima bulan yang lalu. Sebuah asteroid jatuh di pusat kota. Nanar panasnya membakar gedung-gedung yang berjejer rapi, beberapa menit setelah asteroid pertama mendarat di pusat kota. Saat kepanikan manusia tak terbendung, bangunan-bangunan memerah panas. Di titik yang lain, sebuah asteroid dengan ukuran yang lebih besar mendarat dahsyat, meluluhlantakkan aspal jalanan dan bangunan-bangunan tinggi kota. Orang-orang semakin panik, petugas keamanan kota ikut kebakaran jenggot. Pemadam kebakaran yang banyak sekali jumlahnya berlalu lalang mendinginkan objek yang telah melumpuhkan kota itu. Tim evakuasi warga kota bertebaran. Darah bercucuran, peluh berjatuhan. Badan khusus yang menangani dan memantau benda-benda langit kota ini kabarnya sama sekali tak menyadari bahwa akan ada asteroid yang mendarat tepat di pusat kota. Pemerintah ibukota kalap, jumpa pers pun segera di gelar agar tidak banyak yang semakin panik, wartawan sudah berduyun-duyun menunggu konfirmasi dari pemerintah kota.

?

?Ini diluar dugaan, kami sebelumnya tidak mendeteksi satu benda langitpun akan jatuh ke kota ini. Badan khusus yang memantau perkembangan benda-benda langit tidak mendapatkan sinyal apapun tentang pendaratan dadakan asteroid ini. Warga kota harap tetap tenang. Tim evakuasi dan pemadam akan menangani para korban dan titik-titik api.?

?Mungkinkah ini pertanda Tuhan sedang marah pada kita?? Seorang wartawan dengan tubuh sedikit gempal menyela.

Belum sempat pemerintah kota menjawab, adjudan di sampingnya berbisik, memberitahukan ada delapan asteroid lagi yang sedang menuju kota ini, dengan titik darat yang berbeda.

?Bencana.?

?Apa yang bencara pak?? Para wartawan penasaran dengan kabar yang baru saja di sampaikan adjudanya.

?

?Kita dalam bencana besar. Kota ini akan kiamat.? Nada bicara pemerintah kota melemah.

?Apa maksud anda? Apakah akan ada asteroid yang akan mendarat lagi??

?Iya, ada delapan lagi yang menuju kota ini. Mendarat pada delapan titik yang berbeda.?

?

?? Bencana tak bisa dihindari, kota ini benar-benar luluh dan hancur. Dari total tiga juta lebih penduduk, hanya ada sekitar ratusan orang yang selamat. Dan mereka sebagian besar memutuskan pergi mencari pemukiman baru. Mereka tak kuat mengenang tragedi gila itu. Ini bukan bencana biasa, ini adalah kiamat kecil yang Tuhan turunkan untuk kota ini. Kota yang terkenal dengan segala macam perjudian kelas dunianya, narkoba dan prostitusi terbesar se asia. Kota yang menjadi lumbung kemaksiatan manusia.

?

?? Aku adalah Volta, pemuda berusia 23 tahun, datang dari kota tetangga. Aku adalah Volta yang kemudian membangun kota ini kembali, wanita pemeluk guling yang ku temui malam ini adalah Rennen. Satu-satunya wanita yang masih bertahan di kota ini. Ada puluhan kepala keluarga yang masih bertahan memang. Tapi Rennen adalah satu-satunya wanita muda yang masih bertahan.

?

?? Malam semakin larut, masa depan kota ini ada padaku. Kisah yang ku dapatkan hari ini. Tentang kota ini. Adalah senjata bagiku, untuk membangun dan menciptakan peradaban baru. Akulah Volta Sang Pembangun Peradaban. Akulah Volta yang kemudian menikahi Rennen. Membaiki keturunan. Merajut cinta kasih yang harmonis dan setia.

?

*ashsoft

  • view 209