Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 18 Februari 2016   11:59 WIB
MUNGKIN INILAH SAAATNYA UNTUK TIDAK MEMILIH MENYERAH

MUNGKIN INILAH SAATNYA UNTUK TIDAK MEMILIH MENYERAH.

Hari ini, sepulang kuliah aku merasa sangat berbeda, berbeda dengan beberapa hari terakhir, aku merasa sangat bahagia. Bahkan, aku seolah terlahir kembali, lalu diberi kekuatan yang dahsyat dan entah bagaimana kinerjanya mampu menumbuhkan kembali semangat dan keyakinanku untuk menghadapi tantangan. Pemahaman dan perasaan di batinku ini sebenarnya tidak memerlukan penjelasan Bahasa, cukuplah kalian tahu bahwa ia ada. Tetapi jika kalian masih ingin penjelasan yang sedikit kompleks tentang pemahaman dan perasaanku itu, aku akan mencoba?

Hari ini, di kelas kami diberi tugas semacam role play sebagai seorang konselor dan tentunya dengan pasangannya sebagai seorang klien. Tujuan utamanya untuk mempraktikkan apa-apa yang telah di pelajari selama perkuliahan. Aku mendapat peran sebagai klien. Peran ini kudapat setelah negosiasi yang tidak dapat kutolak keputusannya, dengan pasangan terapisku, ditambah lagi dialah orang yang kukagumi selama ini.

Sebelum memasuki tahapan konseling, yang menurut beberapa anak muda sama saja dengan ?curhat?. Klien disuruh memilih contoh problem atau masalah yang telah disediakan, singkatnya aku memilih tema ?merasa terpuruk karena kegagalan yang dialami?.

Aku mulai bercerita dan dia pun mulai memperbaiki posisi duduknya, mulai mendengarkan, mulai memperhatikan kata demi kata, kalimat demi kalimat yang aku ucapkan, dengan teliti dengan hati-hati?

?Aku merasa terpuruk karena cita-citaku telah gagal!? kataku.

?Cita-cita yang mana?? tanyanya.

Pada mulanya role play ini hanya sebagai latihan tapi entah kenapa dalam diriku latihan ini telah bertransformasi menjadi bukan hanya sekedar latihan, tapi ia benar-benar berubah menjadi suatu keadaan yang mendorongku untuk mengatakan yang sebenarnya, mengatakan dengan sejujur-jujurnya permasalahan yang kuhadapi. Entahlah, mungkin inilah dampak ketika kau duduk tepat didepan orang yang kau kagumi, yang selama ini kau hormati dan hargai. Seketika itu pulalah kosakata ?bohong? dalam kamus hidupmu hilang, entah kemana, entah tercecer kemana?

Dengan napas yang sedikit tertahan kujawab.

?Nilaiku turun semester kemarin?

?Lantas itukah alasan utamanya yang membuatmu bosan masuk kelas? Yang menyebabkanmu malas? Yang menyebabkanmu menyerah?? tanyanya lagi.

Aku hanya terdiam dan mengangguk ragu.

?Cuma gara-gara hal itu sampai kamu rela menggadaikan cita-citamu?? lanjutnya.

Aku masih terdiam menatapnya.

?Mana Anugrah yang ku kenal dulu, yang ambisius yang bersemangat. Masa Cuma gara-gara hal sekecil itu membuatmu meyerah, lantas menghancurkan cita-citamu yang telah kau susun sedemikian rupa? Kegagalanmu yang seperti itu tidak ada apa-apanya bila dibanding dengan para ulama dan para ilmuan terdahulu yang berkali-kali gagal tapi terus bangkit, dalam hidup kita memang diberi cobaan tapi kita juga diberi pilihan; memilih untuk menyerah atau memilih bangkit lagi setelah terjatuh. Tinggal pilih!?

Mendengarya aku seolah dipukuli palu besar lalu kemudian hancur, aku merasa malu padanya, aku merasa malau pada diriku sendiri yang terlalu mudah menyerah, yang terlalu mudah mengeluh. Bersamaan dengan itu, aku seolah terlahir kembali, lalu diberi kekuatan yang dahsyat dan entah bagaimana kinerjanya mampu menumbuhkan kembali semangat dan keyakinanku untuk menghadapi tantangan. Mungkin inilah saatnya untuk tidak memilih menyerah.

Pemahaman dan perasaan di batinku ini tidak memerlukan penjelasan Bahasa, kan? cukuplah kalian tahu bahwa ia ada.

Ahhh Terimakasih telah menjadi katalis?..

Karya : Anugrah Syamsul H