apakah aku harus menyesal?

Anugrah Syamsul H
Karya Anugrah Syamsul H Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 18 Februari 2016
apakah aku harus menyesal?

Barangkali ada yang pernah atau sedang kita sesali, hal-hal yang kita pikir tak usah terjadi, hal-hal yang kita pikir tak semestinya terjadi. Tentang segala sesuatu yang selalu tentang waktu, ibu dari segala sesuatu.

Barangkali ada hal-hal yang membuat kita murung, tentang sisi gelap yang menguasi pikiran, tentang perasaan yang selalu dihianati.

Barangkali ada hal-hal yang membuat kita senang, tentang betapa indahnya kehidupan, tengatang betapa nikmatnya cinta yang diberikan Tuhan.

Barangkali ada hal-hal yang membuat kita menyesali apa-apa yang telah terjadi.

Aku beruntung menjadi orang yang diajarkan oleh kedua orang tuaku untuk tidak menyesali keputusan yang sudah kuambil. Bagi mereka penyesalan itu tak ada, sebab kitalah yang telah memilihnya, namun jika kondisi dan keadaan memaksamu untuk menyesali apa yang telah kamu pilih, yakinlah ada hikmah dibalik semua itu.


Malam yang hening. Teman sekamarku sudah tertidur pulas, entah sudah sampai dimana mimpi membawa mereka. Hampir tak ada suara disekelilingku, kecuali lamat-lamat suara mesin air pondok yang merambat di dinding. Detak jantung. Suara napas dalam telinga. Sesekali suara hewan.

Tiba-tiba terbayang, bayang-bayang diri sekitar 657 hari yang lalu memutuskan untuk menyayangi seseorang. Suatu keputusan yang berat buatku. Karena bagiku menyayangi seseorang adalah tentang percaya, komitmen, dan juga tanggung jawab. Bukan hanya dari orang yang menyangi tapi juga orang yang disayangi. Tentang menyayangi, ia selalu butuh pasangan, ia selalu butuh jawaban. Itulah sebabnya menyayangi juga butuh disayangi. Ketika kita menyangi sebenarnya didalam diri kita juga tumbuh harapan agar orang yang kita sayangi juga berbalik menyayangi kita. Itulah diriku dan sekelumit kedangkalan pemahamanku tentang ?menyayangi?, yang kemudian pada hari itu, hampir semua dalam hidupku berubah, baik itu tambahan deretan nama dalam doa di penghujung shalatku, maupun defenisi kebahagiaan, dimana kutambahkan namanya dalam setiap tujuan dan kebahagiaan yang ingin kucapai.

Hari demi hari kulalui dengannya, begitu banyak yang telah kuhadapi dengannya, walaupun itu belum seberapa dengan apa yang akan kuhadapi dengannya di hari-hari yang akan datang. Setiap hari perasaan sayangku semakin besar, dan harapanku untuk disayangi juga semakin besar. Hingga setiap aku berusaha mendapatkan perhaatiannya, setaip hari semakin besar dan semakin besar.

Untuk mendapatkan perhatiannya setiap hari aku bercerita, tentang apa saja yang terlintas dibenakku. Tapi, dasar dari sifat manusia selalu ingin mendapatkan lebih dari apa yang telah didapatkan. Aku selalu ingin mendapatkan perhatian yang lebih darinya. Walaupun dengan hanya bercerita aku sudah mendapatkan perhatian darinya, aku masih merasa kurang. Lalu kemudian dengan mengeluh mungkin aku bisa mendapatkan perhatian yang lebih darinya, pikirku. Hampir setiap hari aku mengeluhkan apa saja kepadanya, tentang musibah yang kualami, tentang luka yang kudapati. Aku selalu bahagia setelah mengeluhkan apapun kepadanya, bukan berarti aku bahagia karena ia telah tahu betapa besar pengorbananku padanya, tapi aku bahagia karena ia akan memberikan perhatian yang lebih kepadaku setelah aku mengeluh. Terlepas dari itu disini aku memang hanya percaya dengannya, lantas dimana lagi aku akan mengeluh?

Namun seiring berjalannya waktu ia memintaku untuk berhenti mengeluh, dengan nada yang berbeda dari biasanya, dengan nada yang sedikit lebih tinggi dari biasanya, kutahu maksudnya agar aku tak merasa sakit lagi keesokan harinya, sebab aku harus bahagia, bukan hanya aku sebenarnya, Kami.
Tapi aku akan merasa sakit kalau tidak mendapatkan perhatian darinya, lantas bagaimana mungkin aku berbahagia jika aku merasa sakit? Apakah aku menyesalai pilihanku 657 hari yang lalu?

Sejak ia memintaku untuk berhenti mengeluh aku tak punya cara lain lagi untuk mendapatkan perhatian lebih darinya tapi aku menyadari satu hal ?apa yang kau inginkan, itulah yang harus kau tanamkan?. Seperti halnya perhatian jika kau menginginkannya dari orang lain kaupun juga harus menanamkannya kepada orang lain, jangan mengharapkan kebaikan dan perhatian jika kau tak pernah menanamkannya dan memberikannya.

Menurutmu apakah aku harus menyesali keputusanku?

  • view 244