Kisah Keluarga Ending

Asep Bahtiar Pandeglang
Karya Asep Bahtiar Pandeglang Kategori Puisi
dipublikasikan 21 Juni 2016
Kisah Keluarga Ending

Namaku Ending, dilahirkan paling buntut di akhir, Ibuku bernama Cerita ayahku Kisah dan kakak ku Pembuka. Banyak orang bilang oktafku kriting, dengan not berbeda menghasilkan frekuensi menungging.
 
Dibandingkan Pembuka yang sempurna, telingaku tuli mataku sebagian buta, Sebab itu pula aku banyak bergantung pada Pembuka, Jika kakak ku terbang keawan aku melayang dikabut asap, Jika kakak ku menghujani bumi aku menyelami mikroorganis melihatnya dalam tubuh bakteri, jika Kakak ku beringsut dari akar aku menggelayuti ranting di dedaunan.
 
Setiap hari aku minta pada kakak ku suplemen vitamin, ia tidak jua memberi, katanya jika metabolisme tubuhnya kriting maka tak ada satupun gadis molekul yang mau melirik enzim kami, seperti anak kembar tak terpisah, bagai lumpur dan lintah, kulit dan darah, kami berdua selalu bersama.
 
Ayah ibuku memberi sepeda, ada boncengannya pula, agar aku dan kakak ku duduk seirama, jika ayah membelikannya gelas agar dibawa, ibu membelikanku piring agar kujinjing. Setiap malam ayah dan ibu mendandani Pembuka, sedangkan aku dibiarkan tragis apa adanya, sampai aku merengek sedih akan nasib ku yang dekil.
 
Kata mereka, jika metabolisme Pembuka rapuh, imbasnya enzimku tak akan ditonton oleh molekul, kelebihanku memang ada pada aplaus, jika kami memberi mereka kejutan, penonton akan royal menaburi kami bingkisan dan pujian.
 
Aku memang banyak uang, walau aku buta dan pincang, mungkin mereka berderma karna kasihan, toh uang dan pujian dirampas jua oleh ayah bunda, dibelikan bedak dan gelang, memperindah bentuk wajah kakak ku, si Pembuka.
 
Kata ibu, aku tak usah berdandan, cukuplah memakai topeng tertutup agar kami berdua mendapat aplaus. Kata ayah, cukuplah aku memakai topeng yang digantung agar penonton penasaran dan menebak-nebak bagaimana kisah di ujung. Semenjak itu aku sadar dan tidak lagi iri kepada kakak ku, si Pembuka. Saat aku bertanya pada ayah bunda, ternyata aku dan Pembuka itu satu kendi, bedanya dia di wajah aku di kaki.

  • view 182