Sahabat Pelepas Keangkuhan

Asa Perwira
Karya Asa Perwira Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 Februari 2016
Sahabat Pelepas Keangkuhan

Suasana siang di kampus Universitas Pendidikan Indonesia terasa begitu panas. Beberapa mahasiswa di ruang III.11 di salah satu fakultas terlihat suntuk menunggu dosen yang tak kunjung datang, padahal sudah 15 menit jam kuliah siang itu dimulai. Di antara mereka ada yang tidur sampai ngiler di bangkunya, ada yang selfie bersama, ada juga yang tampak menggerutu, dan lain-lain.

Tiba-tiba, Ando masuk ke kelas. Dengan membawa lima bir kalengan di kantong kresek, ia datang dengan begitu kasarnya, tanpa permisi apalagi salam. Sambil mendongakkan dagunya, ia melempar bir itu satu per satu kepada 4 orang kawan sepermainannya yang biasa duduk di deretan bangku paling belakang. Satu bir sisanya ia minum sendiri.

?Haha, thanks bro, nyeger dulu neh.? kata Simon.

?Alah, kayak ngga biasa gua empanin aja lo,? sahut Ando, ?eh, entar malem kita hacep nyok, di tongkrongan biasa. Bolehlah, lo bawa cewek-cewek lo. Stres banget gua mikir tugas-tugas numpuk!?

?Hmm, oke, asal lo mau akomodir, ya kan gengs?

?Jelas, hahaha!? keempat teman Ando kompak mengiyakan.

?Huh,? dasar mental centong!?

Sebenarnya banyak mahasiswa lain yang risih akan keberadaan lima sekawan itu. Acapkali mereka membuat gaduh di kelas, pamer gaya, sok gaul, sampe bertingkah kepada senior bahkan dosen. Apalagi si Ando sebagai the boss, si sombong yang doyan royal dan pamer kepada teman-temannya. Berganti-ganti pacar pun menjadi hal yang ia banggakan.

***

Malam sudah larut benar. Ando masih nongkrong bersama teman-teman di kafe favortinya di salah satu pinggiran kota. Sebatang rokok terakhir yang ia hisap mulai habis.

?Puah! Lagi gurih malah abis neh!? gerutu Ando.

Ando bersama empat kawan sekampusnya memang sedang menghabiskan Jumat malam dengan hura-hura. Ditemani tiga botol sampanye, ia terlihat liar kini.

?Eh ndo, lu berhasil nikung si Evelyn ya??

?Oh, jelas dong. Secara gua kan lebih ganteng, banyak duit pula. Cewek mana yang enggak mau nempel? Si kembang kampus Evelyn aja kecantol. Hahahaa!?

?Bray, kayanya ada geng motor tuh! Awas!? salah seorang kawan Ando meihat sekumpulan cahaya motor diiringi bisingnya gerung suara knalpot. Nampaknya gerombolan Geng Pukat yang datang. Benar saja, geng motor yang terkenal ganas di Kota Kembang itu mulai beraksi dan membikin kawan-kawan Ando dan cewek-cewek yang menemani mereka berhamburan lari dari tempat itu. Alih-alih pemanasan, mereka parkir mendadak tepat di depan batang hidung si Ando, lantas menendang wajahnya mentah-mentah. Tubuh kurus Ando tersungkur ke belakang. Seketika seorang anggota geng motor mengambil salah satu botol miras dan memukulkannya ke batok kepala Ando. Prang! Sakitnya minta ampun. Walaupun tetesan darah mengucur dari goresan luka di kepalanya, namun ia tetap berusaha berdiri meski merintih kesakitan. Lantas ia hendak membogem anggota geng motor tadi. Saat kepalan tangannya hampir mengena seorang anggota geng, justru dengan mudahnya ia disekap oleh orang yang hendak ia pukul. Ando diikat dan dibawa lari Geng Pukat. Ia dibawa ke sebuah hutan yang jauh dari kota, lalu dihajar habis-habisan. Smartphone-nya digasak, dompetnya diambil beserta uang, kartu kredit dan kartu-kartu identitasnya. Salah satu anggota geng nampak naik pitam. Dilihat dari motornya dan pakaian yang ia kenakan, sepertinya ia adalah ketua Geng Pukat. Dengan luapan kemarahan, sang bos geng mencengkeram dan menarik kerah baju si Ando.

?Eh, tukang pamer, sok banget gaya lo di kampus, mentang-mentang kantong tebel! Ini balesan buat lo yang udah nyosor cewek gua, biar impas sekalian!? Sekepal pukulan keras melayang ke wajah Ando. Lalu si sombong itu ditinggalkan begitu saja oleh geng itu dalam dingin dan gelapnya hutan. Ia berdarah-darah hingga pingsan

***

Pagi pun tiba. Matahari mulai memancarkan semburat cahayanya di sudut Bumi Parahyangan. Alfan berjalan-jalan di tepi hutan sembari melepas penat. Sudah 3 bulan ia tak pulang kampung karena sibuk kuliah dan mengurus beragam organisasi yang ia ikuti di kampus UPI.

?Aaah, alhamdulillah. Seger pisan ieu mah. Balik ka lembur emang jadi pelepas galau diriku sehabis membabat tugas-tugas kampus jeung kegiatan himpunan nu riweuh ti pikiran kuring.? gumamnya dalam hati.

Srek, srek, srek! Terdengar sayup-sayup suara.

?Naon eta nya?? Alfan mulai merinding, namun ia juga kepo.

?Tolong! Aarrrgh, siapa aja tolong sayaa! Toloong!? terdengar suara minta tolong. Seketika Alfan lari mencari sumber suara itu. Ternyata ia teriakan minta tolong si Ando. Wajah dan tubuhnya penuh luka dan lebam, hasil amukan geng semalam.

?Maa syaa Allah! Kunaon akang?? refleks Alfan memapah Ando. Saat mereka berdua hampir dekat dengan perkampungan, Alfan meminta tolong kepada warga. Beberapa orang nampak membantu Alfan membawa Ando ke mantri desa. Di situ ia diobati. Beruntung, luka di kepalanya hanya goresan, tak sampai bocor parah. Namun lebam di sekujur tubuhnya perlu penanganan.

?Akang teh kenapa? Asa habis dipukuli?? Alfan menanyai Ando.

?Hmm, se, semalem, saya dihajar geng motor, lalu dibuang di hutan tadi.? dengan menahan sakit, Ando menceritakan sedikit kronologi kejadian semalam. Namun ia sedikit lupa akan beberapa hal, mungkin efek dari pemukulan kepalanya. Warga kesulitan menghubungi pihak keluarganya, jelas karena kartu-kartu identitasnya telah diambil geng.

***

Sudah dua hari Ando dirawat di rumah Alfan. Dengan penuh keikhlasan, bersama pak mantri Alfan dan keluarganya merawat Ando, sekalipun belum berkenalan sebelumnya.

?Saya anak jurusan Pendidikan Geografi. Kang Ando semester berapa??

?Gua semester 4.?

?Saya mah baru semester 2 kang.?

Hening sejenak.

Tiba-tiba Ando ingat saat OSPEK Moka-Ku kemarin. Ia sempat nakal kepada salah satu mahasiswa baru. Ando mengancam jika sang maru lapor ke pihak kampus maka ia akan membabatnya. Ia ingat, bahwa mahasiswa yang ia jahili saat Moka-Ku ada di dekatnya kini, menolongnya dengan tulus.

?Dek, mungkin adek inget waktu Moka-Ku kemaren, kamu aku omelin dan pukulin. Aku juga ngancem-ancem kamu. So, gua bener-bener minta maaf ya ternyata hati kamu mulia banget, mau nolong senior yang bejat kayak gua.? Ando pun menceritakan segala unek-unek yang telah lama mengganjal dalam hidupnya. Tak biasanya ia mau terbuka begitu.

?Udahlah kang, lupain yang kemarin. Kita nggak bakal kembali ke masa lalu. Yang ada kini saatnya kita berubah jadi lebih baik. Memang sih awalnya sempet nggak enak and marah ke kang Ando, tapi udahlah lupakan. Jadiin ini semua pelajaran berharga buat kita. Akang saat itu jadi garang pun pasti ada penyebabnya, kan? Saya rasa akang perlu sahabat yang mau jadi pendengar akang, yang bisa nge-deketin akang sama Allah Ta'ala, yang bisa diajak belajar bareng untuk bisa menjadi insan mulia. Allah berfirman dalam surah AL-Baqarah ayat 286? Alfan berusaha menghibur Ando.

?Besok Senin kita balik lagi ka Bandung nya. Akang tidur aja di kontarakan saya, sampai kondisi akang udah bener-bener sembuh. Nggak usah segan atau gimana kang, kita jadi keluarga ya.?

Seperti biasanya, sebelum tidur Alfan membaca surat Al-Mulk. Suara merdu Alfan seakan membuat ayatullah kembali merasuk ke dalam sanubari Ando yang telah lama kelabu. Kedua matanya berkaca-kaca mendengar lantunan Al-Qur'an. Ia pun menangis, setelah sekian lama ia larut dalam gemerlapnya duniawi. Nurani kecilnya mulai terbuka untuk mengingat Allah Azza wa Jalla. Ando begitu trenyuh mengetahui bahwa walaupun Alfan dan keluarganya bukanlah dari golongan berkecukupan, namun mereka sungguh sakinah. Ketika makan malam bersama, Ando dan Alfan sekeluarga tidak makan dengan menu mewah ala orang kaya, menu yang biasa dinikmati Ando. Namun ia merasakan kehangatan dan perhatian yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya bersama keluarga. Ayah Ando memang seorang direktur utama sebuah BUMN di Jakarta, ibunya seorang manajer di bank swasta asing. Meski kehidupannya bergelimang harta, namun yang ada hanya carut marut. Ayahnya tersangkut kasus suap dan perselingkuhan hingga berbuntut perceraian kedua orangtuanya.

***

Senin paginya, Alfan dan Ando hendak kembali ke Bumi Siliwangi. Mereka berdua sedang menunggu bus jurusan Cicaheum di tepi jalan raya. Setelah sekitar 5 menit menunggu, akhirnya bus yang dinanti pun tiba.

?Pak, bu, kami berangkat ya. Terima kasih banyak sudah merawat saya dua hari ini, sekarang jadi mendingan. Ando minta maaf udah repotin bapak sama ibu. Tapi Ando ngerasa kaya ada orangtua lagi. Terima kasih pak, terima kasih bu.? mereka berdua berpamitan kepada orangtua Alfan ?Dadang yang semangat sekolahnya ya, kayak aa Alfan tuh, biar nanti jadi mahasiswa, hehe.? Dadang, adik Alfan menyalami Ando dan Alfan.

?Hati-hati ya di jalan, ulah hilap ka Gusti, bismillah.? ibu Alfan mengingatkan.

?Nu semangat barudak, abah doakeun? tak lupa ayah Alfan mendoakan.

Perjalanan dari kampung Alfan menuju kampus UPI memakan waktu sekitar 3 jam dengan transportasi umum. Mereka berpindah-pindah tumpangan sekitar 3 kali. Kebetulan Senin itu hari libur, tak ada kuliah. Jadi, sesampainya di kosan Alfan, mereka beristirahat. Ando langsung tepardi kasur karena kondisinya yang belum pulih benar. Alfan merapikan kembali kamarnya, dan? menata buku-buku serta alat tulis. Sisa tugas kosmografi pun dikerjakan. Ia nampak sibuk menyiapkan perkuliahan besok.

Sore indah menyapa ramainya Gegerkalong. Cahaya matahari nan lembut menggugah Ando dari tidurnya. Saat is membuka kedua matanya, nampak Alfan yang terlelap disampingnya. Alfan mendengkur, mungkin karena begitu lelahnya perjalanan tadi. Terlihat tumpukan catatan Alfan begitu rapi di sudut meja belajar, merayu Ando untuk membacanya.

?Hem, gile, rapi bener nih catetan ngajinya Alfan.? Ando mulai membuka lembaran demi lembaran kertas-kertas catatan taklim Alfan. Ketika ia tiba pada salah satu halaman, ia membaca catatan tentang kesombongan.

Apakah pantas sebenarnya orang bersikap takabbur, jika semua kebaikan pada dirinya semata-mata hanya berkat kemurahan Allah padanya? Padahal jika Allah menghendaki, dia bisa terlahir sebagai tungau. Tentu saja saat itu tiada lagi yang disombongkan. Atau kalau Allah mau, bisa saja ia terlahir dengan keterbelakangan mental. Bahkan jika Allah takdirkan dia lahir di tengah-tengah pedalaman hutan belantara, maka pada saat ini mungkin dia tengah mengejar babi hutan untuk makan malam. Apa lagi yang bisa disombongkan? Jadi, hati-hatilah akan kesombongan. Untuk menghidari akhlak tercela itu, kita kudu kenal ciri-cirinya.

Penampilan orang sombong alias takabbur begitu menunjukkan keangkuhan. Mulai dari ujung rambut, lirikan mata, tarikan nafas, senyum sinis, tutur kata, nada suara, mimik bahkan senandungnya. Begitu pula cara ia berjalan, duduk, berpakaian, gerak-gerik tangan hingga ke jari- jari kaki. Apalagi caranya berkawan, selalu ingin menonjolkan diri. Segalanya menunjukkan betapa buruk karakternya.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas?ud radhiyallahu ?anhu dari Nabi?shalallahu ?alaihi wasallam, beliau bersabda: ?Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.??Ada seseorang yang bertanya, ?Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?? Beliau menjawab,??Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan.?Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.??(HR. Muslim no. 91)

Semakin terketuk hatinya membuka lembaran-lembaran itu.

?Dan ingatlah ketika orang-orang zalim menggigit kedua tanganya seraya berkata : ?Aduhai kiranya aku dulu mengambil jalan bersama Rasul. Kecelakaan besar bagiku. Kiranya dulu aku tidak mengambil fulan sebagai teman akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur?an sesudah Al Qur?an itu datang kepadaku. Dan setan itu tidak mau menolong manusia? (QS. Al Furqan : 27-29). Membaca catatan ayat Kitabullah tersebut, Ando semakin terintrospeksi. Dia sadar akan kesalahannya memilih kawan dan betapa sombong, bakhil serta riya' dirinya kepada orang-orang. Ditambah lagi kebiasaanya merokok dan minum minuman keras, alih-alih pelarian malah semakin membuatnya rapuh. Ia juga ingat saat ada seorang mahasiswa sebayanya minta diantar pulang saat hujan deras. Ando menolaknya mentah mentah, hanya karena mahasiswa itu basah atau mungkin karena bukan kawan dekatnya. Ia hanya mau bersenang-senang dengan empat kawan satu gengnya dan pelit kepada teman yang lainnya. Namun yang langsung ia rasakan sakitnya, jelas, kejadian saat nongkrong dengan temannya malam Sabtu lalu, buah dari keangkuhannya dan kesukaannya main cewek. Ando pun berdoa.

?Ya Allah, ampunilah segala dosaku dan dosa papa mama. Tolong, ridhoilah kami mendapat hidayah-Mu, untuk bekal abadi di akhirat nanti. Jauhkan kami dari siksa-Mu. Serta hamba mohon Ya Allah, kuatkanlah persahabatan Alfan dan hamba, jadikan ia sebagai teman yang membuat diri ini semakin mengenal-Mu dan Rasul-Mu. Aamiin.? Ando tersedu mengingat kembali apa yang telah orangtuanya lakukan padanya, mencetaknya menjadi pribadi yang kasar dan dangkal hati.

Adzan maghrib berkumandang. Alfan pun terbangun, lalu menuju kamar mandi untuk wudhu.

?Kang Ando udah baikan kan? Sekarang sholat yuk.? sudah begitu lama Ando tak sholat wajib berjamaah. Untuk sholat lima waktu dan Jumatan saja hampir tak pernah, apalagi sampai sholat di masjid. Awalnya Ando ragu, karena ia sadar ia sudah banyak mengonsumsi yang haram. Ia sempat berpikir Allah takkan menerima ibadahnya lagi. Namun Alfan menyemangatinya agar tetap mau taqarrub ilallah, memohon jalan perubahan kepada Dzat Yang Maha Agung. Petang itu, Ando begitu tersentuh kembali untuk menghamba pada-Nya. Bahkan selepas sholat maghrib, Ando meminta Alfan mengajarinya Iqra, dan ngobrol-ngobrol soal Islam sampai Isya. Bakda Isya, Ando kembali tidur sedangkan Alfan membaca buku untuk kuliahnya besok.

***

Tahun akademik baru pun datang. Tak terasa sudah dua bulan persaudaraan Alfan dan Ando terjalin. Banyak momen-momen bermakna yang mereka lalui, banyak pula perubahan yang dialami Ando setelah ia ngekos bersama Alfan. Empat kawan gengnya dan Evelyn sudah ia tinggalkan. Ia kini tahu, ternyata mereka hanya ingin mendapat 'gula-gula' darinya saja, karena ketika Ando susah, mereka meninggalkan Ando. Sekarang pola hidupnya menjadi lebih islami, tiada lagi hobi merokok dan miras seperti dulu. Cara berpenampilan, bertutur kata, bergaul hingga kebiasaanya dalam berkuliah pun menjadi lebih baik plus terarah. Bahkan mulai tahun akademik ini, Ando memilih untuk pindah program studi ke Ilmu Pendidikan Agama Islam, karena selain prestasinya lemah di prodi sebelumnya, ia juga begitu ingin melepaskan diri dari pengaruh buruk dan ia berazam untuk mendalami dinullah. Hari-harinya diisi dengan bermesraan bersama Al-Qur'an. Sedikit demi sedikit virus-virus setan di hati Ando berkurang dan semangatnya dalam menggapai hidayah serta ridho Illahi kian membara. Kini ia sefakultas dengan Alfan, sehingga persahabatan mereka semakin akrab. Aktivitas kuliah mereka diwarnai dengan taklim-taklim dan keorganisasian yang semakin sering dilalui bersama, berbalut kegiatan dakwah mahasiswa. Ando sadar betul, seorang kawan yang inspiratif seperti Alfan dapat memberikan pengaruh positif dan memacunya semakin mengenal Sang Khalik. Mereka berdua senantiasa bekerjasama dan berlomba dalam kebaikan untuk menjadi mahasiswa yang berprestasi dan robbani.

?Ah, malem Sabtu besok ana balik ke Jakarta, kangen sama Mama Papa. Bakal jadi kejutan kali ya. Pengen deh, bisa lebih berbakti sama mereka sekalipun long distance. Bisi nantinya nyatuin mereka lagi, jadi rujuk gitu, hehe. Bismillah.? gumam Ando dalam hati, ?Terima kasih Yaa Dzul jalaali wal ikraam, kau telah beri jalan perubahan untuk hamba. Terima kasih pula kepada-Mu yang telah memberi saudara baru untukku, Alfan. Semoga kau senantiasa jaga kami dan keluarga kami agar tetap dalam rahmat-Mu. Aamiin.?

Ando teringat akan sebuah hadits nan mulia.

Dari Abu Musa Asy-Asy'ari, Dia mengatakan bahwa, Rasulullah shalallahu ?alaihi wa sallam. bersabda : ?Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.? (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628).

?

Sumber gambar www.berjibaku.com

  • view 220