Bareti-Isola-Partere

Asa Perwira
Karya Asa Perwira Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 Januari 2016
Bareti-Isola-Partere

Rinai hujan mulai mereda. Udara melambai, sejukkan diri. Semburat cahaya matahari mulai muncul dari balik awan yang menghijabinya sejak siang tadi. Ah, ingin rasanya aku bermesraan dengan taman Partere sore ini. Penat benar, setelah menghabisi tugas-tugas kuliah di akhir semester. Aku keluar dari gedung fakultasku, berjalan menuju taman indah belakang gedung Isola itu. Seperti biasa, aku masuk lewat pintu berbentuk setengah lingkaran yang menghadap barat, lalu duduk di bawah pohon beringin Partere. Nikmat rasanya melepas lelah setelah seharian menghadapi orang banyak. Biasanya di tempat itu aku menulis sajak-sajak luapan emosi jiwa.

Satu semester kuliah aku lalui dengan beribu cerita manis pahit mahasiswa baru, apalagi tentang beragam kaderisasi yang aku dapatkan dari kampus yaitu Moka-Ku, fakultas, himpunan mahasiswa, unit kegiatan mahasiswa dan paguyuban mahasiswa daerah asalku. Ada yang kujalani dengan riang gembira, ada pula yang dengan keterpaksaan. Kini sedikit demi sedikit aku mengenal apa itu dinullah lewat liqo tutorial Pendidikan Agama Islam yang aku ikuti selama semester ini. Secara bertahap aku merasakan perubahan dalam diri, walau ada pula yang justru malah menurun dariku yang sebelumnya. Acapkali aku kurang disiplin dibandingkan saat SMA dulu. Mungkin karena kini aku ngekos, banyak hal yang harus aku tentukan sendiri terutama masalah waktu. Bahkan aku terjangkit prokrastinasi alias kebiasaan menunda-nunda tugas. Namun aku tetap bertekad untuk memperbaiki akhlak, kebiasaan dan keislamanku walau sedikit demi sedikit.

?Ali! What?s up bro? Kemana aja lo, makin jarang gua liat.? Deg! Aku begitu kaget. Ternyata seorang kawan menyapaku hingga membuat jantung ini hampir lepas.

?Oh, si Danu. Bikin kaget nih! Ya, alhamdulillah, I?m fine. Kamu gimana??

?Gua mah seperti biasanya bro, mantap and luar biasa!? ekspresif benar temanku yang satu ini. ?Lo kemana aja? Udah lama nggak ketemu euy.?

?Aku sibuk buat PAB, sama pendidikan lanjutan di himpunan. Tugas kuliah juga numpuk dan perlu kerja kelompok, gitu. Capek.?

?Gua juga sama sibuknya kok bro. Tapi ya dibawa enjoy aja lah. Eh, gua mau ke Baretti dulu ya, mau kumpul sama panitia konser jazz semalem. Bye.?

?Oke bro.? Danu tampak begitu bersemangat. Ia berlari menyusup lewat tangga samping gedung Isola menuju taman Baretti yang berada di depan-bawah gedung rektorat nan bersejarah itu.

Aku mengenal sosok Danu ketika Moka-Ku dulu. Ia memang tampak begitu supel dengan para mahasiswa baru, walaupun ia berasal dari luar Jawa Barat. Siapa saja yang ia temui, ia ajak berkenalan, termasuk aku yang berbeda fakultas dengannya. Setahuku ia ikut banyak UKM dan event musik. Pantas saja, temannya banyak.

Setengah jam berlalu, kakiku berhasrat untuk berjalan ke halaman depan gedung Isola. Aku melewati jalan dan menapaki tangga yang tadi dilewati Danu, lantas aku memandang taman Baretti yang ada di depan sana. Tampak sekumpulan mahasiswa sedang duduk melingkar di sudut taman itu, mungkin ada Danu di antara mereka. Beberapa detik kemudian, aku membalikkan badan dan menatap gedung Isola nan putih dan kokoh. Acapkali aku merinding kagum, mengingat riwayat gedung itu. Ialah saksi bisu perjuangan rakyat Bandung Utara dalam memberantas penjajah. Ia pula salah satu tonggak sejarah bangsa Indonesia dalam membumihanguskan keterbelakangan dengan pendidikan.

Seorang lelaki muda keluar dari gedung itu. Ia mengenakan jas almamater, rapi, berdasi pula. Aku jelas mengenal orang itu, karena kami belajar di dalam satu kelas.

?Ali, lagi ngapain di situ?? ia datang menghampiriku dan menyapa.

?Eh, Irwan, aku lagi pengen liat-liat aja. Kamu dari Isola abis ngapain??

?Tadi abis audiensi sama pak Rektor dan BEM REMA, evaluasi akhir tahun ini. Alhamdulillah, aku dapet mandat dari REMA buat ngewakilin mahasiswa baru untuk ngasih pesan, kesan, kritik dan saran soal Moka-Ku kita kemaren. Tapi tadi aku ijin balik duluan soalnya mau belajar, persiapan lomba debat di Singapura tiga hari lagi.? Buset dah si Irwan ini, biar mahasiswa baru tapi udah bisa nemuin pak Rektor, bahkan lomba tingkat internasional. Ya, maklum aja sih, denger-denger dia memang udah cemerlang sejak di SMA. Secara, juara World Youth English Competition dan peraih nilai UN terbaik tingkat nasional.

?Duluan ya bro, aku mau pamitan dan minta restu ortu dulu neh, hehe. Doakan ya Al, semoga lombanya bisa sukses sesuai harapan. Assalamu?alaikum?

?Iya Wan, bismillah. Wa?alaikumussalam.? Irwan pun bergegas pergi.

Sebenarnya aku sering merenungi diri, mengapa aku belum bisa ?stand up? seperti mereka berdua. Ada apa pada diri ini? Selalu terasa bagai katak dalam tempurung atau kelinci kecil yang lekas bersembunyi ketika ada gangguan di depannya.

Aku menatap arloji yang bertengger manis di pergelangan tangan ini. Wah, waktu sudah menunjukkan pukul lima. Badan ini sudah merengek minta dimandikan. So, saatnya kembali ke kosan. Juga, malam ini aku ingin tidur lebih awal.

***

Kukuruyuuuk! Kukuruyuuuuuk!

Suara mp3 kokokan ayam yang menjadi alarm telepon genggam membangunkan aku dari tidur. Jam dinding menunjukkan pukul tiga pagi. Alhamdulillah, aku dapat bangun begitu awal. Memang sih, ini sudah kurencanakan untuk menjadi kebiasaan baru. Aku beranjak dari dipan, menuju kamar mandi untuk bersih diri dan berwudhu. Selepas itu, aku ber-taqarrub ilallah dengan qiyamullail. Tanpa dapat kutahan, mengucurlah air dari kedua mata ini ketika berdoa kepada Allah Yang Maha Agung. Menyesal diriku akan selaksa kebodohan dan kemaksiatan yang telah aku banggakan dulu. Kucurahkan segala keluhan, cita-cita dan doaku kepada-Nya. Ingin benar diriku berubah menjadi pemuda yang berjiwa Islam sebenar-benarnya.

Adzan Subuh berkumandang, menggerakkan kaki ini untuk melangkah menuju masjid guna melaksanakan shalat shubuh. Selepas itu, aku kembali ke kosan untuk mempersiapkan kuliah hari ini.

***

Santai saja aku melangkah ke UPI. Toh, kuliah hari ini mulai pukul sembilan. Sementara jam masih menunjukkan pukul delapan. Lagipula ini sudah akhir semester, mungkin hanya akan ngobrol-ngobrol saja di kampus bersama kawan-kawan.

Sampai sudah aku di fakultasku, menuju ruang kelas. Namun suasana yang ada ternyata tak sesantai yang aku bayangkan tadi.

?Aduh, kumaha ieu, susah amat beresin rumus ini!?

?Eh, nanti deadline-nya jam sembilan ya??

?Aaaaargh, pusiiiing banget! Nggak balance juga!?

Ha? Mengapa kawan-kawanku terlihat kocar-kacir penuh gerutu begitu? Rasanya aku harus menanyai mereka.

?Ng, Herd, a-ada apa nih, kok jadi sok sibuk begini?? tanyaku pada Herdin lirih dan malu-malu.

?Kamu lupa ya Al? Hari ini kan deadline terakhir tugas Pengantar Akuntansi.?

Deg! Total aku lupa. Bahkan tugas itu belum kukerjakan sama sekali. aku pun speechless, membaringkan tubuhku di sudut ruangan. Pasrah sudah, karena jika tak mengumpulkan tugas dari dosen killer itu, nilai Pengantar Akuntasiku tak akan keluar dan akan mengulang mata kuliah itu. Satu tugas saja kami abaikan, mengulang mata kuliah jadi akibatnya.

?Ali, ngapain gogoleran begitu, Udah beres tugasnya?? Irwan mencolek bahuku.

?Nggggh, Wan, jangan bahas tugas ah. Aku nggak ngerjain, lupa.? Jawabku sambil ngulet.

?Wah, gimana sih, harusnya kamu bikin catatan schedule-mu, rutin dipantau setiap harinya, biar tahu hari itu ada kegiatan apa, ada tugas apa. Jangan males ngontak temen-temen. Kalau ketinggalan info mulu gimana, b?te kan, jadi begini kan? Blablablabla?.? cerewet si Irwan mulai kambuh.

?Stop saying! Udah sekarang solusi dari kamu apa?? Aku mulai gerah.

?Hm, oke, temui dosen aja, minta maaf ke beliau karena kelupaanmu. Dekati baik-baik, minta tugas pengganti aja, bisi bisa.? Ah, lagi-lagi harus menghadapi orang yang krusial. Malas rasanya.

?Malu ah, Wan. Aku nggak pernah komunikasi sama dosen dan orang-orang di departemen.?

?Mending nahan malu, atau nilai melayang? Masalah tuh dihadapi bro, bukan dihindari melulu. Udah, sekarang aku temenin deh, tapi ke depannya dibiasain ya. Kita perlu kenal deket sama mereka.?

?Ya udah deh, bismillah.?

Dengan beragam perasaan yang tercampuraduk, akhirnya kaki ini nekad melangkah ke ruang dosen. Aku temui sang dosen Pengantar Akuntasi. Ya, memang diriku sempat kena komentar pedas beliau, namun akhirnya nilai pun bisa beres. Wah, tak seseram dan sesulit yang kubayangkan.

?Udah, nilai aman kan? Itulah kalau kita bersama.? Irwan tersenyum padaku.

?Terima kasih sob. Ajarin aku biar bisa kayak kamu.?

?Kayak apanya? Hahahaa.. santai aja, kita kan saudara, seperjuangan.?

?Bersama?. Sebuah kata yang jarang terinternalisasi dalam hidupku, namun kini aku bertekad untuk mengubah diri menajdi seorang yang lebih ?berkebersamaan?, terinspirasi dari kawanku Irwan.

Serba sendiri, serba sepi. Ya, itulah hidupku biasanya. Bahkan dengan bapak dan ibuku sendiri aku kurang dekat, karena sejak aku berumur 5 tahun aku sudah diasuh oleh nenek. Ayahku telah meninggal dunia, ibuku menikah dengan lelaki lain. Karena suami barunya tak ingin merawatku maka aku dititipkan nenek. Aku dibesarkan menjadi seorang introver hingga nenekku meninggal sepekan sebelum Moka-Ku lalu.

***

Setelah membunuh waktu liburan dengan banyak-banyak berkontemplasi, tiba saatnya kini aku bertarung dengan semester dua.

Aku berlari kecil, menyembulkan aroma semangat jiwa. Tak biasanya aku berangkat ke kampus begini. Secara, aku sudah menggotong bongkahan-bongkahan visi hidup nan baru, di tahun yang baru pula. Tekadku untuk menyusun bongkahan ini agar menjadi sebuah bangunan prestasi akan aku wujudkan dalam misi dan aksi.

Drap! Refleks kaki ini berhenti berlari. Tampaknya ada sebuah event di Parkiran utara kampus. Oh ya, itu acara himpunan mahasiswa jurusan si Danu. Aku mendekat lagi, menyusup di antara berjubelnya penonton. Wah, Danu menjadi presenter acara itu. Dia terlihat keren dan asyik dalam membawakan acara. Lagi-lagi aku terpukau dan membayangkan andai saja aku bisa seekstrover dia. Sempat pula aku menikmati satu sajian musik waltz dari band jurusan seni musik. Namun karena teringat aku sudah terlambat lima menit masuk kuliah siang ini, aku bergegas menuju ruang kuliah.

Beres kuliah, aku main ke kosan Irwan. Kebetulan saat itu ia baru membeli sepeda motor baru dari hasil menang lomba debat yang lalu. Subhanallah, hebat nian ia dan kawan-kawannya dapat menjadi The Champion dari lomba tingkat internasional. Kami di kosan hingga bakda Isya. Selepas sholat di masjid, kami jalan-jalan malam keliling Kota Kembang. Yeay!

Tak terasa jam LEDku telah menunjukkan pukul 22.15. Rasanya kami harus kembali ke kosan masing-masing untuk istirahat, setelah nongkrong asyik di salah satu taman kota. Saat kami akan pulang, seseorang berlari sempoyongan menabrak motor Irwan di parkiran. Orang itu pun terjatuh dan pingsan. Nampak luka dan lebam di tangan dan wajahnya. Samar-samar aku lihat wajahnya, ternyata dia......

#bersambung

sumber gambar: zaenuriarif.tumblr.com

  • view 183