Kalung Sendang Berdarah

Arya Hasa K
Karya Arya Hasa K Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 Februari 2016
Kalung Sendang Berdarah

?Aaaaaaaah? teriakku sambil terbangun dari tidurku yang menyeramkan.

?Mimpi itu lagi? Sebenarnya siapa dia?? gumamku bertanya dalam hati.

Sudah tujuh hari berturut-turut aku mimpi buruk dikejar oleh seorang gadis dengan mata yang mengeluarkan darah. Dalam mimpiku, ia selalu muncul dihadapanku yang memaksaku untuk berlari. Namun, semakin aku berlari ia semakin mendekatiku hingga pada akhir mimpi aku selalu diperlihatkan oleh gambaran sebuah mata air yang kemudian membawaku terbangun dari mimpi burukku ini dan membuatku terdiam melamun beberapa saat. Tiba-tiba saja aku dikagetkan oleh telepon dari handphone yang membuyarkan seluruh lamunanku. Kulihat handphone ku dan ternyata teman baikku ferdi menelponku.

?Halo Danang, udah siap kan buat camping hari ini?? Tanya Ferdi kepadaku.

?Ya, seluruh peralatan sudah ku siapkan sebelum aku tidur semalam? jawabku pada Ferdi.

?Oke, satu jam lagi aku jemput kamu dengan yang lain ya? jawab Ferdi.

?Oke? jawabku datar.

Kemudian telepon pun ditutup oleh Ferdi. Aku segera bergegas mandi dan mengenakan baju yang akan kupakai saat camping nanti. Satu jam kemudian terdengar suara klakson dari depan rumahku. Aku keluar dari rumah sambil berpamitan dengan orang tua ku. Kulihat teman-temanku selain Ferdi juga ikut ,seperti Burhan, Anton, dan Setyo. Memang bisa dibilang kami berlima tidak bisa dipisahkan sejak kecil bahkan sampai kami telah bekerja, kami pun masih menyempatkan untuk bertemu satu sama lain atau pergi bersama keluar kota. Kumasukkan tasku ke dalam bagasi dan kami bergegas berangkat ke tempat yang kami tuju.

Setelah perjalanan yang lumayan jauh kami tempuh, akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Memang rencana kami adalah camping, namun untuk melakukan itu kami harus melewati satu desa untuk sampai di tempat kami camping. Sesampainya di desa tersebut, kami bertemu seseorang yang masih merupakan sanak saudara dari Ferdi.

?Apa kabarnya nak Ferdi? Udah lama kamu ngga ke sini? Tanya orang tersebut.

?Baik Paklik, iya karena saya juga banyak kerjaan Paklik? jawab Ferdi.

?Yasudah ngga apa-apa, Paklik seneng bisa ketemu kamu lagi apalagi bawa temen-temen kamu yang gagah semua? jawab Paklik.

Kami pun saling memperkenalkan diri masing-masing dan berbincang-bincang dengan Paklik seputar tempat yang akan kami gunakan untuk camping. Disela-sela penjelasan Paklik mengenai tempat tersebut, Paklik mengatakan bahwa bila waktu telah mendekati malam, kita jangan menuju ke arah dari tempat kami camping. Disana terdapat tebing yang dibawahnya terdapat sendang atau bisa disebut sebagai mata air. Paklik menjelaskan kembali bahwa banyak yang telah mengalami kejadian gaib didaerah tersebut seperti kesurupan, halusinasi, bahkan melihat sesosok gadis. Mendengar perkataan Paklik, pikiranku terbesit oleh gadis yang selalu mengejarku didalam mimpi namun, segera kutepis pikiranku tersebut.

Hari pun mulai senja dan kami pun segera bersiap-siap menuju tempat kami camping. Kami pun mulai perjalanan dengan jalan kaki keluar dari desa. Di pintu keluar desa kulihat seorang nenek tua menatapku dengan sinis. Karena itu aku pun mempercepat langkahku. Lokasi yang kami tuju tidaklah jauh namun harus melewati sungai kecil dan hutan bamboo yang menjulang. Sesampainya di tempat tersebut Paklik meninggalkan kami dan memeri kami pesan untuk berhati-hati dan terus berdoa. Hari makin gelap dan kami bergegas untuk menyiapkan kemah dan api unggun. Aku dan Ferdi bertugas untuk mencari kayu bakar atau ranting-ranting kecil yang dapat menyulut api. Dalam perjalanan menuju kemah setelah mengumpulkan kayu bakar, sekilas aku melihat seorang gadis lewat didepanku dengan cepat. Ini bukan halusinasi dan sangat nyata seperti didalam mimpi. Bahkan Ferdi pun juga melihatnya dan ia langsung berlari karena hal tersebut. Sesampainya ditempat camping, kami memceritakan pada teman-teman kami dan reaksi mereka biasa-biasa saja karena bagi mereka di tempat yang asing pasti ada hal yang seperti itu. Setelah api unggun dibuat kami pun menikmati makanan yang kami bawa sambil menyanyi dengan gitar yang di bawa oleh Anton. Kemudian satu per satu dari kami tumbang tertidur karena kelelahan.

?Ikut aku mas, ayo ikut aku? terdengar suara lirih memanggilku di kesunyian malam.

Aku pun terbangun dan seluruh tubuhku merinding ketakutan namun hal ini membuatku penasaran. Suara itu kembali memanggilku berulang-ulang kali. Karena semakin penasaran aku pun mengikuti suara tersebut entah dari arah mana. Kuikuti terus hingga aku tak sadar kalo aku sudah berada di pinggir tebing. Tiba-tiba angin bertiup kencang membuat keseimbangan ku goyah. Hal itu membuatku terperosok dari tebing dan akhirnya aku tercebur ke sebuah sendang yang di ceritakan Paklik. Aku segera menuju pinggir sendang tersebut, kulihat ada sebuah kalung yang terlilit di tumbuhan pinggiran. Ketika kuambil kalung itu, kepala ku menjadi sangat berat dan membuatku tak sadarkan diri. Hal ini membuatku bertemu kembali dengan gadis itu di dalam mimpiku.

?Berikan kalung itu pada ibuku? kata gadis tersebut di dalam mimpiku.

Kemudian ia tersenyum dan menghilang. Disaat itulah aku tersadar diantara warga desa yang sedang berkumpul. Kuceritakan kejadian itu pada warga desa termasuk Paklik mengenai kalung, sendang, dan seorang gadis yang selalu menghantuiku. Kemudian Paklik menceritakan bahwa beberapa tahun lalu ada gadis bernama Nala tewas jatuh dari tebing dan mayatnya ditemukan di pinggir sendang. Paklik menceritakan bahwa gadis tersebut merupakan anak dari nenek yang berada di perbatasan keluar desa.

Setelah tubuhku pulih, aku ditemani Ferdi dan Paklik menemui nenek tersebut. Setibanya disana, kami ceritakan apa yang telah terjadi padaku dan menunjukan kalung itu pada sang nenek. Tiba-tiba nenek itu menangis hingga terjatuh. Beberapa saat setelah tangisannya reda, dia mulai menceritakan bahwa ketika muda dulu kalung miliknya hilang di sekitar sendang. Kejadian itu ia ceritakan pada anaknya Nala. Nala memiliki niat untuk mencari kalung ibunya tersebut. Meskipun sudah dilarang, Nala bersikeras untuk pergi hingga akhirnya kejadian itu terjadi dan menewaskan Nala. Suasana pun menjadi hening penuh dengan kesedihan dan haru. Setelah kejadian itu, pernah suatu malam ketika aku tidur Nala menghampiriku untuk mengucapkan terima kasih dan Nala pun tidak pernah muncul kembali dalam mimpiku.

-SEKIAN-

  • view 104