Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 25 Mei 2018   10:15 WIB
Daftar Dosa Eyang Kakung

by Arya Hasa Kuswiratama


-Aku tidak menyesalinya, namun bantu aku untuk memperbaikinya-

Itulah pesan wasiat kakek yang diberikan padaku sebelum beliau menghadap Sang Pencipta. Sambil kertas wasiat kakek kuselipkan ke kantong celanaku, tanda tanya dan rasa penasaran mengenai wasiat kakek selalu menghantui pikiran ini. Namun, aku percaya cepat atau lambat aku bisa menemukan jawabannya.

“Ti… Sakti…! Cepat bantu eyang putri, terus kerja bakti!” teriak suara perempuan dengan suara parau.

“Iya eyang putri, sebentar ya” ujarku sambil bergegas menemui eyang putri.

Namaku Sakti, aku tinggal berdua dengan eyang putriku sejak masih kecil. Aku pun tidak tahu siapa kedua orang tuaku karena eyang putri tidak pernah mau menceritakannya. Sebelum eyang mangkat, banyak hal yang telah kami lakukan bersama, seperti menanam padi, memancing ikan, memanen padi dan menjualnya ke pasar. Eyang kakung sering sekali menceritakan dongeng-dongeng yang tidak ada di dunia nyata dan selalu diakhiri dengan nasehat bahwa kita manusia harus selalu menepati janji atau hutang yang kita miliki pada orang lain.

Hari ini waktunya kerja bakti bersama warga kampung, dan sialnya aku mendapat bagian membersihkan daun-daunan kering di perbatasan kampung yang konon katanya pepohonan disana seakan memperhatikan kita bahkan pernah hal aneh terjadi dimana seorang laki-laki yang sebaya denganku lari tunggang langgang ke kampung karena melihat pohon yang memiliki mata menyala dan mulut yang sedang terbuka lebar seakan ingin memakannya. Bagiku itu mengerikan, namun karena sudah biasa dengan dongeng fantasi yang diceritakan eyang kakung, aku jadi penasaran.

Belum lama aku menyapu bagian perbatasan, aku mendengar suara-suara lembut memanggilku.

“Halooooo tampaaaaaaaan mendekatlaaaaaaaaaah” begitulah suara yang ku dengar berulang-ulang.

Kudekati suara itu perlahan-lahan menyusuri pepohonan rimbun yang daunnya mulai tua dan berjatuhan. Semakin lama suara itu semakin jelas terdengar nyaring di telingaku. Didepanku Nampak jelas sebuah barisan pohon dengan mata menyala dan mulut yang sedang terbuka memanggil-manggil namaku. Aku yang ketakutan sontak berbalik arah dan berlari sekencang-kencangnya. Tak tahu ada lubang kecil di dalam tanah, aku pun tersandung dan tak sadarkan diri.

“Banguuuuuuun anaaaaaaaaaak tampaaaaaaaaaan.” ujar sebuah suara misterius yang perlahan-lahan membuatku membuka mata.

“Siapa kamu? Aku dimana? Jangan makan aku.” teriakku ketakutan sambil melemparnya dengan batu kerikil.

“Jangaaaaaaaaaaaan Takuuuuuuu….huk..uhuk…uhuk.” jawabnya sambil terbatuk-batuk.

“Hmmm… bicaranya biasa aja ya jangan dibuat-buat.” Ucapku dengan wajah jengkel.

“Huhuhu ketahuan deh, iya maaf. Perkenalkan namaku Olm si Pohon Hidup yang gemar bernyanyi. Kamu sekarang ada di Negeri ABCD dan kamu tadi tersandung lalu masuk kedalam mulut saudaraku Oln yang ada diduniamu.” Jawabnya sambil tertawa.

“Apa itu ABCD? Berarti aku terjebak di dunia yang penuh makhluk aneh sepertimu?” tanyaku dengan penasaran.

“ABCD itu singkatan dari Ajaib Betul Cin Dunianya huhuhu. Bisa jadi kamu terjebak selamanya huhuhu.. dan perlu kamu tau juga, disini bukan hanya aku yang tinggal disini, ada kerajaan besar yang menguasai daerah ini” jawabnya sambil tertawa-tawa.

“Yang benar aja? Nama negeri ini aneh sekali, mudah-mudahan tidak berisi makhluk-makhluk aneh” jawabku.

Kemudian si Pohon Hidup itu menceritakan kepadaku panjang lebar mengenai negeri ini. Negeri ABCD ini sedang dilanda peperangan karena perselisihan dua kerajaan, dimana kerajaan kera barat dipimpin oleh Raja Sunu dan kerajaan kera timur dipimpin oleh Raja Suko. Kedua raja ini merupakan adik kakak yang sakti mandraguna, sehingga tiap peperangan selalu menyebabkan gempa mahadahsyat di seluruh negeri. Pernah diadakan musyawarah para raja-raja untuk meredam peperangan diantara kedua kerajaan ini, namun tidak mencapai  mufakat apapun sehingga perang terus berlanjut.

            Tidak lama ku mendengar cerita si Pohon Hidup, tiba-tiba terdengar suara kera dengan jumlah tidak sedikit, datang mendekat ke arah kami. Beberapa saat kemudian, turunlah dari dahan pohon berpuluh-puluh kera dengan baju perisai dan persenjataan seperti, pedang, tombak, dan panah.

“Ini seperti cerita dongeng yang pernah diceritakan eyang kakung” ucapku dalam hati.

“Uwaaaaaa Siapa namamu? uwaaaaa” jawab seorang kera yang badannya lebih besar dari kera lainnya.

“Namaku sakti, salam kenal hehe” ucapku sambil membatin dalam hati untuk apa aku mengucapkan salam kenal sambil tertawa.

“Uwaaaaa Sakti siapa? Siapa nama lengkapmu? uwaaaaa” Tanya dia kembali.

“Nama lengkapku Sakti Pusaka.” Ucapku sambil mengangkat tanganku untuk berjabat tangan.

“Uwaaaa Apa hubunganmu dengan Kusuma Pusaka? Uwaaaaaa” jawabnya sambil menjabat tanganku dan meremas tanganku sangat kuat.

“Aw Aduduh.. beliau adalah mendiang eyang kakung atau bisa disebut dengan kakekku” jawabku sambil kesakitan.

“Uwaaaaaaaa tangkap anak ini pasukan.” Teriak kera tersebut seraya para gerombolan kera itu mengepungku.

Aku yang bingung hanya bisa pasrah di ikat lalu dimasukkan kedalam kurungan kemudian dibawa pergi oleh gerombolan kera tersebut. Aku terkejut melihat para kera itu dapat mengambang diudara. Hanya dengan menapakkan kaki diudara muncul awan-awan kecil sebagai pijakan. Aku baru sadar bahwa mereka membawaku ke sebuah kerajaan yang terdapat diatas awan. Sesampainya di kerajaan tersebut, aku dikeluarkan dari kurungan diantara para kera-kera yang berbaris rapih dan gagah perkasa. Aku juga melihat tepat didepanku ada seorang kera yang amat gagah mengenakan mahkota.

“Uwaaaa… lapor baginda Sunu, kami membawakan seorang manusia yang tidak lain dan tidak bukan ialah cucu Kusuma Pusaka.” Ucap salah satu dari kera yang membawaku tadi.

“Uroooo…. Wahai anak muda, benarkah engkau ini cucu dari Kusuma Pusaka? Kalau memang benar, segera tepati janjimu!” ucap sang Raja Sunu dengan tegas.

“janji? Sejak kapan aku punya janji dengan raja kera?”ucapku dalam hati.

“memang benar saya cucu eyang kakung Kusuma Pusaka, namun saya yakin tidak memiliki janji dengan anda”jawabku juga dengan tegas.

Kemudian terjadilah pembicaraan cukup alot dimana sang raja terus menagih janji padaku dan aku merasa tidak memiliki janji dengan beliau. Hingga akhirnya sang raja membuat keputusan untuk memasukkanku ke penjara sampai aku mau menepati janji yang diinginkan Raja Sunu. Aku pun dimasukkan kedalam penjara yang penuh dengan jerami dan lembab. Awalnya kukira aku sendirian, namun ternyata bukan hanya aku yang ada di dalam penjara.

“kikikiki sepertinya aku punya teman baru, baumu sangat sedap. Sudah lama aku tidak menyantap daging” ucap sosok yang berada di balik jerami

“Siapa kamu? Jangan makan aku, dagingku tidak enak” ucapku.

“kikikiki tenanglah anak muda, aku hanya bercanda. Perkenalkan namaku Ciqiel, peri yang terbuang kikiki” ucapnya sambil mengepakkan sayapnya namun hanya sebatas melayang karena kakinya di ikat.

“Ciqiel? Kaki?”tanyaku dalam hati.

“Namaku Sakti Pusaka, namamu keren juga hehehe” jawabku.

“Kamu cucu Kusuma Pusaka?” tanyanya.

Aku pun hanya mengangguk-angguk. Kemudian Ciqiel menceritakan padaku apa yang terjadi padaku dan apa hubungannya dengan kerajaan ini dan juga eyang kakung. Dahulu eyang kakung dan juga Ciqiel adalah sahabat meskipun hanya berkomunikasi melalui telepati. Mereka selalu bertukar cerita satu sama lain dari jarak jauh hingga eyang kakung menjadi semakin tua namun tidak pada Ciqiel karena ia adalah peri yang abadi. Kemudian Ciqiel menceritakan bahwa sebelum eyang kakung kembali ke duniaku, dia pernah mengunjungi Ciqiel lalu memberikan secarik kertas yang telah dirobek pada Ciqiel untuk diberikan padaku ketika aku datang ke negeri ini.

“Robekan kertas ini sepertinya cocok dengan kertas yang diberikan eyang kakung sebelum beliau mangkat” ucapku.

Ketika aku gabungkan kemudian kertas itu pun bercahaya dan muncul sebuah cahaya biru berbentuk perempuan berambut biru dengan jubah berwarna hitam.

“Akhirnya aku berhasil dibangkitkan, perkenalkan namaku Ulam sang bangsa ruh yang terikat dengan janji dengan Kusuma Pusaka”ucap makhluk cahaya biru tersebut.

“kamu kenal Kusuma Pusaka? Kusuma Pusaka itu kakekku.” Tanyaku dengan penasaran.

Kemudian ia menjelaskan bahwa eyang kakung ialah pengelana sakti yang memiliki sejumlah janji dengan penduduk Negeri ABCD. Eyang kakung kemudian menulis janji-janji tersebut dan diberi nama daftar dosa karena ia tahu di usianya yang kala itu sudah sangat senja, tidak mungkin ia menepati janji-janji tersebut. Kemudian eyang kakung mengerahkan kekuatan terakhirnya untuk menciptakan Ulam dan menyegelnya bersama daftar tersebut. Daftar tersebut dirobek menjadi kertas lalu diberikan pada Ciqiel dan aku ketika eyang kakung menjelang mangkat. Apabila kedua kertas digabung, maka akan menjadi daftar dosa dan Ulam yang terbangun dari tidurnya harus mengabdi pada Sakti untuk membantunya dalam melunasi semua janji-janji eyang kakung yang tak bisa ditepati.

“yang benar saja, yang membuat janji eyang kakung tapi aku yang harus menepatinya” ucapku dengan nada jengkel.

“kikikiki diujung senjamu, kau memberikan beban yang berat pada cucumu sendiri kikiki” ucap Ciqiel.

“mulai saat ini izinkan Hamba untuk mengabdi pada Tuan Sakti” Ucap Ulam sambil bersujud pada Sakti.

“Jangan seperti itu, berdirilah. Kalau seperti ini aku bingung harus bagaimana. Pertama, aku ingin bertanya apakah didaftar dosa eyang kakung terdapat janji dengan Raja Sunu?” Ujar Sakti dengan kebingungan.

“Ya, anda benar. Kusuma Pusaka berjanji akan mengembalikan apel yang ia pinjam pada Raja Sunu. Apel tersebut merupakan apel madu yang menjadi lambang persaudaraan Raja Sunu dan Raja Suko. Pada kenyataannya apel itu telah dimakan oleh Kusuma Pusaka saat ia lapar” jelas Ulam.

“Menjengkelkan!!!, eyang kakung yang berbuat ulah lalu aku yang harus memperbaikinya?”tanyaku pada Ulam.

“Benar sekali, Hamba ada disini untuk memberikan solusi. Kita dapat mengambil apel madu yang baru di pegunungan macan” jawabnya.

 “kikikiki kasihan sekali, engkau yang berbuat tapi cucumu yang mendapat beban sebelum kau mangkat”ucap Ciqiel sambil tertawa.

Aku hanya bisa mengangguk-anggukan kepala. Akhirnya aku pun memanggil penjaga untuk segera melepaskanku untuk menghadap raja. Setelah menjelaskan, raja pun sangat bersemangat dan berharap aku dapat mendapat apel madu tersebut. Permintaanku pada raja untuk melepaskan Ciqiel pun dikabulkan untuk menemani perjalananku. Sesampainya didepan gerbang, aku pun mengeluarkan daftar dosa dan memanggil Ulam untuk keluar dan menjelaskan situasi padanya. Ulam memahaminya dan seketika muncul lingkaran biru yang mengitari tubuh kami lalu kami bertiga menghilang dari gerbang kerajaan.

Kami pun akhirnya muncul didepan pegunungan macan. Disana kami telah disambut oleh kawanan manusia macan dengan tatapan tidak ramah. Namun, ada satu manusia macan yang tatapannya sangat tenang dengan perawakan gabungan antara singa dan macan. Seketika ia bergerak cepat dan muncul didepanku.

“Ada urusan apa kau kesini Grrraaao?”Tanya ia padaku.

“kami ingin meminta apel madu” jawabku dengan tegas.

“Gra gra gra gra boleh saja tapi kau harus berduel denganku hingga mati”ucapnya sambil tertawa

Ciqiel dan Ulam pun geram lalu berusaha menghajar manusia macan tersebut. Ciqiel terbang mendekati manusia macan tersebut sambil menembakinya dengan sinar yang keluar dari tangannya. Bukannya menghindar dari serangan sinar Ciqiel, manusia macan tersebut justru menikmati tubuhnya ditembaki dengan sinar.

“Graaao hangatnya sinar-sinar yang kau berikan” ucap manusia macan tersebut sambil tersenyum.

“kikikiki sepertinya terlalu lama didalam penjara membuat serangan sinarku jadi lemah kikikiki” ucap Ciqiel sambil tertawa.

Ulam juga tak tinggal diam, batu-batu besar disekitar kami ia angkat dengan kemampuannya lalu dilemparkan ke arah manusia macan tersebut. Namun, serangan tersebut di tangkis oleh sang manusia macan dengan cakarnya merah menyala mengeluarkan kilat merah.

“kikikiki cakar abuh ya? kikikiki” Tanya Ciqiel pada sang manusia macan.

“Bukankah cakar abuh seharusnya dimiliki oleh-” ucap Ulam namun kalimatnya terpotong oleh raungan sang manusia macan.

“GRRRAAAAAOOOOOO Diam kalian!!!” teriak sang manusia macan.

 Sembari berteriak, sang manusia macan itu memukul tanah dan mengeluarkan tanah keras dari dalam perut bumi lalu berubah menjadi kurungan tanah yang membuat Ciqiel dan Ulam tidak bisa bergerak. Aku pun tidak punya pilihan lain selain melawannya. Kami pun memulai duel dengan kondisi tidak imbang karena aku sendiri tidak memiliki ilmu beladiri sedikitpun dan hanya berusaha menghindar dari serangan cakar abuh yang membabi buta. Ketika aku sudah terpojok, tiba-tiba aku merasa darahku memanas lalu spontan dapat melawan manusia macan itu. Tiba-tiba aku dapat melakukan beladiri dan dapat mengimbangi serangannya. Hingga akhirnya manusia macan itu pun kalah.

“aku mengaku kalah, tolong ampuni aku dan akan kuberikan apel madu itu”ujar manusia macan.

“Terima kasih ya, sebelumnya siapa namamu?” ucapku padanya.

“Namaku Sutra, di pegunungan macan ini aku hanya tinggal sendirian. Semua manusia macan yang kalian lihat merupakan bentuk bayangan gandaku” ucap Sutra.

Keren juga bisa menggandakan diri hehehe.. Kalau begitu maukah kamu ikut bersama kami?”tanyaku pada Sutra.

Sutra pun dengan senang hati menerima ajakanku lalu melepas Ciqiel dan Ulam dari kurungan batu. Kami pun segera menuju kerajaan kera barat dan berhasil mencegah perang berkelanjutan antara Raja Sunu dan Raja Suko. Kedua kerajaan tersebut akhirnya berdamai.

“Uroooo Wahai Sakti Pusaka, apakah engkau dan teman-temanmu tidak ingin tinggal disini?” Tanya Raja Sunu pada Sakti.

“Terima kasih baginda Sunu, namun kami harus melakukan perjalanan untuk melunasi semua daftar dosa milik eyang kakung Kusuma Pusaka”jawabku dengan tegas.

“Uroooo Baiklah jika itu keputusanmu, kudoakan keselamatan pada kalian berempat”ucap Raja Sunu.

Pesan terakhir eyang kakung telah membawaku pada gerbang petualangan baru. Masih banyak daftar dosa milik eyang kakung yang harus kulunasi dengan ditemani tiga kawanku Ciqiel sang peri terbuang, Ulam sang ruh, dan Sutra si manusia macan. Aku pun juga harus mengungkap masa lalu eyang kakung dan apa yang diwariskan beliau padaku. Perjalanan kami pun dimulai.

 

-------||------

Karya : Arya Hasa K