Setitik Harapan di Ufuk Timur (Part 4)

Arya Hasa K
Karya Arya Hasa K Kategori Lainnya
dipublikasikan 18 Juli 2016
Setitik Harapan di Ufuk Timur (Part 4)

Melihat kondisi pakde sugeng yang terkapar , aku langsung mengangkatnya dan membawanya ke puskesmas yang berada di desa. Setelah diperiksa oleh dokter, ternyata pakde sugeng terlalu kelelahan karena bekerja dikebun setiap waktu. Setelah itu kami kembali pulang dirumah.

Sesampainya dirumah kurebahkan tubuh pakde sugeng di kasur serta ku selimuti beliau.

“Pakde ngga usah berkebun dulu ya, biar saya aja nanti yang bercocok tanam dan mengurus kebun pakde.” Ujarku

“Tapi kamu belum mengerti seluk beluk dan bagaimana cara mengurus sawah dan kebun, bagaimana kamu akan melakukannya?” sanggahnya.

Sambil tersenyum aku berkata pada beliau “Saya akan berusaha untuk mengurus sawah dan kebun pakde dengan mempelajari cara-cara mengurusnya secara perlahan, yang terpenting pakde sekarang harus sepenuhnya istirahat untuk kedepannya.”

“Pakde akan memberitahukan caranya ke kamu selebihnya kamu yang mengurus, terima kasih karena sudah membantu pakde” ujar pakde dengan tatapan haru.

Akhirnya hari itu kami beristirahat dan juga mempersiapkan apa yang akan kulakukan esok hari.

Adzan subuh berkumandang terdengar dari jauh dan secara spontan aku terbangun dan bergegas berangkat ke masjid dengan menuntun pakde sugeng yang masih sakit. Setelah sholat berjamaah di masjid. Setelah itu kami kembali kerumah dan aku segera mandi. Setelahnya mandi, pakde sugeng memanggilku dari dalam kamarnya.

“Rangga tolong kesini sebentar!” panggil pakde sugeng.

 Aku langsung masuk kamar pakde sugeng dan beliau memberikanku lembaran-lembaran kertas yang bagiku cukup tebal seperti halnya dokumen pekerjaanku dulu.

“Ini ada sedikit panduan apa yang harus kamu lakuin di sawah sama kebun nanti, tapi yang terpenting sekarang adalah membersihkan sawah dari bekas panen yang lalu”. Ujar pakde sugeng

“makasih pakde, catatannya pasti sangat membantu” jawabku dengan semangat.

Kemudian aku beranjak ke sawah pakde dengan bantuan penerangan mega merah sang fajar.  Dalam perjalanan aku terlalu sibuk membaca lembaran yang diberikan, aku tak melihat bahwa aku sudah melewati pinggiran sungai dan tiba-tiba aku terpeleset. Yang membuatku lebih terkejut lagi adalah sebagian lembaran yang diberikan pakde sugeng hanyut terbawa arus sungai. Ada perasaan takut dibenakku karena aku takut bila akan lupa dengan apa yang akan aku lakukan. Kemudia aku mengumpulkan lembaran kertas milik pakde dan ternyata yang tersisa hanyalah panduan untuk berkebun dan hal itu membuatku sedikit jengkel karena perlakuan cerobohku. Kemudian hampir mendekati sawah, aku bertemu firman.

“Mas rangga, mau kemana? Kok jalan sendirian?” tanya firman

“oh iya, ini aku mau ke sawah mau ngurusin sawah sama kebun soalnya pakde sugeng lagi sakit Cuma aku sekarang takut lupa apa yang mau dilakukan disana” jawabku dengan nada pelan.

“Firman bantuin mas, aku kan udah lama bantuin kakek bercocok tanam dan berkebun jadi aku mengerti” ujarnya dengan tegas

“wah, makasih ya man” jawabku dengan senyuman.

Sesampainya disana aku ingat apa yang mau dilakukan yaitu membersihkan bekas-bekas padi yang sudah dipanen. Kemudian firman memanduku untuk membajak sawahnya agar tanahnya menjadi gembur. Setelah semua sudah dibajak, aku dan firman mulai menanam bibit-bibit padinya kemudian aku airi semua bibit padinya. Setelah semua selesai, aku dan firman beristirahat di pinggir sawah. Sambil ku lihat seluruh badanku yang penuh dengan tanah aku kembali teringat dengan masa laluku dimana dulu aku adalah manager sukses namun kini aku bercocok tanam. Aku menerima apa yang telah terjadi padaku, bagiku ini semua adalah awal bagiku untuk kembali bangkit. Karena aku percaya Allah swt selalu punya rencana yang lebih baik untuk hamba-Nya.

Bersambung.....

 

  • view 215