Setitik Harapan di Ufuk Timur(Part 2)

Arya Hasa K
Karya Arya Hasa K Kategori Lainnya
dipublikasikan 14 Juli 2016
Setitik Harapan di Ufuk Timur(Part 2)

          Hari kini telah berlalu setelah musibah kebakaran yang mengakibatkan seluruh harta benda yang kumiliki habis dan hilangnya pekerjaanku. Kini kuhanya bisa menganggur dalam tenda dengan bercakap-cakap dengan warga yang mengungsi. Tidak luput pula, aku juga ikut bahu membahu bersama warga ketika menerima donasi untuk membantu warga korban musibah kebakaran ini. Sisanya aku hanya bisa berdiam diri di tenda pengungsian.

            Suatu ketika aku sangat suntuk dengan keadaanku yang tak kunjung mendapat  pencerahan atas musibah yang mendera ku ini. Akhirnya setelah ku memikirkan ulang berkali-kali apa yang kulakukan, aku memutuskan untuk meninggalkan tenda pengungsian dan mecoba untuk merintis hidupku kembali yang kuanggap tak memiliki harapan kembali. Kukemas semua barangku yang ada dengan kukantongi uang-uangku yang tersisa. Ku ingat bahwa didaerah Brebes, Jawa tengah tinggal saudaraku disana. Dengan segera kulangkahkan kakiku ke terminal yang tidak jauh dari tempat pengungsianku untuk berangkat ke Brebes. Sesampainya aku di terminal, aku langsung membeli tiket bus tujuan Brebes dan Alhamdulillah aku mendapatkannya. Disamping itu ternyata tidak lama setelah membeli tiket, bus yang akan aku naiki datang sehingga aku tak perlu menunggu lama. Akhirnya sesaat setelah bus datang, aku menaiki bus itu dan bus yang kunaiki berangkat menuju brebes.

          Perjalanan ku menuju brebes menggunakan bus, kutempuh dalam waktu satu malam saja. Setelah semalaman bus yang kunaiki mengarungi jalan, akhirnya keesokan paginya pun sampai diterminal Brebes.  Kini kulangkahkan kakiku menuju rumah saudaraku yang jalannya lumayan jauh karena harus masuk ke pelosok desa. Sekitar 2 jam ku berjalan aku akhirnya menemukan tempat saudaraku tinggal. Rumah saudaraku sangat sederhana dan dikelilingi sawah dan perkebunan buah, sayur, dan umbi-umbian. Kuketuk pintu rumah saudaraku namun tidak ada yang keluar, kucoba kuketuk kembali dan akhirnya keluarlah seorang lelaki yang sudah tidak muda lagi, beliau kaget dengan kedatanganku dan seraya berkata “subhanallah nak Rangga, kapan dateng? Kok ngga bilang kalo mau kesini?”

          “baru saja saya sampai pakde, saya kesini juga karena mendadak”, jawabku.

         Pria tersebut adalah pakde Sugeng, beliau adalah keluarga terdekatku sekarang dikarenakan dari kecil aku selalu main dengan beliau saat masih cukup muda. Pakde Sugeng tinggal sebatang kara di brebes karena dahulu ada insiden kecelakaan dimana istri dan anak pakde Sugeng tak terselamatkan. Akhirnya aku pun dipersilahkan masuk dan kami ngonbrol panjang lebar dengan pakdeku dan juga aku menceritakan apa yang sebenarnya terjadi padaku dan apa maksud tujuanku ke rumah pakdeku. Setelah mendengarkan ceritaku, pakde Sugeng menerimaku dengan sukacita untuk tinggal dirumahnya dan pastinya aku juga akan membantu pakde Sugeng untuk mengurus sawah dan kebunnya. Pakde Sugeng adalah salah satu petani yang ulet didesa yang ditinggalinya, banyak macam pula sayur dan buah yang beliau tanam.

        Malam sudah sangat larut dan akhirnya kami berdua memutuskan untuk beristirahat. Keesokan paginya, disuasana subuh yang masih cukup petang, aku dan pakde Sugeng berangkat ke masjid yang tidak jauh dari rumah beliau namun harus menyusuri jalan setapak dipinggiran sawah. Tiba-tiba kami mendengar sebuah suara.... “TOLOOOONG.. TOLOOOONG....”.

Bersambung......

  • view 153