Tunggu Ayah, Putriku

Arya Hasa K
Karya Arya Hasa K Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Mei 2016
Tunggu Ayah,  Putriku

“Kumohon tunggulah Ayah. Sebentar lagi Ayah akan pulang.” Gumamku dalam hati.

Namaku Parjo, aku adalah seorang ayah dengan seorang putri bernama Nia. Istriku telah meninggalkan kami berdua ketika Nia lahir. Nia kini telah berusia 16 tahun, dan dua minggu lagi ia akan menginjak umur 17 tahun. Tidak menyangka dia sudah beranjak dewasa. Meskipun begitu aku sangat sedih karena sudah dua tahun ini aku jauh dari Nia. Aku hanyalah tukang bangunan yang ikut rombongan untuk membangun sebuah gedung di lokasi yang cukup jauh dari putriku. Selama aku bekerja, Nia tinggal dengan sepupunya yang sudah bekerja dan tinggal di sebuah kontrakan. Yang kulakukan selama ini untuk Nia hanyalah mengirimkan ia uang untuk sekolah dan keperluan sehari-hari. Aku sangat ingin memberikan Nia sesuatu untuk hari ulang tahunnya yang ke 17. Aku hanya bisa terus berharap karena memang pendapatanku tidak banyak.

Suatu hari ketika aku sedang bekerja, secara tidak sengaja aku menjatuhkan bata yang sudah kupangkul karena aku kehilangan keseimbangan. Bata tersebut mengenai kakiku sehingga membuatku terluka. Akhirnya aku pun beristirahat sejenak untuk membersihkan luka dan memberi obat pada luka tersebut. Kemudian temanku yang biasa ku panggil Bang Mandor datang kepadaku.

“Kamu kenapa Parjo? Kok bisa luka kayak gitu?” Tanya Bang Mandor.

“Iya bang, tadi saya ngga kuat nahan beban jadi salah satu bata ada yang jatuh mengenaiku.” Jawabku pada Bang Mandor.

“Akhir-akhir ini aku lihat kamu sering melamun dan kerjamu terburu-buru. Ada apa Parjo?” Tanya kembali Bang Mandor.

Kemudian aku pun menceritakan pada Bang Mandor kalau aku sering memikirkan anakku. Aku sangat rindu padanya, namun karena tuntutan pekerjaan, aku harus bersabar. Aku juga menceritakan keinginanku untuk membelikan anakku hadiah atau paling tidak kue untuk ulang tahun anakku. Bang Mandor pun berkata bahwa seminggu lagi pekerjaan kita akan selesai jadi aku bisa bertemu dan merayakan ulang tahun anakku. Lalu kami melanjutkan dengan berbincang-berbincang panjang lebar.

Seminggu telah berlalu dan ini adalah waktu rombonganku untuk pulang ke daerah kami masing-masing. Aku pun sudah memesan tiket bus untuk kepulanganku. Kemudian aku pun memulai perjalanan pulang menuju daerahku dengan tiket yang telah ku pesan. Sesampainya di terminal, aku ingin membeli kue bolu untuk anakku di rumah. Ketika sudah kubeli, kulihat ada pemulung yang sedang mengais-ngais tong sampah. Tak tega aku melihat seperti itu hingga kemudian ku berikan bolu itu kepada pemulung tersebut. Memang membelikan bolu untuk anakku adalah prioritasku, namun melihat hal tersebut menjadikan hal ini sebagai kewajibanku untuk berbagi kepada yang lebih membutuhkan.

Kulanjutkan langkah kakiku menuju rumah dengan hati riang karena akan bertemu putriku. Ketika sedang menyeberang jalan, tiba-tiba datang mobil dengan kecepatan tinggi menuju ke arahku. Kejadian itu pun terjadi sangat cepat hingga aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Ketika aku sadar, aku pun sudah berada di kamar rumah sakit. Ku lihat putriku sedang tidur disampingku dan menggenggam tanganku. Putriku Nia akhirnya terbangun dan sadar bahwa aku telah terbangun, putriku langsung menangis dan memelukku. Aku pun senang bisa melihat putriku kembali. Sesaat aku merasa bahagia kemudian digantikan oleh rasa sedih dikarenakan ada bagian dari tubuhku yang sudah tidak bisa menahan berat lagi sehingga aku tidak bisa menjadi tukang bangunan kembali. Sehari setelahnya keluarga yang menabrakku datang dan meminta maaf kepada kami. Sebagai tanda minta maaf, keluarga tersebut memberi kami amplop berisi satu juta rupiah. Aku pun senang karena bisa membelikan putriku hadiah dan kue. Kemudian kami mulai bercakap-cakap.

“Kalo boleh saya tau bapak bekerja apa ya?” Tanya salah satu anggota keluarga.

“Sebelumnya saya hanyalah tukang bangunan pak, namun karena kejadian ini saya jadi kehilangan profesi dan pekerjaan saya” Jawabku sambil tertunduk sedih.

“Adakah keterampilan yang bapak bisa lakukan? Barangkali bisa kami bantu. Lalu sebelum menjadi tukang bangunan pekerjaan bapak apa? ” Tanya kembali salah satu anggota keluarga tersebut.

Kemudian aku menceritakan bahwa sebelum menjadi tukang bangunan saya adalah pengemudi truk besar sebuah pabrik, namun karena terjadi PHK besar-besaran terpaksa saya diberhentikan dari pekerjaan tersebut. Sebelum menjadi supir truk bus pun saya juga pernah menjadi supir pribadi. Saya menjadi supir pribadi ketika saya masih muda dan belum menikah. Namun ketika saya menikah, saya mengundurkan diri dari pekerjaan tersebut.

Mendengar ceritaku tersebut, keluarga itu menjadi sangat antusias untuk mempekerjakan kami menjadi supir pribadi keluarga mereka. Aku pun sangat bahagian karena hal tersebut. Akhirnya mereka pun pamit untuk pulang dan mendoakanku supaya lekas sembuh. Beberapa hari kemudian aku pun sudah pulang ke rumah. Sebelum hari ulang tahun Nia, aku membelikan Nia sebuah baju, buku dan alat tulis untuk Nia sekolah. Kemudian barang tersebut aku bungkus menjadi kado yang lucu. Hari yang ditunggu telah tiba, kami pun merayakan ulang tahun Nia dengan gembira. Aku membelikan kue black forest untuk ulang tahun Nia dan dia sangat terkejut karena hal itu. Dia pun juga senang dengan hadiah yang aku berikan.

“Selamat ulang tahun putriku, terima kasih telah menunggu ayah.” Ujarku pada Nia sambil kupeluk dia.

-SEKIAN-

  • view 230