Asosiasi Teman Khayalan

Arya Hasa K
Karya Arya Hasa K Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 Mei 2016
Asosiasi Teman Khayalan

Sore ini terasa sangat mencekam bersamaan dengan gelapnya langit yang menandakan akan turun hujan. Hari ini aku harus menghadapi teguran ayah lagi akibat ulahku. Entah kenapa sudah hampir sebulan aku sering  melakukan kesalahan yang kuulang-ulangi.

“Jimmy!!! Sudah Ayah bilang jangan sekali-kali berbohong sama orang tuamu sendiri.” bentak Ayah padaku.

“Kamu kenapa berbuat seperti ini lagi nak? Ayah dan Ibu tidak pernah mengajarkanmu untuk seperti ini.” Tanya ibu kepadaku sambil menangis.

Aku hanya bisa menunduk tanpa bisa menjawab apa-apa. Kali ini aku berbohong kepada orang tuaku dengan mengatakan aku akan belajar kelompok sepulang sekolah padahal aku bermain dengan teman-temanku hingga malam hari. Aksi berbohongku dimulai ketika aku mulai merasakan sangat kesepian dirumah. Ayah dan ibuku bekerja di tempat yang berbeda terlebih lagi, baru-baru ini mereka di promosikan ke jabatan yang lebih tinggi. Hal ini membuat kedua orang tuaku sering mengalami kerja lembur sehingga mereka tidak memiliki waktu untukku. Karena itulah aku sering berbohong untuk pergi bersama-sama temanku dengan alasan belajar kelompok untuk mengisi rasa sepiku. Akhirnya, orang tuaku sepakat untuk menghukumku untuk tidak keluar rumah sepanjang liburan akhir sekolah. Malamnya, aku sangat frustasi atas hukuman yang diberikan orang tuaku.

Hingga keesokan paginya, aku berencana untuk kabur dari rumah. Ketika Ayah dan Ibuku masih terlelap, aku menyelinap lewat jendela kamar lalu memanjat pagar secara hati-hati. Kemudian aku berlari secepat mungkin tanpa tahu kemana arah tujuanku dikarenakan pikiranku sedang kacau. Ketika posisiku berada di tengah jalan, aku tidak menyadari ada mobil sedang melaju sangat kencang. Kejadian tersebut terjadi sangat cepat hingga aku sendiri tidak tahu bagaimana nasibku. Aku merasa melayang-layang dalam kegelapan yang pekat. Hingga kulihat setitik cahaya terang menarikku ke arah cahaya tersebut. Perlahan-lahan mataku terbuka dan terlihat sesosok bayangan yang terlihat semakin jelas sedang berbicara padaku.

“Syukurlah, akhirnya kau sudah sadar wahai pemuda tampan” Ucap orang asing itu sambil tersenyum.

“Aku dimana? Apa aku di surga? Kau siapa?” Tanyaku kebingungan sambil memegang kepalaku yang sangat terasa pusing.

“Tenang anak muda, kau sudah berada di tempat yang aman. Ini tidak bisa dikatakan sebagai surga, lebih tepatnya ini adalah dunia khayalan. Perkenalkan namaku Marco Macaca. Kau sekarang berada di markas besar ATK. Kalo boleh tau siapa namamu?” Jelas orang itu sambil bertanya kepadaku lagi.

“Namaku.. Namaku Jimmy. Apa yang terjadi padaku? Apa itu ATK?.” Tanyaku kembali dengan rasa kebingungan.

“Aku akan menjelaskan padamu secara perlahan namun ada baiknya kau memakan makanan yang telah kami siapkan.” Jawab Marco kepadaku.

Aku pun perlahan-lahan mulai menyantap makanan yang telah dipersiapkan oleh Marco. Sambil aku menyantap makanan, Marco mulai bercerita padaku perlahan-lahan mengenai apa yang terjadi padaku dan tempat apa ini. Marco mengatakan bahwa ia melihat ketika aku sedang berlari, datang mobil dengan kecepatan tinggi ke arahku. Akhirnya terjadilah insiden tabrakan tersebut. Namun, disaat yang bersamaan terjadi getaran gelombang dari dunia khayalan sehingga membuat ruhku terpisah dari badan dan terbawa ke dunia khayalan. Marco membawaku dan merawatku selama tujuh hari hingga aku sadar saat ini. Dia juga menjelaskan bahwa tubuh asliku kini tengah mengalami koma di rumah sakit dan orang tuaku sedang menungguku sambil berharap aku cepat siuman. Alasan mengapa Marco dapat melihat kejadian itu karena ia memiliki Teropong Sona yang dapat melihat dunia nyata. Kemudian dia menjelaskan bahwa ATK merupakan singkatan dari Asosiasi Teman Khayalan yang bertugas mengirimkan Vivid yang berarti pasukan penerang untuk menemani anak kecil di dunia nyata sampai anak itu cukup dewasa. Kemudian aku pun memahami apa yang telah dijelaskan oleh Marco.

“Adakah cara untukku kembali ke dunia nyata?” Tanyaku kepada Marco.

“Ada namun membutuhkan waktu. Biasanya untuk kami para Vivid untuk pergi ke dunia nyata harus melewati koridor berlian dengan kecepatan cahaya namun untuk ruh seperti dirimu ini dibutuhkan waktu untuk mengatur ulang sehingga kamu bisa kembali lagi.” Jawab Marco padaku.

Kemudian Marco menawarkanku untuk menjadi Vivid sementara sambil menunggu koridor cahaya diatur ulang untuk kepulanganku. Marco menceritakan bahwa ada anak kecil di dunia nyata bernama Tito. Ia kini sedang sekarat pergaulan karena sikapnya yang membuat ia dijauhi teman-temannya. Marco mengatakan bahwa sebenarnya Tito memiliki Vivid bernama Bisca namun seminggu yang lalu Bisca dirasuki oleh Glimmer Sang Pembisik Keburukan. Sehingga berdampak pada Tito. Seharusnya Vivid membimbing anak kecil untuk berbuat baik, namun karena kasus tersebut kini Tito berubah menjadi anak yang suka berbohong dan mengejek teman hingga sekarang ia dijauhi. Kini Bisca telah ditangkap dan sedang direhabilitasi sehingga harus ada pengganti turun ke dunia nyata untuk mengubah sikap Tito. Akhirnya aku pun menyetujui permintaan dari Marco. Hari itu aku pun harus beristirahat penuh agar besok aku bisa menjalankan tugas sebagai Vivid pengganti.

Keesokan harinya semua perlengkapan telah dipersiapkan oleh Marco untukku termasuk aku diharuskan pula berdiri di sebuah gerbang untuk melewati koridor berlian ke dunia nyata. Aku pun juga diberkan gelang Vivid agar bisa melalui koridor berlian. Aku pun berpamitan dengan Marco dan ku langkahkan kakiku masuk ke gerbang tersebut. Dalam waktu sekejap aku sudah berada di sebuah tempat yang aku yakini adalah dunia nyata. Sekarang aku hanya perlu mencari Tito dengan menggunakan Pelacak yang kudapat dari Marco. Kutelusiri jalan dengan melihat pelacak itu hingga akhirnya kulihat Tito sedang menangis di ujung gang jalan.

“Hei Tito, kenapa kamu menangis?” Tanyaku pada Tito sambil mengelus kepalanya.

“Aku baru saja berbohong pada ibuku mengenai uang bayaran sekolah dan aku dimarahi. Kakak siapa? Kenapa bisa tau namaku?” Jawab Tito sambil kembali bertanya padaku.

“Aku Jimmy yang menggantikan Bisca sementara waktu karena dia sedang ada pekerjaan. Kamu berbohong bagaimana?” Tanyaku lagi pada Tito.

“Begitu ya kak, jadi sebenarnya uang yang seharusnya untuk membayar sekolah malah aku belikan mainan kak. Akhirnya aku dimarahi oleh Mama.” Jawab Tito sambil terisak.

  Dari pernyataannya itu kusadari pasti ada hubungannya dengan Glimmer yang diceritakan oleh Marco dan kalau kulihat secara detail aura Tito sedikit berwarana hitam meskipun masih tipis. Kemudian aku menghibur Tito dan mengantarkannya ke sekolah. Akupun terus mengikuti kemana Tito pergi. Bahkan ketika didalam kelas pun Tito terus aku awasi karena aku pun juga tidak terlihat, hanya Tito yang dapat melihatku. Sampai suatu ketika saat waktu istirahat kulihat Tito bertengkar dengan temannya. Mereka saling mengejek hingga ketika mereka akan menggunakan tangan, guru mereka pun datang. Mereka pun dibawa ke ruang kepala sekolah dan ditanya satu per satu. Namun yang aku lihat mereka justru saling menyalahkan terutama Tito yang paling menyalahkan temannya. Kulihat aura hitam Tito makin hitam legam dan membesar. Tak berapa lama akhirnya Tito pun lemas dan pingsan. Akhirnya Tito pun dibawa pulang oleh gurunya.

Sesampai dirumah ia dibaringkan oleh ibunya. Aku yang hanya sebuah ruh tidak bisa berbuat banyak apalagi aku hanya berbicara sangat sedikit pada Tito di awal kita bertemu. Kulihat ibu Tito pergi keluar rumah, mungkin untuk membeli sesuatu sehingga dirumah hanya ada aku dan Tito. Kucoba dekati Tito dan ku elus kepalanya. Tiba-tiba sesosok bayangan hitam legam keluar dari tubuh Tito. Sosok itu kuyakini adalah Glimmer dengan tubuh penuh dengan asap namun sangat besar.

“Hahaha.. Siapa ini? Apakah Vivid baru? Apakah kau tidak tahu? Vivid yang sebelumnya sudah menjadi korbanku Hahaha..” Ujar Glimmer itu dengan mengerikan.

“Ya, aku Vivid pengganti yang diutus untuk menolong anak ini.” Jawabku terbata-bata.

“Hahaha.. akan kuberi pelajaran kau. Baru kemudian kubuat anak ini terus berperilaku buruk Hahaha..” Jawab Glimmer itu sambil tertawa.

Tiba-tiba Glimmer itu pun melesat menyerangku dengan tubuhnya. Aku yang sangat ketakutan hanya bisa menahan serangan tubuhnya dengan tanganku. Ketika aku sedang menahan serangan itu tiba-tiba aku teringat kepada Ayah dan Ibuku. Aku pun juga teringat akan kesalahanku yang telah membohongin mereka berdua. Secara tiba-tiba air mataku menetes deras teringat akan hatiku. Didalam hatiku yang paling dalam aku terus meminta maaf pada Ayah dan Ibuku akan kesalahanku. Aku pun berjanji bila nanti aku berhasil kembali ke dunia nyata, aku akan meminta maaf kepada mereka dan memperbaiki perbuatanku. Disaat aku sedang berpikir seperti itu sambil menahan serangan tersebut, tiba-tiba gelang Vivid yang aku bawa mengeluarkan cahaya dan seakan menyerang balik Glimmer itu.

“Apa yang terjadi pada tubuhku? Kenapa menjadi sangat panas? Tidaaaaaak…!!!.” Teriak Glimmer itu ketakutan.

Perlahan-lahan tubuh Glimmer itu menghilang akibat gelang yang kukenakan hingga seluruh aura gelap pada Tito hilang. Setelah Glimmer itu telah hilang, Tito perlahan-lahan membuka matanya. Orang yang pertama ia lihat adalah aku. Ia langsung memelukku dan mengatakan bahwa tadi melihatku sedang bertarung melawan makhluk jahat. Aku pun tersenyum padanya dan mengatakan bahwa Tito harus memperbaiki perbuatannya. Apabila Tito berbohong, ia harus segera jujur dan minta maaf. Tito juga harus minta maaf sama teman yang sudah Tito ejek agar Tito bisa bermain lagi dengan mereka. Tito pun menyetujuinya dan yang kulihat saat ini adalah Tito yang memiliki aura bercahaya.

Ketika sedang dalam suasana seperti itu, datang sebuah bisikkan menghampiriku. Ternyata itu suara Marco, dia mengatakan bahwa tugasku telah selesai dan waktunya pulang. Setelah Marco mengatakan hal seperti itu, aku pun langsung meminta maaf kepada Tito kalau waktuku sudah tidak banyak dan nantinya aku akan kembali digantikan oleh Bisca untuk menemaniku. Tito pun menangis sangat kencang sambil memelukku dengan erat. Kupegang tangan Tito dan kukatakan bahwa Tito adalah anak laki-laki yang kuat jadi Tito pasti bisa menjalani hidup yang Tito yakini. Perlahan-lahan tubuhku pun terangkat ke langit dan pelukanku terlepas dari Tito. Kulambaikan tanganku sebagai ucapan perpisahan terakhir pada Tito. Dalam sekejap aku pun sudah kembali ke dunia khayalan tepatnya di markas ATK.

“Selamat Jimmy, kamu sudah melakukannya dengan baik. Ngomong-ngomong koridor berlian yang telah kami atur telah siap untuk mengantarmu pulang.” Ujar Marco kepadaku.

Aku pun sangat senang karena akan pulang ke dunia nyata. Ingin rasanya segera bertemu kedua orang tuaku. Marco pun memberikan gelang Vivid itu padaku sebagai kenang-kenangan dari ATK. Kemudian aku pun pamit pada Marco dan berterima kasih atas apa yang telah ia tunjukan di dunia khayalan. Kemudian aku berdiri diatas gerbang dan melangkahkan kaki kedepan gerbang. Secara cepat badanku terbawa ke arah cahaya yang berada pada koridor berlian tersebut.

Kemudian aku pun merasa tubuhku sangat berat dan tak bisa bergerak. Lalu kubuka mataku perlahan dan yang kulihat pertama kali adalah kedua orang tuaku lalu kulihat selang infuse yang berada pada tanganku bersama gelang Vivid yang secara ajaib telah menempel ditanganku. Melihat aku telah siuman, orang tuaku langsung menangis karena aku telah sadar. Aku pun hanya baru bisa berbicara sedikit. Namun aku berusaha untuk menyampaikan permintaan maaf atas kesalahanku pada orang tuaku hingga membuat orang tuaku terharu. Setelah aku keluar dari rumah sakit dan sembuh total, kini aku telah menjadi Jimmy yang baru. Jimmy yang berusaha memperbaiki kesalahannya dan berbuat baik kepada semua orang.

-SEKIAN-

NB: Cerita ini akan dikembangkan menjadi novel

  • view 99