Buku Berdarah IK

Arya Hasa K
Karya Arya Hasa K Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 Maret 2016
Buku Berdarah IK

?Astaghfirullah..? teriakku dalam kelas.

?Ada apa Raka? Kenapa kamu teriak?? Tanya guruku sambil menatapku tajam.

?Tidak apa-apa bu, saya tadi hanya melamun dan kaget.? Jawabku dengan tersipu malu.

Lalu satu kelas menertawakan apa yang telah aku lakukan. Mungkin mereka percaya bahwa aku teriak karena melamun dan kaget namun, kenyataannya adalah aku dikagetkan oleh sesosok anak kecil yang ada dibawah mejaku. Hal ini dikarenakan kemampuan mataku untuk melihat hal-hal gaib di sekitar. Mungkin aku sering sekali bertemu dengan hal seperti itu namun, rasa terkejut manusia akan selalu ada bila makhluk halus yang dapat kulihat mengagetkanku seperti itu.

Akhirnya, bel pulang sekolah pun telah berdering. Ini merupakan momen yang sangat dinantikan para murid ketika di sekolah. Bagiku ini merupakan hal paling membahagiakan namun, perasaan itu pun harus hilang ketika guruku meminta tolong untuk mengembalikan beberapa buku ke perpustakaan di sekolah. Dengan perasaan jengkel, kubawa buku-buku itu menuju perpustakaan. Ketika sedang berjalan menuju tempat tersebut, aku berpapasan dengan perempuan yang kuyakini sebagai murid sekolah ini juga. Raut wajahnya yang datar serta tatapan yang kosong membuat bulu kudukku berdiri ketika berpapasan. Selang beberapa langkah setelah aku berpapasan, kucoba menengok kebelakang melihat apakah dia masih ada. Aku pun terkejut ketika dia sudah tidak ada dibelakangku. Dengan cepat aku pun mengambil seribu langkah untuk segera sampai ke perpustakaan karena kejadian itu.

Sesampainya di perpustakaan, aku pun mengembalikkan buku yang dititipkan guruku kepada pengawas perpustakaan. Aku berpikir bila saat ini merupakan waktu yang tepat untuk melihat buku-buku pada perpustakaan. Satu demi satu buku-buku tersebut aku pilah. Aku sangat menyukai buku-buku yang berhubungan dengan sejarah atau pun mengenai biografi. Kemudian mataku tertuju dengan sebuah buku lusuh nan tua dengan judul ?IK?. Ketika buku itu baru saja kusentuh, tiba-tiba pintu perpustakaan tertutup dengan suara keras diiringi dengan suara seperti pintu terkunci. Sambil ku pegang buku itu, aku pun mendekati pintu perpustakaan dan berusaha untuk membukanya. Aku pun sadar bahwa aku tidak sendirian, masih ada pengawas perpustakaan yang kulihat sedang menulis sebuah buku pembukuan.

Perlahan-lahan kudekati pengawas perpustakaan tersebut. Pengawas itu ku ajak berbicara namun tidak menjawab beberapa kali pertanyaan yang ku lontarkan. Perlahan-lahan kepalanya yang tertunduk terangkat perlahan. Aku benar-benar terkejut dan ketakutan ketika yang kulihat bukanlah sang pengawas perpustakaan namun sesosok makhluk halus yang menyerupai dia. Matanya yang berdarah dengan bolah mata yang putih, tersenyum lebar kepadaku sambil memperlihatkan taringnya. Aku pun terjatuh dan berusaha untuk mundur agar menjauh darinya. Kemudian aku pun berlari menuju sela-sela rak perpustakaan dan menunduk masuk ke dalam meja yang terdapat disamping rak perpustakaan tersebut. Mungkin aku merasa lega karena sudah tidak melihat makhluk itu namun, sayang rasa lega itu hanya sesaat. Aku harus dikagetkan lagi dengan sosok yang berada di bawah meja dengan posisi berhadapan di depanku. Spontan aku pun berteriak namun, teriakanku di bungkam oleh sosok tersebut dengan tangannya. Setelah kucoba perhatikan dengan seksama, ternyata sosok itu adalah perempuan yang tadi berpapasan denganku. Dia pun menyuruhku untuk tenang dan mengatakan bahwa makhluk itu menginginkan buku yang aku bawa. Dia pun menyuruhku untuk meletakkan buku itu dibawah lantai dan meletakkan tangannya? diatas buku tersebut.

Tiba-tiba cahaya putih pun muncul menerangi kami berdua. Kemudian kami pun seperti di perlihatkan oleh gambaran masa lalu oleh buku tersebut. Kami melihat bahwa ada pasangan suami istri bernama Marco dan Alene. Mereka dikejar oleh seorang dukun untuk dijadikan tumbal pada penunggu sebuah hutan. Mereka pun berlari di hutan dengan harapan dapat selamat dari kejaran dukun tersebut. Namun harapan mereka sirna, mereka berdua ditangkap oleh dukun tersebut dan dijadikan tumbal. Dalam kilasan itu kulihat bahwa dukun tersebut memiliki rupa yang sama seperti makhluk halus yang menyerupai pengawas perpustakaan. Kemudian kilasan masa lalu itu pun berakhir.

Perempuan itu pun mengatakan bahwa pasangan suami istri tersebut adalah kakek dan nenek buyut perempuan tersebut. Dia mengatakan bahwa buku ini mengandung darah dari dukun tersebut. Satu-satunya cara adalah dengan membakar buku tersebut. Kami pun sepakat untuk mencari cara untuk membakar buku tersebut. Untungnya di perpustakaan itu terdapat korek api. Aku pun berusaha untuk mengambil korek tersebut sedangkan perempuan itu seakan mengalihkan perhatian pada makhluk halus tersebut. Akhirnya aku pun dapat mengambil korek tersebut dan segera membakarnya. Tiba-tiba makhluk itu pun berteriak dan menghilang seraya buku itu terus terbakar. Setelah buku itu telah hangus, tiba-tiba pintu perpustakaan yang terlah terkunci terbuka kembali. Aku bersama perempuan itu pun langsung keluar perpustakaan itu. Dengan peluh yang mengucur deras serta rasa ketakutan yang maha dahsyat, aku pun langsung duduk di tanah dengan lemas. Aku pun merasakan ada seseorang yang menyeka peluhku. Ketika kulihat, orang itu adalah perempuan tersebut.

?Terima kasih telah membantuku.? Ujar perempuan tersebut.

?Tidak masalah, justru aku kaget karena harus berada di situasi seperti tadi.? Jawabku dengan ketus.

?Aku benar-benar minta maaf.? Jawab perempuan itu sambil menunduk.

?Sudah tidak apa-apa, yang penting kita selamat. Ngomong-ngomong kamu siapa? Anak baru ya?? Tanyaku padanya.

?Iya sebenarnya aku anak dari kepala sekolah, aku pindah kesini karena ibuku memintaku untuk memeriksa kejadian gaib di sekolah ini yang berhubungan dengan masa lalu kami.? Jawab perempuan itu.

?Maksudnya memeriksa bagaimana?? tanyaku kebingungan.

?Aku seperti kamu, bisa melihat makhluk halus namun, aku juga bisa berkomunikasi dengan mereka. Aku bisa tahu kamu dapat melihat seperti itu dari caramu melihat sekitar.? Jawabnya.

?Hmm begitu ya, nama kamu siapa? Aku Raka.? Tanyaku padanya.

?Namaku Stefani. Salam kenal ya. Senang sekali bisa bertemu orang yang memiliki kemampuan yang sama denganku. Barangkali mungkin kita jodoh.? Ujarnya sambil tertawa.

?Bisa saja kamu ini.? Ujarku sambil tertunduk malu.

?

-SEKIAN-

  • view 175