Another #2

Armadi S. Pambudi
Karya Armadi S. Pambudi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 Februari 2016
Another #2

PROLOG

Butiran hujan membasahi tubuhku. Benar juga, ini memang sedang musim hujan. Tidak heran jika sekarang aku berada di bawah rintikan hujan ini. Aku sekarang sedang berada di lorong yang panjang. Tepatnya berjalan melewati gang kecil, terjepit di antara dua gedung. Basah. Di tengah guyuran hujan. Aku menengadah menatap langit. Gelap. Sudah malam kah? Atau memang awan itu begitu gelap. Entahlah. Aku masih berjalan menapaki lorong yang tak berujung ini. Bulu romaku mulai berdiri. Suasana ini mengingatkanku pada mimpiku beberapa bulan yang lalu. Mimpi buruk yang berakhir menjadi mimpi indah.

Mimpi? Apakah aku bermimpi? ?

Aku terus berjalan. Memikirkan keadaanku yang tak lazim ini. Mendadak hidungku mencium aroma yang tidak asing bagiku. "Aroma ini. Aroma tanah?"

"Bukan." Pikiranku brelanjut. Aku meneruskan perjalanan melawati lorong ini. Di kedua dinding lorong tertulis berbagai macam grafiti. Namun, grafiti-grafiti itu sudah usang dan nampak mengerikan dengan tulisan menjijikan yang tertulis di sana.

Lagi, aroma ini tercium lagi. Aroma ini semakin tajam menusuk hidung. "Aroma anyir! Darah?!" Aku ketakutan memikirkan aroma yang ingin sekali aku lupakan. Aroma yang mengingatkan pada kejadian-kejadian yang mengerikan beberapa bulan yang lalu.

Aku menggigil. Tubuhku gemetar. Aku tersungkur. Seketika aku merasa lemah dan tak ingin melanjutkan perjalanan ini. Aku lelah. Di bawah guyuran hujan aku meratapi kelemahanku. Dalam keadaan memalukan ini, aku mendengar dengan jelas suara isak tangis gadis kecil dari arah terciumnya aroma darah itu. Aku semakin takut. Takut jika isak tangis itu pertanda dia dalam bahaya. Tapi, saat ini aku ketakutan.

Hatiku terus meronta, tapi tubuhku tak mau merespon. Aroma anyir ini, membuat otakku tak bisa bekerja. Trauma. Aku tak mengira, aku harus mengalami hal ini lagi.

"Kamu pasti bisa, Lin. Teruslah maju. Selamatkan aku,"

Suara ini? Aku mengenali suara ini. Terasa begitu familiar. Ini suara Dhita! Aku menengadah. Dhita berdiri di depanku dengan tangis perih membanjiri wajah cantiknya. Ia mengenakan baju putih panjang. Lebih mirip kuntilanak. Seperti orang mati. Melihatnya seperti itu, aku ingin mengatakan, "tak perlu khawatir." tapi mulutku sangat kelu untuk mengatakan itu. Dhita berbalik. Berjalan menuju kegelapan. Aku mencoba berdiri. Namun, Dhita sudah tak terlihat. Dia menghilang dalam rintikan hujan.

Aku masih mengejarnya. Aroma darah semakin tajam. Sampai akhirnya aku melihatnya. Melihat kejadian yang sangat mengerikan. Aku termenung. Gemetar.

"Apa ini? Apa yang terjadi?"

Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat sekarang. Mengerikan. Gadis cantik beraju putih yang kukenali sebagai Dhita berdiri berlumuran darah. Bukan itu yang membuat kejadian ini menyayat hatiku, yang membuat apa yang aku lihat menjadi sangat mengerikan. Itu bukan darah Dhita.

Hujan terasa semakin merah. Aku masih terpaku melihat apa yang ada di sekeliling Dhita. Enam mayat siswa-siswi SMA Nusantara. Keadaan mereka mengerikan. Semua sama. Tubuh mereka kehilangan banyak darah, dengan beberapa tusukan di punggung mereka. Kondisi mereka semakin mengerikan dengan tujuh paku besar yang ditancapkan di kedua tangan mereka.

Siapa yang melakukannya? Aku tidak mau berpikir jika semua ini dilakukan oleh Dhita. Tapi, apa yang ada di hadapanku sekarang adalah sosok Dhita dengan pisau dan paku besar yang ada di tangannya yang berlumuran darah mereka. Tidak boleh, Lin. Kamu tidak boleh meragukan Dhita.

"Se-la-mat-kan a-ku, Lin," aku terkejut mendengar apa yang baru saja aku dengar. Segera aku berlari, menghampirinya. Aku ingin memeluknya dan berkata semua ini akan baik-baik saja. Namun, semua itu kandas beberapa langkah sebelum aku mencapai Dhita. Ia menghilang. Menghilang begitu saja.

"Dhitaaa!"

Ternyata bukan menghilang, tapi aku terbangun. Aku termenung dengan wajah tidurku. Aku tidak mengerti apa yang terjadi. Satu hal yang aku tahu. Dhita dalam bahaya

#belumdiedit #mintapendapat #bolehkasihmasukan

  • view 88