Five Kingdom: Rassian

Armadi S. Pambudi
Karya Armadi S. Pambudi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 31 Januari 2016
Five Kingdom : Rassian

Five Kingdom : Rassian


Kategori Acak

102 Hak Cipta Terlindungi
Five Kingdom: Rassian

Five Kingdom (Rasian)

BAB I

Pertempuran di Lembah Sakura

?

Planet Kingdom terdiri dari satu daratan besar yang bernama Strata dan tiga kepulauan kecil. Dunia tempat tinggal bagi lima ras besar dan beberapa sub-ras kecil. Dimana antar ras masih terus berperang untuk mendapatkan kekuasaan terhadap ras lain. Begitu pula pemuda yang tengah bangun dari mimpinya, ?namanya Tioara dari ras Plantia. Ras yang cinta damai dan tinggal di pulau kecil di sebelah utara Strata, dengan pusat kota bernama Klorofia, kota kecil yang hijau. Walaupun merupakan ras yang cinta damai, banyak ras yang ingin menyerang ras Plantia untuk mendapatkan rahasia yang ras mereka miliki.?

?Tio, ayo cepat kita akan menemui tetua untuk membicarakan persiapan pertahanan ras kita? ?kata komandan Eires. Beliau adalah Jendral tertinggi di pasukan pertahanan ras mereka, pemegang pedang dua tangan ? osmotic sword ? pedang legendaris ras Plantia. Dalam ras itu tidak ada yang namanya raja maupun pimpinan yang resmi. Oleh karena itu pemerintahan ras Plantia dilaksanakan oleh Dewan ?Hijau? yang terdiri dari lima tetua ras Plantia.

?Oh, siap.Kenapa anda mengikut sertakan saya untuk mengikuti pertemuan tersebut?? Tanyanya ingin tahu, walaupun dia termasuk salah satu swordsmen tingkat devine B.Dalam ras merekadevine B merupakan. Namun sangat tidak biasa petarung tingkat B ikut dalam pertemuan petinggi bersama Jendral serta swordsmen tingkat A, ras mereka memang salah satu ras yang menggunakan pedang sebagai alat untuk bertarung karena itu sudah turun temurun dari nenek moyangnya. Setiap pemegang pedang memiliki tingkatan mulai dari tingkat E elestair yang terbawah hingga tingkat Lagend S sword yang tertinggi, tetapi sampai sekarang tak ada satupun dari ras Plantia yang sampai tingkat tertinggi itu bahkan Jendral Eires hanya mampu sampai tingkat Chaotic A sword.?

?Para tetua telah melihat potensi yang kamu miliki, dan mereka berharap kamu bisa mulai menempati posisi sebagai front liner dalam waktu dekat ini bersamaku.? ?Penjelasan Jendral Eires membuat Tioara tercengang karena front liner adalah barisan terdepan dalam mempertahankan kota ini.

?Aku mengerti.? Jawabnya mengerti apa yang Eires bicarakan.

Mereka pun berangkat menuju tempat para tetua berada, tempatnya tak begitu jauh dari tempat mereka berada. Pertemuan itu dilaksanakan di rumah salah satu tetua bernama Haria Floem, seorang mantan swordman legendaris tingkat A level devine A sword ?yang pernah ada di Plantia dan pernah ikut peperangan Ras War II yang dimenangkan oleh ras Veron yang sekarang memimpin Strata dan ?merupakan pemimpin ras Plantia.?

Begitu melihat rumah beliau yang sangat luas dengan air mancur yang menjadi poros taman dengan rumah seperti istana yang berbentuk pohon yang amat megah, mungkin rumah inilah yang menjadi simbol istana bagi ras mereka. Tioara dan Jendral Eires segera masuk ke rumah itu dan pertemuan pun dimulai.

? Kemungkinan satu hari lagi salah satu kelompok pelarian dari ras Nimalia akan menyerang kita, informasi yang aku dapat ini sangat akurat, tadi pagi kelompok tersebut telah berada di Teluk Anggreine di sebelah barat kota kita, dan menuju kemari dengan pasukan yang mungkin berkisar tiga ratus ras Nimalia.? Jelas Jendral Eires kepada para tetua.

?Terus apa yang akan kamu lakukan dengan mamalia-mamalia itu, menurutku mereka tidak terlalu mengancam, kau bisa menangani mereka kan Jendral Eires?? Tanya Olive Floem, istri dari Haria Floem

?Mohon para tetua jangan meremehkan hal ini, kali ini yang menyerang kita adalah pelarian ras Nimalia yang paling meresahkan pemerintahan kota Mammal. Dengan pemimpin mereka Bertion Lionet, pemberontak yang setara kekuatannya dengan para Jendral Nimalia, mungkin kekuatan Bertion Lionet ini melebihi yang saya bayangkan.? Jelas Jendral Eires.

?Bertion Lionet? Pemakai Bluster Gunner yang telah mengobrak abrik penjara di kota Mammal dan membebaskan para pemberontak kelas elit ras Nimalia, terus apa yang harus kita lakukan?? Pernyataan Haria Floem tampak sangat serius, cemas dan gelisah mendengar nama itu.

?Saya telah berfikir banyak, saya harap anda menyetujui usulan saya ini.? Perkataan Jendral Eires tampak begitu serius.

?Jelaskan lah semua tergantung pada apa yang akan kamu jelaskan pada kami? Jawab Heria.

?Langkah yang harus kita lakukan adalah menyembunyikan Nuwidas Cartivva dan Alovera Rose agar rahasia ras kita tidak jatuh ketangan mereka.Dua orang ini memiliki potensi yang sama untuk mengaktifkan kemampuan khusus itu. Nuwidas biar aku yang menjaganya karena dia juga merupakan pemegang pedang yang tangguh jadi tak perlu dikhawatirkan. Dia akan ikut dalam pertempuran. Namun putri Alovera akan dijaga dan dibawa keluar dari kota untuk sementara. Saya telah menunjuk orang dan membawannya kemari untuk menjaga Putri Alovera.? Jelas Jendral Eires panjang lebar.

? Jadi siapa orang itu?? Tanya tetua Olive Floem.

?Tioara pemegang pedang tingkat Devine B dan memiliki salah satu pedang terkuat yang mungkin Tetua sekalian sudah mengetahuinya, Pedang Angin ?OSTIA?. Dia yang akan memikul tanggung jawab untuk menjaga Putri AloveraRose.? Jendral menjelaskan semua itu sambil memperkenalkan Tioara kepada para Tetua. Dan saat itu diaberpikir,dia belum sanggup menerima tanggung jawab sebesar ini.

***

Hari ke-25 kalender Agroeda adalah hal pertama yang dilihatnya pagi ini, hari tepat dia bertambah tua setahun.Tak terasa waktu yang dilaluinya sudah makin banyak saja. Kenangan-kenangan yang tersimpan rapi satu-persatu bermunculan seperti adegan rewind sebuah film. Satu per satu dari kenangan masa kecilnya hingga sekarang dengan acak memenuhi benak, tak ayal membuat gurat senyum di wajahnya yang masih berantakan khas bangun tidur.Pandangannya sesekali menyapu isi kamar, mencocokkan kenangan dengan sesuatu yang mungkin masih merepresentasikannya.Masih ada bola di ujung sana, miniatur perahu di sudut lainnya, kelereng-kelereng, ada juga bunga kering di dalam kotak kaca, dan pedang kayu. Tioara berhenti sejenak memandang pedang kayu itu, mengingat sebuah ingatan yang menurutnya sangat berharga, tentang orang yang dulu pernah berjanji padanya.

?Aku akan jadi ahli pedang yang hebat!?Kata dirinya saat itu. Mengangkat pedang kayu itu tepat ke arah matahari yang sudah jatuh, seakan ingin menusukkannya ke sana. ?Aku juga pasti akan bisa menjadi lebih tangguh dan kuat darimu!?Seru dirinya membara sambil menoleh ke samping, tempat anak laki-laki sebaya dengannya saat itu.

Anak laki-laki itu tampak sedikit terkejut, meski tak lama kemudian dia tersenyum.?Heh, kau yakin bisa mengalahkanku??

?Meski aku memang masih payah, dan selalu dimarahi pelatih kita. Tapi pasti bisa! Meski sekarang aku masih memintamu melatihku, aku nanti pasti akan bisa melampauimu!? Entah seperti apa rupa dirinya saat itu, yang jelas diingatnya waktu itu dia tak memedulikan apapun kecuali semangat yang membuat darahnya bergolak. Tioara ingat, anak laki-laki di sampingnya itu terihat menatap dirinya cukup lama dan kemudian dia tertawa, membuat mereka tertawa bersama juga akhirnya.

?Ya!Akan ku tunggu!?Jawaban anak itu menjadi akhir dari kilas balik kenangan Tioara.Akhir juga dari pemandangan siluet senja bukit Frost yang dulu selalu membuatnya terpesona.

?Aku akan mengalahkanmu Phatera.?Gumamnya pelan tanpa sadar terbawa kenangan itu. Diamengangkat tangannya perlahan dari pedang kayu itu, entah sejak kapan tanpa disadarinya dia berjalan menghampiri pedang itu dan mengelusnya.Seakan sebagian dari dirinyadulu yang melakukannya, memerintahkan tubuh itu untuk refleks bergerak.Masih membara juga semangat itu dalam dirinya meski itu hanya sebuah janji lama yang berharga.Semangat untuk mewujudkan janji itu juga yang membuatnya bisa seperti sekarang.

Memang waktu masih akademi dulu Tioara payah, tapi dengan modal awal semangat yang dijaganya tetap membara itu dia bisa terus menerus berusaha hingga mencapai batasnya. Dengan pengorbanan waktu latihan yang sengaja dia tambah karena ketidaksabarannya untuk segera menjadi lebih kuat, diabisa ?mengejar kemampuan Phatera. Meski dia tak bisa membuktikannya secara langsung, Phatera menghilang tepat setahun setelah janjinya itu dan tepat saat sehari sebelumnya dia mengucapkan ucapan selamat ulang tahun sekaligus yang menjadi ucapan selamat tinggalnya.

?Tio!?Sebuah seruan membuyarkan lamunannya.Dari suara berisik yang rendah itu bisa langsung dikenali siapa pemiliknya, Althare. Dia partner latihan tioara, sesama devine B sword.

?Ya!?Segera saja diambilnya pedang Ostia miliknya, mencuci muka seadanya, dan keluar.Jadwal latihan pagi seorang Tioara sudah dimulai.

?Ku dengar kau akan ditugaskan di garis depan??Althare membuka suaranya di antara suara pedang kami yang beradu.Peluh sudah mulai tampak membahasi wajah mereka, tak heran karena sudah lebih dari dua jam dua orang itu berlatih.

?Yah, tapi itu masih kata Jendral Eires dan belum ada penugasan resminya.Kau sendiri bagaimana kau tahu??Ostia-nya masih saja beradu dengan Aerglache milik Althare, terkadang gerak refleks harus gesit bereaksi untuk menangkis serangan Althare.Tioara mengakui Althare memang berbakat, ditambah lagi dia juga rajin latihan.Mungkin inilah yang menyatukan mereka, sama-sama maniak latihan.Rasanya memang waktu kosong tanpa diisi latihan itu justru membuat gatal untuk memedang pedang.

?Tapi jika seorang Jendral Eires saja sudah berkata demikian, bisa dikatakan akan Sembilan puluh sembilan persen demikian kenyataannya.Hm, kau lupa?Berita tentangmu bisa dengan mudah di dapat dari para gadis berisik di legion. Tunggu, mereka menyebutnya apa? Tioranian??Althare tertawa ketika mengatakannya, dia memang selalu menganggapnya lucu.

?Yah, aku tak mau terlalu berharap soal front line.Oh, begitu.?Dahi Tioara mengernyit heran.Gadis-gadis itu tau darimana memang? Hah, dia rasa memang benar yang berkata bahwa jaring informasi para gadis itu mengerikan.

?Mungkin kalau menjadi front line akan repot juga saat mengawal putri Alovera.? Dia mengusap peluh yang sedari tadi bertengger di wajahnya, mengalihkan pandangan ke seliling kami.Bukit Frost pagi ini terlihat berkilauan dengan cuaca yang cerah.

?Putri Alovera?? Kau beruntung sekali mengawal orang secantik dia!!!! Hah, andai aku di posisimu!?Dengan berisik Althare berkomentar, bukan rahasia lagi memang kalau Althare merupakan fans berat Putri utama ras Plantia sekaligus teman masa kecilnya(yang terakhir ini banyak yang meragukan pengakuannya).

?Berisik!?Tioaramembalikkan tubuhnya dan menjauh dari Althare.Satu hal yang lupa dikatakannyaatakannya, kau harus menghindari Althare kalau dia sudah mulai berisik tentang putrinya atau kau terpaksa mendengarkan semua ceritanya yang bisa menghabiskan waktu berjam-jam.

Sementara itu, dalam perjalannya kembali Althare memilih melewati pasar.Dengan melewati tempat kerumunan semacam itu terkadang ada suatu hal menarik yang bisa kita temukan di antara riuh rendah pembicaraan orang disana. Bisa dibilang pasar adalah tempat lain untuk mengumpulkan informasi baginya. Benar saja, dia tak sengaja mendapati informasi yang mengusik pikirannya.Membuatnya segera memutar arah menuju markas Legion untuk mengklarifikasinya.

?Jendral Eires di mana?? Tanyanya setengah keras kepada penjaga di depan ruangan Jendral itu.

Sebuah isyarat dari penjaga itu cukup untuk membuat Althare paham tempatnya.

?Jendral Eires?? Panggilan pemuda itu mengalihkan perhatian orang yang di panggilnya Jendral dari laut tenang di depannya.

?Ah, kau rupanya Thare.?Sang Jendral tersenyum mendapati murid yang merupakan salah satu yang dianggapnya baik menemuinya di waktu yang tidak biasa.

?Anda sudah tahu kan siapa yang sekarang menjadi tangan kanan Bertion Lionet?? Dengan nada terburu Althare mengungkapkan apa yang mengganggu pikirannya dengan cepat, membuatnya harus berhenti sejenak untuk mengambil nafas. ?Ah, bukan. Anda benar-benar berniat menjadikan Tioara di garis depan??

?Oh, iya.Kenapa memang dengan itu??Jendral Eires hanya menjawabnya dengan tersenyum.

?Anda tahu kan siapa yang sekarang menjadi tangan kanan Bertion Lionet?? Althare mengulang pertanyaannya lagi, inti dari dia datang ke sini.

?Hmm, kalau tidak salah pemuda berbakat yang dijuluki Double Helix Panther.?Jendral Eires terlihat mengingat-ingat sesuatu. ?Hmm.. namanya Phatera.?

Jawaban Jendral Eires yang berkesan biasa-biasa saja itu tak ayal mengusik Althare yang terlihat panik.

?Jadi kenapa Jendral menugaskan Tio di garis depan?? Jendral tahu kan siapa Phatera dan seperti apa hubungan yang Tio???Dengan sekali nafas Althare menyuarakan kegelisahannya.Dia memang tahu hubungan keduanya dengan baik, meski dia tak mengenal Phatera tapi dia merasa telah mengenalnya dari cerita-cerita Tioara.Tak perlu berpengalaman untuk tahu bahwa mereka lebih dari sekedar teman biasa, meski akhirnya Phatera itu menghilang dengan beragam desas-desus negatif tentangnya.Jelas bahwa anak itu menghilang bukan karena sesuatu yang normal.Meski demikian Althare tahu, Tio selalu abai dengan desas-desus itu. Biasanya dulu dia akan berkata ?Aku lebih tahu bagaimana Phatera dibandingkan mereka. Dan aku yakin di mana pun dia sekarang dia baik-baik saja, dan pasti dia sudah menungguku untuk mengalahkannya.?.Dari kalimat Tio itu Althare tak perlu menebak bahwa Tio memang sangat menghargai Phatera.

?Jadi, bagaimana kalau mereka nanti malah dipertemukan di pertempuran???

?Thare, aku tahu kau sangat peduli dengan Tio.Kau anak yang baik.?Jendral Eires mendekat, dan menepuk bahu Althare. ?Justru pemuda itu merupakan alasan lain aku memasukkan Tio ke front line selain karena memang ?dia berbakat dan berhak untuk mendapatkan pelajaran lebih.? Mereka berdua terdiam.

?Aku berniat membuat anak itu melampaui batasannya, untuk kebaikannya. Jika dia bahkan tidak bisa mengahadapi pemuda yang menghianati ras kita itu, dia tidak akan mampu untuk mengasah bakatnya lebih jauh lagi. Sekeras apapun dia berusaha.Kau menyadarinya bukan Thare??Tatapan Jendral Eires melembut, menunjukkan bahwa dia sungguh-sungguh dengan niatnya.Sementara Althare hanya bisa terdiam, mencerna penjelasan Jendral Eires barusan.Memang, harus diakui benar bahwa belakangan ini kemampuan Tio tidak menunjukkan tanda-tanda peningkatan.Padahal mereka lebih sering berlatih.

?Aku mengenal kalian berdua dan kuakui kalian memang berbakat.Mengesampingkan posisi Jendral, sebagai seorang pelatih, aku terbiasa memberikan kesempatan bagi mereka yang layak. Ketahuilah Thare, ini adalah kesempatan terbaik untuknya yang bisa kuberikan.??

?Sisanya hanya Tioara yang menentukan apakah dia bisa melewati ujian ini atau tidak.?

Setelahnya hanyalah suara debur pelan ombak yang menemani mereka. Saat mereka memutuskan untuk kembali ke kota yang jaraknya tak begitu jauh, mereka dikagetkan melihat salah satu Epidermis, sebutan pasukan Plantea yang masih merupakan swordsmen tingkat E-C, divisi pertahanan yang dibawahi Jendral Eires berlari terengah-engah menuju mereka.

?Ada hal darurat Jendral,?Ucap seorang Epidermis bernama Abeidengan posisi sempurna mengingat yang ada dihadapanya sekarang adalah seorang Jendral.

?Hal darurat seperti apa yang kamu maksud?? Tanya Jendral dengan raut wajah penasaran.

?Maaf, pasukan Pemberontak Nimalia sudah sampai Benteng Trost yang berada di Lembah Sakura.? Jawab Abei dengan wajah yang berubah panik. ?Pasukan Pemberontak Nimalia ternyata berjumlah lebih dari 500, jauh lebih banyak dari perkiraan sebelumnya.? Lanjutnya.

Sejenak Jendral Eires terlihat memikirkan sesuatu sebelum mengambil keputusan. ?Baik, lebih baik kita kembali ke kota sebelum pergi ke lembah Sakura. Keadaan mulai di luar perkiraan.Sebelumnya kita harus bertemu dengan Tioara dan para tetua terlebih dahulu. Thare kamu ikut aku.?

?Baik, Jendral.? Althere mengangguk mengikuti langkah Jendral Eires menuju pusat kota Klorofia.

Kota Klorofia tampak begitu tenang, para penduduk ?nampak tidak terlalu terganggu dengan kabar akan adanya penyerangan oleh Pemberontak Nimalia di bawah pimpinan Bertion Lionet yang menginginkan Nimalia bergabung dengan Pemerintahan Pusat Strata dan menyerang ras Plantia untuk menghancurkan aliansi antara ras Nimalia dan Plantia yang belum menerima pemerintahan Strata yang dipimpin oleh ras Veron. Hal ini menunjukan bagaimana kepercayaan penduduk kota Klorofia terhadap pasukan pertahanan yang mereka punya.

?Lapor, Pasukan Pemberontak telah sampai di Benteng Trost, Lembah Sakura dengan jumlah yang jauh lebih banyak dari perkiraan.? Jendral Eires melapor kepada Haria Floem.

?Aku sudah mengetahuinya,? ucap Haria Floem

?Bagaimana dengan pasukan aliansi kita yang sedang berada di kota Republica di negara Malia?? Tanya Jendral Eires.

?Sebagian pasukan yang dikirimkan markas pusat Aliansi baru datang esok hari yang dipimpin oleh Jendral Akseire Tulipp dari Plantia dan Jendral Thomas Pardus dari Nimalia. Sekarang segeralah pimpin pasukan ke Lembah Sakura!Tunjukanlah Kamu pantas mendapat gelar sebagai salah satu dari ?Four Pillar Korteks?.? Perintah Haria Floem. Four Pillar Korteks adalah sebutan bagi empat Jendral tingkat Chaotic A Sword yang memiliki kekuatan yang luar biasa. Bisa disebut mereka merupakan yang terkuat di ras Plantia sekarang.?

?Saya mengerti tapi sebelumnya, bisakah saya bertemu dengan Tioara? Apakah dia sudah kemari? Aku ingin menjelaskan tugasnya dalam situasi genting ini.? Jendral Eires menanyakan keberadaan Tioara.

?Sebenarnya saat ini Putri Alovera tiba-tiba kabur dari rumah. Aku telah memerintahkan Tioara untuk mencari dan memastikan keselamatan Putri Alovera secepatnya,? ucap Olive Floem dengan muka khawatir.

?Meski, begitu kamu tidak perlu ikut mengkhawatirkan Putri Alovera. Tetaplah fokus dalam pertempuran melawan para Pemberontak Nimalia! Sekarang ini lebih penting menyelamatkan kota ini! Segera bawa Legionmu yang tersisa menuju Lembah Sakura!? Imbuh Heria Floem.

?Jendral, tidak perlu khawatir. Aku tahu kemana Putri Alovera pergi.? Althare membuka mulut dan memecah ketegangan antara para tetua dan Jendral Eires.

?Kamu tahu kemana perginya Putri Alovera?? Tanya Olive Floem dengan wajah yang nampak menemukan secercah harapan.

?Begitulah, aku yakin Putri Alovera pergi ke Fruitia Treedi sebelah timur kota. Dan aku sangat yakin sekarang Tioara telah bersamanya. Di sana juga merupakan tempat yang aman untuk berlindung. Pohon itu memiliki sebuah ruang dan dilapisi oleh barrier yang hanya bisa dimasuki oleh ras Plantia tingkat B ke atas.? Jelas Althare.

?Baiklah, Thare segeralah menyusul Tioara dan bantu dia menjaga Putri Alovera! Ini misi!? Perintah Jendral Eires kepada Althare. Mendengar perintah dari Jendral Eires, Althare segera meninggalkan tempat itu dan pergi membantu Tioara yang sedang bersama Putri Alovera.

?Aku juga akan berangkat dan memimpin pasukan di Lembah Sakura. Mohon restu dari para tetua,? ucap Jendral Eires memohon pamit.

?Berhati-hatilah,? ucap Heria Floem nampak cemas dengan pertempuran kali ini mengingat pasukan bantuan dari markas pusat baru dapat bergabung esok hari.

?Aku pergi,? Jendral Eires mengeluarkan sebuah kristal teleportasi, dengan sekejap mata membuat Jendral Eires telah menghilang dari hadapan kedua tetua Plantia dan sekarang berdiri bersama Nuwidas di atas benteng Torst. Benteng yang tingginya sepuluh meter ini membujur dari timur hingga barat, membelah pulau menjadi dua bagian sama luas antara bagian utara dengan laut yang relatif tenang dan bagian selatan dengan laut yang sangat ganas.

?Tidak disangka lembah Sakura yang begitu indah ini akan menjadi tempat kita membantai mereka.? Gumam Nuwidas memandangi lembah Sakura yang sangat indah dengan pohon Sakura yang sedang bermekaran membuat Lembah ini begitu merah muda.

?Bagaimana situasinya?? Tanya Jendral Eires kepada Nuwidas.

?Situasinya masih terkendali. Pasukan Pemberontak belum melakukan gerakan yang mencurigakan dan aku kurang tahu apa motif mereka sampai sekarang masih berdiri pada jarak kurang lebih satu kilometer seperti apa yang anda lihat itu.? Nuwidas menjelaskan situasi dengan sangat baik.

?Bagaimana dengan pasukan mereka?? Lanjut Jendral Eires.

?Pasukan musuh sebanyak 650 pasukan yang terdiri ?dari dua sub ras dari ras Nimalia, yaitu sub ras Mammae dan sub ras Reptilian serta satu orang penghianat Plantia. Sementara kita hanya berjumlah 150 pasukan Plantia.? Terang Nuwidas dingin.

?Buka gerbang! Kita akan segera melakukan perlawanan! Tujuan kita pertahankan kota Klorofia!? Seru Jendral Eires mengangkat kedua pedang Osmotic miliknya.

Gerbangtelahterbuka dan pasukan yang dipimpin Jendral Eires berlari melewati gerbang menuju pertempuran pertama setelah Ras War II.

Tampak sesosok gadis cantik dengan tinggi semampai dan rambut terurai angin, menyandarkan dirinya pada batang Fruitia Tree yang besar. Pohon Fruitia Tree yang sudah ada sejak Kota Klorofia didirikan itu memiliki daun yang rimbun dan dahan ? dahan yang rindang.

Tioara masih takjub dengan pemandangan yang dilihatnya di Fruitia Tree kali ini. Althare benar, putri Alovera Rose memang sangat cantik. Tioara mulai meragukan ketidakpercayaannya pada Althare bahwa mereka merupakan teman masa kecil. Kemudian dia teringat kembali dengan serangan ras Nimalia dan segera menghampiri putri Alovera Rose.

?Selamat siang putri Alovera Rose, perkenalkan saya Tioara, swordsman tingkat devine B. Saya diberi tugas untuk menjaga Anda. Seperti yang Anda ketahui, ras kita sedang diserang oleh ras Nimalia.?

?Ya, aku tahu itu. Terima kasih sudah mau menjagaku.?

Hati Tioara bergetar mendengar ucapan terimakasih sang putri, baru kali ini dia merasa disanjung oleh seseorang, bahkan ketika dia belum melakukan apapun untuk diri sang putri.

?Tapi sebenarnya aku tidak suka harus dijaga, aku tidak ingin ada orang yang mengikutiku, dan aku tahu itu mustahil. Jadi sebagai orang yang akan menjaga dan selalu mengikutiku, aku peringatkan padamu, jangan pernah bertanya apapun padaku, jangan ikut campur urusanku, dan bahkan jangan penasaran kenapa terhadap apa yang aku lakukan. Mengerti??

?Ya, saya mengerti.? Jawab Tioara, walau sebenarnya dia tidak menemukan alasan mengapa dia tidak boleh menanyakan pertanyaan kepada Putri Alovera, dan bahkan tidak boleh merasa ingin tahu terhadap apa yang dilakukan putri itu. Bukankah hal tersebut merupakan sesuatu yang normal? Bagaimana dia bisa menjaga sang putri jika dia tidak tahu apapun tentang diri putri itu sendiri?

?Bagus. Ehm, dia...??

Tiba ? tiba Putri Alovera Rose mengalihkan pandangannya ke belakang Tioara. Raut wajahnya aneh, seperti akumulasi dari rasa senang, sedih dan terkejut. Tioara bertanya ? tanya siapa orang yang membuat Putri Alovera Rose seperti itu, dia pun segera menoleh, dan mendapati Althare berlari menuju kami.

?Putri Alovera Rose, perkenalkan saya Althare, swordsman tingkat devine B. Saya diberi misi untuk membantu Tioara menjaga Anda.? Ucap Althare memperkenalkan dirinya. Sebenarnya Tioara penasaran sekali, bagaimana reaksi Althare ketika bertemu dengan putri pujaan hatinya, dia tentu akan berteriak riang dan berseri ? seri seharian penuh. Namun ternyata tebakannya salah, Althare terlihat biasa saja.

?Ya, terima kasih sudah mau menjagaku Althare.? Jawab Putri Alovera Rose sembari tersenyum. Raut wajah Putri Alovera Rose yang tadi kulihat pun menghilang.

?Putri, sebaiknya kita masuk ke dalam Fruitia Tree sekarang. Di dalam jauh lebih aman daripada di luar.? Katanya.

?Baik.?

Lalu kami bertiga pun masuk ke dalam Fruitia Tree. Hanya ras plantia dengan tingkat B keatas yang dapat masuk ke dalam Fruitia Tree. Pintu masuk Fruitia Tree pun hanya dapat dilihat oleh ras plantia. Ras lain hanya dapat melihat Fruitia Tree sebagai pohon tua biasa.?

Setelah mereka masuk ke dalam Fruitia Tree, mereka dihadapkan pada anak tangga kebawah dan anak tangga yang menuju keatas. Mereka langsung menuruni tangga kebawah, karena dibagian bawah Fruitia Tree terdapat ruangan yang luas. Sedangkan jika memilih untuk keatas, maka yang didapati adalah anak tangga keatas yang tidak diketahui ujungnya.

Banyak rumor yang tersebar mengenai ujung tangga atas Fruitia Tree. Salah satunya bahwa ujung tangga Fruitia Tree ialah langit, ada pula yang mengatakan bahwa ujung tangga atas Fruitia Tree ialah bawah singgasana Pemerintahan Pusat Strata. Dan rumor ? rumor lain mengatakan ujung tangga atas Fruitia Tree ada empat, masing masing menuju ras Nimalia, ras Moneaer, ras Polifera, dan ras Fungidia. Namun tentu saja belum ada yang megetahui kebenaran rumor ? rumor tersebut. Hanya satu yang mereka, seluruh ras plantia tahu, bahwa pernah ada seseorang yang melewati tangga atas tersebut dan tidak pernah kembali, yaitu ayah Tioara.

Ya, ayahnya. Dia dulu sama sepertinya, salah satu swordsmen tingkat devine B yang terkenal gagah berani. Tapi dia juga merupakan orang yang selalu ingin mencoba hal baru. Termasuk orang yang selalu diliputi oleh rasa penasaran akan berbagai hal. Dia juga merupakan salah seorang yang begitu dihormati di ras Plantia. Oleh karenanya, Tioara selalu terinspirasi untuk selalu rajin berlatih. Selalu teringat olehnya pesan yang disampaikan oleh ayahnya ketika dia mendongengkan kisah-kisah nenek moyang ras plantia dahulu. ?Jadilah swordsmen yang lebih hebat dari Ayah, Nak,? begitulah pesan yang sampai sekarang masih selalu terngiang di dalam benaknya.

Masih jelas tercetak pula kejadian hari itu, satu hari sebelum menghilangnya Ayah Tioara. Pagi itu, lain dari biasanya, Ayahnya membangunkan Tioara yang masih terbauai di alam mimpi. Masih dengan setengah sadar, dia bertanya pada Ayah, ?Tumben Ayah membangunkanku? Tapi bukankah ini masih terlalu pagi, Yah??.

? Ayah ingin melatihmu lebih keras hari ini. Bukankah kau ingin menjadi swordsmen yang hebat dan ingin melampaui Ayah?? Jawab Ayahnya sembari tersenyum.

Begitulah sosok Ayah tioara. Begitu peduli terhadap semua orang, tak terkecuali keluarganya sendiri. Tak heran kalau mereka sekeluarga dan seluruh penduduk ras Plantia sangat menghormatinya. Banyak yang bilang, ibunya sangat beruntung bisa mendapatkan sosok seperti Ayahnya. Ibunya memang dari keluarga yang biasa saja, namun memang memiliki paras wajah yang bisa dibilang cukup cantik.

Setelah cuci muka seadanya, Tioara segera menyusul Ayahnya ke tempat latihan. Di sana, Ayahnya sudah menunggu sambil membawa dua buah pedang kayu dan sebuah pedang yang membuatku menelan ludah. ?Ostia?, pedang Ayahnya yang juga merupakan salah satu pedang terhebat di ras Plantia. Tak seperti biasa, Ayahnya membawa Ostia ke tempat latihan. Dia biasa menyimpan pedang itu di dalam rumah ketika sedang latihan seperti ini. Karena waktu itu tioara masih kecil, dia tak menaruh kecurigaan apapun, hanya rasa senang karena dia bisa melihat Ayahnyayang sepertinya ingin memainkan pedang kebanggannya itu di hadapan sosok kecilnya.?

?Wah, kau nampak begitu bersemangat ya, Tio. Ayah jadi semakin semangat pula untuk melatihmu hari ini.?

Begitulah, hari itu mereka melalui sesi latihan yang cukup ?menyenangkan?. Ayahnya kali ini melatih Tioara kecil dengan begitu serius. Tak diijinkannya anak kecil itu melakukan kesalahan sekecil apapun. Padahal, biasanya Ayahnya melatih Tioara kecil dengan santai, mengingat umurnya yang waktu itu yang memang bisa dikatakan masih terlalu dini untuk menjalani latihan pedang. Mereka baru beristirahat ketika Ibunya datang membawakan makanan untuk mereka. Setelahnya, mereka kembali menjalani latihan dengan penuh keseriusan. Stamina kecil Tioara terkuras habis setelah menjalani latihan yang memakan waktu sampai menjelang matahari terbenam itu. Seusai latihan, mereka berdua beristirahat di bawah sebuah pohon yang rindang. Sembari terengah-engah, Tioara bertanya pada Ayahnya,?Yah, kenapa hari ini melatihku dengan serius sekali? Biasanya kan Ayah melatih sambil bercanda??

?Bukannya kau sendiri yang mau jadi swordsmen hebat?? jawab Ayahnya sambil mengelus kepala Tioara kecil. ?Tio, apa kamu tahu tentang Ostia??

?Iya, Yah. Ostia kan pedang Ayah yang hebat.?

?Ini bukan sembarang pedang, Nak. Ayah ingin kau tahu sedikit tentang kehebatan pedang ini,? ucap Ayahnya sambil berdiri dan melepaskan Ostia dari sarungnya. Ketika pedang itu terhunus, seperti ada angin yang menyelimuti pedang itu. Itu bisa dilihat dari dedaunan kering yang terbawa oleh angin yang seperti keluar dari Ostia. Ayahnya terlihat begitu asyik mengayun-ayunkan pedangnya. Sementara itu, angin di sekitarnya terlihat semakin kencang. Setelah beberapa saat, Ayahnya lalu mengayunkan pedangnya ke depan seperti sedang membelah sesuatu. Dan benar saja. Area di depannya seperti terbelah oleh pedang Ayahnya. Bekas tebasan pedang Ayahnya terlihat seperti sebuah garis lurus ke depan yang entah berapa kaki jaraknya. ? Tio, kemarilah. Bawa pedang kayumu.?

Tioara pun berlari menuju Ayah. Sudah tak dirasakannya lagi lelah yang diakibatkan oleh latihan seharian ini. Semua terhilangkan oleh kekagumannya pada kehebatan Ostia. ? Coba tebas Ostia ini dengan pedang kayumu,? perintah Ayahnya sambil mengambil posisi bersiap menerima tebasan pedang kayu Tioara kecil.

Tioara menuruti saja perintah Ayahnya.Diambilnya kuda-kuda untuk melakukan tebasan terhadap Ostia. Dengan sekuat tenaga dia tebaskan pedang kayunya. Namun yang terjadi adalah, pedang kayunya patah seketika. Dan Ostia tidak bergerak sedikitpun. Tioara kecil pun terhenyak kembali oleh kehebatan Ostia. Baru kali ini dia melihat secara langsung betapa hebatnya pedang Ayahnya itu. Seperti mengerti kekagumannya, Ayah Tioara menyuruhnya untuk duduk kemudian menjelaskan beberapa hal tentang kehebatan Ostia.?

?Kalau kau perhatikan baik-baik, pedang kayumu tadi terbelah bahkan sebelum menyentuh Ostia Ayah ini. Coba kau pegang sisi pedang ini,? perintah Ayahnya yang lalu kemudian dia lakukan. Ketika ujung jarinya berada di sisi pedang itu, dia merasakan aura dingin yang seperti disebabkan oleh angin yang berhembus di sekitar pedang itu. ?Bagaimana? Apa yang kamu rasakan??

?Tio merasakan seperti ada anginnya, Yah.?

?Memang seperti itulah karakter pedang angin Ostia ini. Ayah ingin suatu saat kau bisa menguasai pedang ini. Hari sudah semakin larut, ayo kita pulang.?

Mereka berdua pun pulang. Sepanjang perjalanan, Ayah menceritakan berbagai pengalaman menariknya bersama Ostia, termasuk bagaimana Ayahnya memperoleh pedang itu. Semua cerita-cerita Ayahnya itu semakin menambah kekagumannya pada Ostia. Dia pun semakin tak sabar untuk bisa menguasainya.

Keesokan harinya, Tioara bangun terlambat. Mungkin disebabkan oleh kelelahan usai menjalani latihan kemarin. Begitu keluar kamar, tak didapatinya sosok Ayahnya dimana pun. Dia pun bertanya pada Ibunya, jawaban yang didapatnya hanya Ayahnya pergi ke Fruitia Tree.Tioara kecil pun hanya bisa menunggu. Karena memang anak kecil sepertinya tidak boleh dan memang tidak bisa ke sana. Sambil menunggu Ayahnya, dia mencoba berlatih pedang sendiri, mengingat apa saja yang sudah Ayahnya ajarkan kemarin. Tak sabar rasanya ingin melihat kembali kehebatan Ostia yang dimainkan oleh Ayahnya.

Namun, sampai sore aku menunggu, Ayahnya tak kunjung pulang. Bahkan sampai esok pun Ayahnya belum pulang. Setelah beberapa hari, terdengar kabar bahwa Ayahnya menaiki tangga yang ada di dalam Fruitia Tree.Tioara waktu itu masih belum mengerti apa maksud dari kabar tersebut. Dan ibunya pun hanya menenangkannya ketika dia mulai bertanya tentang Ayahnya dan juga tentang Fruitia Treeitu. Baru ketika dia mulai masuk pelatihan pedang dan mengenal Phatera, Tioara mengetahui maksud dari semuanya.

?Ehem..? Dehem tunggal Althare membuyarkan lamunan Tioara dan juga memecahkan keheningan di ruangan dalamFruitia Treeitu. ?Teringat Ayahmu lagi?? Bisik Althera kepadanya. Pertanyaan Althera itu hanya dijawabnya dengan senyum simpul kecil. Tioara mengarahkan pandangannya pada putri Alovera Rose yang terduduk di seonggok kayu yang memang biasa dijadikan tempat duduk oleh siapapun yang memasuki ruang itu.Dari raut wajahnya tampak bahwa sepertinya dia belum bisa menerima keadaan ini. Jiwanya memang sangat lembut. Dia sangat membenci sebuah peperangan yang menurutnya hanya akan menimbulkan luka bagi kedua belah pihak.

Gerbang pertahanan lembah Sakura pun dibuka dan para pasukan Jendral Eires bersiap menyerang ras Nimalia. Namun sebelumnya, Jendral Eires dan pasukannya terkejut melihat pasukan ras Nimalia tak terlihat begitu banyak, padahal dari segi pengamatan Nuwidas, ras Nimalia berjumlah enam ratus lima puluh pasukan.?

?Nuwidas, kau yakin pasukan ras Nimalia berjumlah enam ratus lima puluh?? Jendral Eires memastikan.

?Yakin Jendral. Menurut mata pengamatan, memang jumlah ras Nimalia berjumlah 4 kali lipat ras Plantia. Jendral, ini salah satu taktik mereka.? Jelas Nuwidas

?Taktik apa maksudmu, Nuwidas??

?Nampaknya pasukan pemberontak berniat mengelabui kita. Hanya seratus pasukan yang terlihat siap sedia menyerang di gerbang ini. Namun sebenarnya ada empat kali lipat dari seperti yang terlihat sekarang.? Imbuh Nuwidas.

Jendral Eires pun terdiam sejenak berpikir maksud dari taktik ras Nimalia . Nuwidas pun bersikeras mengerahkan pikirannya memecahkan apa yang sedang direncanakan ras pemberontak saat ini.

?Nuwidas, cepat periksa ?gerbang Lembah Sakura!? Perintah Jendral Eires.

? Tunggu, Jendral.? Sela Nuwidas sebelum meng-iya-kan perintah.

Nuwidas melontarkan apa yang telah dipikirkannya. Terasa ada keganjalan dari pihak pemberontak. Taktik tersembunyi pun sulit terbaca oleh Nuwidas.Sebagai tangan kanan Jendral Eires, Nuwidas memiliki kemampuan lebih dalam membaca taktik perang musuh. Hal ini pula yang menjadikan alasan Jendral Eires menjadikan Nuwidas sebagai tangan kanannya.?

? Sepertinya ras Nimalia terbagi dalam dua pasukan pemberontak. Mereka berniat menyerbu kota Klorofia secara bertahap.? Ujar Nuwidas.

?Lantas apa taktikmu sekarang? Apakah kita juga akan menyerang mereka secara bertahap? Menimbang dari segi jumlah, pasukan kita lebih sedikit dan tidak mungkin bila dibagi lagi.? Sahut Jendral Eires.

?Tapi kita mustahil memenangkan peperangan jikalau mengerahkan seluruh pasukan serentak, Jendral.? Salah satu anggota legion melontarkan pendapatnya.

?Ya. Benar apa yang dikatakan Tardio.? Jawab setuju Nuwidas.

Pasukan ras Plantia yang dipimpin Jendral Eires pun merencakan taktiknya. Taktik mengelabuhi yang ditawarkan pihak pemberontak pun akan siap dilawan pasukan ras Plantia.

?

?

?

  • view 101