panutan

arka
Karya arka  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 Oktober 2016
panutan

“I think everyone needs to be a role model, period”

Sekarang, saya mulai paham kenapa para orang tua sering khawatir sama gaya hidup generasi kita yang beda banget sama era mereka dulu. Mungkin pemahaman ini berkembang karena udah semakin jauh saya menapaki jenjang kedewasaan di umur 26. Makin kerasa gimana deg-degannya punya adik, ponakan atau sepupu yang selisih umurnya jauh.

Selain itu, janin di kandungan istri memengaruhi kejiwaan saya sebagai calon orang tua. Di tengah proses kehamilan sekarang ini, sejumput kecemasan kerap muncul setiap ngeliat gimana perkembangan zaman bisa memengaruhi karakter anak muda. Ini toh kecemasan yang dulu diwanti-wanti sama orang tua kita. Gimana nanti pas anak saya seusia remaja ya?

Saya enggak gelisah dengan umur yang terus nambah karena itu bagian dari fitrah, tapi saya resah karena kecepatan perkembangan zaman yang disokong teknologi bisa semengagetkan ini. Bentuk medsos makin beragam dan ngedorong kita untuk ngejadiin sebagian pengguna lain sebagai “seleb” baru karena alasan fisik, gaya hidup, ketertarikan atau kemampuannya. Selama keliatan keren, setiap orang berkesempatan punya banyak pengikut setia tanpa harus berlaku baik sebagai teladan.

Di situ letak kengeriannya. Medsos yang hampir sepenuhnya terbuka dan kaya isi, enggak punya saringan yang sesuai dengan kelayakan usia pengguna selain fitur konfirmasi umur. Saya pernah ngobrol dengan seorang bapak muda tentang tantangan membesarkan anak di era modern. Komentarnya sederhana, “Kalau ngerasa kuat untuk mengubah zaman, silahkan. Kalau itu berat, yang bisa kita lakuin ya cuma ngejaga keluarga sendiri. Itu benteng terawal sekaligus terakhir”.

Pasalnya, beberapa minggu lalu, media massa diriuhkan oleh berita segelintirvlogger yang diprotes KPAI karena khilaf mengunggah foto ataupun video yang dinilai negatif secara penampilan maupun isi. Apa mau dikata, banyak orang tua kecolongan pas tau buah hatinya menempatkan “seleb-seleb” virtual itu sebagai panutan yang layak ditiru. Enggak ketinggalan, mereka juga menganggap drama romantika yang dijalin para idola baru itu dengan kekasihnya sebagai #relationshipgoals yang perlu dituju. Seolah-olah, medsos jadi etalase yang begitu ciamik untuk memajang beragam bentuk perilaku “keren”.

Kecemasannya belum terasa? Coba bayangin adik, sepupu atau ponakan kesayangan kita sebagai sosok belia yang mudah meniru dan menggilai sesuatu. Siapapun tau bahwa jati diri remaja begitu mudah dibentuk oleh persepsinya sendiri.

Sebelum label munafik atau sok suci kemudian dipopulerkan untuk mereka yang gampang khawatiran, nurani kita memang tercipta untuk menilai hal-hal apa aja yang secara mendasar berkesesuaian dengan norma. Karena itu, sebetulnya kita enggak perlu sungkan untuk belajar jadi inspirator yang secara kontinyu menyuarakan pesan positif di linimasa. Walau perlahan, tapi pastikan prosesnya terus berjalan.

Kita akrab dengan pepatah, “Lebih baik nyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan”. Betapa mudahnya mengutuk pengaruh negatif medsos yang menggentayangi anak muda dengan segala ketidaksesuaiannya. Namun bukankah memberikan sedikit penerangan tetap lebih mencerahkan ketimbang berpasrah diri dalam gelap? Maka, percaya dirilah dan suarakan setiap semangat kebaikan lewat cara apapun. Sangat disayangkan kalau konten-konten mencerahkan kalah bising dibanding konten-konten meresahkan. Tugas memotivasi bukan cuma pekerjaan motivator di layar kaca.

Saya bukan lagi menggiring opini siapapun untuk enggak mengikuti akun-akun pribadi yang lagi hits. Saya juga enggak lagi menghujat figur tertentu dengan hak masing-masing untuk berkreasi di depan barisan pencintanya. Tapi bukankah di balik pengaruh yang mengakar kuat, juga ada tanggung jawab yang besar untuk mendidik lingkungan sekitar? Adik-adik kita masih membutuhkan bimbingan untuk lebih cermat memilih panutan dan kita harus mengetengahkan kembali figur-figur cemerlang pada tempat yang semestinya untuk diteladani. 

Demi generasi muda di masa depan, kita perlu terus melaju dengan kesadaran bahwa setiap orang harus jadi inspirator yang memantik kebaikan lewat lisan, tulisan maupun tindakan. Dengan begitu, kita bisa memastikan bahwa mereka enggak akan pernah kehabisan stok panutan untuk dituruti.

“If you are given a chance to be a role model, I think you should always take it because you can influence a person’s life in a positive light and that’s what it’s all about”.

Gambar dari sini, tulisan dari tumblr Mas Satria Maulana