Kisah Peci, Soekarno, dan Hary Tanoe

Arjuna Wibawa
Karya Arjuna Wibawa Kategori Budaya
dipublikasikan 26 April 2016
Kisah Peci, Soekarno, dan Hary Tanoe

Peci adalah ciri khas Indonesia dan sudah menjadi kebanggaan nasional. Orang memang sering salah mengartikan bahwa peci adalah identik umat Islam. Sebuah pandangan keliru dan ahistoris.

Bahwa benar bentuk peci sepintas mirip dengan turban, penutup kepala khas Turki peninggalan era Ottoman. Di negara-negara serumpun Melayu, bentuk penutup kepala seperti peci dikenal sebagai songkok.

Dalam konteks kebangsaan, peci adalah simbol nasionalisme, keberpihakan terhadap kaum tertindas (terjajah), perjuangan untuk kemerdekaan, dan perlawanan terhadap kolonialisme dan kesewenang-wenangan penjajah. Peci adalah sebuah politik identitas melawan ketidakadilan dan keterbelakangan.

Akhir-akhir ini penggunaan peci menjadi bahan perbincangan netizen atau buzzer panasbung dari kelompok pendukung figur politik tertentu karena seorang Hary Tanoesoedibjo, Ketua Umum Partai Perindo, menggunakan peci dalam sebuah acara dan mereka mengatakan bahwa itu dilakukan untuk sebuah pencitraan mengambil simpati umat Islam.

Sebuah tudingan yang 1000 persen keliru, dangkal, bodoh dan membodohi publik, malah justru merusak komitmen hidup bersama, nilai-nilai serta simbol-simbol kebangsaan kita.

Peci bukan hanya milik umat Islam, ustad atau Pak Kyai semata. Seorang pendeta muda yang saya temui di pinggiran Samosir beberapa waktu lalu selalu menggunakan peci saat ia melayani umat. Saat ditanya ia mengatakan sederhana, dengan berpeci ia merasa seperti Soekarno, Hatta, Natsir dan generasinya, ingin ikut dan terlibat membangun bangsa.

Peci adalah ikon nasional. Siapa pun berhak memakai peci sebagai lambang identitas Indonesia.

Jadi teringat buku otobiografi Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Cindy Adams, penulisnya, menuturkan kisahnya dengan sangat indah seperti ini:

"... pemuda itu masih berusia 20 tahun. Dia tegang. Perutnya mulas. Di belakang tukang sate, dia mengamati kawan-kawannya, yang menurutnya banyak lagak, tak mau pakai tutup kepala karena ingin seperti orang Barat.

Dia harus menampakkan diri dalam rapat Jong Java itu, di Surabaya, Juni 1921. Tapi dia masih ragu. Dia berdebat dengan dirinya sendiri. “Apakah engkau seorang pengekor atau pemimpin?” “Aku seorang pemimpin.” “Kalau begitu, buktikanlah,” batinnya lagi. “Majulah. Pakai pecimu. Tarik nafas yang dalam! Dan masuklah ke ruang rapat… Sekarang!”

 

Setiap orang ternganga melihatnya tanpa bicara. Mereka, kaum intelegensia, membenci pemakaian blangkon, sarung, dan peci karena dianggap cara berpakaian kaum lebih rendah.

Dia pun memecah kesunyian dengan berbicara: ”…Kita memerlukan sebuah simbol dari kepribadian Indonesia. Peci yang memiliki sifat khas ini, mirip yang dipakai oleh para buruh bangsa Melayu, adalah asli milik rakyat kita. Menurutku, marilah kita tegakkan kepala kita dengan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia Merdeka.”

Saat penulis berkesempatan berkunjung ke Kairo, Mesir, penulis iseng menggunakan peci sambil berjalan-jalan ke sejumlah lokasi keramaian. Tak sangka karena saat berdiri di depan sebuh warung kopi, penulis disapa seorang tua yang ternyata pemilik warung kopi tersebut. Ia berkata,"Indonesia, Indonesia, Soekarno, Soekarno!". Ia pun menarik penulis dan menunjuk ke arah peci yang dipakai penulis. Ia berkata dalam bahasa Arab yang tak dimengerti penulis yang intinya ia ingin mencoba 'peci Soekarno'. Lumayan, sebagai gantinya penulis mendapat suguhan secangkir kopi gratis yang nikmat luar biasa.

Semoga para politisi kita dan para pendukungnya, yang dibayar maupun tidak, agar memahami bahwa berpolitik adalah memperjuangkan kebajikan, memberikan pendidikan politik yang benar dan bukan merusak, menghujat, hanya karena ingin menang menghalalkan segala cara.

Dengan berpeci, anda adalah bagian dari pejuang membangun bangsa. Ayo semua pemimpin Indonesia, bangga dan sering-seringlah memakai Peci. Kalau sudah berpeci jangan korupsi atau zalim terhadap rakyat. Demi Indonesia merdeka, bersatu, dan sejahtera!


  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Sangat sepakat dengan tulisan ini. Makanya saya like dan promosikan.

    Hanya saja Pak Penulis, kekhawatiran saya, ini saya yah pak, tak punya tendesi politik apa-apa.
    "Khawatir,,takut... Jangan sampai si 'dia' hanya memakainya sebagai topeng agar 'disukai' mayoritas. Saya belajar berprasangka positif, semoga si 'dia' memang ingin memajukan bangsa dengan ikhlas, seperti para pejuang kita, terutama Soekarno. Semoga."

    Menghela napas dua kali dulu yah, Pak.

    "Hati orang siapa yang tahu. Cukup menghargai keputusannya untuk memakai simbol dari kepribadian bangsa Indonesia."

    Salam

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    salah satu bagian yang unik dari tulisan ini:
    mencoba peci dibarter dengan secangkir kopi gratis