Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Budaya 26 April 2016   17:03 WIB
Gagal Paham “Baju Koko”

Ramadhan mulai dekat, penjual pakaian muslim meningkatkan intensitas promosi. Mulai dari online shop perorangan yang membabi buta broadcast meessage sampai situs-situs e-commerce kelas atas, semua mulai mempromosikan baju muslim. Saya jadi penasaran bagaimana pakaian tersebut melalui proses sosiologis dan antropologis akhirnya identik sebagai pakaian muslim.

Okay, kita mulai dari apa itu muslim? Muslim adalah pemeluk agama Islam. Sepengetahuan saya yang awam ini, muslim merujuk pada laki-laki, sedangkan perempuan disebut muslimah. Sebagai seorang muslim saya diharuskan untuk memperhatikan pakaian yang saya gunakan. Pada prinsipnya, muslim diwajibkan untuk menutup auratnya. Aurat laki-laki adalah dari pusar sampai lutut, maka laki-laki haruslah menutup pusar hingga ke lutut. Beberapa ajaran menyebutkan kaidah atau “sunah” yang menentukan hal lain semisal “dianggap sopan oleh masyarakat” atau menaikan celana di atas mata kaki.

Jadi pada dasarnya semua pakaian yang biasa digunakan oleh masyarakat muslim Indonesia baik yang tradisional maupun yang kontemporer itu sudah memenuhi syarat minimal menutup aurat laki-laki. Katakanlah seorang muslim menggunakan kaos tanpa lengan dengan celana pendek di bawah lutut, juga sudah memenuhi aturan wajib menutup aurat.

Tapi masalahnya bukan itu. Di Indonesia terdapat beberapa jenis pakaian yang identik sebagai identitas muslim. Hal ini terjadi karena biasa digunakan dalam ritual keagaamaan Islam. Di antaranya adalah “gamis” dan “baju koko”.  Gamis yang dipahami di Indonesia adalah jenis pakaian yang terdiri dari satu potong, menutupi mulai dari bawah leher dan bahu hingga ke kaki atau di atas mata kaki. Gamis biasanya dipadupadankan dengan tutup kepala dan sorban. Gamis berasal dari jazirah Arab. Menjadi sangat masuk akal jika kemudian gamis menjadi pakaian yang identik dengan muslim karena agama Islam berasal dari sana. Meski tidak semua orang Arab yang menggunakan gamis adalah muslim.

Sedangkan baju koko adalah jenis pakaian yang justru lebih populer digunakan oleh muslim-muslim di Indonesia. Sejarahnya baju koko berasal dari baju tradisional Cina yang disebut “Thui-Kim”, di masyarakat betawi baju ini dikenal dengan istilah “Tikim”. Lalu, bagaimana bisa baju tui-khim menjadi baju koko seperti yang kita kenal sekarang? Remy Sylado, budayawan, menjelaskan bahwa biasanya yang memakai baju tui-khim di masa itu adalah “Koko” (kakak laki-laki dalam bahasa Mandarin). Pendapat serupa juga dikemukakan JJ Rizal, sejarawan, “Sejarah kemunculan baju koko di Indonesia sangat erat kaitannya dengan adat masyarakat Tionghoa yang berbaur dengan penduduk pribumi sehingga banyak diadaptasi oleh berbagai suku di Nusantara.”

DALAM novel The Da Peci Code karya Ben Sohib, tokoh utamanya Rosid menggugat baju koko. Kepada ustadz Holid, si Rosid kribo bilang, “Tadi anelihat, semue orang di masjid ini pake baju koko. Baju koko dianggap baju Islam. Emang sejak kapan baju koko masuk Islam? Dulu kagak ade orang yang bilang itu baju Islam. Semue orang juge tau kalau itu baju asalnye dari negeri Cina...Terus kenape jadi dikaitin ame Islam, seolah-olah kalau yang pake baju koko itu berarti orang Islam yang Islami? Di mane letak kaitannye?”

Rosid benar. Jadi kita harus mengembalikan pemahaman kita pada pengetahuan yang berlandaskan sejarah yang tepat. Baju koko yang kini identik dengan pakaian muslim sebeneranya berasal dari masyarakat tradisional Cina yang kemudian diadopsi oleh masyarakat Indonesia seiring dengan akulturasi budaya lainnya.

Karena ketidaktahuan tersebut, ketika ada lelaki peranakan Tionghoa yang kebetulan bukan muslim menggunakan baju koko kita justru cenderung marah karena pakaian kita “dicuri” oleh mereka. Hey, bukankah sejarah mengatakan bahwa kita yang meminjam pakaian mereka?

Indonesia yang dibangun dari semboyan Bhineka Tunggal Ika seharusnya tidak mengkhianati semangat perjuangan kemerdekaan para pendahulu kita dengan menutup kemungkinan untuk tetap beragam. Secara sosiologis dan antropologis kita sudah menyerap nilai-nilai dan tata perilaku (costums) dari kebudayaan lain yang turut memperkaya khasanah budaya bangsa. Selama mereka lahir di Indonesia dan “punya KTP” Indonesia, maka mereka adalah bangsa Indonesia.

Karya : Arjuna Wibawa