Semua tentang selera.

Arizal Akbar
Karya Arizal Akbar Kategori Inspiratif
dipublikasikan 24 Mei 2018
Semua tentang selera.

Ketidakpahaman kita pada rasa, terkadang membuat kita terlalu mudah menyimpulkan rasa itu sendiri.

Misal, ada secangkir kopi lalu dicicipi oleh dua orang dengan kepekaan rasa yang berbeda. Orang pertama mengatakan kopinya mengandung rasa jeruk sedangkan orang yang satunya lagi mengatakan kopinya tak mengandung rasa jeruk.

Setelah diselidiki orang kedua tak pernah memakan jeruk. Jelas saja ia katakan kopinya tak mengandung rasa jeruk. Karena kepekaan terhadap rasa belum pernah ia rasa sebelumnya. Bahkan bagi orang yang pernah makan jeruk pun kepekaan terhadap rasa masih perlu dilatih.

Oleh karena itu menjadi peka itu nggak mudah, tapi bukan berarti ia mustahil. Asalkan mau terus mengasah, maka akan semakin tajam kepekaan kita terhadap rasa.

Dulu sewaktu pertama kali diseduhkan kopi asli (bukan kopi kemasan kecil). Cuma rasa pahit yang saya dapat. Saya tanya pada baristannya “ini nggak pake gula?” Baristanya pun menjawab “enggak mas, karena gula itu bisa merusak rasa dari kopi itu sendiri”. Saya pun bungung lalu menjawab iya iya saja.

Seiring dengan berjalannya waktu, dengan rasa penasaran saya akhirnya mencari tau tentang kopi lebih jauh, mencoba mengenali rasa yang dihasilkan kopi. Mencoba minum berbagai jenis kopi dari satu coffee shop ke coffee shop lain dan hasilnya, saya akhirnya paham apa yang dimaksud mas barista waktu itu. Sejak saat itu saya jadi suka kopi.

Ternyata selama ini kopi yang saya minum tidak terseduh dengan baik sehingga hanya rasa pahit yang saya rasa. Selain itu bisa jadi kualitas kopi yang saya minum tidak bagus. Banyak sekali faktor yang menyebabkan secangkir kopi itu tidak enak untuk di minum. Begitulah perjalanan saya mencari tau tentang kopi.

Jadi buat kalian yang masih bertanya enaknya kopi itu di mana sih?

Jawabannya lebih baik kalian cari tau sendiri. Karena akan sangat puas rasanya ketika nanti kalian menemukan jawabanya sendiri. Seperti saya yang menyimpulkan kopi itu rasanya pahit hanya karena rasanya berbeda dari kopi yang biasa saya minum sebelumnya.

Setelah akhirnya tau bagaimana kriteria kopi yang enak, saya pun mulai berkelana dari kedai kopi satu ke kedai kopi lainnya untuk mencari tau rasa kopi seperti apa yang saya suka.

Enak atau tidaknya kopi itu juga di pengaruhi oleh selera kita. Anggaplah ada secangkir kopi yang diseduh dengan baik dari biji kopi erbaik pula. Tetapi ternyata rasanya tak sesuai selera kita, tentu saja kita menganggapnya kurang enak bukan?

saya baru saja membalas chat seorang teman di grup tentang kopi. Dia posting foto kopi yang baru saja diraciknya dan saya pun memberikan komen pada postnya, “nano nano ya rasanya” dia pun membalas “wah kamu belum coba nih rasanya mantep, lebih enak dari kopi susu”.

Dia pun mengirimkan sebuah link tentang resep kopi yang baru saja dia racik tadi. Saya ingin membalas post dia dengan “kopi enak itu masalah selera” tapi saya urungkan niat saya karena temen saya itu orangnya suka berdebat. Gara-gara saya mengurungkan niat tadi, saya pun dapat ide untuk menulis tentang kopi. Iya tulisan yang sedang kalian baca saat ini berawal dari cerita di atas tadi.

Jadi menurut saya kopi enak itu memang masalah selera, karena nggak mungkin kepekaan lidah semua orang terhadap rasa bisa sama. Pengalaman lidah dalam mengenal rasa juga berbeda itulah yang menjadi kesukaan kita terghadap sesuatu bisa berbeda-beda.

Kopi gayo yang menurut saya enak belum tentu menurut teman saya enak. Karena dia senangnya minum kopi susu. Tapi jangan sampai perbedaan kesukaan kita terhadap rasa kopi membuat kita tak bisa ngopi bersama, toh kita masih sama-sama suka kopi. Kecuali kamu sukanya minum teh, itu beda hal.

Kesimpulannya kopi yang enak itu adalah kopi yang sesuai dengan selera kita. Tak perlu memaksakan rasa pada orang lain yang belum tentu menyukainya. Rasa suka itu tak bisa dipaksa.

  • view 20