Ketika saling benci tapi tak mampu berseteru.

Arizal Akbar
Karya Arizal Akbar Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 10 Mei 2018
Ketika saling benci tapi tak mampu berseteru.

Mengambil keputusan di saat kita sedang emosi adalah sesuatu yang buruk, karena bisa berpotensi salah. Dampak yang dihasilkan bisa merugikan diri kita sendiri dan orang lain. Saya punya cerita di masa lalu tentang ini.

Sewaktu kuliah saya tergabung dalam sebuah organisasi kampus yang bergerak dibidang musik. Namanya juga anak organisasi nongkrong dan kumpul-kumpul di sekretariat sampai tengah malam adalah hal yang biasa, ditambah lagi malam itu ketua organisasi kami sedang berulang tahun.

 

Untuk merayakannya dia pun mentraktir kami "minum-minum". Tentu saja kami sambut dengan riang gembira, sebab sudah lama kami tak bercengkrama seperti ini. Bernyanyi bersama, berbagi cerita. Rasanya kami tak mau malam ini berarkhir.

 

Namun nyatanya situasi berkata lain. Keseruan yang kami malam itu terpaksa harus terhenti karena kedatangan segerombolan tamu tak diundang. Mereka adalah tetangga sebelah kami, anak-anak organisasi mahasiswa pecinta alam (mapala)

 
 

Entah kenapa beberapa tahun terakhir hubungan kami dengan anak-anak mapala tak pernah akur, selalu saja menuai konflik. Padahal cerita dari senior-senior terdahulu, hubungan antara mereka sangatlah baik, bahkan senior-senior kami adalah anak-anak mapala juga. Ironi bukan?

 
 

Malam itu mereka mendatangi kami dengan muka bantal, rambut mengembang, dan, bertelanjang dada. Mereka seperti singa yang terbangun dari tidurnya. Emang iya, kebangun tapi mereka bukan singa.

Tak tanggung-tanggung malam itu ketua mereka langsung yang turun tangan untuk bicara. Ketua mereka pun memulai percakapan dengan ketua kami (yang sudah dalam keadaan setengah mabuk) * km : ketua mapala kb : ketua band

 
 

km : heh! Kamu tau nggak ini udah jam berapa?

kb : jam 1 malam, kenapa?

km : pake nanya, tolong lah bro kita disini kan tetanggaan sama organisasi lain, satu atap. Tolonglah pengertiannya, kan ada anggota yang mau istirahat.

kb : bro kalau mau istirahat itu di kos bukan disini

kb : disini itu tempat organisasi beraktivitas.

km : beraktivitas apa tengah malam gini, kalian mabuk-mabukkan.

kb : woo kayak kalian nggak pernah aja mabuk-mabukkan sampai tengah malam, toh kami nggak pernah protes.

km : salah kalian kenapa nggak pernah protes.

 
 

kb : goblok. Itu karena kami disini tau anak organisasi bebas mau ngapain aja sampai jam berapa.

km : weh santai aja ngomongnya, aku ngomong baik-baik. Kamu jangan nyolot. kb : gimana aku nggak nyolot, kalian itu terlalu egois, sudah lama aku pengen ngomong gini,

 
 

kb : kalian berlagak penguasa disini, aula sekre lantai dua kalian kuasai sendiri buat ruangan kalian, organisasi lain susah mau pake. Kan anj*ng. Salah satu anak mapala pun ada yang nyeletuk.

* am1 : anak mapala satu

am1 : trus kamu maunya apa sekarang bangs*t.

kb : aku maunya kalian balik aja sana ke sekre kalian, kami lanjut bernyanyi ria.

km : heh! Kamu tu maunya apa sih, kami ngomong baik-baik lho.

kb : lho aku juga ngomong baik-baik.

am1 : mau kelahi kah hah! Nggak bisa di ajak baik2

kb : lho katanya baik-baik. Kok ngajak kelahi, kami kalau di tantang gitu jangan kira kami bakalan takut.

am1 : ok. Kumpulkan anggota mu jam 4 sore besok kita ketemu di parkiran sekretariat. kb : ohh siap. Tunggu aja. Percakapan pun selesai.

Seketika suasana malam yang tadinya asik berubah menjadi tegang. Kami mulai membersihkan bekas-bekas minuman merapikan tempat nongkrong kami, berpindah ke ruang rapat untuk membicarakan masalah tadi.

 
 

Hasil rapatnya, besok semua anggota laki-laki harus datang ke sekeretariat untuk menjawab tantangan tetangga sebelah. Tentu saja para senior tidak tinggal diam, mereka juga turun besok. Dan bisa dipastikan senior-senior anak mapala juga turun. Get ready for battle.

Keesokan paginya, entah darimana kabar ini begitu cepat tersebar luas di kalangan temen-temen organisasi lain yang ternyata memendam lama kekesalan mereka terhadap tingkah laku anak-anak mapala. Mereka pun menyatakan akan siap untuk membantu kami dalam pertarungan hari ini.

 
 

Tapi ketua kami menahan mereka. "Ini urusan kami dengan mereka. Kalau mereka melibatkan pihak di luar organisasi mereka, saat itulah kami membutuhkan bantuan kalian". Mereka pun menghormati keputusan itu, sore ini mereka mengamati dari jauh.

Akhirnya sore pun tiba. Anak-anak mapala sudah terlihat banyak sekali berkumpul di parkiran. Sedangkan kami masih santai sambil minum es teh dan makan gorengan di kantin tercinta kami, hanya tinggal beberapa menit menuju waktu pertemuan.

TENG!!! Jam 4 sore, kami semua berdiri meninggalkan kantin. Berjalan menuju mereka. Bergerombol. Persis seperti adegan film Crow zero, saat suzuran melewan housen. Ketua kami saling berhadapan, saling bicara untuk memastikan sekali lagi keputusan mereka.

FINAL BATTLE!!

Senior am : bro jangan beginilah, kita bicarakan baik-baik, senior kita itu dulu temen baik lho dulu, masa kita yuniornya gini.

ketua ab : lho kemaren yang nantin siapa? Kami cuma ngejawab tantangan kemaren. ketua am : kayaknya kamu emang mau kelahi, anj*ng!!

CHAOSSS!!!

Perkelahian berlangsung cukup lama, setelah akhirnya kami dilerai oleh senior-senior tinggi mapala yang baru tiba di lokasi. Kami kembali ke kantin dengan puass, kenapa? Karena kami merasa menang, kami melawan mereka dengan tangan kosong, sedangkan mereka, yap memakai benda-benda. Kami tertawa puas, meskipun kami bisa di bilang cukup babak belur. Suasana masih panas. Kami saling menatap tajam dari kejauhan.

Setelah beristirahat di kantin kami kembali ke sekretariat kami, mereka pun begitu, entah apa yang senior mereka sampaikan, hingga mereka bisa tenang. Kami masih tetap berkumpul di sekre, berjaga-jaga serangan dadakan.

FUNFACT: Bertepatan dengan kejadian ini, band saya ada jadwal rekaman untuk album kompilasi kami yang kedua. Jam 7 malam, saya beserta anggota band lainnya, rekaman dengan wajah sedikit bonyok, dan emosi yang berapi.

 

Untungnya saja lagu yang saat itu direkam butuh emosi berapi-api, judulnya "bullet in my head". Hahaha

SERANGAN MENDADAK! lagi asik rekaman tiba-tiba para yunior mengabari kami bahwa mereka di serang, dan mereka membawa senjata tajam. GILA!mendengar kabar itu para peesonil yang sudah kelar rekaman bergegas kembali ke sekre, termasuk saya.

Sesampainya di laut, bukann bukan malah Ebit G. Ade, sorry om.

Sesampainya di sekretariat. Temen-temen kami sudah tak ada. Kami mun mengeledah studio kami, benarlah ada sebagian cewek-cewek bersembunyi di dalam. Kami pun bertanya kemana perginya temen-temen yang lain beserta ketua.

Ternyata mereka menyelamatkan diri, lari ke tempat perjanjian. Di mana kami hanya akan bertamu kesana jika suasana semakin memburuk, kami pun bergegas kesana. Diam-diam tentu saja. Berjalan kaki mengendap-ngedap.

 
 

Pukul 08.30. Kami sampai di lokasi pertemuan. Mulai bercakap-cakpa mengenai detail kejadian tadi. Kami terkejut ada salah seorang teman kami hampir saja tertusuk pisau, ia memperlihatkan bekasnya pada kami. GILA! Ini sudah tindak kriminal.

Sejam berlalu. kami masih bersembunyi. Sampai akhirnya kami pun mendapat kabar bahwa keadaan sekeretariat sudah kondusif. Ya iyalah kondusif, Pembantu Rektor III datang ke gedung sekretariat malam itu. Kami tak menyangka beliau akan turun lansung. Kami bergegas kembali kesana.

 
 

Sesampainya di sekretariat ketua kami pun langsung menuju aula gedung, dimana pertemuan dengan Pembantu Rektor III dilangsungkan. Sedangkan kami menunggu di sekretariat.

Tidak terlalu lama kami menunggu, ketua kami kembali dari pertemuan dan langsung mengajak untuk berkumpul di ruang rapat. Keputusan pertemuan tadi kedua organisasi akan dibekukan jika masalah seperti ini terulang kembali. Memulai konflik lagi berarti bunuh diri.

 
 

Dan besok kedua organisasi akan menandatangani surat perjanjian damai, di wakili oleh kedua ketua organisasi, disaksikan oleh Pembantu Rektor III.

Sejak ditanda tanganinya surat perjanjian damai itu. Hari-hari kedua organisasi tak lagi sama. Bila berpapasan di persimpangan lorong, hanya mampu saling tatap penuh kebencian. Kami benci kami tak bisa berseteru lagi, karena itu berarti bunuh diri. TAMAT.

  • view 39