(Duapuluh) Enam

Ariyanisa AZ
Karya Ariyanisa AZ Kategori Lainnya
dipublikasikan 20 September 2016
(Duapuluh) Enam

 

 

Tangannya sibuk mengolah bahan-bahan. Sesekali mondar mandir lemari es dan meja makan, lalu kembali jibaku bersama ‘klik’ kompor mati nyala. Sebuah menu sederhana, berbungkus waktu istimewa.

Apa yang tidak bagi lelaki tercinta? Meski sepanjang malam demam membekap dengan panas naik berderajad-derajad, meski linu nyeri melolosi sendi-sendi dan igau tak urung mendengung-dengung, apa yang tidak bagi jiwa yang membawa setengah nyawa?

Duhai, nikmat nian... segala sulit mendadak lapang jika itu tentang cinta, hingga semua benar selesai di tangannya. Tinggal lagi menunggu kepulangan si yang ditunggu, ke petak rumah sahaja yang mesti selalu menjelma surga.

***

“Hari ini ndak lembur kan, Mas?”

Sebuah pesan masuk. Dibenahi letak kacamatanya lalu tersenyum sebelum berkirim balas, “Ya, Bund. Jaga kesehatan, jangan terlalu lelah”.

Ia tahu persis apa yang diinginkan wanitanya setiap hari ini tiba, manakala bulan kesembilan jatuh pada angka duapuluh. Meski tanggal itu hari itu telah pula jauh berlalu. Tapi bersamanya, waktu selalu bersedia kembali berbalik pada putaran mula, meski hanya berupa lembaran-lembaran cerita.

Merah di ufuk yang menggradasi biru petang berhenti sebentar, sekedar menanti tubuh tegapnya agar tak bermaghrib di jalan. Demi janji, makan malam harus di rumah.

***

“Sudah duapuluh enam tahun. Ndak terasa ya, Mas.”

Ada kilau yang menahan tak jatuh dari sepasang mata yang telah mengantung keriput meski samar. Tangannay sibuk mengatur tatanan, menyusun piring dan pinggan, lalu menghidangkan di hadapan si lelaki di seberang meja makan.

Bertanggap senyum.

Hening bertamu menjadi ketiga di antara mereka berdua, mendominasi ruangan hingga tak ada riuh gempita sebagaimana anniversary layaknya. Hanya kenangan demi kenangan berlari kejar dalam semasing benak, menjadi rangkai adegan yang kian jelas di hadapan mata.

Sehela napas menjurus, lelaki beringsut, berlutut menggenggam jemari tercintanya. Lembut dikecupnya punggung tangan yang kencangnya mulai susut. Urat-urat berlomba tampak ke permukaan yang hanya dinaungi selembar langsat bersih, tapi nyata tak pernah kehilangan ketegaran.

“Sudah duapuluh tahun, Bund,” ucapnya, “apa akan begini terus?”

Sabit senyum menghalau kilau dua rupa bening yang turun ke pipi. Tangannya berpindah kini, pada kepala yang bertumpu di pangku.

“Tidak akan ada yang mampu gantikan mendiang Ayahmu, Mas.”

Mas sulung sekaligus bungsu itu menikmati belai yang teramat ibu pada rambutnya, lalu ia tegak. Pada keteguhan sosok di hadapannya ia percaya bahwa tak apapun lapisan mentabir bagi cinta yang begitu, sekalipun maut.

Dikecup sekali lagi tangan wanita muasalnya, lalu tersenyum pada sepasang pandang teduh di balik pigura tua, persegi tempat menyimpan kharisma abadi dari lelaki yang duapuluh enam tahun lalu berikrar janji dan duapuluh tahun lalu terlebih dahulu pergi.

***


#Kepada Ibunda Sri Hariati dan Ayahanda (alm) Prio Budi Utomo, semoga kelak bertemu kembali menjadi pengantin surga. 
Thumbnail 

  • view 234