Yang Adella Yangga Abadi

Ariyanisa AZ
Karya Ariyanisa AZ Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Agustus 2016
Yang Adella Yangga Abadi

 

“Yang, semakin hari mereka memandangku semakin aneh. Tampak memperhatikan, tapi lalu membuang wajah, seakan barusaja mata mereka jatuh ke kubangan kotoran hewan.”

“Yang, apa aku tampak jorok? Padahal kau lihat sendiri, kan, aku mandi sehari dua kali, bahkan lebih. Aku menyisir rambutku, mengenakan pakaian yang rapi. Juga tak lupa membaluri tubuh dengan lotion harum yang amat kau suka wanginya itu. Lalu mengapa mereka demikian jijik padaku? Bukankah ini kebiasaan wajar yang juga dilakukan para gadis pada umumnya?”

“Oh, Yang, maafkan, jika karnaku kau turut serupa tahi di mata mereka. Dan terimakasih sebab itupun taklah lantas buatmu menjauh dariku, apalagi mencibir seperti bibir mereka nyinyir. Tetap kau, Yang, senantiasa menerimaku tulus.”

“Mereka tak pernahkah jatuh cinta? Mengapa selalu cemooh saja yang dilempar pada kita? Pada kau dan aku, Yang. Tak lelahnya jua mereka tudingkan kesia-siaan, seolah cinta kita mengganggu hidup mereka. Dasar manusia-manusia dengki!”

“Yang, kau dengar lengking barusan? Dia bilang dia kakakku, padahal tentu saja bukan. Kakakku adalah Meta, amat menyayangiku. Tak mungkin hendak merebutmu dariku seperti yang dilakukan tukang sihir pelengking barusan itu. Ia berkali mencoba memisahkan kita. Dasar penyihir gila!! Ia tak tahu betapa cinta kita amat lekat, dan tak akan apapun melantak.”

“Ah, tatapanmu itu, Yang, selalu begitu. Selalu teduh yang menyapu sipu di merah dadu pipiku. Aku malu, Yang, tapi juga senang. Terimakasih ya, bolehkan selalu aku lelap di pangkumu.”

“Adella, Yangga datang, Nak.”

“Yang, kau masih ingatkah suara itu? Tentu saja itu Ibuku, ia lembut sebagaimana selalu. Juga pagi ini. Lihatlah saat penuh asih ia menyentuh bahuku dari balik bangku. Seraya senyumannya itu pula aku yakin tertuju padamu. Ia merestui kita, dan itu cukup bagiku. Tapi, kaukah itu yang datang? Bukankah kita telah bertemu sejak tadi? Tidakkah kau telah lama bercengkerama bersamaku di sini?”

“Adella, berbaliklah, Nak. Sambut Yanggamu.”

“Yang, siapa itu yang dimaksud Ibuku? Kau ingin memberi kejutan ya? Mengutus tukang pos mengantar surat beramplop harum warna hijau seperti dulu, atau lagi-lagi membayar penjaga florist untuk menyampaikan kerumunan krisan ke depan pintu rumahku? Kau memang penuh kejutan, sejak dulu, sejak awal kita punya temu.”

“Tapi kali ini takkan kubiarkan kau menang. Sebab setelah merapikan baju dan menyisir rambutku, akan segera aku menyongsongmu. Tunggu beberapa saat, Yang..”

“Tolong hati-hati ya. Adella hanya mudah dibujuk jika itu tentang Yangga.”

“Yang, siapa yang tengah jadi penipu? Kau atau Ibuku? Mengapa tak kudapatimu menungguku di muka pintu? Mengapa justru lelaki berpakaian biru?”

“Adella tak mau mengerti. Tak sedikitpun mau mendengarkan kata kami. Setiap kali Meta menjelaskan, justru acapnya hanyalah terjadi pertengkaran.”

“Yang, aku tau kini. Hari ini ibuku telah turut membohongiku. Teganya ia ... Apakah ia juga menjelma nenek sihir yang ingin memisahkan kita?”

“Eh, orang berpakaian biru itu mendekat. Wajahnya tak tampan, Yang. Jauh lebih tampan wajahmu. Ia kemudian meraih tanganku, lalu menuntunku dengan lembut. Santun sekali. Seketika deregup jantungku riuh, membayangkan kau yang melakukannya padaku. Si baju biru dan dua orang temannya itu, utusanmu kah? Jadi ini kejutan juga? Kau selalu tak habis akal mengagetkanku, Yang. Lalu sekarang kita akan kemana? Oh, bertemu ya? Baiklah. Beruntung semua telah kupersiapkan.”

“Sebentar. Ini buku harian Adella. Siang malam ia menghabiskan waktunya dengan  buku ini. Barangkali sebaiknya juga dibawa.”

“Buku apa, Yang? Sejak kapan aku menjadi seorang penyuka buku harian? Aih, menggelikan. Eh... ssstttt... dengarlah, mobil yang kami tumpangi mulai berjalan, Yang. Sebentar lagi kita akan berjumpa.”

“Sungguh, aku menikmati perjalanan. Rasa lama sekali kita tak berakhir pekan di luar seperti ini ya? Meski sesekali sedih, aku sedari tadi terus menjaga senyum, Yang. Ya, sedih karena ingat akan fitnah itu. Mereka bilang kau sudah meninggal dalam kecelakaan dua hari sebelum hari pernikahan kita. Kejam bukan? Padahal kau ada di sini, setiap hari bersamaku dan tak pernah pergi. Ah, lupakanlah saja. Itu hanya reka yang dibuat demi kita segera terpisah. Kita harus buktikan bahwa cinta kita lebih kuat.”

“Aku senang melihat-lihat ke luar jendela. Segar. Tapi, tetiba mataku tertumbuk pada semacam buku kecil di dashboard mobil. Di sampulnya tertera sebuah nama instansi. Aku rasa itu bukan nama kafe kesayangan tempat kita dulu biasa bertemu. Sebentar, biar coba kuingat...”

“Yang, kau yakin kita akan jumpa di sana? Oh, Yang.. aku mohon segera batalkan kejutan kali ini. Aku tak suka. Aku benci tempat itu. Aku sudah pernah kesana. Di sana banyak orang jahat ingin memisahkan kita.”

“Yang, segeralah lakukan sesuatu sebelum aku berteriak. Yang, kenapa kau diam? Yang... Yang... jangann... Yaaanngg... “

.......

“Kukira kita bisa membawa dengan tenang sampai ke kamarnya. Ternyata ngamuk juga. Kasihan, cantik-cantik keluar masuk rumah sakit jiwa.” seorang pria berseragam biru bicara pada rekannya, sesaat setelah membenamkan injeksi penenang ke lengan Adella.

*** 

[Thumbnail]

  • view 270