Gerhana Rasa Gerhan

Ariyanisa AZ
Karya Ariyanisa AZ Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 Agustus 2016
Gerhana Rasa Gerhan

#1

Aku harus bagaimana? Sedih atau bahagia?

Kau pulang, Han. Seharusnya adalah kabar gembira setelah sebelas bulan tiada ada kita bertukar jumpa. Seperti banjir cinta yang biasanya kau beri malu-malu, keemasan senjaku hari ini berkilau mewah dalam tatapanmu.

“Tidak berkirim kabar bukan lantas mematikan perasaan, Hya.” lembutmu tak berubah, masih teduh seperti dulu.

Tak berani aku mematahkan kekatamu dengan ucapanku yang kerap tajam. Barusan darimu hanya pantas bagi senyum indah.

“Kau sudah siap?” tanyamu lagi.

“Han, aku..” kelu. Aku tak menyangka sefakir ini dihadapanmu.

Aku bukan lagi wanita galak nan pintar yang jago membanting banyak pendapatmu di berbagai media berbalas itu. Disana beradu melalui hanya tulisan, apa susahnya? Aku nyaris selalu menang, mungkin juga karena kau banyak mengalah.

Tapi berseberangan dengan bola mata berhias gemerlap megah itu, aku lumayan hempas dalam kegugupan. Ampuni aku, Han. Aku tak sanggup membalasnya.

“Hya, sebelas bulan terjadi begitu cepat. Aku mempersiapkan semuanya, untuk segala yang lebih sakral dari sekedar mewah pentalon dan gaun pengantin yang akan kita kenakan. Juga tentang kemenangan kita.” kau begitu sumringah, segalanya ringan dalam ucapanmu.

“Kemenangan?” aku merasa bodoh.       

“Iya, kemenangan melawan jarak dan waktu yang pernak perniknya amat menipu itu.”

“Tapi kadang waktu berjalan hanya tetes demi tetes, Hya. Mencekik dahagaku untuk segera bertemu denganmu. Aku jadi begitu tak sabar. Begitu tergesa untuk segera bersama dirimu.” lanjutmu lagi, penuh binar istimewa. Han, aku tak berani menahan tegak wajah.

“Kau sudah siap, kan?” masih lembut, sembari mencariku dari tempat berlindung akan silau pada terbit yang telah penuh di ufukmu.

“Han, a-aku...” gugup, “Bagaimana jika aku tidak se-setia yang kau kira?”  

Han, aku tak sanggup menangguhkan khawatir yang bisa saja berubah menjadi bom waktu melantakkan kita berdua hingga rata tanpa sisa.

Tapi kau hening. Hanya sorot itu masih, dan aku kehilangan tafsir.

Aku tidak sesetia itu, Han. Aku tak sesabar itu menanti dalam hening yang tak tersentuh olehmu. Kumohon bicaralah, jangan pasrah pada kejahatan yang kulakukan barusan. Karena aku bertanya sebab benar-benar tak tahu. Dan tolong berhenti membuatku kuyup dari kasih yang tak pernah kutampung dalam jiwaku itu. Aku menggigil, dingin.

***

#2

Apakabar danau teratai kita? Moga masih asri seperti dulu. Juga pohon beringin di tepiannya, sepertinya akan makin rimbun saja. Dan apakabar kau, lengan kurus bergelang kokka? Masihkah aneh seperti selalu? Menjadi sosok mungil dengan sorot mata cengkeram penuh daya hidup. Atau sudahkah bertumbuh lebih besar kini? Betapa geli aku membayangkan ekspresi galakmu saat diledek begitu.

Tersenyum jika aku mengingat lagi, lengan kurus berhias gelang roncean kayu kokka, menyodorkan sebuah kantong pelastik besar berisi persyaratan outbond yang mesti di bawa ke lokasi. Tak dinyana, kita berboncengan di atas sepeda motor yang sama menuju tempat yang ditunjuk panitia. Tanpa saling mengenal, tidak juga ada obrolan sepanjang jalan.

Siapa sangka pertemuan tanpa interaksi itu berlanjut pada rasa yang kemudian begitu raksasa, meski sewindu sudahlah lagi turun dalam hitungan kurun. Hingga sore ini aku begitu tergesa merapikan semuanya, demi berbagi persiapan yang telah kurancang sejak sebelas bulan silam, untukmu, untuk kita. Sungguh, rasanya lebih mendebarkan dibanding presentasiku dihadapan klien perusahaan senior sekalipun.

Ah, ya.. ini gelang kokka yang khusus aku titip dari temanku yang baru saja pulang dari dinas di pulau seberang. Coklat tua dengan ukir lembut yang cantik, juga pernis yang berkilau anggun. Tiga buah, dan semuanya untukmu. Seaneh apapun, tak dapat kupungkiri aku telah jatuh cinta pada lengan kurus tempat gelang kokka itu bertengger selalu. Lengan kurus yang sebentar lagi akan menyambut dengan peluk setiap kali rindu mengantarku pada pulang. Kau.

***

#3

Teratai anggun sejenak membatu. Kelopaknya pejam damai meski angin riuh hilir mudik menelisap lembut stomata dan mendesaki lentisel, mengayun-ayun tubuh ramping bermahkota cantik dalam balutan gaun kuning keemasan buah mahar raja surya yang dipintal danau untuknya tiap senja. Tak dihiraukan sepasang mata yang salip sitatap di tepian sana, nun sunyi teduh di bawah dahan beringin rimbun.

“Kenapa?” suara berat si lelaki merambati hening yang menyekap waktu sekian jeda.

Justru sosok di sisinya menunduk. Samar tampak kedua matanya berkedip cepat, berusaha keras membendung sesuatu yang berat. Alih alih mendapati jawaban, pria itu bahkan merasa tinggallah ia di sana sendirian menelan duka bulat-bulat agar tak perlu mengunyahnya dan pahit tak lagi akan dirasa.

“Maafkan aku, Han.” akhirnya ia bicara. Si lengan kurus bergelang kokka, dengan cerianya yang lama telah menguap dan menyatu bersama udara.

Ada geleng yang amat pelan. Sedang seluruhnya menyatu dalam satu kepala milik lelaki yang kini selunglai daun beringin kering ditanggalkan angin. Rindu, sedih, kesal, takut, marah juga benci. Mengapa ia harus merasakan ini sekarang? Mengapa bukan dulu saat semua belum lagi menjadi amat dalam? Andai bisa ia akan segera membenamkan diri ke dalam danau yang tengah amat tenang di hadapan mereka. Sayangnya tidak. Kesunyian terlebih dahulu merenggut jiwa lelaki itu, tak menyisakan sedikitpun daya kuasa di tubuhnya.

“Tapi bagaimana caranya menghentikan badai rasa, Han? Aku sungguh samasekali tak mampu.” wanita itu berkata lagi. Berbalas pandang penuh tanya dari bawah kening yang berkerut seketika, menatap wajah tirusnya dengan tajam.

“Bagaimana mugkin kau menanyakan sesuatu yang aku sendiri pun amat kuwalahan menghadapinya, Hya?” jawabnya dengan nada penuh putus asa.

Semacam kosong harapan yang terus kian menuju ketiadaan sejak awal temu mereka. Pernikahan, betul-betul hanya dongeng yang telah selesai bahkan sebelum sempat mereka mulai. Belum, seperti belum puas, waktu membuatnya makin tak berdaya saat gambaran sesosok lelaki pengganti tersketsa dari lisan insan cantik terkasihnya. Cintanya gerhana. Rindu ternyata hanya miliknya seorang saja.

“Hya, dimana letak kesalahanku? Agar aku mampu lebih giat lagi membangun diriku. Agar aku mampu melakukan yang terbaik buatmu.” Pedih si lelaki, berharap kiranya seberkas cinta membawa wanitanya berubah pikiran.

“Tidak, bukan, Han.” Wanita itu lekas menggeleng, “ini semua bukan salahmu. Ini semua murni kealpaanku untuk menceritakan semuanya padamu sejak awal dulu. Dan aku sangat menyesal saat semua jadi begini. Mungkin aku memang penjahat yang kejam, Han.. tapi sung...”

“Cahya, kenapa harus dia?” si lelaki menukas cepat. Tak penting baginya ratapan rasa bersalah yang mengalir selewat barusan.

Lagi-lagi wanitanya bungkam, tak beri jawaban seucappun. Sementara rasa darah kian naik mengaliri setiap sel yang ada di wajah, tengkuk hingga seluruh lapisan kepalanya lalu menjelma rasa panas yang membias berang, lelaki itu nyaris tak mampu menahan pitam. 

Cahya tetap menggeleng, sebuah isyarat atas tanya Gerhan yang tak mampu, entah tak mau dijawabnya. Digenggamnya erat-erat gelang kokka baru berukir lembut dan berpernis kilau pemberian Gerhan. Sedang rasa bersalah bersulam tak berdaya kian masyuk khusyuk menjamahi setiap petak hati dan perasaan, pada cinta yang telah memperjuangkannya sejak hari-hari entah ribu yang keberapa.

“Mengapa harus dia, Hya? Tak bisakah kau memilih yang lain saja meski itu bukan aku?”

“Ya, Han. Mengapa harus padanya aku menemukan hidup? Pada lelaki yang pernah menjadi iparmu, mencampakkan kakakmu. Aku pun tak tahu.” desah Cahya, sembari memandang punggung Gerhan yang telah jauh meninggalkannya tanpa membawa serta jawaban. 

*** 

Thumbnail

Dilihat 219

  • Nisrina S Nissinero
    Nisrina S Nissinero
    10 bulan yang lalu.
    Hmmm...saya kira cerita tentang Han dan Hayati, atau memang sengaja diplesetkan? Karena saya hapal sekali kalimat2 yang biasa dipakai si Han, seperti cerita Yang Adella Yangga Abadi.
    He he he...dari kisah2nya, sepertinya rindu tingkat dewa ????.
    Semoga selalu dalam keberkahan yaa saudariku, saya malah sedang tumpul ide.
    Good job

    • Lihat 1 Respon