Puasa, Negosiasi, Keberuntungan

Ariyanisa AZ
Karya Ariyanisa AZ Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 07 Juni 2016
Puasa, Negosiasi, Keberuntungan

Percayalah, saya juga ingin menjadi normal seperti remaja lainnya. Gesit, bebas bergerak sana kemari, memainkan apapun saya suka, memakan apapun saya ingin, pergi kemanapun saya mau. Hidup mejadi lebih elastis dan tampak mudah dibentuk sesuai kemauan hati.

Sedang keberuntungan tidak menghampiri semua orang, bukan? Dan mungkin juga sedang tidak ingin menghampiri saya. Saya dengan tubuh tambun cenderung gendut, tinggi pas-pasan, otak tak cemerlang, dan.. tatap mata redup buah selalu menahan sakit di kepala, tidak cukup menarik untuk disebut beruntung. Ah ya, keberuntungan bisa jadi tak suka sesuatu yang redup. Ia suka binar dan hingar, saya tidak punya itu.

Tapi saya berteman baik dengan negosiasi. Ia banyak bermurah hati dan menyelamatkan saya berkali-kali. Tentu saja saya akan memanggilnya saat harus berhadapan dengan diri sendiri. Setidaknya negosiasi membantu saya merasa umur sedikit lebih panjang, dan saya selalu akan hidup sehari lagi. Negosiasi hampir tak pernah menghianati.

Selain itu, ada eman-teman saya yang sama enambelastahunnya, mereka semua tampak warna warni menggemaskan. Saya senang memperhatikan segala yang mereka lakukan. Kadang mereka melakonkan drama kecil beranggotakan dua orang atau lebih, tak jarang menyanyi diiring petikan gitar guru seni, juga membaca puisi. Mereka suka seni, saya suka seni. Mereka menggelar pertunjukan, saya penontonnya. Mereka berlaga hebat, saya bertepuk tangan. Kami jadi sekawanan yang lengkap.

Mereka tidak membenci saya, tidak seperti keberuntungan.  Mereka mencintai saya apa adanya, seperti negosiasi. Di sekolah, mereka menawarkan saya segelas teh manis, atau sebatang coklat, juga beberapa butir permen karet bulat. Makanan kesukaan kami karena kami anak muda. Mereka tidak membenci saya karena saya selalu menolak. Mereka mengerti, saya tidak mau bukan karena tidak suka.

Citiscan terakhir dari rumah sakit yang saya kunjungi mengatakan bahwa pembengkakan selaput otak di kepala saya dengan istilah medis yang sulit dimengerti itu tak lagi boleh dicerobohi. Padahal dulu saya senang sekali bermain dan mencoba-coba berbagai hal bersamanya. Seperti minum es ditengah terik panas, untuk kemudian malam hari saya tak bisa bangkit sebab tak dapat merasakan keberadaan kepala kecuali sakit. Atau memakan saus terlalu banyak, dan berhari-hari saya tak dapat bicara karena tenggorokan terluka demikian rupa. Bersama negosiasi, saya kembali mampu melamapui masa-masa sakit yang sulit. Dokter menyebut berbagai makanan yang dimatangkan dari lepuhan minyak, juga yang dimaniskan sakarin dan aspartam, termasuk yang amat sedap dengan monosodium glutamat, tak terlupa juga dingin segar penandas dahaga yang banyak dijual di tepi jalan, mereka tak boleh lagi menyentuh tubuh saya. Katanya berbahaya.

Saya harus mulai berhati-hati terhadap segala hal. Siapa ingin cepat mati? Saya tidak. Jadi saya menurut perintah dokter untuk menjaga kesehatan semampu saya.  Sebab dalam hari-hari saya, merawat hidup nyaris sama dengan menjaga rambut rontok dari akarnya. Seperti rambut saya yang kian habis setiap harinya. Tersangkut di sisir, di jilbab, di handuk, juga berserakan di lantai. Mereka jatuh sesuka dan seliar hujan yang kerap menghajar imun saya jika terpaksa pulang sekolah kebasahan.

Tapi Tuhan tampak tengah menawarkan saya satu permainan. Kedengarannya menarik. Sekolah kami akan mengadakan sebuah long study di luar kota yang lumayan jauh. Tigapuluhdua jam perjalanan, katanya. Dengan akomodasi kelas satu yang baik dan nyaman. Saya ingin ikut. Mengapa tidak? Asal saya mampu menjaga kesehatan. Akomodasi nomer satu bukankah akan menjaga saya dari kelelahan?

Perizinan menuai pro dan kontra. Kedua orang tua bahkan guru pendamping tak inginkan saya turut bersama teman-teman. Berbagai alasan dikemukakan, mulai dari lamanya masa belajar, hingga waktu yang telah jelang Ramadhan. Mungkin takut merepotkan dan direpotkan. Tapi saya tak ingin terpenjara lebih lama lagi. Saya mengambil resiko, menghadapi konsekuensi.

Saya betul-betul berangkat. Maaf keberuntungan, kali ini kamu harus mau bersama saya. Walau sejenak menikmati semilir selat sunda kala malam, di balkon pelayar Nusantara 2 yang nyaman, dengan sedikit jentik semut dalam batok kepala membuat saya berkerenyit tertahan. Saya tidak apa-apa, jangan khawatirkan.

Tigapuluhdua jam perjalanan saya taklukkan. Lihat kan, saya masih bisa tertawa. Teman-teman juga tertawa. Ibu Ayah di rumah juga tertawa. Meski setelahnya rentetan pesan menghujani selular berisi daftar obat yang harus saya tetap minum teratur setiap harinya.

Pesan singkat yang sempat terabai beberapa kali sebab saya begitu asik melangkahkan kaki bersama teman-teman, menghabiskan hari menjelajah tempat-tempat yang terlalu sayang jika tak terkunjungi. Pesan singkat yang akhirnya saya tahu artinya setelah darah mengalir dari kedua hidung saya, tubuh lelah seharian dipaksa bersenang-senang.

Ah, besok sudah satu Ramadhan. Tapi kepala saya sedang tak ingin bekerjasama. Darah di dalamnya terlalu riuh, terasa mengalir hilir mudik, kanan ke kiri, atas ke bawah, dan bermuara di ujung hidung saya. Jangan tanya sakitnya, saya sulit bercerita.

Mata saya tak ingin terbuka, padahal cahaya matahari sudah menepuk pipi melalui celah jendela. Tapi besok sudah Ramadhan. Saya tak ingin kalah. Dan dimulailah saat itu lagi, ketika negosiasi datang sebagai teman satu-satunya saat berhadapan dengan diri sendiri.

“Berikan saya kekuatan lebih banyak lagi, saya tau saya masih punya.” kata saya pada diri.

“Saya lelah. Tak ada kekuatan cadangan. Kamu menghabiskan semuanya kemarin.”  jawab diri. Saya tau ia kikir. Saya tak ingin percaya.

“Masih ada. Jangan bohongi saya. Berikan, atau kita berdua hanya mati sia-sia!” saya berkeras untuk menang.

Diri menggeleng tajam, tapi saya berhasil merampas semua darinya. Saya mengambil kekuatan itu, dan mendekap erat dalam pelukan, tak akan lepas lagi.

Saya membuka mata meski berat. Saya menang, saya akan turut serta merayakan Ramadhan perdana.

Keberuntungan, apakah kita mulai berteman? Saya ingin kita berjabat tangan.

 

 

 

 

Thumbnail

  • view 133

  • Nisrina S Nissinero
    Nisrina S Nissinero
    1 tahun yang lalu.
    keberuntungan biasanya beriringan dengan waktu, kesiapan, dan kesempatan.
    Karena sebenarnya bila tanpa tiga itu, keberuntungan akan segera sirna.
    Siap-tak siap, kita harus siap setiap saat, sehingga bila kesempatan itu datang, kita harus segera menyambut keberuntungan itu, tanpa harus menunda waktu, karena jarang ada kesempatan yang kedua untuk sebuah keberuntungan.

    Hehehe...hari ini gantian saya yang absen, karena sesuatu dan lain hal.
    Salaam ^_^

    • Lihat 1 Respon