Kepada Lelaki

Ariyanisa AZ
Karya Ariyanisa AZ Kategori Tokoh
dipublikasikan 10 Mei 2016
Kepada Lelaki

 

Assalamualaikum, Abi.. Apakabar? Semoga segala kebaikan yang selalu kuminta dalam do’a masih lagi pantas dikabulkan-Nya, untukmu. Bagaimana embun pagi kita, masih segar, kan? Pasti selalu sesegar kau setiap kali kita bertemu. Baru satu bulan setengah lalu kau menjengukku di sini, Bi, tapi aku sudah mereka-reka waktu unutk bisa pulang sebelum pergi lagi nanti di akhir bulan.

Bi, mungkin kau membesarkanku memang untuk menjadi seorang family addict, yang mula tumbuh dari keluarga harmonismu, untuk kelak menumbuhkan keluarga harmonisku sendiri, meski sederhana dan tidak bermewah-mewahan. Kasih sayangmu yang selalu ada selama ini cukup membuatku tumbuh besar dalam kefahaman, bahwa meski semua butuh uang, tapi uang tak membeli segalanya. Dulu ketika sekolah bahkan sampai hari ini, tak habisnya aku heran pada anak yang marah, kasar pada orangtua atau bahkan pergi dari rumah hanya karena ingin yang tak terpenuhi, apalagi jika ingin itu bersifat kebendaan atau materi yang tidak terlalu penting. Sebegitu berhargakah bagi mereka benda mati semacam handphone, laptop, dan semacam yang hanya digunakan untuk game online, centil kepada lawan jenis atau apa lainnya? Sedang kelas empat SD dulu setengah mati aku menahan tangis mendengar penolakanmu saat aku bilang ingin kursus komputer hanya agar bisa mengetik sepuluh jari. Meskipun pada akhirnya kau izinkan, tapi pengabulanmu adalah sesuatu yang tidak akan aku paksakan.

Keridhoanmu, Bi. Keridhoanmu, bahkan sampai hari ini. Poster di dinding kamarku, isi handphoneku, cerita tentang komunitas dan organisasiku, tentu membuatmu mengerti kemana ingin aku membawa diri ini. Bukan ke sini, Bi. Menjadi seorang yang mesti berlaku cakap sebab menjadi panutan. Bukan, aku bukan penggila gelar guru teladan. Bukan juga sekedar berlepas diri dari gelar pengangguran. Bukan, Bi. Ini bukan profesi yang aku inginkan. Tapi entah mengapa, tentang keridhoanmu itu, aku tak kuat membantah. Hingga akhirnya aku betah, dan menikmati dengan sendirinya.

Bi, aku sampai hari ini masih merasa seperti anak-anak yang aman berlindung dibalik punggungmu. Kadang aku tertawa sendiri. Ingat nggak, Bi? Saat beberapa nominal masuk ke rekeningku dan ternyata itu darimu. “Nggakpapa, pingin aja.” satu-satunya alasanmu, padahal kau tau gajiku per bulan di sini lebih dari cukup untuk menghidupi diri sendiri. Dan bukan nominal itu yang membuatku mengingatnya berhari-hari, melainkan apa sebenarnya yang kau fikirkan tentang aku di sini, Bi?

Caramu memperlakukanku seringkali membuatku tak kuasa membendung rintik dari kelabunya pandangan pada potret orang tua masa kini. Beberapa aku temui dari orangtua yang menjenguk anaknya di asrama ini. Mereka datang, berpelukan, membawakan makan atau jajanan, memberi beberapa lembar uang, lalu saat lagi sang anak masih di sisi mereka justru asik dengan gadget masing-masing, untuk waktu yang lumayan lama. Hendak dikemanakan cerita-cerita sang anak, Bi? Saat seharusnya mereka beroleh tempat terbaik mencurahkan segala, mulai dari makan, sekolah, pakaian, teman hingga lawan jenis, justru tempat itu sedikit demi sedikit menutup. Dan, yah seperti kuduga, Bi, anak-anak itu cenderung suka cari perhatian, trouble maker di kelas, tidak harmonis dengan teman-temannya, bahkan tidak sopan pada guru.

Sering kembali aku berkaca, Bi. Betapa beruntungnya aku memilikimu. Laki-laki yang begitu hangat, bersahabat dan.. ah pokoknya semuanya. Mengenang segala tentangmu adalah aliran rindu yang tak dapat aku tahan hingga hanya sebatas selesai rekaat-rekaatku. Rindu saja itu tak cukup menggambarkan semuanya, Bi. Cinta saja tak mewakili. Dan aku, sampai putus jemariku menuliskan tentangmu, kau tetap tak henti terangkai menjadi makna terhebat dalam semestaku.

Tentang cinta abadi yang pertamakali kau tanamkan ke hatiku, andai aku dapat mengingat alunan adzanmu yang menobatkan aku sebagai seorang muslimah, di hari pertamaku hidup di dunia, duapuluh empat tahun yang lalu. Kau yang bercerita betapa bermacam rasanya menanti kelahiran anak pertama. Dan hari-hari setelahnya, kau penuhi janjimu sebagai sahabat yang akan menjaga aku tetap ceria. Hingga sampai sekarang aku tak bisa lupa, sore hari saat kita berkeliling desa dengan kau membawaku di pundakmu. Bernyanyi-nyanyi kecil, atau sekedar memperdengarkan aku hafalan surat-surat pendekmu. Atau memamerkan kehebatanmu yang serba tahu atas apapun pertanyaanku. Juga itu, Bi, satu hal yang amat sangat aku suka, jika kau mengajakku bepergian kita akan berebut dengan penumpang lain atas tempat duduk bus di dekat jendela, hanya agar kita berdua dapat melihat keluar dan kau akan menjadi juri perlombaan dadakan antara kecepatanku membaca spanduk di luar sana dengan laju bus yang sedang jalan. Semakin kencang bus, semakin harus aku fokus pasang mata. Saat itu, aku belum masuk sekolah TK. Aku lupa bagaimana caramu mengajarkanku membaca, tapi seingatku, sambil bergelayut di pangkuanmu kita akan terus mengeja setiap iklan produk yang ada di televisi. Lancar sedikit, aku akan naik kelas membaca tulisan besar di sampul buku milikmu, dan terus hingga aku mampu membaca surat kabar, dan rasakanlah, Bi, aku akhirnya ketagihan hingga kau harus mengakaliku yang ngambek jika tidak ada buku bacaan baru setiap akhir pekan. Hee

Bi, sebagaimana di media lainnya, di sinipun aku akan melakukan ritual yang memang tak pernah kutinggalkan, memperkenalkanmu kepada siapa saja yang membaca. Terus terang aku bangga, Bi, bangga sekali padamu, lelaki terhebat yang aku punya sepanjang hidupku. Meski mungkin aku belum cukup mampu menjadi kebanggaanmu. Sosokmu yang santai, ceria, tidak pernah marah tapi tegas, dan begitu bersahabat adalah idola ideal bagi seorang anak perempuan seperti aku. Hingga aku ingin terus membawa namamu bersama namaku, Bi. Karena pertama, seorang perempuan hanya diperbolehkan menggunakan nama nasab dibelakang namanya, dan kedua karena aku ingin namamu turut harum jika ada kebaikan yang kudapatkan, yang meski karenanya aku juga sebisa mungkin harus menjaga agar tak menodai namamu dengan perilaku yang tidak baik.

Cerita tentang kesetiaan pastilah itu kau yang terhebat, Bi. Dimana kau rutin membangunkanku untuk makan sahur pada senin-kamis kita menjelang ujian kelulusan SMPku, menemani aku nyunnah berbulan-bulan lamanya. Maka aku merasa wajar saat kau sedikit marah, mengomel dan menggertak tatkala mendapati hening kamar yang lahir dari keseriusanku belajar berubah menjadi senyap sebab aku tengah tenggelam dalam Chamber of Secret milik J.K Rowling. Syukurlah gerammu tak berlangsung lama, dan tapi kelak semua itu melahirkan sesal dibuntut rasa bersalah ketika mendengarmu berucap syukur pada nilai murni matematikaku yang salah tiga soal pada Ujian Nasional. Kau senang, tapi aku tidak, Bi. Enam orang temanku yang lain berhasil meraih seratus. Ini pasti karena kekurangtelitianku.

Bi, banyak teman-temanku mempertanyakan sosokmu, karena memang aku selalu punya kesempatan untuk memamerkanmu pada mereka. Mereka kira aku adalah anak yang senantiasa kau manja dalam pelukan. Tentu saja aku hanya tersenyum menanggapinya, Bi. Mengingat kau yang semenjak aku besar tak pernah lagi menyentuh tubuhku kecuali saat aku cium tangan di awal atau akhir pertemuan. Sempat aku berfikir kenapa, yang bahkan hingga kini tak terjawab. Tapi, sore itu kala aku bersikejar dengan mendung dalam perjalanan pulang kampung berkendara seorang diri, laju angin kecepatan seratus sepuluh menelan suara ponsel berbunyi, dan mungkin kau cemas sebab hari menjelang maghrib dan aku tak tampak juga tiba di muka rumah. Begitu motor terhenti, melepas helm dan mencium tanganmu seperti biasa, entah kenapa telapakmu berpindah ke kapalaku, membelai lembut dan pandangmu, Bi.. yang hingga kini mengingatnya aku masih bertahan pada satu terka : rindu. Hal sederhana nan istimewa dari ketiadapernahan yang akan terikat kuat dalam ingatanku untuk kelak kuceritakan pada cucu-cucumu.

Cucu? Oke, Bi. Kita memang tak pernah membahas ini secara serius, maksudku membahas tentang laki-laki yang tengah dekat denganku, akan bersamaku di masadepan, atau apapun. Karena mungkin memang belum pernah ada, hee. Cinta darimu membuatku tak lagi doyan makan cinta norak obralan pinggir jalan nan jauh dari keseriusan. Tapi, jika boleh meminta, aku ingin lelaki yang minimal sepertimu, Bi. Baik dari sisi ibadah, kepribadian, laku tutur, style penampilan, dan bahkan sense of humor-nya. Point penampilan, aku jadi ingat beberapa minggu jelang wisudaku, Bi. Saat kita berdua sepakat bahwa kau akan hadir di wisuda mengenakan setelan jeans, kaos oblong dan topi seperti biasa. Aku setuju saja kok, kenapa tidak? Itu kan gaya yang paling engkau, dan aku amatnya bangga. Tapi sayangnya istrimu mematahkan segala rencana dengan kuasanya sebagai emak-emak paling ratu di perumah-tanggaan kita, xixixi. Dan point terakhir, Bi, aku tidak bisa hidup dengan orang yang tidak bisa bercanda. Secara, seumur umur bersamamu aku terlatih menghadapi berbagai macam dan bentuk masalah dengan satu obat : tertawa. Sepusing apapun aku terbiasa bercanda, bahkan semakin pusing semakin banyak bercanda, yang kadang berarti jika aku tidak bercanda aku tidak sedang pusing. Jadi bagaimana mungkin aku menghabiskan hari-hari sampai tua dengan seorang yang banyak diam dan ah sudahlah.. itu semua urusan Allah, aku tak ingin terlalu mematok begituan. Hee

Mungkin sebagian orang menilaiku sombong atasmu, Bi. Biarkan, tak usah kita dengar. Aku toh tak pernah perduli dengan apapun omongan orang. Malah kalau bisa, aku ingin dengan kesombonganku ini berteriak kepada lelaki dan ayah di seluruh dunia, bahwa mereka adalah pembuluh darah dalam satu kesatuan utuh keluarga, mendampingi Ibu yang berdetak sebagai jantung utama. Karena di tangan merekalah para ayah, Bi, terletak pertanggungjawaban berat mitsaqan ghaliza atas istri pada jabat sewaktu akad, tanggung jawab terhadap putrinya hingga memilihkan jodoh yang baik dan menikahkan, juga ibu dan saudara perempuannya. Karena merekalah para ayah, Bi, meski surga tak dinisbat di bawah telapak kakinya, tapi ridho Allah atas Ibu terkunci pada ridhonya.

Bi, kantung mata menggelembung dan uban yang mulai tak terhitung, menandakan kebersamaan yang bukan semakin panjang. Sesayang apapun padamu, tapi aku tetap akan belajar menguatkan diri sejak sekarang jika kelak tiba saat perpisahan, meski kita tidak tau siapa yang akan duluan pulang. Karena agenda terbesar sepanjang hidupku adalah menjadi anak perempuanmu yang kuat, tegar, pemberani, mandiri dan dapat diandalkan. Maka, Abi.. maafkan aku yang sekeras apapun belajar tapi belum juga mampu menjadi yang terbaik. Aku jelas hanya sekedar atau sepotong atau sekilas di jagad luar sana yang luas tak bertepi. Aku tengah mengusahakan itu, Bi, sebagai terhebat yang kau miliki. Jadi aku berjilbab dan berpakaian rapi, sebab aku tau selangkah aku keluar rumah dalam keadaan aurat tersingkap, selangkah itu pula kau dekat ke neraka. Anak mana yang rela, Bi? Juga sungguh, atas istana kasih abadi yang kau bangun tempatku berteduh seumur hidup, adalah apa yang selalu kusebut dalam do’a agar kelak juga kembali menjadi istana keluarga kita di surga. Terimakasih untuk segala yang tak cukup tergambar melalui kalimat kalimat cengeng nan kering ini. Dan, terimakasih telah selalu mencintai Ratuku dengan sebaik-baik setia, menjaganya selalu jauh dari air mata kesedihan. Apalagi yang ingin dilihat dan dicontoh anak dari orangtuanya selain kekompakan, kerukunan dan saling cinta?

 

Exactly yours. 

*Thumbnail


  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    Waaaakkk... !!! Jeans, kaos oblong n sandal jepit is my fave tings too... ^_

    Ngiri tingkat dewa thdp sosok ini... T_


    *memperkenalkanmu kepada siapa saja yang membaca, dan kabarnya baru saja ada yang mengatakan yang anehnya nyaris persis, hanya mengganti kata 'membaca' dengan 'menulis'... ^_

    • Lihat 2 Respon