Curhat Pagi Hardiknas

Ariyanisa AZ
Karya Ariyanisa AZ Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 02 Mei 2016
Curhat Pagi Hardiknas

Masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, bahwa tajuk utama setiap hari ini adalah hardiknas, hari pendidikan nasional. Dimana hari ini meriah oleh lomba-lomba dengan nuansa kependidikan, ucapan selamat, serta headline news di berita televisi maupun surat kabar dengan esensi sama. Yang lalu ketika matahari sudah ganti dan bukan lagi tanggal dua Mei, hari pendidikan nasional harus ikhlas turut terganti dan terlupakan, cuma-cuma begitu saja.

Mendengar kata Pendidikan, siapapun tau bahwa kata itu memiliki porsi yang tidak ringan terutama di negeri yang (dari dulu hingga sekarang) tengah belajar berkembang seperti rumah kita ini, mengingat program wajibnya adalah belajar sembilan tahun, dan sebentar lagi akan beralih menjadi wajib belajar dua belas tahun. Betapa tidak, arus pendidikan yang terus diupayakan inovasi kebaikan setiap tahunnya justru saat ini tengah berdiri bersebrangan dengan arus pengangguran yang juga melesat sama. Berakibat domino pada banyak sekali bidang kehidupan termasuk keamanan, Lampung salah satu contohnya. Maaf, tapi bukan ini fokus kita sekarang.

Tentu saja kita menolak lupa pada preambule UUD 1945 yang dulu lantang kita hafalkan “turut mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia” yang bahkan kalimat tersebut hingga sekarang masih tetap dibacakan tiap upacara bendera meski seperti zombi yang tampak raga tanpa nyawa. Ah mungkin kalimat tersebut memiliki makna yang terlalu universal sehingga mewujudkankannyapun tak dapat serta merta kasat mata, atau mungkin sebenarnya sudah terwujud hanya rakyat jelata seperti kita tidak cukup cerdas melihatnya. Mungkin.

Bayangkan bagaimana perasaan para sarjana yang mati-matian mendapatkan tambahan gelar di belakang namanya, lalu setelah tali toga berpindah ke kanan fase hidup selanjutnya adalah menenteng map berisi ijazah manatau ada yang mau menerima. Itu kultur mutlak pendidikan negeri kita, yang sayangnya juga amat berlaku bagi sarjana pendidikan. Itu baru sarjana, langkah awal sekali memasuki dunia (ke)pendidikan yang sebenarnya. Setelah ijazah masuk ke arsip salah satu sekolah sebagai tenaga pengajar, nyanyian sumbang tak terhenti begitu saja. Banyak sekali koreksi yang mendadak mampir ke telinga mulai dari para komentator nyelekit bicara soal sistem yang makin tidak becus, belum lagi terapan kurikulum yang labil berganti hampir tiap tahun, pertumbuhan peserta didik yang memerlukan perhatian jauh dari lebih - baik kuantitas maupun kualitasnya,  dan (malah) pemerintah yang justru asik dengan penggonta-gantian warna seragam kerja tinimbang isi inti pendidikan di tengah hiruk pikuk yang ada. Itu semua tidak termasuk sarana prasarana yang untuk mendapatkan haknyapun sekolah mesti melalui birokrasi lumayan ribet dan memakan waktu lama, juga tidak termasuk masalah mudah sulitnya akses pendidikan bagi daerah terluar dan tertinggal. Complicated?? Memang!

Sekarang lanjut bayangkan bagaimana perasaan orang-orang yang terlibat di dalamnya terutama untuk tataran grassroot bin teknis yang sudah sangat pasti dijalani oleh guru, pahlawan tanpa tanda jasa kita. Salah satu testimoninya saya pernah baca di demo guru miliknya mba Dian Nurmala Ws. Percayalah, guru adalah mata kail yang hampir selalu paling pusing dengan sistem yang ada. Jangan sangka tidak, gurupun mungkin lebih sering mengutuk apa yang terjadi hari ini jauh lebih lantang sebelum semua orang diluar sana. Hanya, guru terikat pada satu hal, tanggung jawab. Se-sableng apapun, ijazah dan akta IV yang dibagikan selepas wisuda  membuat guru tetap merasa malu untuk berlepas diri dari apa yang memang merupakan tanggungjawabnya, selelah dan sepenat apa juga. Rasanya tidak etis memang jika guru mogok mengajar dan meliburkan sekolah tiba-tiba, hanya karena gaji di bawah rata-rata, misal. Juga melihat wajah-wajah percaya wali murid yang menghapus ego dan kadang mengundang iba setiap hari pengambilan raport tiba. Membicarakan masadepan anak, memadu padankan kepribadian mereka di rumah dan di sekolah, yang adakalanya berujung pada ketidakterimaan orang tua ketika mengetahui fakta anaknya nakal di sekolah padahal pendiam di rumah. Dan, guru adalah bagian yang pasti akan disalahkan. Apa yang bisa dilakukan selain mengelus dada sembari istighfar banyak-banyak?

Salah satu dosen di kelas kuliah pernah berkata “Kalau mau kaya jadilah pengusaha, bukan guru. Teaching is learn, not earn. Mengajar itu pengabdian, bukan mencari uang.”. Betul, kaya sepertinya hampir mustahil ditempuh melalui jalan menjadi guru. Tidak usahlah kita membahas gaji, baik yang sudah berstatus pegawai negeri sipil, maupun yang inpasing juga sertifikasi, apalagi tenaga pengajar fresh graduate. Sekeras apapun meneriakkan kesejahteraan, guru masih akan tetap segitu-gitu saja. Kecuali kerja revolusi mental itu berhasil merubah Indonesia menjadi Jepang, meskipun saya lebih setuju menjadi Turki.

Tapi Tuhan Maha Adil. Ada hal-hal istimewa yang hanya Dia berikan pada guru, dan tidak pada profesi lain. Terlepas dari seringnya guru menahan amarah di kelas atas perilaku bengal murid jaman sekarang, atau suara tercekat dan mata berkaca-kaca sambil menulis di papan tulis menerangkan, sampai berkali ulang mengelus dahi sendiri di atas tempat tidur hingga larut malam. Setelah orangtua, barangkali guru adalah orang pertama yang menangis haru mendengar keberhasilan peserta didiknya. Tak perlu jauh-jauh tentang olimpiade tingkat nasional dan internasioal, juga lolos di kampus impian. Melihat anak-anak lulus KKM dalam mata pelajaran tanpa remidi-pun itu sudah kebahagiaan. Entah, ada rasa bangga tersendiri ketika melihat materi diserap sempurna oleh mereka, dan bisa mereka ingat dalam waktu tak terhingga. Apalagi ketika kesantunan mereka telah bertumbuh dan terasah makin baik, berpuji-puji syukur terpanjatkan tinggi. Masih ada anak-anak baik seperti itu di sekolah kita, masih ada.

Maka sejujurnya dan pada akhirnya, segelap apapun kondisi pendidikan kita, guru tetap akan yakin bahwa dari sekolah kelak akan lahir generasi pengganti yang membawa terang masadepan. Sekalipun guru adalah orang terakhir yang mempercayainya. Toh kegelapan tak dapat dilawan dengan kegelapan, kan? Jalan terbaik hanyalah dengan menyiapkan cahaya yang sehat, bervisi dan bermisi besar, berakhlak baik, dan tentunya cahaya yang teduh mendamaikan, tidak terlampau terik menyilaukan.

Selamat Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2016.
*dengan tidak mengurangi rasa hormat pada kebaikan pendidikan di Indonesia.