Serial Hany and Mr.Papavrohsuperfatherman #1

Ariyanisa AZ
Karya Ariyanisa AZ Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 April 2016
Serial Hany and Mr.Papavrohsuperfatherman #1

Ayunan Kemenangan

Setiap pahlawan membutuhkan paling tidak satu kali kemenangan sebagai syarat sah laku kepahlawanannya. Ia juga harus lahir dari pertempuran hebat, pertarungan sengit, perjuangan dan luka-luka. Mana boleh pahlawan hanya duduk di rumah dan tidak memperjuangkan apa-apa? Tentu saja, pahlawan harus mampu mengenali dan mengambil peluang dalam setiap kesempatan. Begitu maka pahlawan akan selalu jadi pemenang, yang meski tak selalu menang di mata tapi pasti juara di hati.

Barangkali begitu tergambar dalam kepala seorang bocah kecil lima tahunan, meski ia tak tau persis apa yang dimaksud mindset atau mindframe. Yang ia tau, apa yang diinginkannya begitu, begitu pula yang mesti nampak dihadapan matanya.

Siang itu di sekolah menjelang akhir tahun 1997. Ia bahkan tak peduli ini baru hari keberapanya menyandang status siswa. Lebih lagi tak peduli apakah sudah ada yang menjemputnya untuk pulang ke rumah atau belum, sementara teman-teman lain sejak tadi telah berhambur ke Ayah atau Ibu masing-masing. Satu-satunya yang paling menarik adalah ayunan di zona main mereka. Ayunan kosong, tak ada yang berminat memainkannya pada jam pulang sekolah seperti ini. Pasti kesempatan emas, fikirnya. Segera kaki kecil itu melangkah hingga akhirnya mendapati ayunan dibawah kuasanya sendiri, tanpa orang lain. Pada jam sekolah biasa hampir mustahil ia dapat bermain ayunan hingga puas. Ia harus mau tak mau menuruti perintah Ibu dari teman-temannya untuk segera bergantian setelah tujuh sampai delapan kali ayun. Ia sendirian tak ada yang membela, Ibunda berada di rumah sebab adik bayi belum boleh bepergian.

Angin sepoi yang mulai terasa dingin menambah keseruan bermain ayunan seorang diri. Tetiba lelaki terakrab itu datang bersama sepeda butut kesayangan. “Hany...” teriaknya dari arah parkir.

Yang dipanggil menoleh. Tersenyum dan mencoba melambai meski tak sempurna sebab harus terus berpegang pada besi ayunan.

“Hany sendirian? Maaf ya Ayah jemputnya telat. Yuk kita pulang. Mau hujan nih.” lelaki itu sembari berlutut dihadapan ayunan yang telah bergerak pelan menuju berhenti.

Hany menggeleng. “Hany mau ayunan..”

“Besok lagi ya nak, mendung tuh, lihat.. nanti kita bisa basah kehujanan di jalan.”

Masih menggeleng, dan malah kembali mengayuh ayunan.

“Han, mendungya gelap banget. Nanti kalau kita kehujanan di jalan, kita bisa sakit lho. Ayah sakit, Hany juga sakit.”

“Nggak mau, Hany mau ayunan aja.”

Ayunan bergerak semakin kencang, diiring angin yang mulai menerbangkan sampah daunan. Mendung gelap berkumpul bersiap menjatuhkan diri ke bumi ketika Hany betul-betul berayun tinggi. Alih-alih merasa dingin, Hany justru setengah berteriak ketika ayunan bergerak turun ke bawah setelah berada pada titik paling puncak. Tapi tangan kekar itu terlalu kuat mencengkeram tiang ayunan, menghentikan bahagia Hany seketika. Sebentar kemudian ayunan berhenti total, dan Hany dapat merasakan lengannya digenggam kuat disertai sedikit tarikan.

“Hany sebentar lagi hujan jat uh.”

“Nggak mau, Hany pengen ayunan, Ayah..”

Lelaki itu pura-pura tak mendengar dan tetap berjalan menarik Hany menuju sepeda lima belas meter di depan.

“Nggak mau!!” Hany berhenti dan mencoba melepaskan diri.

Masih tak geming. Hany semakin berontak.

“Ayunan..!!! Ayunan..!!!” Hany berteriak makin keras. Kali ini kedua tangannya berkumpul pada tangan Ayah, satu digenggam dan lainnya berusaha melepaskan genggaman. Hany heboh sekali, setengah melompat ia agar berhasil, dan benar, Ayah berhenti. Tapi tiba-tiba dan entah bagaimana awalnya karena adegan itu terjadi cepat sekali.

Beugk!!! Hany berdiri diam, juga lelakinya. Hening sesaat menyergap sebelum perlahan akhirnya pecah oleh rintih Hany. Air muka Ayah berubah, ia tampak kebingungan. Tangis Hany semakin menjadi ketika ia menunduk dan cairan merah membasahi seragam TK Dharmawanita yang belum genap seminggu dikenakannya. Ada sedikit rasa sakit di kepalanya, tapi lebih perih di bagian hidungnya.

Di sela mata yang memburam lalu kembali jelas setiap kali bulirnya berjatuhan ke pipi, Hany melihat Ayah melakukan hal yang sama. Menangis. Adakah tadi Hany memukul Ayah? Tapi rasanya tidak. Lalu kenapa Ayah juga menangis? Lengan kemeja Ayah juga berwarna merah, tapi itu bukan darah Ayah. Itu darah Hany. Ayah menggunakan lengan kemejanya yang panjang untuk mengusap darah yang masih mengalir dari hidung Hanny.

“Maafin Ayah ya nak ya.. Ayah emosi. Ayah nggak sadar tadi mukul hidung Hany.” dalam suara gemetar. Retak hati lelaki itu melihat darah bercampur airmata di wajah sulungnya. Ada rasa malu, marah, kecewa, bersalah, menyesal hingga ngilu dada mengingat khilafnya yang begitu cepat melukai organ dalam hidung Hany, mengalirkan darah segar. Ia terbakar emosi, lalu membakar Hany sejahat ini. Pedih, sedih.

Demikian, sang lelaki menang dan mereka pulang. Bukan, bukan Ayah. Tapi Hany pemenang sesungguhnya. Karena semenjak hari itu Hany tak pernah lagi bermain ayunan di sekolah, atau merajuk pada Ayah agar boleh bermain ayunan sepulang sekolah. Hany telah memiliki ayunan pribadinya di rumah, Ayah membuatnya khusus untuk Hany pakai sendiri, kapanpun, sepuasnya sesuka hati.

  • view 98