Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 21 April 2016   15:34 WIB
Melahirkan Kartini

 

“Ingat mimpi-mimpi kita ya, ammah”

“Sure. Kita harus bertemu di puncak”

***

Satu subuh, hari pertama menjadi bagian asrama ini, setahun lalu. Dalam batin masih mendebat satu sama lain, antara betah dan tidak, tanggung jawab dan keinginan, pengabdian dan tarikan jiwa muda. Jangankan membagi inspirasi, menyerap kesadaran sendiripun belum sempurna. Bahwa ini adalah tempat kerja yang baru, bukan lagi hingar bingar kampus yang megah dengan karpet merah idealisme, bertaman wewarna diskusi yang terbuka lebar menghadap dunia, selalu penuh angin segar menghijaukan cakrawala fikir. Ini Microteaching kelas real, praktikum yang sesungguhnya.

Shaf jama’ah sudah penuh, ia menghela takbir, lalu iftitah. Basmallah dimulanya untuk sealunan fatihah yang teramat indah. Nikmat, nikmat sekali. Arrahmaanirrahiim.. ada kesejukan yang menyusup melalui lafadz tersebut seolah ini kali pertama saya mendengar sabda penuh cinta yang terbawa hingga sujud, dan bangun kembali, dan hingga kini. Subuh itu subuh dimana akhirnya saya memutuskan akan terus berada di sini, bersama mereka yang memegang erat Firman Allah sebagai seakrab akrab teman. Walau diantara mereka mestinyalah saya yang paling merasa malu sebab tak ada seper-apapun dibandingkan mereka. Saya tertinggal jauh di belakang, mereka lebih dahulu mengayuh kedepan. Menghamburkan diri pada gerbang-gerbang surga yang meski berat mereka setia usahakan.

Salisa Dzakiyyah, biasa dipanggil Zaki. Gadis tujuh belas tahun yang entah kenapa sempurna ia menjelma menjadi sosok paling dewasa diantara teman-temannya. Membersamainya sebagai guru kerap saya merasa seperti menggarami air laut. Zaki terlalu cepat dalam belajar. Meski dalam laptop pribadinya tak sedikit ditemukan drama korea, video download dari situs-situs K-Pop, atau film-film pendek komedian Indonesia sekelas stand up commedy dan lain-lain. Hampir tak ada video berkaitan dengan pelajaran ataupun lainnya. Bagaimanapun, Zaki tetap anak seusianya. Bedanya ‘hanya’ Zaki mengerti bahwa itu semua hanya hiburan semata. Emosionalnya stabil menyetir semangat pada hal-hal yang memang semestinya ia harus fokus.

Satu setengah tahun lalu, sebelum kami saling kenal, sebelum saya menjadi bagian dari keluarga besar sekolah ini, ia menyelesaikan hafalan Qur’annya, tigapuluh juz. Capaian yang baginya penuh perjuangan. Dan ketika kami mulai dekat, barulah saya faham bahwa demi hafalan, ketika SMP ia rela berpindah-pindah sekolah untuk satu situasi kondusif.

“Buat ayah sama bunda, mah.” Jawabnya ketika ditanya motivasi menghafal.

Tentu saja, kita semua mungkin pernah mendengar atau bahkan faham bahwa hafalan qur’an akan berbalas mahkota cahaya bagi orangtua penghafalnya kelak di surga. Belum lagi syafaat bagi keluarga dan kerabat atas penjagaan ingatan yang senantiasa.

“Cahaya wahyu seringkali begitu memikat, memancar senikmatnya keindahan dalam laku tutur yang membuat setiap penatapnya sulit membedakan antara keindahan Islam dan keindahan pembawanya.” saya ingat seorang dosen pernah mengatakannya dalam perkuliahan. Di mata saya Zaki berhasil setidaknya membuktikan garis besar kalimat tersebut. Ah, sebagai anak SMA Zaki begitu memikat. Mungkin ini agak berlebihan, tapi satu tahun bersamanya di atap asrama yang sama, Zaki tak pernah memiliki track raccord buruk.

Saya masih terus penasaran kapan Zaki berinteraksi dengan Qur’an, sedangkan ia lebih sering tampak main laptop dan ngobrol. Kami pernah belum tidur hingga pukul satu malam, hanya untuk obrolan yang berawal dari pertanyaan Zaki, “Ammah, menurut ammah politik itu apa?”. Tentu saja saya hanya menjawab sebisanya. Tapi Zaki mengembangkan obrolan hingga panjang lebar dan tinggi, saya menikmatinya. Dan menjelang tidur, tampak Zaki mengulang hafalannya sekitar lima belas menit, hingga lelap. Begitukah caranya?

Zaki banyak mencontohkan kebaikan-kebaikan kecil yang saya biasa lupakan. Pelajaran memang bisa disampaikan oleh siapa saja, kan? Termasuk caranya berinteraksi dengan kedua orang tua.

“Assalamualaikum, Ayah sehat? Yah maaf Zaki ganggu tapi Zaki ada perlu. Boleh ngobrol ya, Yah?” suatu pagi saat harus menelfon orang tua untuk keperluan sekolah. Sepele memang, dan mungkin banyak juga anak-anak seusianya yang melakukan hal serupa, tapi kesopanan Zaki membuat saya introspeksi sejenak, adakah saya sesantun itu pada orangtua? Dalam perbincangan kami dilain hari barulah saya bisa menggali lebih dalam, energi seperti apakah yang mendorong Zaki menjadi sedemikian ini.

“Jadi di rumah, sesibuk apapun Ayah, beliau pasti sempetin minimal tiga jam setiap hari untuk quality time sama kami anak-anaknya, mah.”

“Apa yang biasanya diobrolin, Zaki?”

“Banyak. Apapun yang mau kita obrolin. Tapi paling banyak soal obrolan sekolah atau asrama, pokoknya aktivitas kalo kita lagi jauh sama Ayah. Tapi pas Ayah libur, itu waktu yang paling menyenangkan. Soalnya kalo pas kita sama-sama libur Ayah pasti siap untuk apapun. Pokoknya Ayah punya kita, bukan punya Bunda. hehehee”

“Kalo Bunda gimana?”

“Bunda selalu ada kapanpun kami cari. Bunda guru juga kayak ammah, tapi guru SD. Kadang juga sibuk sih, tapi yang paling keren, Bunda sama Ayah tu kompak banget. Kalo misal Bunda lagi banyak tugas, dan Ayah lagi nggak sibuk, Ayah juga biasa bersih-bersih rumah atau nyetrika baju.”

“Serius, Zak?” saya cuma agak heran dengan keroyalan seorang kontraktor seperti Ayah Zaki.

“Iya, ammah. Malah kadang Ayah ngajarin Zaki masak.”

Zaki tumbuh dalam keluarga yang begitu harmonis, terpenuhi kebutuhan kasih sayangnya dari arah manapun. Ia mencerminkan kesahajaan orangtua yang memang membuat hidup ini menyenangkan dalam kesederhanaan. Dan, program terstruktur yang dijalankan dengan konsisten oleh sang Ayah betul-betul menggaris tegas pada pribadi remaja sepertinya yang hidup di jaman digital macam sekarang ini. Zaki memiliki pemahaman yang bulat utuh bahwa segala disekitarnya adalah cuma sekedar memenuhi kebutuhan, tidak perlu harus dan berlebihan. Setidaknya begitu sampai ia lulus sekolah.

“Zaki pernah ngobrol dengan Ayah soal cita-cita?”

“Selalu, mah. Ayah yang paling berapi-api kalo kita lagi cerita-cerita soal study ke luar negri”.

“Oya? Kemana rekomendasi ayah?”

“Sudan. Atau Turki.”

“Are you optimist?”

“InshaaAllah. Ini lagi terus ikhtiar. Hee

Lalu hubungannya Zaki dengan Kartini?

Kartini adalah nama seorang pahlawan wanita yang begitu harum hingga kini, hingga masa negeri kita pernah memiliki seorang Presiden wanita, terlepas dari itu atau bukankah yang dimaksud Kartini dengan emansipasi. Tapi seiring dengan tumbuhnya masa, tak sedikit nilai-nilai keKartinian meluntur dari pribadi perempuan Indonesia kita. Memang Kartini seorang perempuan yang luas wawasan dan pergaulannya, tak berbatas pengetahuannya meski dihijab tembok tradisi nan tinggi dari keluarga. Betapa merindukan beliau akan kebebasan perempuan untuk terus belajar, berpendapat dan bergerak. Tapi kesantunan tak pernah ternafikan hingga Habis Gelap Terbitlah Terang lahir dari tangan yang menulis di bawah lampu minyak di sepetak ruang pingitan. Kesantunan seorang perempuan ningrat yang tumbuh dari pendidikan keluarga, penuh asih dan asuh.

Ada kesantunan, juga ada pendidikan keluarga. Bahwa sebagai generasi timur, kita mewarisi akhlak budaya bangsa timur yang begitu beradab, santun dan memanusia. Itu nilai otomatis yang kita bawa sejak lahir. Tapi pendidikan bisa menumbuhsuburkannya, bisa juga memangkas habisnya sekalipun belum tunas. Terutama pendidikan keluarga.

Sejauh ini tak sedikit orangtua menyalahkan sekolah karena tak berhasil mendidik putra putrinya menjadi baik. Anak-anak mereka nakal, suka membantah, berani melawan dan lain sebagainya. Belum lagi berita di tivi yang menyajikan kriminal remaja sekolah meningkat setiap tahunnya. Dimana guru? Dimana teladan? Dimana pendidikan moral?

Anak-anak, mereka berada maksimal hanya sembilan jam di sekolah dari keseluruhan waktu mereka. Sisanya habis di rumah, tempat bermain, tempat les bimbingan belajar dan lainnya. Tapi sesibuk apapun mereka dengan berbagai jadwal, mereka akan selalu pulang ke rumah, bertemu keluarga. Di sanalah tempat bibit-bibit karakter baik disemai, sekolah hanya membantu memupuk. Di rumahlah segala tumbuh kembang anak diolah, kebutuhan lahir batinnya terpenuhi, hingga ia tak perlu lagi jauh-jauh mencari. Bersama keluarga mereka semestinya berani menyalakan impian, berfikir luas, berdiskusi banyak sekali hal, dan mewujudkan cita-cita. Di luar rumah mereka hanya tinggal membagi, memberi dan mempraktikkan kebajikan-kebajikan yang orang tua ajarkan.

Cerita Zaki di atas memantik saya untuk berani mengimpikan bahwa kelak kedepan Kartini kita bukan hanya sosok dengan beauty, brain, behaviour yang baik dan teruji. Tapi juga harus memiliki energi Ilahi, energi membagi, dan energi bertumbuh dalam cita-cita terbaik (untuk pribadi, keluarga dan negaranya). Bukankah tegaknya suatu negara tergantung pada mulia wanitanya? Lalu menciptakan semua kualifikasi tersebut di atas? Dari cerita Zaki kita semua pasti mengerti di mana dan dari siapa Kartini kita dilahirkan. :) 

 

 

 

Karya : Ariyanisa AZ