Ending..

Ariyanisa AZ
Karya Ariyanisa AZ Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Maret 2016
Ending..

Aku tak yakin ini adalah seka terakhir yang kulakukan. Hujan diluar sana jatuh begitu riuh, tak kusangka ia merembes melalui hati dan mengembun di kelopak lalu mengalir membasahai pipiku.

Ini terlalu cengeng bagi sosok laki-laki sepertiku, tapi.. bisakah kau rasakan?? Hingga aku tak lagi cukup tegar menyimpannya sendiri dalam hati.

Baiklah, maka biar aku ceritakan jika kau memang lupa. Semoga masih kau dengarkan.

Sembilan tahun lalu, kau pasti ingat. Barangkali aku juga sosok terlampau biasa yang mencoba mengagumi kelembutanmu, kerendahan jiwamu serta segala kesederhanaan yang kau sajikan dalam pribadimu. Aku tak butuh kata populer atau mungkin bintang kelas untuk mengenalimu sebagai cahaya di belantara putih abu-abu masa remaja kita. Semuanya terjadi begitu saja. Tiba-tiba, kau melekat di sini, di hati dan fikiranku tanpa aku tahu sejak kapan dan entah sampai kapan. Bagaimanapun juga kau telah tanamkan satu benih dalam alam rasaku dan ia menjulang sampai kini. Setidaknya, sampai sebelum hari ini.

Kau, wanita terindah dalam hatiku, bahkan membuat aku percaya pada kalimat-kalimat klise nan berlebihan miliknya pujangga-pujangga cinta yang dulu begitu aku hindari sebab teramat tak sukanya aku. Kau menjadi cahaya menerangi mataku membaca semua puisi-puisi tanpa logika yang dulu mentah-mentah aku tolak. Dan, teman-temanku tak suka. Teman-temanku menentang perubahanku yang kian lama kian melan. Bukan, tentu saja bukan ketidaksetujuan mereka setelah mereka tau aku jatuh cinta pada sosokmu. Tapi mereka menuntut keprofesionalanku sebagai petinggi pengurus organisasi kebanggaan sekolah. Mereka khawatir kau merebut aku dan seluruh konsentrasiku dari mereka. Tenang, kau tak bersalah. Aku tetap membelamu. Sebab sedekat apapun jarak kita, kau masih hanya hidup dalam hatiku. Belum pernah sedikitpun tersentuh walau oleh ujung do?aku.

Lalu waktu pergi menjauh, menjauhkan aku darimu. Kelulusan merentang jarak kita begitu lebar, begitu lama. Kampus kita yang cuma disekat jalan raya menghilangkan sosokmu dari mataku, tak menyisakan titik temu satupun dari bilangan tigaratus enam puluh lima setahun. Kau jauh, entah dimana. Dan aku tak punya jembatan lain kecuali do?a.

Hingga Tuhan mempertemukan kita dalam satu ajang reuni sekolah. Bukan, kita tidak bertemu. Hanya aku yang melihatmu. Tapi aku tak peduli kau menyadari keberadaanku atau tidak. Melihatmu lagi pun sudah menjadi kebahagiaan sendiri bagiku. Dan tentu aku lebih sangat berbahagia ketika salah seorang teman memberiku nomor handphonemu. Impianku beranjak, mungkin aku bisa mulai mengenalmu. Ah, ini seperti anak remaja yang tengah kasmaran untuk pertamakalinya. Tapi tentu saja, kasmaran padamu bagiku adalah selalu kasmaran untuk pertamakalinya.

Kita bisa memberi tanpa cinta tapi tidak bisa mencintai tanpa memberi, kan? Itulah yang akhirnya membuatku mampu mengumpulkan keberanian dalam hati lalu menjadikannya sebentuk kata sapa setelah puluhan kali aku gagal. Men-dial nomor handphonemu dan sedikit basa-basi yang mungkin memang betul-betul basi, dan membicarakan perihal lowongan pekerjaan di kantorku yang tepat sekali sejurus dengan bidangmu. Betul, percakapan dan beberapa info dari temanku tentangmu segera memantik namamu dalam daftar utama orang yang harus kupanggil begitu aku tau tentang info lowongan kerja ini.

Kau sadar, aku menunggumu dengan segenap debar tak beraturan saat hari wawancara. Setidaknya aku bisa mencuri tau tentangmu dari teman-temanku yang bertugas sebagai interviewer. Dan betapa terkejutnya aku saat temanku bilang bahwa kau menolak kontrak kerja beserta beberapa persyaratan yang ditentukan kantor. Ingin rasanya saat itu aku berlari ke hadapanmu dan memohon kau setuju. Tapi apa daya, aku tak seberwenang itu atas kehendakmu.

Hari berikutnya aku terbangun dengan semangat yang berkurang sekian persen dari sebelumnya. Lalu harus dari jalan mana lagi aku menujumu? Haruskah aku tiba-tiba datang dan mengatakan bahwa aku telah menunggu sejak bertahun lalu? Aku bahkan tidak cukup berani memintamu meluangkan waktu untuk itu. Begitu, kelesuan itu berlangsung kurang lebih dua minggu. Sampai Kepala Bagianku memanggil dan memperkenalkan nama-nama karyawan baru. Tau bagaimana rasanya? Aku merasa keajaiban turun saat menemukan namamu dalam daftarnya. Nyaris tak percaya, itu namamu.

Semenjak itu bunga-bunga mekar mengelilingiku setiap hari. Kita sudah saling kenal, juga akrab sebagaimana karyawan yang lain. Termasuk ada yang berbeda setiap pagiku bangun setelah kau tau bahwa aku sampai detik ini masih menunggumu. Meskipun kau hanya membalas dengan senyuman tanpa kaa-kata, aku sudah cukup bahagia. Dengarlah, aku sudah cukup bahagia.

Tak ada rintangan yang berarti bagiku dalam memperjuangkanmu. Tak ada kata terlalu berat bagi sebuah tekad. Waktu itu, semua teramat mudah kujalani untukmu. Seperti aku tak akan mengenal kata mundur. Meskipun tidak ada pernah aku menyangka bahwa hari ini akan datang. Kenyataan menceraikanku dari mimpi-mimpi dan harapan yang sudah kurancang bersamamu kelak. Kontrak instansi itu, mungkin aku lupa, mungkin kau memang tidak pernah menginginkannya, atau mungkin aku hanya terlalu percaya diri mampu melampauinya. Tidak diizinkan menjalin hubungan dengan rekan kerja kecuali jika siap melanjutkan ke jenjang pernikahan jika diketahui oleh lembaga, dan konsekuensi untuk putus hubungan kerja dengan lembaga jika tidak bersedia melanjutkan ke jenjang pernikahan. Aku ingat aku juga menandatanganinya dengan sadar dulu sebelum resmi menjadi karyawan. Tapi aku sudah siap jika kelak lembaga mengetahui apa yang terjadi dengan kita dan meminta kita menikah segera. Kau tau kan ini adalah hal yang paling kutunggu?? Menjadi sosok yang kelak kau panggil suami dihadapan semua orang. Menjadi imam yang merengkuh tanganmu dalam berbagai keadaan.

Aku serasa terbang ke awan, lalu kembali ke bumi dengan hempasan paling hebat yang menghancurkan tubuhku lebih dari keping-keping. Saat kita berdua menghadap dewan pimpinan, ia bertanya soal keseriusan, dan.. apakah kau menyadari apa yang kau katakan? Penolakanmu sungguh teramat diluar dugaan. Suara lembutmu itu petir yang menyambar segala rasaku dan semuanya lantak, tak tergambarkan. Aku bahkan kehilangan kekuatan untuk sekedar menegakkan tengkukku atau sekedar menggeser bola mata ke arahmu.

Dengarlah, gadisku. Hari ini aku bangun pagi seperti biasa. Mandi lalu kedapur meyeduh kopi. Duduk sendiri dibalik jeruji kamar, tak kuasa meningkahi sunyi meski dihantam dentuman ribuan hujan. Aku tak pergi ke kantor hari ini. Aku tau begitupun kau. Tapi aku tak pernah menyangka semuanya harus terjadi secepat ini.

Aku memang membutuhkan, mencintai dan menikmati pekerjaan yang telah bertahun-tahun bersamaku ini. Namun kehilangannya, hanya seperti tertusuk jarum kecil dibanding belati yang kau kirim bersama wangi melati undangan pernikahan itu, menancap mencacah hatiku sedalam-dalamnya, sehancur-hancurnya.

Aku tak yakin ini adalah seka terakhir yang kulakukan. Hujan diluar sana jatuh begitu riuh, tak kusangka ia merembes melalui hati dan mengembun di kelopak lalu mengalir membasahai pipiku.


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 tahun yang lalu.
    Catatan redaksi: Paparan kisah dari seorang pria patah hati akibat cinta tak berbalas yang sangat jujur. Teknik tulisan yang bagus sebagaimana terlihat melalui alur cerita yang runut, pemilihan kata yang pas dengan memasukkan sejumlah metafora yang tepat membuat tulisan ini tidak terasa cengeng dan berlebihan. Pencurahan segenap jiwa membuat karya ini begitu personal sehingga bisa membuat pembaca bisa memposisikan diri andai dia adalah si tokoh utama. Walhasil, gejolak kesedihan dan keriangan pun bisa dirasakan oleh pembaca. Karya ini mengisahkan cinta pria yang dipendam lama. Ia pun tetap mengagumi dari jauh dan berusaha meraih simpati dengan memberikan info lowongan pekerjaan ke wanita itu. Sungguh disayangkan tatkala keinginan si pria akrab dengan pujaan hatinya benar-benar terwujud, sang gadis ternyata akan segera menikah dengan orang lain. Usai terbang ke angkasa lalu dihentakkan menghujam ke tanah. Sangat mewakili perasaan siapa saja yang pernah mengalaminya.

  • MissGalauSite Galausite
    MissGalauSite Galausite
    1 tahun yang lalu.
    keren deh tulisannya. penasaran banget untuk ngelanjutin membaca setiap kata yang kau ceritakan. sedih juga ...

  • Ani Hartini
    Ani Hartini
    1 tahun yang lalu.
    Show must go on

  • Ariyanisa AZ
    Ariyanisa AZ
    1 tahun yang lalu.
    Terimakasih Redaksi Inspirasi.co dan teman-teman

  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Top deh... menyayat hati