Cerpen - Dia (Bukan) Jodohku

Aris Prasetyo Budi
Karya Aris Prasetyo Budi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 14 April 2016
Cerpen - Dia (Bukan) Jodohku

Dia (Bukan) Jodohku

 

            Perabotannya begitu sederhana. Ada sofa berserta mejanya. Sebuah lemari yang berisi gelas-gelas cantik. Dan juga dinding yang dihiasi beberapa lukisan dan foto. Meskipun begitu, semuanya tampak tertata dengan baik ruang tamu ini.

            “Sayang, lagi lihat apa sih?” Sebuah suara mengejutkanku.

            “Eh, nggak. Ini cuma lihat-lihat aja. Aku selalu kagum dengan tata ruang tamu kamu. Sederhana. Tapi entah kenapa aku sangat menyukainya.” Kataku menjelaskan ketika tahu yang bertanya adalah Dewi, pacarku.

            “Ooohh…Ya udah, aku ganti baju dulu ya, sayang?” ucap Dewi manja.

            Dewi berjalan meninggalkanku di ruang tamu sambil melambaikan tangannya kearahku. Aku pun membalas lambaiannya.

            Aku kembali mengamati tata ruang tamu pacarku ini. Aku tersenyum ketika melihat foto Dewi saat masih SMA. Dia begitu imut dan  menggemaskan. Aku jadi ingat saat pertama kali berkenalan dengan Dewi  di masa SMA. Perkenalan yang cukup menarik bagiku. Karena kami bertemu di atap gedung sekolah.

            “Hei, ngapain kamu disini?” tanyaku pada Dewi yang tiba-tiba muncul saat itu.

            “Kamu juga ngapain disini?” tanya Dewi balik.

            “Aku suka naik kesini!” jawabku singkat.

            “Kenapa?” tanya Dewi lagi.

            “Aku suka melihat langit dari sini. Begitu biru, dengan beberapa awan putih yang menghiasinya. Bagus banget untuk menenangkan pikiran.” Jawabku sambil melihat kearah langit.

            “Aku juga suka melihat langit.” Ucap Dewi sambil tersenyum.

            “Oiya, aku Dewi. Kamu siapa?” tanya Dewi sambil menyodorkan tangan.

            “Aku Fery!” jawabku sambil membalas sodoran tanganya.

            Sejak saat itu, aku selalu ke atap gedung dengan Dewi. Kami selalu bercanda bersama. Dan Dewi pun kini juga tidak segan-segan lagi menceritakan masalah pribadinya kepadaku. Entah kenapa, aku suka sama Dewi. Tak terasa, butiran-butiran cinta pun hadir di dalam hatiku. Aku jatuh cinta dengan Dewi.

            Aku sangat menyayangi Dewi. Karena itu, aku menyatakan cintaku kepadanya. Dan tak menyangka, Dewi menerima cintaku. Aku benar-benar senang mendengarnya. Akhirnya aku pun pacaran dengan Dewi.

            “Ayo, kita berangkat!”

            Suara Dewi membubarkan lamunanku. Aku benar-benar terkejut. Sambil tersenyum, aku pun meninggalkan ruang tamu itu.

*****

            Aku bergegas menuju ke sebuah restoran di daerah alun-alun kota. Aku ingin makan malam yang special dengan Dewi. Aku juga ingin memberi Dewi sebuah kejutan. Kejutan yang sudah lama aku rencanakan. Dan sudah lama aku impikan. Aku ingin melamar Dewi. Yah, sudah 7 tahun kami pacaran. Aku yakin, Dewi adalah jodohku. Dia adalah cinta sejatiku. Dan yang terbaik untukku. Karena aku sangat mencintainya.

            Setelah makan malam selesai. Aku segera memberikan kejutanku untuk Dewi. Aku mengambil sebuah kotak kecil berwarna merah dari sakuku.

            “Sayang, aku ingin memberikan sesuatu untuk kamu?” kataku kemudian memberikan kotak itu.

            “Apa ini?” tanya Dewi penasaran.

            “Buka saja!” jawabku.

            Dewi membukanya dengan semangat. Aku sangat senang melihatnya.

            “Cincin? Apa maksudnya?” ucapnya bingung ketika melihat isinya.

            “Dewi, kita kan sudah menjalin hubungan selama 7 tahun. Itu sudah lama banget. Dewi, aku sangat mencintaimu. Kamu adalah cinta sejatiku. Aku mau kamu menjadi istriku. Kamu mau kan menjadi istriku?” jelasku pada dewi.

            “A...A…Aku..Aku gak mau, Fery. A…Aku gak siap?” jawab Dewi terbata-bata.

            “Tapi kita kan sudah pacaram selama 7 tahun lebih? Itu kan sudah lama? Itu sudah cukup, Dewi?” kataku seakan tak percaya.

            Aku benar-benar tak percaya Dewi akan berkata seperti itu. Bukankah  selama ini dia sangat mencintaiku.  Tapi kenapa sekarang malah menolak lamaranku.

            “Maaf, Fery. Aku benar-benar gak bisa. Maaf!” kata Dewi sambil meninggalkanku.

            Aku hanya bisa diam mematung. Aku tak mengerti dengan sikap Dewi.

*****

            Semenjak aku melamar Dewi malam itu, dia sekarang menjauhiku. Entah kenapa, dia seperti itu kepadaku. Aku ke rumahnya pun dia selalu menghindariku. Aku tak tau apa yang ada didalam pikirannya.

            Dua bulan sudah aku melewatinya.  Dan Dewi masih belum menyapaku sama sekali. Dia masih menjauhiku. Dan tepat tiga bulan setelah kejadian itu, Dewi menikah dengan pria bernama Deni. Aku sangat terkejut dengan kabar itu. Aku tak menyangka Dewi tega melakukan itu kepadaku.

            “Dewi, ternyata kau bukan jodohku.  Kau buka cinta sejatiku. Kau tega meninggalkanku. Kau tega, Dewi. Kau tega?” teriakku.

            Aku benar-benar gila. Aku tidak terima Dewi memperlakukan aku seperti itu. Tapi lama kelamaan aku sadar. Tidak semua orang yang kita cintai, yang kita anggap sebagai cinta sejati kita itu adalah jodoh kita. Karena jodoh itu di tangan Allah.

            Aku pun mengambil keputusan untuk pindah ke kota lain. Mungkin disana aku bisa menemukan jodohku yang sebenarnya.

            “Permisi, mau tanya?  Kalau mau ke jalan sudirman naik apa ya?” tanya seorang perempuan berjilbab putih dengan bola mata yang indah mengagetkanku.

            “Ooohh, kebetulan saya juga mau kearah sana. Ayo bareng sama saya naik angkot ini?” ajakku, dan perempuan itu pun akhirnya ikut bersamaku.

            Mungkin inilah awal aku menemukan jodohku. Yah, mungkin di kota ini lah aku bisa menemukan jodohku.

TAMAT

  • view 422