Aku Benci Hujan

Ariska Bimasari
Karya Ariska Bimasari Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 14 Juli 2016
Aku Benci Hujan

AKU BENCI HUJAN

 

            Aku tidak suka hujan,aku benci hujan.Ketika hujan turun orang terkadang senang sekali, katanya “Hujan mengembalikan kenanganku”, ya betul hujan mengembalikan kenangan tapi bagiku kenangan apa yang patut dikenang dalam diriku?,ibu yang pergi dariku?bapak yang juga pergi?apa yang patut dikenang? ohh mungkin mengenang pahitnya hidup yang jika dibandingkan dengan segelas kopi pahit,pahit kopi pun terkalahkan.

             Hujan di luar menghalangiku untuk melanjutkan kerja pagi ini,baju kaos hitam yang agak memudar dan celana lepis sampai lutut yang sudah berubah warna,yaa inilah pakaianku yang kupakai tiap hari bekerja,mungkin kalian fikir aku bekerja di tempat yang layak?  tidak,aku hanya mengais sampah manusia yang bertumpuk-tumpuk,begitulah kehidupan,terkadang sampahmu jadi rezekyku.

            Di bawah atap halte bus,bukan hanya aku yang berteduh tapi ada juga beberapa orang,mungkin 4 5 6 oranglah.

         “Ibu,Ica dingin”Ucap lembut anak itu.

         “Ia nak,sini ibu peluk,supaya tubuhmu hangat.”ucap ibu itu sambil meraih tangan mungil putrinya

            Mungkin itu hal yang sudah akrab kalian temui pada ibu kalian,atau hal sering kalian temui di tempat umum seperti ini,tapi bagaimana denganku? aku juga kerap mendapatkan perlakuan seperti itu,tapi bukan dari ibuku,yaa tapi dari bu Sarah,saudara dari bapakku. Memang rasanya nyaman dan mendapatkan perlindungan dari ibu Sarah tapi kurang,bisa diibaratkan kalian minum kopi yang diberi gula sedikit hingga  rasa pahitnya masih terasa,mungkin begitulah gambarannya.Aku rindu ibu,hanya kata ini yang dapat menggambarkan perasaanku sekarang.Hujan memang membangkitkan kenangan,tapi kenangan apa untuk diriku??.

             Saat bu Sarah memanjakanku seperti anaknya sendiri,nyaman sekali rasanya,apalagi saat pak Toni memperlakukanku seperti kesatria kecilnya,walau hanya di dalam rumah 4 x 4 meter,tapi nyaman sekali rasanya.ini baru belaian lembut dari bibi dan pamanku,apalagi denganmu ibu,iya tentu saja kau ibu.mungkin saat bersamamu walau beralaskan tanah dan berselimutkan dinginnya malam,aku akan tetap merasa nyaman.Jangan khawatir aku kedinginan,tidak,bahkan aku akan merasa sangat bahagia jikalau hal ini terjadi.

             Entah sudah berapa lama aku merenung di halte ini,hingga saat aku menengok ke samping ternyata halte sudah dipenuhi banyak orang.

“Nak tolong geser ke sana sedikit,bapak juga mau duduk.”

“Ohh iya pak,silahkan duduk”Ucapku padanya dan seketika aku berdiri.

“Bapak tidak menyuruhmu berdiri nak,tapi bapak menyuruhmu bergeser.”

“Duduk saja pak,aku sudah lama duduk pak dan sedikit pegal juga jadi butuh berdiri.”ucapku padanya dengan tulus.

“Ohh,makasih nak kalau begitu”Ucapnya dengan tulus diiringi senyum tulusnya

            Saya bisa tebak mungkin umur bapak ini kisaran 40-an,dengan sedikit nampak keriput diwajahnya dan uban yang sudah mulai muncul,menandakan bahwa ia berumuran sekitar 40- an.Aku teringat dengan bapak,kata ibu Sarah,bapakku umurnya sekitaran 40-an,aku sempat bingung katanya bapakku umur 40-an tapi saya masih berumur 15 tahun dan termasuk anak pertama dan terakhirnya,kenapa bapak umurnya setua itu?,ternyata kata bibi, ibuku lama baru punya anak dan itulah aku.Mungkin sekitar 5 tahun usia pernikahan ibu dan bapak baru mereka mendapatkan amanah dari Allah.Ku pandangi lagi wajah bapak itu,ahh kenapa aku tiba-tiba teringat bapak,senyum tulus bapak ini begitu hangat menusuk kalbu.hujan yang sedikit lebat yang dinginnya dapat menusuk kalbu nmaun kini terasa hangat,sehangat senyum tulus bapak.

            Terakhir kali aku melihat senyum tulus dari bapakku saat usiaku masih 8 tahun,saat itu aku pulang dari tempat pemulungan,ia duduk bersama pak Toni dan sekadar berbincang agak serius,tidak pikir panjang aku segera masuk ke rumah dan melewati mereka yang sedang ngobrol.

“Assalamu alaikum.”Aku memberi salam sambil mengecup punggung tangan ketiganya.

“Waalaikum salam”ucap mereka.

            Aku memandangi wajahnya,ia lantas tersenyum begitu indah,rahangnya yang besar yang menonjolkan muka menyeramkan seketika berubah menjadi bersahaja,entah kenapa waktu itu aku tidak bisa melepaskan bayang wajah bapak saat tersenyum,saat itu aku masih belum tahu kalau itu adalah bapakku.Saat ia pulang dan sudah hilang dari pandangan kami,bu Sarah menyuruhku duduk di sampingnya,ia menyodorkan amplop putih yang sudak agak kusam.

“Nak terima ini,ini pemberian bapakmu”Ucap bu Sarah sambil menyodorkan amplop putih itu padaku.

“bapak?sejak kapan bapak datang?”Ucapku heran dengan pernyataan ibu.

“Yang tadi itu bapakmu nak,cuman ia tidak mau memperknalkan dirinya kepadamu,ia malu padamu, ia malu karena ia meninggalkanmu di tempat kumuh ini.”

“kenapa ibu tidak bilang,betapa rindunya diriku padanya bu,ibu taHu kan,saya tidak pernah merasakan kelembutan belaian bapakku,aku rindu bu,aku ingin bapakku.”ucapku kesal waktu itu.

            Aku ingin bercerita banyak hal padamu bapak,aku ingin mengadukan segala keluh kesahku padamu,agar kau tahu, bahwa biarpun kau mencari segala kenikmatan untukku,tapi aku tidak merasakan kebahagian,untuk apa?untuk apa pak?yaa aku tahu amplop putih kusam itu  isinya puing rupiah dari bapak,tapi buat apa?,aku tidak membutuhkannya,aku juga bisa mencarinya sendiri,lain dari bapak,bapak tak ada duanya,bapak tidak dapat digantikan perannya oleh siapapun,sekalipun itu  pak Toni.

Gemericik hujan mulai mereda,orang yang berada di halte bus sudah mulai berkurang,dari tadi sudah banyak yang menerobos hujan karena sudah suntuk menunggu.

            Ibu,aku tahu kau sangat menyayangiku,aku sangat bersyukur telah terlahir dirahimmuu,kau sangat mulia,walau belaian lembutmu tak pernah kurasakan tapi aku tahu kau sangat menyayangiku,kenapa aku berkata seperti itu?karena kau telah memperjuangkan hidupmu untuk melahirkanku,kau selamatkan diriku yang sudah merepotkanmu sejak masih dalam kandunganmu,di dalam tubuhmu,dan kau merelakan hidupmu pergi demi aku,aku yang telah menyusahkanmu sejak dalam kandunganmu,aku yang terkadang menyakitimu dengan tendanganku di dalam perutmu,aku yang terkadang membuatmu susah berjalan karena kehadiranku di dalam tubuhmu,aku yang membuatmu tak elok dipandang lagi karena bentuk tubuhmu yang berubah sejak aku di kandunganmu,aku tahu ibu betapa engkau menyayangiku,di sini aku berjalan membelaI rintikan hujan,setiap langkahku,setiap detak jantungku,setiap hembusan napasku,setiap kedipan mataku aku selalu merindukanmu dan selalu mendoakanmu,semoga engkau menjadi penghuni syurga,berteman dengan bidadari-bidadari syurga,biarkan butiran air mata yang jatuh ini berubah menjadi do’a dan keikhlasanku bu.ibu sekali lagi aku sangat merindukanmu.

            Teruntuk bapakku,aku merindukan senyum ketulusan yang terpancar di wajahmu,aku sekarang sudah besar,aku sekarang sudah bisa mmbedakan mana yang buruk dan mana yang baik,aku tahu kau selalu mengirimiku puing rupiah yang kau kumpulkan,tapi aku tidak mengharapkan itu semua,aku hanya menginginkan dirimu seorang,hanya dirimu,biarlah kita tak mengukir sejarah indah di masa silam tapi datanglah pak,lihatlah aku sekarang,aku akan menerimamu apa adanya,aku sungguh ingin bertemu denganmu dan berbagi kisah tentang hidupku dan hidupmu.sekali lagi aku sangat merindukanmu bapak,ku harap engkau datang menemuiku.

SEKIAN..