Baca. Lihat. Katakan

Muhammad Ariqy Raihan
Karya Muhammad Ariqy Raihan Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 Februari 2016
Baca. Lihat. Katakan

Awan putih pekat mengarak menuju utara. Cericit Mockingbird akan membangunkan siapapun yang ada di dekat pohon tempatnya bertengger. Sebuah kota kecil yang dulunya, pernah menjadi buah bibir banyak orang. Pantai nya menawarkan senja. Penduduk kotanya menawarkan keramahan.. Aliran kertas bertuliskan angka ada dimana-mana. Orang-orang dari luar silih berganti datang. Para penjaja minuman ringan di sepanjang pantai, pembawa denyut nadi di pasar, atau sekadar menawarkan tempat berteduh semalam yang sangat bersahabat. Ekonomi menjadi hidup lebih daripada luas kota itu sendiri.

Namun, sudah lama kota itu diselimuti oleh kabut tebal. Awan hitam pekat mengunci tiap senyum yang dimiliki penduduk kota itu. Pasar-pasar tak lagi berdenyut. Remahan kertas tinggalah menjadi sampah tak bermakna. Kota ini berubah muram, semenjak para penguasa memutuskan untuk tak lagi peduli pada kehidupan ekonomi kota kecil itu. Mereka semua hilang harapan. Bertahun-tahun, bukan, mungkin puluhan tahun kota kecil itu bersemayam di balik awan hitam pekat bernama kegelapan.

Namun, lihatlah hari ini. Semua orang beranjak dari santainya. Pasar-pasar kembali berdenyut. Para penjaja bangkit kembali dari mati mereka. Mereka semua turun ke aspal dan berbagi keceriaan. Mereka semua merayakan satu tahun terpilihnya sosok pemimpin baru negeri yang perlahan menyingkap kabut pekat itu.

***

Pak Tua tak biasanya membuka pintu kaca perpustakaan di akhir Pekan. Alfred namanya. Atau orang-orang memanggilnya Pak Tua Alfred. Barangkali, usianya yang sudah lebih sepuluh tahun dari sekadar setengah abad. Janggut tebal beruban adalah yang paling diingat oleh para pengunjung perpustakaan itu. Ada peraduan lain yang dinantinya setelah lima hari melelahkan dalam sebuah paket bernama ?satu minggu?. Peraduan itulah tempatnya melepas tiap penat yang hinggap di tiap sel nukleus otaknya.

Seperti biasa, ketika langit fajar masih berpendar di langit, Pak Tua Alfred sudah tampak bugar dan mulai merapikan perpustakaan. Rumahnya hanya berjarak satu blok saja. Empat puluh tahun sudah cukup baginya untuk menasbihkan perpustakaan sebagai rumah kedua baginya. Bisa dibilang, home sweet home. Pak Tua Alfred hafal tiap lorong yang ada disana. Tiap susunan buku dan bahkan, tiap debu yang menempel pada buku tanda lama tak dijamah pengunjung.

Lorong 9, Lemari ke tujuh dari kanan, rak B3, dan level kedua. Pada saat dia memeriksa tempat yang berada di lantai dua itu, ada serpihan kenangan hinggap di dalam dirinya, dari sebuah buku berdebu tebal yang ada di hadapannya. Buku bersampul kulit cokelat tua. Seratnya sudah berubah kerut kekuningan, namun masih terselip lipatan kecil di ujung serat buku itu. Ini pasti lipatan dari lelaki itu...

***

Revan nama anak lelaki itu. Dengan semangat ia bilang padaku, jika menjadi presiden negeri ini adalah cita-citanya. Dia ingin kota kecilnya ini berdenyut seperti sedia kala. Revan bukan anak lelaki biasa. Pertama aku bertemu dengannya adalah lima tahun lalu, malam Rabu ketiga pada bulan itu. Seingatku. Aku menemukannya di pinggir jalan. Katanya, dia adalah anak yang selamat dari sebuah kebakaran hebat, 10 blok dari sini. Aku mendongak pada langit malam. Walaupun jauh, aku masih bisa melihat sedikit gumpalan hitam pekat mengawang di udara malam.

Sepanjang perjalanan hingga sampai di apartemen tuaku anak itu bungkam, bahkan tak mau menyebut namanya. Hanya tampak wajahnya terbenam pada dekapan erat di kedua lututnya. Pada pojokan sempit dekat jendela. Aku bisa mendengar isak tangis tertahan, menunjukkanku betapa sakitnya penderitaan yang sedang ia lalui.

Aku mencoba membelai pelan rambutnya. Saat itulah bungkamnya luluh. Dia menceritakan padaku tentang kebakaran malam itu. Tentang kesembrono-an dia yang menyebabkan kornslet seisi rumah. Semuanya terjadi begitu cepat hingga ia sadar ia hanya berjarak sepersekian detik dari kematian, hanya dipisahkan oleh api dan penyesalan. Yang nyata baginya adalah kehilangan. Kemudian, terdengar orang mendobrak pintu rumahnya dan menariknya keluar.

Akupun memeluknya erat-erat. Berulang kali kuberitahu bahwa ini bukan kesalahannya. Siapapun bisa saja berbuat kesalahan, termasuk aku, atau seseorang lainnya. Belajar menerima takdir, dan ikhlas menjalaninya.

***

Hari menguntai minggu, minggu menjulur pada bulan juga tahun, dan tahun pun mengulur tahun-tahun lainnya. Revan sudah semakin dewasa. Katanya, buku yang ada di rak B3 ini memuat intisari dari cita-cita yang dikejarnya. Sementara koleksi buku lainnya di seantero perpustakaan ini adalah teman pengetahuannya. Sedikit lagi, setelah lima tahun, sampai dia bisa menyelesaikan semuanya. Melanjutkan pendidikan tinggi ke kota besar adalah satu langkah maju baginya untuk memperbaiki ekonomi kota ini. Menjadi presiden adalah jawabannya.

Pak Tua Alfred hanya tersenyum kecil saja. Satu-satunya hal yang bisa dilakukan untuk Revan adalah koleksi buku nya ini.

?Bacalah buku itu di sisa waktumu disini. Itu koleksiku yang paling berharga.? Pak Tua meraih sebuah buku bersampul cokelat tua dari susunan pertama pada rak B3 level dua. Di ujung lemari buku tertulis lorong 9. Di letakkannya di pangkuan kaki bocah yang kini sumringah itu. Sebuah bacaan yang menurutku bisa menuntunnya pada cita-cita.

***

Pak Tua Alfred tersadar dari lamunannya. Sebenarnya, kursi dihadapannya hanyalah kekosongan. Ia pun menundukkan wajahnya, dan tersenyum bodoh. Membayangkan anak itu dihadapannya hanyalah sebuah kebodohan dari sakitnya merindu. Seperti meninju udara kosong.

Tunggu. Kursi di hadapan Pak Tua Alfred perlahan ada yang menggeret. Ada seseorang yang duduk disana. Perlahan ia pun mengangkat wajahnya dan....

?Hai Paman Alfred. Janggutmu makin lebat rupanya.? Revan tersenyum jahil.

Jika saja ia bisa bertemu dengan Sang Penjaga Waktu, ia akan memintanya untuk menghentikan waktu di dimensi ini hingga hanya dirinya dan Revan yang tersadar. Haru pun jatuh di wajah. Mengundang sendu pada rindu yang sudah memuncak. Pada pemuda yang meninggalkannya untuk mengejar cita-cita demi negeri ini.

Wajahnya terlihat menua, memang. Namun guratan wajahnya masih sama seperti dua puluh tahun lalu. Sedikit codetan jahil juga, sebenarnya. Ah, pasti sudah banyak hal yang dilakukan Revan. Ia masih harus bersiap untuk pidatonya di hari senin nanti. Masa bodoh dengan pidato, menjejak perpustakaan ini adalah hal paling penting sedunia. Tak ada kata ?mudah? dalam perjalanan dia. Hidup dengan keyakinan bahwa pemuda pun bisa berperan untuk negeri ini, adalah tangga baginya untuk mencapai prestasi terhebat : Presiden termuda sepanjang sejarah.

***

Revan

Pantai itu masih indah, sama sekali tak berubah. Kususuri jalanan batu berundak itu. Lebih lebar, kali ini. Pasir putihnya kini sudah mulai berwarna krem. Barangkali, pasir pun bisa menua. Hanya Tuhan yang tahu. Angin laut mulai menerpa pelan wajahku.

Ah. Tempat favoritku dan paman Alfred masih ada. Wah, sepertinya paman tak pernah absen untuk tidak datang kemari. Kuraih tangan renta lelaki itu dan kita pun bersandar pada batu paling besar dan kuat di pantai itu. Beralaskan pasir, tentunya.

Senja memang selalu menarik atensiku. Keindahannya membawaku pada banyak inspirasi di masa remajaku dulu. Disinilah aku berjanji pada langit senja, aku takkan kembali sebelum cita-citaku terwujudkan. Ah, senang rasanya menepati janji itu. Seperti meletakkan berjuta-juta karung pasir yang membebani pundak. Lega dan bahagia.

?Ini untukmu. Anggap saja hadiah dariku.? Paman Alfred memberiku sebuah buku tua bersampul cokelat tua.. Masih ada sedikit catatan kecilku disana. Satu-satunya buku yang diizinkan paman untukku mengguratnya dengan beberapa opini sederhanaku atas informasi yang tersimpan disana.

?Ah ya, Paman. Kau selalu bilang, jika aku mau menjadi seorang yang sukses, peganglah dua buah pilar. Baca dan lihat.? Aku melanjutkan, ?membaca sama saja kau membuka gerbang kesuksesan. Dimensi pengetahuan seluruhnya milikmu, jika kau mau membaca. Setiap untaian kata, atau guratan tinta yang tertulis disana, terselip banyak makna dan arti. Inilah yang akan menuntunmu pada hal-hal luar biasa.?

Lelaki tua itu tersenyum kecil.

?Dan, kemudian Lihatlah. Lihatlah dunia luar. Biarkan ilmu dan dunia luar berbaur dan kau akan melihat hal-hal luar biasa terjadi. Justru, ada hal-hal luar biasa di luar sana namun tak terangkum dalam buku. Tapi paman, aku rasa dua hal ini masih kurang. Aku akan melengkapinya dengan satu pilar lagi.?

Senyumannya hilang. Kini, dahinya yang mengerinyit menatapku.

?Katakan, paman. Katakan. Puluhan tahun tinggal di luar sana memberiku banyak pengalaman. ?Katakan? adalah kunci terakhirnya. Untuk semua apa yang aku baca dan lihat, akan menjadi ketiadaan jika aku tak mampu berkata kepada lainnya. Inilah, yang kemudian mengantarkanku pada cita-citaku. Aku berhasil meraihnya, paman!? seruku penuh semangat.

Kali ini ia tersenyum kembali, lebih lebar kali ini.

?Buka sampul buku itu. Baca apa yang terselip dibaliknya.?

Atensiku tertarik ketika melepas sampul buku, pada tulisan yang menjadi judul bukunya. Tertulis :

Baca. Lihat. Katakan.

By Alfred

?

Sial, dia menipuku selama ini. Sekarang, aku yang tertawa lebar.

-SELESAI ?

Author : M.A.R

?

?

nb; cerita ini di ambil dari salah satu laman saya di website lain. Jika berkenan, mohon kritik dan sarannya. Terima kasih.

  • view 194