Epilog

Muhammad Ariqy Raihan
Karya Muhammad Ariqy Raihan Kategori Project
dipublikasikan 16 Desember 2017
Karena Jatuh Cinta adalah Patah Hati yang Termaafkan

Karena Jatuh Cinta adalah Patah Hati yang Termaafkan


Cerita bersambung ini merupakan kolaborasi saya dengan Doddy Rakhmat. Berkisah tentang dua orang lelaki yang tidak pernah saling mengenal namun memiliki kehilangan yang sama; di suatu waktu mencintai perempuan yang sama. Dan keduanya sama-sama tidak ingin kehilangan lagi.

Kategori Cerita Pendek

1.7 K Hak Cipta Terlindungi
Epilog

Karena memiliki masa lalu yang pahit bukan berarti seseorang tidak memiliki masa depan. Selalu ada kesempatan kedua. Bahkan untuk memaafkan.

Aku mendekap tubuh Mama yang dingin. Wajahnya tersenyum, Ayah belum pulang. Ia sedang berada di luar kota. Aku telah mengabarinya, sebuah pesan yang sebetulnya tidak ingin kusampaikan, tapi itu harus. Pesan yang membuatku mengalami patah hati untuk pertama kalinya.

Kehilangan Mama untuk selamanya. Tiada yang lebih tabah dari mengabarkan kehilangan kepada diri sendiri maupun orang lain. Tiada yang lebih tangguh dari menghadapi ketidakberdayaan untuk menahan seseorang untuk tetap tinggal di samping kita selamanya.

***

Tiga malam lalu, sepulang dari membelikan sup untuk Mama dari warung dekat rumah, aku berdiri kaku menatap ke seberang jalan. Ayah pulang diantar seorang perempuan muda dengan pakaian terbuka. Ayah jalan sempoyongan sambil membawa tas kerjanya. Ah, dia pasti mabuk lagi. Dan perempuan itu memiliki wajah yang tidak asing lagi—istri simpanannya.

“Mama, aku pulang.”

Aku baru melangkahkan kaki di ruang tamu. Terdengar keributan dari arah kamar Mama. Ayah sepertinya mencari perkara lagi.

“Kenapa kau takmati saja, sih. Berapa banyak biaya yang harus kukeluarkan untuk mengobatimu. Dan bahkan sekarang tidak ada tanda-tanda kau segera pulih. Dasar wanita tak berguna.”

Pelan-pelan aku mengintip dari celah pintu kamar yang terbuka memandangi Mama terbaring lemah di atas ranjang. Wajahnya pucat. Air mata turun tak terbendung. Mama sesenggukan menahan isak tangisnya.

Aku berbalik ke dapur, mencari sebuah pisau. Dan aku menemukannya di sebuah laci. Dengan langkah yang mengendap-endap, aku memegang pisau itu gemetar. Ayah masih berteriak-teriak kesetanan. Bergegas aku membuka pintu kamar dan menghambur lari ke arah Ayah. Pisau itu kini berada di udara siap menghunjam tubuhnya.

Plak.

Ayah berhasil menangkap tanganku. Matanya merah penuh amarah. Ia melemparkan badanku ke tepi kamar.

“Kau mau menjadi pembunuh, hah? Kau sama ibumu sama saja. Oh, atau aku bisa melaporkan kejadian ini ke polisi. Percobaan pembunuhan.”

Raut wajah Mama seperti ingin mengucapkan sesuatu. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Tubuhnya lumpuh dan ia kehilangan kemampuan untuk berbicara.

Aku berlari mendekap kedua kaki Ayah, “Aku mohon jangan laporkan kejadian ini.”

Ayah berusaha melepaskan dekapanku ini. Aku masih memegangnya erat, tapi dalam satu gerakan ia berhasil pergi. Meninggalkan kami berdua. Dan deru mesin pendingin udara kamar menjadi pemecah keheningan. Anjing tetangga menyalak dari luar rumah.

Setelah kejadian itu, Ayah tidak pernah menampakkan dirinya lagi. Entah ke mana ia pergi.Aku tidak berniat mencarinya sekalipun itu dalam mimpi. Ia telah memberi luka pedih di hati.

***

Setelah bertahun lamanya, kehidupan tanpa Mama aku dan adik laki-lakiku tinggal di sebuah rumah kontrakan pinggiran kota. Aku bekerja sebagai pustakawan. Setiap sore sepulang kerja, aku sering menghabiskan waktu di taman di jantung sebuah real estate megah. Taman itu mengingatkanku kepada Mama. Ia sangat menyukai bebungaan. Walaupun aku memendam benci pada Ayah, kupikir rindu tetap bersemi pada lelaki itu. Entahlah dia masih ingat kami atau tidak.

Dan suatu sore, aku bertemu dengan seorang pria yang sedang memotret di taman. Ia mendekatiku dan mengajakku berkenalan. Aku masih trauma dekat dengan para pria. Kenangan tentang Ayah dan Mama begitu melekat dalam ingatan. Kejadian itu yang sudah membuat luka begitu dalam.

Namun rasanya begitu berbeda. Entah apa. Dia bilang Ian namanya.

***

Tepat ketika langit mulai memerah, awan yang sedari tadi sudah bergulung abu-abu akhirnya tumpah ke bumi sebagai hujan. Aku buru-buru mencari tempat perlindunga terdekat. Tak jauh dari bangku taman itu ada sebuah tempat berteduh yang hanya ditutupi oleh kanopi seukuran satu orang saja—pikirku. Namun, rupanya di sana sudah ada orang lain. Laki-laki berambut ikal dengan badan sedikit kurus, entahlah. Wajahnya sedikit tirus begitu. Apa dia kurang makan, ya?

Pikiranku bergerak tidak jelas saat berlari kecil menuju tempat meneduh itu sembari menggenggam ujung payung. Aku selalu berjaga dengan membawa payung kecil di dalam tas bawaanku.

“Hai, maaf, boleh ikut meneduh di sini?”

Lelaki itu terkesiap. Rupanya dia tadi sedang memejamkan mata. Aku menatapnya seakan dia adalah sebuah keanehan yang jarang terjadi di dalam hidupku.

“Kau baik-baik saja?”

“A, iya, aku baik-baik saja. Silakan.”

“Aruna,”

“Andra,” balasnya.

Dan saat itu juga aku merasa ada sesuatu yang hangat menjalar di dadaku.

***

Beberapa sore setelah pertemuan dengan lelaki bernama Andra itu membuatku jadi sedikit penasaran. Sebenarnya membingungkan di tengah perasaanku yang trauma soal laki-laki. Rasanya bayangan Ayah selalu terlihat jelas setiap kali aku berbicara soal perasaan. Tidak mudah hidup seperti itu.

“Sampai kapan kamu mau seperti itu, Nak?” tanya Mama ketika kemarin aku menyempatkan diri pulang ke rumah. Mama tahu bagaimana perasaanku bila membicarakan soal laki-laki.

“Aku nggak tahu, Ma. Sudahlah, lebih baik aku memikirkan Mama saja.”

Aku mencoba untuk mengubah arah pembicaraan. Mama tersenyum di wajah teduhnya dan hal itu membuatku terenyuh.

“Jangan gitu. Kalau nanti Mama pergi, kamu nggak ada yang nemenin loh. Kan, adik kamu juga akan kerja nantinya ....”

“Hush ... jangan ngomong gitu, Ma. Aku doain mama panjang umur kok.”

“Tapi sebelum Mama pergi, Mama mau lihat kamu bahagia sama pasangan pilihanmu.”

Percakapan itulah yang membuatku berpikir kembali. Apakah ada lelaki yang benar-benar baik dan tulus di luar sana? Ah, paling mereka sama saja, bermodalkan topeng untuk memikat perempuan yang diinginkannya.

Ian dan Andra.

Tetiba, dua nama itu terbesit di dalam pikiran. Dua lelaki yang ditemuinya di tempat yang sama namun dipisahkan oleh waktu pertemuan.

***

Dalam hidup ini akan selalu ada orang yang hanya hadir sementara, memberikanmu pelajaran, bahwa ketika kau patah hati satu-satunya hal yang dapat menyembuhkannya adalah berani jatuh cinta lagi. Kehidupan ini bukan sebuah trauma. Aku percaya itu. Aku tidak ingin tinggal dalam lorong-lorong suram masa silam, dingin, pedih dan penuh tangisan. Aku mengenal Ian walau tidak terlalu paham bagaimana sifat aslinya. Ian baru saja putus dari temanku. Beberapa waktu lalu, ia juga menghampiriku lagi di taman. Dan mengungkapkan apa yang ia rasakan, aku menolaknya. Bagiku, Ian terlalu terburu-buru jatuh hati.

Aku tahu Ian sedang terluka, sedang berjuang melawan patah hati yang dideranya. Bahkan setelah aku menolaknya kemarin, entah apa yang akan ia lakukan. Semoga saja ia dapat memahami keputusanku. Aku tidak ingin menjadi pelarian. Aku ingin menjadi pilihan dan pelabuhan terakhir dalam hidupnya. Dan sepertinya aku tidak yakin dengan dia berpikiran hal yang sama. Terlebih lagi, Ian putus dengan temanku itu karena ketahuan berselingkuh. Dua-duanya. Apalah arti cinta jika kesetiaan sudah sirna. Seperti berusaha menangkap awan dengan tangan kosong. Sia-sia.

***

Sore ini ada yang berbeda. Di tempatku biasa duduk ada beberapa carik kertas. Aku melemparkan pandangan ke sekeliling, barangkali kertas ini milik orang yang sebelumnya duduk di sini. Tapi rupanya tidak ada. Hanya tampak beberapa orang yang sedang jogging mengitari sisi taman atau lalu-lalang lain.

Tanpa menaruh rasa curiga lebih jauh, aku mengambil posisi duduk nyaman—seperti biasa—dan membaca isi kertas itu.

Barangkali, Tuhan sengaja meniadakan batas di antara langit dan bumi untuk menyadarkanku, bahwa sedalam apa pun aku tenggelam, selalu ada tempat untuk diraih menuju permukaan. Aku pernah kehilangan seseorang. Membuatku hilang arah dan ingin pergi menjauh dari kota ini. Aku harus. Aku harus pergi.

Tapi hadirmu mengubah segalanya. Setiap sore kamu selalu duduk di bangku ini dan aku jadi punya alasan untuk bertahan; menatapmu dari kejauhan. Entahlah, aku hanya ingin menuliskan itu saja hari ini.

Siapa penulisnya, nih?

Pikiranku mulai bergerak menebak-nebak. Sejauh ini aku tidak memiliki banyak teman laki-laki di tempat kerja, bahkan untuk sekadar tahu bahwa aku suka menikmati sore di bangku taman ini. Apakah Ian? Ah, nggak mungkin. Dia lebih peduli pada apa yang dipotretnya dibanding kata-kata. Begitu yang kuketahui setelah terlibat percakapan dengannya.

Tampak sebuah inisial di belakang surat itu.

ADR.

Tunggu ... sepertinya aku kenal. Andra? Apa, iya? Dan rasa penasaran di dalam pikiranku semakin meluas saja.

***

Aku mencari tahu tentang lelaki bernama Andra. Bisa jadi dia seorang penulis. Maka, aku mencoba mengumpulkan informasi tentang seorang penulis bernama Andra. Dan ternyata di halaman kesekian Google dari kata kunci yang kumasukkan, ada sebuah laman yang membahas lelaki ini.

Rupanya Andra adalah seorang penulis muda yang pernah menuliskan dua buah buku secara independen. Meskipun tidak begitu luas jaringan penjualannya, rupanya karya dia mendapat reaksi yang positif. Tulisannya yang romantis mampu membius pembaca untuk tenggelam di dalam ceritanya.

Ada sebuah tulisan Andra yang diselipkan penulis laman itu. Dan ternyata gaya menulisnya begitu mirip! Jangan-jangan seseorang yang meninggalkan kertas itu ialah ....

***

Perasaanku begitu gundah. Ian dan Andra. Dua lelaki ini semakin membuatku bisa melupakan trauma itu. Namun, masalah yang harus kuhadapi adalah: siapa yang harus kupilih? Mengapa semua menjadi sulit begini?

Tapi, suatu waktu, aku terdorong untuk menelusuri lebih jauh tentang Andra. Mungkin karena aku jarang bertemu dengannya dibandingkan Ian. Tapi, aku merasa Andra sepertinya menyembunyikan sesuatu yang sangat dalam di dirinya.

Ketika beberapa hari lalu dia menunjukkanku buku yang ditulisnya—aku diizinkan untuk membawanya pulang—aku berjanji bahwa akan kubaca sepenuhnya dan akan membahas apa pun isinya.

Dan benar. Pecahlah rasa penasaranku selama ini. Andra bercerita soal kepergian mantan kekasihnya. Betapa bencinya dia pada Sang Takdir yang seenaknya memecah belah perasaan yang baginya sangat berharga itu. Lembar demi lembar terus melahirkan rasa sesak di dalam dadaku. Aku begitu mengerti. Penderitaan yang kami lalui sama. Sesak yang kami lahirkan sama.

Rasanya aku bisa menjelajahi kehidupan Andra tanpa harus menanyakannya. Lelaki ini ... menempuh perjalanan paling malam dalam hidupnya. Aku berpikir, bahwa Andra pasti juga akan mengerti dengan apa yang kulalui bila suatu saat nanti kuceritakan.

Sampai suatu lembar, Andra menuliskan bahwa dia mencintai seorang gadis yang lambat. Gadis ituadalah senja yang dirindukan oleh semestanya yang terlalu lama gelap dan pekat. Gadis itu ... adalah satu-satunya cara untuk membuat dia “hidup” kembali.

Tuhan ... inikah jawaban yang kamu berikan padaku? Aku memejamkan mata. Berdoa dalam hati. Dan kemudian ada sebuah nama yang kemudian terpatri kuat di sana. Aku sudah tahu jawabanku.

***

Ciuman kemarin membuatku sadar soal makna mencintai. Andra, lelaki yang sudah yakin untuk hidup bersamaku. Lelaki yang rela mengalah hanya demi membangun kembali perasaannya. Begitu katanya seusai ciuman pertama dan kami membumbui awal hubungan kami dengan sedikit cerita.

“Sekarang dan selamanya.”

Kata-kata sederhana yang rasanya begitu resap ke inti jiwaku. Aku baru sadar bahwa cinta itu sehangat ini. Selepas masa silam dengan Ayah yang membuat hatiku seakan mati, kini aku bisa merasakan kehangatan itu lagi.

Inikah yang dinamakan bahagia?

Setidaknya menurut definisiku, inilah bahagia. Saat aku punya alasan yang kuat untuk menjalani hidup. Dan Andra punya alasan kuat untuk bertahan dan membangun semestanya yang baru.

Tuhan, aku begitu jatuh hari ini.

 

 

 

 

  • view 202