Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Project 16 Desember 2017   15:26 WIB
Bab 9

[IAN]

 

Beberapa waktu setelah pertemuan terakhir dengan Aruna, perempuan itu tidak pernah lagi menampakkan diri. Saya khawatir ada yang salah dengan apa yang saya bicarakan dengannya. Saya mulai melupakan Laika, sekarang hanya ada seberkas bayangan Aruna yang mengisi ruang-ruang pikiran. Saya tidak mengambil proyek untuk sementara. Saya berusaha menyusul ke komplek perumahan yang dulu pernah saya datangi tempat Aruna menjemput sang adik. Tapi nihil. Tidak ada yang tahu keberadaan Aruna. Ia tidak tinggal di daerah itu menurut orang-orang yang saya tanya.

Saya mendadak diserang kehampaan yang begitu sesak. Rindu. Entah kenapa saya ingin pergi ke tempat yang ramai. Saya pergi ke stasiun kereta yang tidak jauh dari rumah. Begitu banyak orang yang menunggu, gelisah, tak sabar.

Saya memotret beberapa objek di stasiun kereta dan mengubahnya dengan mode warna hitam putih serta membubuhkan tulisan singkat saat saya hendak mengunggahnya ke jejaring sosial.

'Pada ruang-ruang yang diciptakan untuk kita, rindu adalah perantara.

Pada aku yang ingin mendekap dingin gapaimu, cinta adalah pelukan hangat.'

Aruna, kamu di mana?

Pandangan saya tiba-tiba teralihkan ke deretan bangku dalam kereta yang hendak berangkat. Seolah-olah ada magnet yang tak terlihat yan membuatnya demikian. Di antara jendela kereta, saya dapat melihat Laika menatap ke arah saya. Ia hanya seorang diri di sana, saya tidak sedikitpun melepas pandangan hingga kereta menghilang di ujung rel. Matanya sembab. Raut wajahnya kuyu. Ia terlihat lelah. Apakah saya yang menjadikannya seperti itu?

Kalau saya pergi, dia pergi. Siapakah yang benar-benar tinggal? Bukankah hanya kenangan yang terhujam di antara waktu yang sudah berlalu.

Ting.

Sebuah pesan singkat masuk. Undangan dari tempat kerja. Acaranya sore hari dan saya pikir saya masih butuh ke tempat ramai lainnya. Berpura-pura tidak ada hal yang terjadi, walau hati semakin lama semakin tersakiti. Oleh ketidaktahuan saya. Ketidaktahuan saya memutuskan apakah saya harus benar-benar melupakan Laika? Atau menemukan Aruna?

----

 

Sore hari.

Saya mengarahkan kendaraan melalui jalan menuju taman. Dan saya melihatnya, melihat Aruna, tidak sedang sendiri di bangku taman, ada seorang lelaki dengan kemeja kotak-kotak duduk di sampingnya, tidak dekat dan tidak jauh.

Saya hanya memerhatikan dari balik jendela mobil. Dada terasa sesak, saya ingin segera turun, tapi saya masih sadar, saya bukan siapa-siapa dalam hidupnya, tapi dia adalah orang yang membuat saya menyembuhkan luka hati dari Laika.

Pikiran saya kacau, tidak berada lagi di dalam ruang hiruk pikuk acara kantor, tapi di taman tua bersama Aruna. Dan lelaki kikuk itu, entah apa yang mereka bicarakan.

Lantas saya undur diri lebih awal dan segera pulang. Keesokan harinya saya memutuskan harus bertemu dengan Aruna, walau saya yakin itu bukan jadwal kedatangan dia ke taman.

Akhirnya saya memilih menunggunya hingga senja ditelan malam. Aruna tidak datang. Tiba-tiba ada rasa kehilangan yang tidak bisa saya tahan. Daun-daun dari pepohonan jatuh secara perlahan, lebih pelan dari biasanya. Dunia terasa terlalu enggan berputar.

Keesokan hari, saya datang kembali ke taman. Membawa sebuah buku karangan penulis yang baru saja diberi penghargaan oleh dunia. Saya masih berharap Aruna datang. Dan benar. Aruna berada di sana, ia mengenakan jaket warna cokelat. Sore itu angin membuat udara dingin. Saya setengah berlari ke arahnya. Aruna cukup terkejut dengan kehadiran saya.

"Kamu ke mana saja?" tanya saya tanpa basa basi.

Ia menjawab dengan tatapan setengah tidak percaya, "Aku sakit."

"Maafkan saya tidak bisa menjenguk kamu. Tapi ketahuilah saya, ehm, merindukan kamu." ujar saya tidak bisa menahan diri lagi. Ada kelegaan bercampur gugup.

Aruna mengangkat kedua alisnya. Memasang wajah tidak yakin. "Terima kasih sebelumnya tapi bukankah sedikit aneh bila orang asing tiba-tiba merindukan seseorang yang baru kenalnya."

"Bukankah kita tak lagi menjadi asing manakala kita sudah pernah bertemu dan bertukar nama?"

Saya hanya tersenyum.

Karya : Muhammad Ariqy Raihan