Array
(
    [data] => Array
        (
            [post_id] => 40066
            [type_id] => 1
            [user_id] => 5122
            [status_id] => 1
            [category_id] => 123
            [project_id] => 0
            [title] => Bab 6
            [content] => 

Andra

 

Enam bulan setelah pertemuan pertama yang sedikit kebasahan itu, kita acapkali bertemu dalam ketidaksengajaan, hingga akhirnya, perasaanku yang terbatasi oleh jarak selama enam bulan itu kulepaskan. Dengan tergugup, aku menyatakan perasaanku padamu. Dan kamu tersenyum mengiyakan. Sejak saat itulah aku memutuskan untuk mati bersamamu

“Aku ingin kisah kita abadi,” ucapmu mengenggam tanganku di suatu restoran takjauh dari taman.

“Aku tidak akan meninggalkanmu,Elf,” balasku mencium keningmu. Dan kamu begitu resap menerima kehangatan itu.

Hari itu resmi kita mengikat janji untuk saling memiliki. Kita bahagia. Setiap hari aku selalu menikmati tiap lengkum senyum dari bibir tipismu, tiap embusan napasmu, tiap kehangatan yang menyelusup kala kedua bibir kita berpadu. Pada mata birumu yang acap membuatku serasa tak menapak. Kamu adalah segalanya, Elfira.

Dan satu-satunya yang tak kuketahui adalah jika dua tahun kemudian apa yang kita lalui menjadi sirna saat sebuah kecelakaan mobil merenggut dirimu dan aku tidak ada di sampingmu ketika itu.

“STOP!” pikiranku mulai menceracau tak keruan, ketika melihat fotomu yang kutemukan dalam salah satu catatan menulisku. Bahkan aku takbisa membuang kenangan Elfira seluruhnya.

Momen itu adalah penyesalan terbesarku. Berulang kali mengutuk diri yang tak bisa menemanimu pergi ke atas langit sana. Yang kulihat hanyalah ketika detik demi detik terlewati melihatmu menderita di balik selang-selang yang menyambung ke tubuhmu.

“Tidak, tidak, Tuhan, tolong hentikan kenangan ini,”

Aku mengenggam jemarimu dan membisikkan penyesalanku. Tak kusangka, gerimis turun di matamu, meriak di pipi, dan bermuara di jantung kehilanganku. Apakah jauh di alam bawah sadarmu kamu tahu aku ada di sini?

Apakah jauh di alam bawahmu tahu bahwa aku tidak bisa meninggalkanmu?

“Tuhan ....” bisikku lemas. Lelah menahan gejolak di pikiran ini.

Kemudian kenangan itu hilang. Aku menarik napas dalam-dalam dan menghelanya. Ini tidak pertama kalinya aku seperti ini. Dalam kesunyian di tengah pekat malam ini, aku sadar hanya ada satu hal untuk benar-benar melupakanmu. Aku harus mencintai orang lain.

Walaupun kutahu, mencintai itu butuh waktu dan tidak bisa dipaksakan.

Tapi kali ini berbeda. Aku punya jawabannya.

 

[slug] => bab-6 [url] => [is_commented] => 1 [tags] => None [thumb] => file_1513412490.jpg [trending_topic] => 0 [trending_comment] => 0 [total_viewer] => 136 [issued] => 0 [author] => Muhammad Ariqy Raihan [username] => ariqyraihan [avatar] => file_1455191618.jpg [status_name] => published [category_name] => Project [type_name] => article [kode_multiple] => [total_comment] => 0 [total_likes] => 0 [created_at] => 2017-12-16T15:21:30+07:00 [updated_at] => 2018-10-02T10:53:28+07:00 [deleted_at] => ) [process_time] => 31.607899ms [status] => 200 )