Bab 5

Bab 5

Muhammad Ariqy Raihan
Karya Muhammad Ariqy Raihan Kategori Project
dipublikasikan 16 Desember 2017
Karena Jatuh Cinta adalah Patah Hati yang Termaafkan

Karena Jatuh Cinta adalah Patah Hati yang Termaafkan


Cerita bersambung ini merupakan kolaborasi saya dengan Doddy Rakhmat. Berkisah tentang dua orang lelaki yang tidak pernah saling mengenal namun memiliki kehilangan yang sama; di suatu waktu mencintai perempuan yang sama. Dan keduanya sama-sama tidak ingin kehilangan lagi.

Kategori Cerita Pendek

1.5 K Hak Cipta Terlindungi
Bab 5

Saya tidak terlalu suka dengan suara alarm. Menjadi pengingat sekaligus pengganggu. Persis seperti seorang kekasih. Seperti Laika.

----

Sore itu saya pergi ke pinggiran kota, berjalan menuju sebuah taman sepi pengunjung. Bangku-bangku taman berwarna cokelat dengan pegangan besi di samping kanan kirinya ada di tengah taman. Tidak ada yang banyak berubah dari sana. Taman itu adalah tempat pertemuan pertama kali Ayah dan Ibu. Dan saya juga sering diajak mereka setiap akhir pekan mengunjungi taman itu. Sekadar bercengkerama dan keluar dari hiruk pikuk pekerjaan.

Taman itu awalnya sebuah tanah lapang gersang, namun seorang dermawan menyulapnya menjadi taman. Walaupun sederhana tapi tetap indah, kisah Ayah waktu dahulu.

Ayah dan Ibu sudah tidak ada, Tuhan mungkin lebih mencintai mereka. Mereka hilang ketika berlayar ke sebuah pulau dalam undangan pernikahan seorang kerabat. Kejadian itu sepuluh tahun yang lalu, dan saya merasa kehilangan teramst sangat. Saya tidak mau bersekolah, berat badan menurun, kantung mata akibat kurang tidur semakin menebal. Melihat kondisi saya yang memprihatinkan, Paman Yadi, adik dari Ayah menyemangati saya kembali. Sampai akhirnya saya dapat menyelesaikan masa kuliah.

Sore hari itu langit tak cerah, mendung. Saya mulai mengambil sudut-sudut terbaik dan tanpa sengaja setelah saya memerhatikan hasil potret, ada seseorang yang duduk di bangku taman. Awalnya saya pikir dia hantu. Lalu saya lihat baik-baik secara langsung ke arah bangku dan saya menemukan seorang perempuan yang sedang membaca buku, dengan earphone yang menempel pada telinganya, menyusup di balik rambut sebahunya yang berwarna cokelat.

Saya mencoba mendekatinya yang tidak sadar dengan kehadiran saya beberapa langkah darinya. Ia sedang memegang buku bersampul putih. Judul buku itu tercetak jelas di depannya.

Saya potret beberapa kali, ia masih tidak menoleh, seolah tidak peduli dengan keberadaan saya. Saya merasa ada yang berbeda dari perempuan itu. Ia tidak seperti perempuan kebanyakan, yang begitu manja minya difoto.

"Permisi." Saya berdiri di hadapannya dan melambaikan tangan. Saya yakin dia tak mendengar apa yang saya ucapkan tapi paham dengan gerak tangan.

"Iya? Ada apa?"

"Tadi saya memotret kamu beberapa kali. Apakah kamu tidak keberatan? Atau saya harus menghapusnya?" tanya saya ragu.

Ia melihat saya dari ujung kaki sampai kepala, seolah menilai apakah saya orang jahat yang patut dicurigai.

"Silahkan, asalkan jangan digunakan untuk yang tidak-tidak."

Saya mulai senang dia mulai merespon.

"Baiklah, oh iya, perkenalkan nama saya Ian." Saya menjulurkan tangan. Dia tak langsung menjabat, melainkan melihat dalam-dalam ke arah mata saya.

"Aruna." jawabnya setengah berbisik, seolah namanya adalah rahasia yang pantang bocor.

"Sudah sering main ke taman sini? Eh, boleh saya duduk di sebelah kamu?"

Aruna mengangguk tanda setuju tapi dia belum menjawab.

"Tidak terlalu, apakah kamu orang baru di sini?" tanya Aruna.

"Saya sudah lama tinggal di dekat sini. Dan taman ini punya kenangan tersendiri untuk saya."

"Hmm, begitu ya. Aku belum pernah melihatmu sebelumnya." balas Aruna masih membaca buku. Tiba-tiba dia tersenyum, senyuman itu membentuk lesung pada pipinya. Ada sesuatu yang membuatnya bahagia dari buku yang dibacanya itu.

"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?"

"Ehm, tidak apa-apa. Sepertinya aku harus pergi lebih dahulu, aku harus menjemput adikku."

Saya tidak bisa menahan dirinya untuk pergi dan saya juga tidak bisa mengendalikan rasa ingin tahu. Akhirnya saya putuskan untuk mengikutinya, dengan tetap menjaga jarak. Ia menyusuri jalan-jalan kecil di pemukiman padat penduduk. Menyapa orang-orang yang lewat. Dan langkah saya terhenti saat dia menggendong adiknya yang tidak bisa berjalan. Kakinya dibalut gips. Saya tidak melanjutkan. Dan memilih kembali ke rumah.

Sejak hari itu, saya sering mengunjungi taman tua. Saya sampai hafal hari kedatangan dan jam berapa Aruna akan duduk di sana, menyendiri. Saya tidak mendekatinya. Hanya melihatnya dari layar kamera yang saya perbesar. Anehnya ingatan saya kepada Laika selalu hilang saat berada di sekitarnya. Seolah dirinya adalah pengusir segala kenangan buruk.

  • view 99