Bab 4

Muhammad Ariqy Raihan
Karya Muhammad Ariqy Raihan Kategori Project
dipublikasikan 16 Desember 2017
Karena Jatuh Cinta adalah Patah Hati yang Termaafkan

Karena Jatuh Cinta adalah Patah Hati yang Termaafkan


Cerita bersambung ini merupakan kolaborasi saya dengan Doddy Rakhmat. Berkisah tentang dua orang lelaki yang tidak pernah saling mengenal namun memiliki kehilangan yang sama; di suatu waktu mencintai perempuan yang sama. Dan keduanya sama-sama tidak ingin kehilangan lagi.

Kategori Cerita Pendek

563 Hak Cipta Terlindungi
Bab 4

Andra

 

Dia selalu duduk di bangku itu setiap pukul empat sore hingga sayup-sayup semburat jingga menghilang dan berganti rembulan. Dia suka musik sepertinya, dari earphone yang tersambung dari ponsel di saku bajunya ke telinga.

Hari ini dia mengikat rambutnya ke belakang, tidak seperti sebelumnya digerai sebahu, menyisakan beberapa helai rambut menyulam poni. Pandanganku takmau teralihkan. Setelah berlari di sepanjang setapak taman dan kemudian langkahku terhenti di tempatku biasa bercengkerama dengan Elfira. Dan kini wanita itu yang duduk di sana.

Aku sudah siap dengan jaket parasut abu-abuku. Aku yakin hari ini hujan lebat. Dan benar. Gerimis turun, dan perlahan menderas. Gadis itu pun bergegas mencari tempat teduh. Aku beranjak membelah hujan dan berdiri di bawah kanopi, seperti dulu.

Andai hujan ini abadi, batinku sembari memejam mata.

“Hai, maaf, boleh ikut meneduh di sini?”

Aku terkesiap. Perlahan aku membuka mata. Wanita yang di bangku tadi. Kedua bola mata biru kami berpadu di antara hujan. Sedetik, aku merasa lemah. Dadaku bergemuruh. Ada rindu yang mulai menguasai hati. Perlahan menggantikan kenangan Elfira dan mewujud diri wanita ini.

“Kau baik-baik saja?” tanyanya, melihatku dengan heran.

“A, iya, aku baik-baik saja. Silakan,” ucapku tergugup. Sial, kebodohan macam apa lagi ini?

“Aruna,” ucapnya sembari tersenyum padaku.

“Andra,” balasku.

Dan kemudian hujan memanggil diam untuk menjadi batas di antara keberadaan kami. Dan aku memutuskan untuk mulai mencintainya.

//

Tanganku serasa mati rasa di hadapan keyboard dan kelu menatap monitor. Setelah memutuskan membakar semua novel tentangmu itu, aku berpikir jika menulis bukanlah lagi pilihanku. Aku ingin pergi. Tapi entah mengapa, pagi ini, aku sudah duduk berdiam diri di meja dekat jendela ini. Ruangan sempit berukuran 2x3 meter yang kusebut kamar ini terasa lebih senyap dari biasanya.

Wanita di taman itu. Tetiba siluetnya muncul di mimpiku dan entah bagaimana, tubuhku sudah berada di sini. Ada sesuatu di dalam diriku yang memekik dan berontak ingin dilepaskan; dituangkan dalam tulisan.

Apa yang terjadi pada diriku? Aku ingin pergi, tetapi aku selalu ingin melihat wanita di taman itu lagi, lagi, dan lagi. Serupa ketika dulu bertemu denganmu. Rasanya perasaanku kini berkata lain; aku menginginkannya. Pelan-pelan kehadirannya mulai bisa menggantikanmu di hati ini.

Aku pikir tidak secepat ini. Ada dorongan dari dalam diriku yang menggebu untuk sekadar mengajaknya bicara, namun tidak semudah itu.

Aku terus datang ke taman itu setiap hari. Hanya untuk menatap gadis bernama Aruna. Seperti ada yang mencegahku untuk lebih mendekat. Aruna berhasil membangun kembali reruntuhan jiwaku yang sudah lama rubuh ketika kamu meninggalkanku. Dan caraku untuk melepasmu adalah mencari penggantimu.

Aku memutuskan untuk menuliskan Aruna dalam aksara-aksara. Bukankah mencintai itu bisa bermula dari sesuatu yang sederhana, tanpa harus menjadikannya luar biasa dahulu?

Itulah yang selalu kupatri dalam pikiranku sejak pertemuan pertama dengan Aruna. Senyumnya, dan keindahan-keindahan lain yang kulihat dari dirinya. Mungkin, akan terdengar klise jika aku menyebutnya sebagai jatuh cinta pada pandangan kesekian kali. Sesuatu yang sederhana akan menjadi kuat jika terus dilakukan. Serupa diriku, yang kini selalu mengunjungi taman itu hanya untuk mencuri tatap pada sosok Aruna.

Berbicara manis jelas bukan keahlianku, tapi aku punya aksara untuk mewakili apa-apa yang terkunci dari balik lidahku. Lari sore kini menjadi kegiatan rutinku. Berlari di sepanjang taman tidak hanya membuatku tenang, namun juga ada inspirasi-inspirasi yang muncul seketika. Apalagi ketika mencuri tatap Aruna.

Aku dengan menulisnya tentangnya, aku bisa mengarsipkan tiap perasaan ini.

Rindu yang sudah tertanam beberapa hari ini terus berkembang sampai pada tingkat sesak yang takterkira, saat aku ingin sekali duduk di sampingnya, berbicara dengannya tentang apa saja, namun aku hanya kelu.

Dan yang kulihat kini hanyalah kekosongan: Aruna duduk dengan seseorang lain, tampak dia begitu menikmati perbincangan itu, terbukti dengan senyumnya yang kuingini itu. Lelaki yang mengalungi kamera.

  • view 46