Bab 2

Muhammad Ariqy Raihan
Karya Muhammad Ariqy Raihan Kategori Project
dipublikasikan 16 Desember 2017
Karena Jatuh Cinta adalah Patah Hati yang Termaafkan

Karena Jatuh Cinta adalah Patah Hati yang Termaafkan


Cerita bersambung ini merupakan kolaborasi saya dengan Doddy Rakhmat. Berkisah tentang dua orang lelaki yang tidak pernah saling mengenal namun memiliki kehilangan yang sama; di suatu waktu mencintai perempuan yang sama. Dan keduanya sama-sama tidak ingin kehilangan lagi.

Kategori Cerita Pendek

1.2 K Hak Cipta Terlindungi
Bab 2

tokoh Andra ditulis oleh Ariqy Raihan

Andra

 

Hujan terus menderas sepagian ini. Mungkin ini salahku yang subuh tadi berdoa kuat-kuat agar hujan segera turun dengan abadi. Ada sebuah rasa yang dulu pernah bersemayam dan ingin kumakamkan di jurang kenangan dalam-dalam.

Kepergianmu resmi menjadi lubang dalam hidupku. Atas langit menjadi perengkuh jiwamu.

Tentangmu selalu mengalir dalam pikiranku dan tak kandas-kandas. Saat lusa lalu aku berkunjung ke makammu, sesak itu selalu meranggas dada hingga kini. Rasanya takcukup tulisan demi tulisan yang kutuangkan dalam sebuah buku bernama Elfira. Kusematkan namamu sebagai pengingat perjalanan kita. Dan itu kini serasa membunuhku.

Aku tidak bisa terus seperti ini. Novel yang kutulis tentangmu itu sudah kubakar bersamaan dengan semua benda yang mengangkut memori dirimu. Tanpamu, aku resmi kembali menjadi separuh.

Maka keputusanku sudah bulat. Aku harus pergi dari kota ini. Kota yang selalu menangis. Mencari peraduan baru untuk memulai hidup tanpamu.

//

Pukul delapan pagi, jam beker di meja samping kasur melantang. Sementara aku sedari tadi sudah berkutat dengan aktivitas pagi: sarapan dengan selapis roti dengan selai kacang pemberian tetangga, lalu segelas air putih.

Hari ini aku memilih untuk menghabiskan hari di sebuah taman di pinggiran pusat kota. Takjauh dari keramaian jalan raya. Sebelum pergi dari kota ini, aku ingin mengenang tempat itu untuk terakhir kalinya. Sebuah lapangan dengan rerumputan hujan dan beberapa pohon pinus yang hadir sebagai hiasan taman itu. Taman itu adalah tempat kita pertama bertemu.

Aku menatap bangku cokelat kayu di tengah taman. Langit sedang menangis. Hujan takubahnya teman bagiku. Saat pertama kali bertemu denganmu di taman ini, hujan turun dengan hebatnya. Kamu yang tadinya duduk di bangku itu, bergegas agar tidak kebasahan, berlari ke arah tempatku berteduh. Berbeda denganmu, aku sudah basah terlebih dahulu karena memilih berjalan dan membelah hujan.

“Maaf, harus berbagi tempat denganmu,” ucapmu, saat menutup payung dan kita berdua berteduh di sebuah tempat seukuran satu setengah badan orang dewasa, terlindungi oleh kanopi.

“Tak masalah,” jawabku. Dan kamu tersenyum. Sesaat, ada debar-debar berbeda bergemuruh pelan di dadaku. Takbiasanya ia seperti ini.

“Elfira,” ujarmu sembari menyodorkan tangan.

“Andra,”

Senyummu saat itu resmi menggetarkan perasaanku. Sejak saat itulah aku memutuskan untuk mulai mencintaimu. Hingga akhirnya Kehilangan menjemputmu untuk pergi. Setidaknya kenangan itu kuarsipkan dalam lembar-lembar novel. Sehingga aku bisa membenci waktu sesukaku saat kembali membaca aksara demi aksara itu.

Sampai-sampai aku akhirnya tersadar dan seseorang kini berdiri di samping bangku itu. Seorang wanita berambut cokelat lalu duduk di atas bangku itu sembari merentangkan payung. Seperti menunggu seseorang di sana. Siapa dia? Tubuhku mati rasa, beku menatap wanita itu.

Di antara derai air mata langit yang membasuh diriku, ada sebuah kehangatan yang menyelusup diam-diam dalam kerinduan. Dan aku baru saja menyadarinya.

  • view 110