Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Project 5 Desember 2017   22:36 WIB
25.0 Jakarta

Wajahmu sedikit berkilatan biru karena duduk di bangku persis di samping pendaran lampu taman. Kakiku menyapu jalan setapak Ogrod Saski menujumu dengan sedikit gontai, menyimpan memori di tempat ini empat tahun lalu. Aku duduk di sampingmu. Kamu duduk memandangi ranjang bebungaan di hadapan kita.

“Kau ingat terakhir kali kita di sini?” tanyaku padamu yang wajahnya sedikit memerah. Bahkan, di malam hari seperti ini, di antara penerangan yang tidak benar-benar pendar, aku bisa melihat wajahmu yang menyemu.

“Ah, biar aku saja yang teruskan,” aku berdeham, “kita di sini di sore hari, menjelang senja, dan aku menyatakan perasaan padamu. Kamu tidak bilang apa-apa, menangis pun tidak, lalu pergi begitu saja.”

“Kau mengharapkanku menangis?”

Aku tertawa pelan. “Bukankah perempuan selalu seperti itu ketika ada seseorang mencoba untuk menanyakan perasaannya?”

“Pengetahuanmu pendek sekali.” Hana menyanggah pernyataanku dan kemudian bersedekap. Ada segaris pertanyaan di bola matamu. Ranjang bebungaan ini masih elok dilihat meskipun malam sudah semakin pekat.

Arloji di tanganku sudah menunjukkan pukul setengah sebelas. Ilham sudah tidur. Kamu mengirimkan pesan WhatsApp padaku untuk bertemu di sini. Menyelesaikan semuanya.

“Sekarang, bagaimana? Kita sudah berada di ambang kepergian masing-masing. Kamu masih mau memperbaikinya atau ... ?”

“Tuhan ... aku tidak tahu, Ar. Semuanya menjadi sulit untukku.”

“Kamu mempersulitnya sendiri. Aku pun begitu. Kita nggak ada bedanya seperti sepasang manusia yang kehilangan arah. Tadinya kita di jalan yang sama lalu kemudian sudah tiada apa-apa lagi.”

Perkataan itu memantik sesuatu dari dalam dirimu. Aku tahu itu ketika wajahmu yang tiba-tiba menoleh sesaat aku mengatakan hal tersebut. Matamu mulai nanar dan menatapku seakan tiada lagi selain kiamat yang melanda hatimu ketika keputusan itu harus meluncur keluar dari bibirmu. Aku tahu karena aku juga merasakannya.

Detik ini. Malam ini. Mungkin esok dan bahkan ... selamanya.

“Jangan ragu. Coba kamu lihat Ogrod Saski ini sekali lagi,” aku merentangkan tanganku, tangan kananku menutupi wajahmu. Kamu protes dan aku tidak tertawa. Aku rindu gelak dan senyum semanis gula milikmu itu. Aku rindu menjalani hari-hari bersamamu lagi. “Warsawa selalu menjadi sesuatu yang mengaitkan kita, bukan?”

Kamu malu-malu mengakuinya. Meskipun itu tidak mengubah apa pun. “Keputusanku sudah bulat. Aku tidak bisa membuang wasiat ayah begitu saja.”

Lidah ini begitu kelu. Melepaskan tidak pernah mudah. Tidak ketika dulu di Yogyakarta dan sekarang di Warsawa. Meskipun patah itu menyakitkan, aku sadar bahwa persahabatan dengan Ilham di atas segalanya. Pun dengan mencintaimu. Aku harus memilih salah satu.

“Ya ... setelah berpikir lama, mungkin memang sudah saatnya aku mulai belajar menerima takdir ini.”

“Kalau memang seperti itu, ya sudah. Nggak sulit, kan?”

Dan kini aku merasakan dadaku seperti tersiram timah panas. Seperti terbakar api. Selaiknya hatiku ialah kayu yang dibakar oleh waktu di dalam perapian bernama kepergian. Kita punya masa lalu. Dan semua itu telah menjadi abu.

“Harusnya nggak gampang,” kataku menghela napas. “Empat tahun terakhir aku sudah mempersiapkan segalanya. Aku bahkan sudah membawa sebuah map cokelat berisi surat untukmu.”

Kamu sedikit terkejut. “Surat apa? Ibu memang pernah bilang kamu bawa sebuah map cokelat, cuman Ibu nggak kasih tahu isinya apa karena katanya kamu bawa pergi lagi.”

Meskipun ragu dan sedikit canggung, aku mencoba mengatakannya perlahan dengan segenap keberanian yang ada.

“Surat untuk meminta izin kamu dan ibumu.”

“Untuk?”

“Menikahimu.”

Kamu menunduk dan tersenyum. Lama sekali. Sampai aku bingung mesti bereaksi apa atas senyumanmu itu. Senyuman yang pernah kuinginkan diberi pigura dan dipajang di kamar.

“Kamu nggak mau menarik perkataanmu itu?”

Bola matamu sedikit menanar. Sementara dingin kian menyergap dan kamu menggosok-gosokkan kedua telapak tanganmu yang dilapisi sarung tangan itu, berusaha mencipta kehangatan. Aku merapatkan mantel cokelat tikus modok yang herannya kamu malah mempertanyakan mengapa mantel itu masih saja dipakai. Kujawab saja kalau hanya ini satu-satunya kenangan yang tersisa darimu.

Ogrod Saski begitu senyap. Tiada senja. Warsawa hanya membutuhkan cahaya secukupnya untuk membedakan siang dan bukan siang. Hanya malam yang begitu panjang dan dingin. Deru salju yang dibawa angin dan kesepian.

“Buat apa?” tanyaku, hanya pertanyaan ini yang terpikir di dalam kepala. “Memangnya, kamu nggak mau menyangkalnya?”

Untuk beberapa detik aku sadar reaksiku tadi sungguh tidak tepat. Kamu menjadi diam untuk beberapa menit, menatapi lututmu sendiri yang terlindung di balik celana jeans hitam. Beda denganmu, aku lebih menyukai jeans berwarna biru gelap, seperti yang kukenakan sekarang. Bibirmu menjadi kelu. Senyap seperti malam.

Kemudian aku sadar, bahwa kebohongan tidak akan menolong apa pun. Sedari tadi, hanya kebohongan yang meluncur dari bibirku. Memberitahumu bahwa aku baik-baik saja dengan keputusan ini. Tidak, tidak. Itu sungguh bodoh. Aku meraih jemarimu dan mengatakannya dengan jelas,

“Han, aku nggak akan menyangkal apa pun lagi. Biar kamu bisa move on karena itulah yang kamu inginkan. Buat apa kamu mempersulit perasaanmu sendiri?”

“Karena aku mencintaimu, Arifin!”

“Kalau begitu, tinggalkan semua keputusan dan keraguanmu dan hidup bersamaku sekarang! Aku nggak peduli bagaimana hubunganku dengan Ilham akan berlanjut, bagaimana reaksi Indah, yang penting aku bahagia sama kamu!”

Kamu tidak menjawab apa-apa. Melepaskan genggaman itu. Hanya suara sesenggukan yang terdengar. Aku tidak tahu, apa dalam diam kamu menangis? Malam ini tidak hujan. Tetapi, aku jelas-jelas melihatnya jatuh dari matamu.

“Maaf, aku sedikit berteriak,” kataku menyesal. Kamu mencengkeram lututmu erat-erat. Aku sungguh bodoh melepas egoku tanpa mengerti perasaanmu. Aku memang lelaki bodoh. Dan hal itu kian memperkuat alasan mengapa kamu memang sebaiknya bersama dengan Ilham.

“Empat tahun, Han. Aku cari kamu. Percaya kamu juga mencintaiku. Percaya kamu hanya pergi untuk menenangkan diri. Sampai akhirnya aku sadar kalau selama itu aku hanya membohongi diri sendiri.”

Kedua telapak tanganmu digenggam erat-erat, lalu kamu menekankannya berulang kali ke bibirmu. Sementara senyap semakin menguasai taman yang begitu sepi malam ini. Hanya suara gemercik air dari air mancur di utara yang menjadi bising di sini.

“Kamu memang seperti angin, ya.”

Kamu terdiam. Menggenggam kedua jemarimu kian erat lagi. Mungkin semua emosimu dialirkan ke dalam genggaman itu dan kemudian nanti ditumpahkan dengan meninju udara kosong.

“Kamu selalu yakin dengan langkahmu meskipun nggak pernah tahu tujuannya bakal berlabuh di mana. Warsawa, Yogyakarta, Jakarta, dan Warsawa lagi ... sadar, nggak, kalau kamu selalu kembali ke tempat yang sama? Apa yang kamu jalani itu seperti lingkaran? Dan ternyata, juga melibatkan aku di dalamnya.”

Kamu berdiri dan lalu memutar posisi menghadapku. “Ya ... aku nggak bisa menyangkalnya.”

“Prinsipku adalah percaya pada sesuatu yang logis. Segala sesuatunya harus punya alasan. Cuman sama kamu aku bisa melanggar semua itu. Memilih Warsawa sebagai destinasi. Kamu membawaku ke sini. Kamu juga yang ninggalin aku di sini.”

Tiada kata yang meluncur dari bibirmu. Matamu berlabuh ke selatan taman. Pada jalan setapak kosong yang senyap. Bukankah perasaanmu seperti itu juga, Hana? Aku hanya menduganya.

“Saat ini juga aku akan ninggalin apa pun demi kamu, Han.”

“Katakan itu pada Indah. Kamu jangan mainin perasaan perempuan, dong.” Kamu kembali duduk di sampingku. Dan menghindari tatapanku. Sementara sedari tadi aku sudah duduk menyamping menghadapmu.

“Aku nggak main-main sama kamu, Han.”

Aku mengeluarkan sebuah buku yang sampulnya sudah lecek, dengan judul “Winter in Warsawa” dari saku dalam mantel dan memberikannya kepadamu. Kamu memperhatikan buku itu dengan saksama, memeriksanya seakan ada sesuatu yang berbeda dengan buku itu.

“Kamu tahu kenapa dulu aku nulis buku itu? Dan, ya, untungnya, penerbit di sini mau menerimanya.”

“Karena kamu menyukai kakak kelas?”

Aku tertawa mendengarnya. Kamu masih saja ingat dan percaya dengan alasan bodoh yang kuungkapkan padamu dulu.

“Tentu saja bukan! Aku menuliskannya ... karena kamu. Dan aku ingin sekali lagi percaya segala isi buku ini bisa menjadi kenyataan.”

Kamu menarik napas dalam-dalam dan menghelanya pelan-pelan. Aku menggerak-gerakkan kakiku yang dilapisi sepatu bot hitam itu dengan pelan di atas jalan setapak. Menyapu salju. Aku bisa melihat gerimis masih mengalir pelan di pipimu. Sayangnya aku tidak membawa tisu sekarang.

“Aku nggak bisa, Ar. Kali ini aku harus benar-benar memastikan satu keputusan yang sangat penting untuk masa depanku. Kita ditakdirkan untuk saling mencintai, tetapi tidak untuk memiliki. Karena seperti itulah mungkin definisi lain dari cinta.”

Mungkin memang benar, kepergian selalu meninggalkan luka di dalam dada. Sebuah luka yang tiada penawarnya. Tidak seperti pada permukaan kulit yang bisa diobati oleh obat merah, terkadang luka yang singgah di dalam dada ini takpernah sembuh. Sebanyak apa pun manusia mencintai.

Perihal luka, kita sama. Perihal muara yang dituju, kamu memilih jalan yang lain. Mungkin aku harus mulai melepasmu, meskipun tidak mudah. Meskipun kata usai tidak pernah meluncur dari bibirku.

Aku menyusupkan tangan ke dalam saku mantel. Menengadahkan kepala, menatap langit malam yang kini mulai tiba karena rembulan seakan tahu bahwa hatiku tenggelam dalam kegelapan. Untuk kedua kalinya, aku harus menerima kepergian ini lagi.

“Jangan pernah menyesali masa silam, Arifin. Terkadang kamu harus meninggalkan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu. Aku pernah merasa begitu kehilangan tanpa ayah. Dan kini, aku harus melepasmu agar lubang itu bisa tertambal. Karena ayah, aku memilih Ilham.”

Aku memelukmu erat sekali. Mungkin ini yang terakhir kalinya. Entahlah, Ogrod Saski tidak pernah menjadi saksi yang baik untuk perasaan kita. Di sinilah permulaan pencarianmu, di sini pula aku mengakhirinya. Awal dan akhir yang sama. Kamu pergi dan kembali, tetapi tidak dengan perasaan yang sama.

Karya : Muhammad Ariqy Raihan