23.0

Muhammad Ariqy Raihan
Karya Muhammad Ariqy Raihan Kategori Project
dipublikasikan 05 Desember 2017
Warsawa

Warsawa


Setelah kepergianmu tanpa kata dan air mata empat tahun lalu di Jantung Warsawa, aku memutuskan untuk mengambi kesempatan sekali seumur hidup; menemukanmu. Jakarta dan Yogyakarta ialah tempat segala bermula dan Warsawa ialah jembatan di antara hati kita.

Kategori Fiksi Umum

1.8 K Hak Cipta Terlindungi
23.0

 Jakarta, 18 Desember 2017

 

 

Pagi tidak pernah datang dengan cara yang sama lagi. Tidak dengan perasaan yang sama. Dengan suka cita yang sama. Sebulan ini semua telah berubah, dan aku berusaha untuk membiasakan diri. Bangun, sarapan, berpergian ke mana saja, lalu sore hari pulang, dan malamnya tidur.

Ilham menepati janjinya dengan menerima pengunduran diriku selepas Warsawa. Bahkan aku tidak benar-benar tahu bagaimana menghadapi lelaki itu lagi. Sebulan ini kami belum bertemu. Hanya berhubungan melalui chatting dan sejauh ini baik-baik saja.

Efek paling besar tentu saja dengan Indah. Sebulan ini pula kami banyak menghabiskan waktu sendiri, dan sekalinya bertemu seperti orang yang baru saja berkenalan. Hari ini, aku tidak bisa membiarkan hubungan seperti ini berlanjut. Tidak baik.

Aku datang ke rumahnya menjanjikan kalau kita bakal memasak masakan Polandia hari ini sebagai bagian dari keinginan memperbaiki hubungan. Indah mengiyakan dengan senyum sedikit kaku dan bergegas mengajakku ke swalayan untuk membeli beberapa bahan masakan. Rasanya kehidupan seperti ini tidak benar-benar berasa apa-apa lagi untukku.

Indah yang begitu antusias dengan perasaan yang hadir di antara kami, Indah yang bahagia dengan apa pun yang terjadi meskipun sesekali aku tidak menggubrisnya kala ingatan tentangmu menjadi racun di dalam dadaku, semua itu menjadi beban di dalam pikiran.

Apa yang harus kulakukan?

Kembali.

Langkah itu yang menjadi pilihan kala harapan sudah lama mengepakkan sayapnya, menerabas dinding-dinding dingin awan yang menanti jatuh sebagai hujan, menembus ruang tanpa udara; harapan itu hidup sebagai ketiadaan sebagaimana udara di luar angkasa. Kamu sudah mengatakan tidak.

Setiap orang pernah terjatuh begitu dalam hingga ia takmampu melihat apa pun selain akhir. Ketika cahaya yang hidup di bola mata semakin malam, semakin pekat dan rembulan enggan kembali singgah di sana. Dan ketika masa itu datang, ia sadar bahwa kehidupan takubahnya sebagai permainan waktu: membakar kenangan jadi abu, menyapu setiap rasa bahagia dengan ragu, dan menderaskan hujan.

 “Kamu masih mau sepotong roti lagi?” tanya Indah ketika memasukkan roti ke dalam toaster. Aku menggeleng.

Indah mengangkat panci dari atas kompor dan kemudian menuangkan air panas dari dalamnya ke dalam tempat pencucian piring. Dia meniriskan spaghetti dan kemudian menuangkan bumbu pelengkapnya. Ketiadaan bahan yang lengkap membuat Indah mengubah rencana masakan Polandia menjadi masakan Italia.

“Arifin, kita harus bicarakan ini.” Gadis itu menangkap gurat wajahku yang tidak bercahaya sama sekali. Indah melepaskan celemeknya, lalu menarik kursi dan duduk di hadapanku.

“Sudah lama sekali kamu terus kayak gini. Aku merasa kamu tidak benar-benar bahagia.”

“Aku bahagia denganmu.” Aku mengenggam jemarinya yang sedikit berminyak itu, “tapi ada satu hal yang ingin kusampaikan padamu.”

“Apa itu?”

Lidah ini begitu ragu untuk mengatakannya. Butuh beberapa detik dan Indah sudah mulai mencurigaiku.

“Aku ingin minta maaf karena tidak mencintaimu seperti aku mencintai Hana. Caraku mempelakukan hubungan kita seakan-akan tidak pernah serius.”

“Ah, jadi tentang ini.” Hana melepas genggaman itu dan tertawa sinis. Kamu selalu menjadi topik pembicaraan yang tidak disukainya belakangan ini. Semakin aku mengingatmu, semakin terasa jauh aku darinya. “Kamu takperlu mengkhawatirkannya. Aku baik-baik saja.”

“Jangan bohong, aku tahu kamu terluka. Kamu hanya terlalu sayang untuk mengatakannya.”

Indah menatapku tepat di kedua bola mata. Aku bisa melihat kedua bola mata cokelatnya yang mulai sedikit berair. Oh, hujan akan turun sebentar lagi.

“Kamu masih mencintai Hana?”

“Indah ... apa yang Hana lakukan kepadaku selama ini ternyata sama dengan apa yang kulakukan kepadamu. Dan aku membagikan luka itu padamu. Aku membagikan penderitaan itu padamu. Kita bisa memperbaiki—“

“Kamu masih mencintai Hana?”

“Ya, aku masih mencintainya ....”

“... dan kamu.”

Indah menyentuh gelas kosong di atas meja. Memutar-mutarnya sebentar.

“Perasaan bukan sesuatu yang bisa dipermainkan, Ar. Aku tidak bisa menjalani hubungan jika kamu tidak benar-benar percaya bahwa masa lalu bisa dilupakan. Selama ini aku terus percaya kamu bisa dan karena itu aku terus menunggu. Masa, sih, kamu nggak bisa menyambut penantianku itu?”

Detik perlahan terasa menjauh. Tanganku sedikit bergemetar di atas meja. Dadaku begitu sesak. Seperti ada yang hendak memanjat keluar dari dalamnya. Panas. Sakit. Tetapi aku tahu, Indah pasti merasakan lebih sakit daripada ini.

“Aku pernah percaya bahwa hidup denganmu merupakan pertemuanku dengan kebahagiaan yang telah lama pergi. Sampai suatu waktu, pertemuan dengan Hana di Jakarta membuatnya rumit kembali.”

“Kamu harus membuat pilihan, Ar!”

Aku marah. Bukan karena setuju dengan Indah, tetapi sebaliknya. Aku membenci kebenaran dari perkataan Indah. “Kenapa dunia ini selalu membicarakan pilihan? Kenapa kita nggak bisa menerima keinginan hati begitu saja? Dengan begitu nggak ada yang merasa disakitin.”

Pilihan yang membuat kamu pergi. Pilihan yang membuat aku harus menghadapi perasaan tentang Nikola dan Indah. Pilihan yang membuat kakiku menjejak Warsawa dan memutuskan untuk mencintaimu. Mencintai Indah. Pilihan yang menenggelamkanku seperti sekaang ini.

Indah mencodongkan badannya ke arahku. “Salah satu di antara kita harus pergi. Aku tidak ingin menjalani hubungan kayak gini. Hatimu masih tertaut pada Hana.”

“Indah ... aku tidak bisa melakukan itu.”

“Kamu harus, Ar!”

Aku tidak pernah melihat Indah dengan emosi seperti ini. Suaranya yang tiba-tiba meledak, dengan wajah yang serupa menahan segala isi dadanya. Jauh di dalam hatinya aku yakin dia pasti menyalahkanku yang sama sekali tidak ingin menyelamatkan hubungan ini. Hari ini lebih dari ketika pertemuan dengan Hana di Jakarta dulu.

“Jangan bohongin diri kamu terus! Aku capek kita seperti jalan di tempat, tidak ada kemajuan apa-apa. Mungkin perasaanmu ada untukku. Tapi itu semua bagiku. Tidak cukup nyata untuk benar-benar mencintaiku. Jadi, buat apa mempertahankan? Jika akhirnya akan melepaskan? Lebih baik kita usaikan saja. Detik ini.”

Dan benar saja, gerimis turun di matanya. Aku bisa melihat bulir yang jatuh menyusuri pipi serupa sungai yang mengalir menuju lautan. Ya, lautan kehilangan. Ini berat untuk kami.

Entahlah, aku harus bicara apa lagi. Genggaman tanganku di jemari Indah terasa begitu dingin, tanpa kehidupan. Perempuan mana yang tabah ketika harus mengatakan “pergi” di hadapan orang yang begitu dia cintai. Tidak pernah mudah. Pun aku.

“Aku sungguh minta maaf, Ndah ....”

Tanganku meraih tisu di atas meja dan menyodorkannya pada Indah. Dia menerimanya lalu menyapu sisa-sisa luapan sungai di mata itu.

“Aku tidak marah sama kamu, Ari,” katanya sedikit sesenggukan. “Aku marah sama kebodohanmu yang terus menunggu sesuatu yang nggak bisa kamu gapai. Kita pernah bicara soal ini. Dan sekarang, kita berpisah jalan bukan karena kamu adalah seorang lelaki jahat. Tetapi, kamu adalah lelaki yang terlalu bersikeras dengan harapanmu sendiri. Meskipun harapan itu juga yang mungkin suatu hari nanti bakal membunuhmu.”

Aku hanya bisa diam saja mendengar itu. Bodoh. Ya, memang kebodohan itu yang membuatku kamu benar-benar pergi dan bersama Indah adalah jalan terbaik. Bodoh, karena sudah percaya itu. Bodoh, karena pada akhirnya aku harus membuat Indah menangis dan menyakiti perasaannya.

Bukankah, membicarakan patah hati memang sebuah percakapan tiada makna? Banyak orang percaya itu. Mengatakan bahwa membicarakan perasaan tidak lagi sebagai sebuah sampah yang tak diperlukan. Itu alasan mengapa aku bersama Indah. Dan sayangnya, alasan itu takcukup kuat karena cinta takpernah bisa direncanakan.

Cinta datang karena diri kitalah yang harus sama-sama menginginkannya. Meskipun butuh waktu. Butuh rindu.

“Suatu hari nanti, kamu akan mengerti, Indah, mengapa sampai kapan pun, aku tidak akan pernah bisa berhenti mencintai Hana.”

Entah apa yang akan terjadi dengan kami setelah ini. Yang pasti, aku harus memastikan bahwa jangan pernah mencintai seseorang lain ketika menyadari ada sepotong hati yang terluka karena kegagalan mencintai sebelumnya.

 

  • view 425

  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    2 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi untuk tulisan:

    “23.0” karya Muhammad Ariqy Raihan sepertinya penutup dari proyek ‘Warsawa’ yang ia baru saja unggah di Inspirasi.co. Kami hanya mencuplik salah satu bagiannya saja untuk mewakili betapa kami mengapresiasi proyek ini.

    Arifin, Hana, Ilham dan Indah merupakan empat tokoh yang menjadi pusat cerita bersambung ini. Kesemuanya adalah sahabat baik yang menemukan jalinan di antara masing-masing berubah haluan ketika cinta sudah memainkan peran di antaranya ke empatnya. Tokoh yang paling disorot adalah Arifin dan Hana. Dua sejoli yang sama-sama jatuh cinta tetapi menyadari persatuan dua anak manusia terkadang bisa pelik jika sudah menyangkut orang tua. Cerita sederhana yang mungkin inspirator lainnya pernah mengalami hal yang sama ini layak dijadikan teman senggang sambil merenungi sikap para tokohnya. Alur cerita yang mengalir, upaya Raihan mengetengahkan alur dengan setting tempat yang berbeda-beda dan ungkapan jujur masing-masing karakter akan banyak membuka mata hati kita soal cinta, yang meski sederhana mengucapkannya, tetapi tak mudah memaknainya. Keren, Raihan!

    • Lihat 1 Respon