22.0

Muhammad Ariqy Raihan
Karya Muhammad Ariqy Raihan Kategori Project
dipublikasikan 05 Desember 2017
Warsawa

Warsawa


Setelah kepergianmu tanpa kata dan air mata empat tahun lalu di Jantung Warsawa, aku memutuskan untuk mengambi kesempatan sekali seumur hidup; menemukanmu. Jakarta dan Yogyakarta ialah tempat segala bermula dan Warsawa ialah jembatan di antara hati kita.

Kategori Fiksi Umum

1.2 K Hak Cipta Terlindungi
22.0

Wajahmu sedikit berkilatan biru karena duduk di bangku persis di samping pendaran lampu taman. Kakiku menyapu jalan setapak Ogod Saski menujumu dengan sedikit gontai, menyimpan memori di tempat ini empat tahun lalu. Aku duduk di sampingmu. Kamu duduk memandangi ranjang bebungaan di hadapan.

“Kau ingat terakhir kali kita di sini?” tanyaku padamu yang wajahnya sedikit memerah. Bahkan, di malam hari seperti ini, di antara penerangan yang tidak benar-benar pendar, aku bisa melihat wajahmu yang menyemu.

“Ah, biar aku saja yang teruskan,” aku berdeham, “kita di sini di sore hari, menjelang senja, dan aku menyatakan perasaan padamu. Kamu tidak bilang apa-apa, menangis pun tidak, lalu pergi begitu saja.”

“Kau mengharapkanku menangis?”

Aku tertawa pelan. “Bukankah perempuan selalu seperti itu ketika ada seseorang mencoba untuk menanyakan perasaannya?”

“Pengetahuanmu pendek sekali.” Hana menyanggah pernyataanku dan kemudian bersidekap. Ada segaris pertanyaan di bola matamu. Ranjang bebungaan ini masih elok dilihat meskipun malam sudah semakin pekat.

Arloji di tanganku sudah menunjukkan pukul setengah sebelas. Ilham sudah tidur. Kamu mengirimkan pesan WhatsApp padaku untuk bertemu di sini. Menyelesaikan semuanya.

“Sekarang, bagaimana? Kita sudah berada di ambang kepergian masing-masing. Kamu masih mau memperbaikinya atau ... ?”

“Tuhan ... aku tidak tahu, Ar. Semuanya menjadi sulit untukku.”

“Kamu mempersulitnya sendiri. Aku pun begitu. Kita nggak ada bedanya seperti sepasang manusia yang kehilangan arah. Tadinya kita di jalan yang sama lalu kemudian sudah tiada apa-apa lagi.”

Perkataan itu memantik sesuatu dari dalam dirimu. Aku tahu itu ketika wajahmu yang tiba-tiba menoleh sesaat aku mengatakan hal tersebut. Matamu mulai nanar dan menatapku seakan tiada lagi selain kiamat yang melanda hatimu ketika keputusan itu harus meluncur keluar dari bibirmu. Aku tahu karena aku juga merasakannya.

Detik ini. Malam ini. Mungkin esok dan bahkan ... selamanya.

“Jangan ragu. Coba kamu lihat Ogod Saski ini sekali lagi,” aku merentangkan tanganku, tangan kananku menutupi wajahmu. Kamu protes dan aku tidak tertawa. Aku rindu gelak dan senyum semanis gula milikmu itu. Aku rindu menjalani hari-hari bersamamu lagi. “Warsawa selalu menjadi sesuatu yang mengaitkan kita, bukan?”

Kamu malu-malu mengakuinya. Meskipun itu tidak mengubah apa pun. “Keputusanku sudah bulat. Aku tidak bisa membuang wasiat ayah begitu saja.”

“Kalau memang seperti itu, ya sudah. Nggak sulit, kan?”

Dan kini aku merasakan dadaku seperti tersiram timah panas. Seperti terbakar api. Selaiknya hatiku ialah kayu yang dibakar oleh waktu di dalam perapian bernama kepergian. Kita punya masa lalu. Dan semua itu telah menjadi abu.

“Kamu nggak mau menyangkalnya?”

Sementara dingin kian menyergap dan kamu menggosok-gosokkan kedua telapak tanganmu yang dilapisi sarung tangan itu, aku merapatkan mantel cokelat tikus modok yang herannya kamu malah mempertanyakan mengapa mantel itu masih saja dipakai.

“Buat apa?”

Untuk beberapa detik aku sadar reaksiku tadi sungguh tidak tepat. Kamu menjadi diam untuk beberapa menit, menatapi lututmu sendiri yang terlindung di balik celana jeans hitam. Beda denganmu, aku lebih menyukai jeans berwarna hitam, seperti yang kukenakan sekarang. Bibirmu menjadi kelu. Senyap seperti malam.

“Han, aku nggak akan menyangkal apa pun lagi. Biar kamu bisa move-on karena itulah yang kamu inginkan. Buat apa kamu mempersulit perasaanmu sendiri?”

“Karena aku mencintaimu, Arifin!”

“Kalau begitu, tinggalkan semua keputusan dan keraguanmu dan hidup bersamaku sekarang! Aku nggak peduli bagaimana hubunganku dengan Ilham akan berlanjut, bagaimana reaksi Indah, yang penting aku bahagia sama kamu!”

Kamu tidak menjawab apa-apa. Hanya suara sesenggukan yang terdengar. Aku tidak tahu, apa dalam diam kamu menangis? Malam ini tidak hujan. Tetapi, aku jelas-jelas melihatnya jatuh di wajahmu.

“Maaf, aku sedikit berteriak,” kataku menyesal, kamu mencengkeram lututmu erat-erat. Aku sungguh bodoh melepas egoku tanpa mengerti perasaanmu. Aku memang lelaki bodoh. Dan hal itu kian memperkuat alasan mengapa kamu memang sebaiknya bersama dengan Ilham.

“Empat tahun, Han. Aku cari kamu. Percaya kamu juga mencintaiku. Percaya kamu hanya pergi untuk menenangkan diri. Sampai akhirnya aku sadar kalau selama itu aku hanya membohongi diri sendiri.”

Kedua telapak tanganmu digenggam erat-erat, lalu kamu menekankannya berulang kali ke bibirmu. Sementara senyap semakin menguasai taman yang begitu sepi malam ini. Hanya suara gemercik air dari air mancur di utara yang menjadi bising di sini.

“Kamu memang seperti angin, ya.”

Kamu terdiam. Menggenggam kedua jemarimu erat-erat.

“Kamu selalu yakin dengan langkahmu meskipun nggak pernah tujuannya bakal berlabuh di mana. Warsawa, Yogyakarta, Jakarta, dan Warsawa lagi ... sadar, nggak kalau kamu selalu kembali ke tempat yang sama? Apa yang kamu jalani itu seperti lingkaran? Dan ternyata, juga melibatkan aku di dalamnya.”

Kamu berdiri dan lalu memutar posisi menghadapku. “Ya ... aku nggak bisa menyangkalnya.”

“Prinsipku adalah percaya pada sesuatu yang logis. Segala sesuatunya harus punya alasan. Cuman sama kamu aku bisa melanggar semua itu. Memilih Warsawa sebagai destinasi. Kamu membawaku ke sini. Kamu juga yang ninggalin aku di sini.”

Tiada kata yang meluncur dari bibirmu. Matamu berlabuh di selatan taman. Pada jalan setapak kosong yang senyap. Bukankah perasaanmu seperti itu juga, Hana? Aku hanya menduganya.

“Saat ini juga aku akan ninggalin apa pun demi kamu, Han.”

 “Katakan itu pada Indah. Kamu jangan mainin perasaan perempuan, dong.” Kamu kembali duduk di sampingku. Dan menghindari tatapanku. Sementara sedari tadi aku sudah duduk menyamping menghadapmu.

“Aku nggak main-main sama kamu, Han.”

Aku mengeluarkan sebuah buku yang sampulnya sudah lecek, dengan judul “Winter in Warsawa.”, dari saku dalam mantel dan memberikannya kepadamu. Kamu memperhatikan buku itu dengan saksama, memeriksanya seakan ada sesuatu yang berbeda dengan buku itu.

“Kamu tahu kenapa aku bikin buku itu? Dan, ya, untungnya, penerbit di sini mau menerimanya.”

“Karena kamu menyukai kakak kelas?”

Aku tertawa mendengarnya. Kamu masih saja ingat dan percaya dengan alasan bodoh yang kuungkapkan padamu dulu.

“Tentu saja bukan! Aku menuliskannya ... karena kamu. Dan aku ingin sekali lagi percaya apa segala isi buku ini bisa menjadi kenyataan.”

Kamu menarik napas dalam-dalam dan menghelanya pelan-pelan. Aku menggerak-gerakkan kakiku dengan pelan di atas jalan setapak. Aku bisa melihat gerimis masih mengalir pelan di pipimu.

“Aku nggak bisa, Ar. Kali ini aku harus benar-benar memastikan satu keputusan ini yang sangat penting untuk masa depanku. Kita ditakdirkan untuk saling mencintai, tetapi tidak untuk memiliki. Karena seperti itulah mungkin definisi lain dari cinta.”

Mungkin memang benar, kepergian selalu meninggalkan luka di dalam dada. Sebuah luka yang tiada penawarnya. Tidak seperti pada permukaan kulit yang bisa diobati oleh obat merah, terkadang luka yang singgah di dalam dada ini takpernah sembuh. Sebanyak apa pun manusia mencintai.

Aku menyusupkan tangan ke dalam saku mantel. Menengadahkan kepala, menatap langit malam yang kini benderang karena rembulan seakan tahu bahwa hatiku tenggalam dalam kegelapan. Untuk kedua kalinya, aku harus menerima kepergian ini lagi.

“Jangan pernah menyesali masa silam, Arifin. Terkadang kamu harus meninggalkan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu. Aku pernah merasa begitu kehilangan tanpa ayah. Dan kini, aku harus melepasmu agar lubang itu bisa tertambal. Karena ayah, aku memilih Ilham.”

Aku memelukmu erat sekali. Mungkin ini yang terakhir kalinya. Entahlah, Ogod Saski tidak pernah menjadi saksi yang baik untuk perasaan kita. Di sinilah permulaan pencarianmu, di sini pula aku mengakhirinya. Awal dan akhir yang sama. Kamu pergi dan kembali, tetapi tidak dengan perasaan yang sama.

  • view 42