21.0

Muhammad Ariqy Raihan
Karya Muhammad Ariqy Raihan Kategori Project
dipublikasikan 05 Desember 2017
Warsawa

Warsawa


Setelah kepergianmu tanpa kata dan air mata empat tahun lalu di Jantung Warsawa, aku memutuskan untuk mengambi kesempatan sekali seumur hidup; menemukanmu. Jakarta dan Yogyakarta ialah tempat segala bermula dan Warsawa ialah jembatan di antara hati kita.

Kategori Fiksi Umum

1.8 K Hak Cipta Terlindungi
21.0

Warsawa. Udara dingin yang seketika memeluk tubuh. Menyeruakkan ingatan demi ingatan yang pernah kulalui di kota ini selama delapan tahun. Setelah meninggalkan bandara Frederic Chopin satu jam yang lalu, aku dan Ilham memutuskan untuk mampir di kafe Hogsmeade di Ochota.

Ilham sedikit kebingungan pada awalnya untuk mencapai pusat kota, karena dia memesan hotel tanpa mengetahui lokasinya terlebih dahulu. Pun dengan restoran di dekat situ yang katanya sudah direservasi oleh sang klien.

Kini aku berdiri di depan kafe Hogsmeade. Suasananya tidak jauh berbeda. Masih sama. Paling aku melihat ada bendera kecil Polandia dan Indonesia—seperti yang digunakan ketika parade—digantung di depan jendela dekat pintu. Ketika kami masuk, Nikola terkejut melihatku dan langsung ngeloyor memeluk.

“Hai!” serunya, “What’s Up? You didn’t tell me you’d come!”

“Well, I just arrived one hour ago. And I have to get him to Hogsmeade,” kataku menunjuk pada Ilham yang berdiri di sampingku. Dia tersenyum dan menyodorkan tangannya. “Dia harus tahu kafe luar biasa ini.”

“Ilham” kata lelaki itu. “Arifin talked about you few times. Nice to meet you.”

Aku dan Ilham memesan dua gelas wedang jahe yang ternyata masih disediakan di sini. Ilham termenung melihat menu itu dan rasanya nggak percaya bisa menemukan minuman itu di sini. Di luar jendela hujan mulai berjatuhan. Kami duduk di meja yang menghadap ke arah jalan raya.

“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Nikola bergabung di meja kami.

“Perjalanan bisnis. Aku kerja di tempat dia.” Aku menunjuk ke arah Ilham yang masih sibuk dengan tablet di tangannya. Mungkin memeriksa jadwal rapat nanti sore.

“Ya, Warsawa belum banyak berubah sejak kamu pergi. Paling cuman ada toko pretzel baru dekat supermarket langgananmu itu. Aku sungguh ingin pergi ke Indonesia, tahu, ketemu Hana!”

Aku tertawa lepas. Percakapan dengan Nikola memang benar-benar melahirkan kerinduan, terlepas seperti apa akhir yang terjadi di antara kami. Ilham mendongak dari layar tabletnya dan kemudian menatap kami berdua seakan-akan bertanya

“Kau kenal Hana?” tanya Ilham. Nikola mengangguk dan menyesap gelas wedang jahenya sendiri. “Oh, kalian teman satu kampus, ya, aku lupa.”

“Aku tidak pernah menceritakannya padamu, Il?”

“Ah,” katanya sedikit tergugup, “cuman menebak. Aku berpikir semua orang yang ke Warsawa pada akhirnya akan berada di tempat yang sama.”

Nikola menatapnya dengan sedikit aneh dan kemudian melanjutkan perbincangan dengan banyak membahas kehidupanku di Jakarta. Pekerjaan, perasaan, dan sebagainya. Aku katakan saja bahwa pekerjaan yang sekarang cukup bisa dinikmati, diiringin senyuman sinis Ilham (dia sepertinya mencuri dengar), dan soal perasaan yang, aku katakan bahwa Indah adalah kekasihku dan Nikola tidak mempercayainya.

Dua jam di sana ditemani Nikola dan hujan lebat benar-benar mengembalikan kota ini ke sudut memoriku. Jalur bus 175 yang sama dengan ketika kali pertama menginjakkan kaki di sini, lalu perjalanan menuju Ochota, kafe Hogsmeade, jantung Warsawa (aku melihatnya melalui perjalanan bus tadi), hingga jejalanan yang pernah kulalui selama ini.

Semua itu menempatkanku pada rindu yang kian menderas pada kota yang taklama lagi akan memasuki musim dingin.

***

“Berapa lama lagi klienmu sampai?”

Aku berulang kali memeriksa arloji, jadwal pertemuan sudah terlambat hampir satu jam. Menunggu memang selalu menjadi pekerjaan yang menyebalkan, dan sejujurnya aku tidak akan mempermasalahkannya kalau bukan seorang pebisnis. Mereka tidak pernah terlambat. Ilham tampak tegang sekali, wajahnya menjadi serius, dan terus mencuri pandang ke luar restoran. Pramusaji sudah menuangkan wine ke dua gelas dan air mineral ke gelas ketiga—milikku.

“Sebentar lagi,” katanya, memeriksa ponsel dan kemudian melabuhkan pandangan ke luar jendela lagi. Pramusaji yang tadi menawari menu dan Ilham menampiknya dengan mengatakan tolong kembali lagi setelah rekannya datang nanti. Pramusaji berambut perak itu tersenyum dan pergi.

“Aku tidak percaya seorang pebisnis seperti klienmu itu bisa terlambat. Biasanya penduduk Polandia sangat menghargai waktu, seperti Jepang dan Singapura.”

Ilham hanya mengedikkan bahu. Aku mengeluarkan ponsel dan membuka aplikasi-aplikasi sosial media hanya untuk berselancar menghilangkan kekesalan karena harus menunggu lama seperti ini. Instagram dan Twitter menjadi tempat yang terbaik untuk menuangkan isi pikiran dan perasaan.

Aku hanya melakukannya sesekali, karena untuk urusan kegundahan hati, menulis di notebook selalu menyembuhkan. Dulu sekali, ketika Warsawa terlalu dingin di bulan Desember dan tidak pernah benar-benar hangat di musim panas ataupun gugur, aku kerap menghabiskan waktu luang dengan menulis; tentangmu, tentang segalanya; dan sebuah penerbit kecil tertarik menerbitkannya. Dan di situlah aku sadar, menulis adalah cara mengarsipkan kenangan yang paling hebat.

Restoran ini memang kelas satu dan bila bukan karena Ilham, aku tidak akan pernah berada di sini. Bergaya eropa klasik dan meja-meja berlapis kain beludru putih dan kursi-kursi berukir. Biasanya hanya klien besar atau tamu spesial yang akan membuat janji di tempat seperti ini. Mungkinkah?

“Hei, Arifin, perkenalkan, ini dia sudah datang orangnya,” panggil Ilham ke arahku yang masih asyik dengan ponsel.

Aku menoleh, hendak berdiri, sebelum ... seperti pisau menghunjam di dadaku bertubi-tubi, menancap begitu dalam, sampai rasanya kata “sakit” itu tidak pernah tercipta.

“Hana?”

Ilham tersenyum pahit sekali, seperti kopi hitam yang tak diseduh dengan baik. Kamu berdiri menatapku dengan pandangan yang sungguh tidak mengenakkan sekali. Seperti diam-diam kamu menyarankanku untuk menerima situasi ini.

Tidak. Ini sungguh aneh. Ilham dan kamu? Serius?

“Bagaimana kalau kita duduk? Aneh juga kalau berdiri terus,” kata Ilham kepadaku dan kamu, lalu dia memanggil pramusaji untuk membawakan menu.

Lima menit memilih menu terasa begitu lama. Senyap. Kamu tidak mau menatapku selama lima menit itu. Pun Ilham. Kecanggungan ini begitu kuat. Aku menggigiti kuku, tanganku sedikit bergemetar. Sediki emosi mulai membakar dada, dan aku terus menahannya. Pramusaji tadi memperhatikan kami dengan heran, mulai dari mencatat menu sampai akhirnya pergi membawa pesanan itu. Keheningan itu akhirnya dipecahkan oleh Ilham.

Api sepertinya mulai membakar dadaku. Terasa panas di sini. Dulu aku pernah menganggap bahwa apa yang terjadi di antara kita hanya sekadar jeda waktu untuk memikirkan masa depan: apakah benar kita ditakdirkan bersama?

“Ari, aku sungguh minta maaf harus berbohong padamu. Tetapi, pertemuan ini harus dilakukan dengan cara seperti ini supaya kau mau ikut.”

Ilham berbicara dengan sedikit ragu. Mungkin dari dasar hatinya dia tahu bahwa pertemuan ini bukan sebuah kebaikan—demi persahabatan kami, aku berani bertaruh Ilham pasti akan mencari jalan lain kecuali ini bila dia memang memilikinya.

“Kau seharusnya bilang langsung, Il,” tukasku menegakkan punggung. Hana datang dengan menggunakan dress gelap selutut, sementara aku dan Ilham mengenakan jas gelap dengan kemeja putih polos, seperti peserta seminar para CEO.  Sama denganku.

“Aku mau, Arifin ... tetapi aku nggak tahu bagaimana lagi,” ujar Ilham. “Aku pikir sebaiknya Hana yang menyelesaikannya ....”

Aku menatap matamu, menuntut jawaban dari semua ini. Kamu masih bungkam, belum mau menjelaskan apa-apa. Kamu masih mencintai segala kerahasiaanmu itu. Bukankah perempuan benci rahasia dari lelaki yang dicintainya? Oh, mungkin karena kamu tidak pernah mencintaiku. Atau mungkin kamu yang malah membenci harus mengatakan yang sebenarnya? Kepalaku menceracau sendiri.

“Ini bukan bercanda, kan? Maksudku kamu dan Il—“

Kamu tersenyum pahit sekali. “Nggak, Ar. Kamu nggak sedang berhalusinasi.”

Kamu mengatakannya dengan tegas dan cepat—masih menghindari mataku.

“Jadi, ini lelaki yang kamu maksud, Han?”

Ada jeda sejenak. “Aku takingin mengatakannya ketika dulu karena pasti nantinya akan seperti ini,” kata Hana. “Tetapi, beberapa bulan setelah pertemuan itu aku sadar kalau kita nggak bisa saling menjalani hidup masing-masing dengan terus menyimpan rahasia.”

“Ya, simpan saja rahasiamu,” kataku ketus. Ilham sedari tadi memilih tidak bicara apa-apa, seperti perkataannya: “Biar aku dan Hana saja yang menyelesaikan.”. Dia menatapku dan Hana bergantian. “Aku tidak percaya ini. Warsawa ... Warsawa ... semua ini ternyata tentang Warsawa.”

Tamu restoran bertambah lagi. Pramusaji mulai sibuk. Menyambut dan mengantarkan mereka ke meja yang masih kosong. Namun anehnya, aku tidak bisa mendengar suara apa pun, selain dari amarahku sendiri di dalam hati. Api itu kian memanas, membakar semua kelogisan yang ada.

Aku telah menunggumu selama sebelas tahun, melepasmu dengan terpaksa karena itu satu-satunya yang kamu inginkan. Tetapi, menyadari bahwa ini semua ternyata sebuah lingkaran kecil yang terus berputar di antara aku, kamu, dan Ilham, ada perasaan yang berbeda. Tidak seharusnya seperti ini.

“Terkadang kita nggak bisa dapatkan semua yang kita mau.”

Kamu mencoba untuk membuka pembicaraan lagi. Pramusaji tadi menghidangkan pesanan tadi ke atas meja. Ilham berpura-pura tersenyum kepada lelaki itu dan mengucapkan “terima kasih” dalam bahasa Polandia dengan sedikit terbata.

“Oh, tentu. Walaupun kita harus berbohong untuk itu,” tukasku.

“Hei, Ari. Hentikan.” Ilham menegakkan duduknya, menggenggam jemarimu, dan kini menatap di kedua bola mataku. Dari gestur tubuhnya, aku bisa membaca bahwa dia tidak nyaman dengan semua ini.

“Aku tidak tahu kalau kau punya sejarah dengan Hana. Sampai aku mulai curiga sesuatu tentang Warsawa, urusanmu yang tidak pernah selesai itu, dan akhirnya Hana memberitahuku sesuatu tentang kalian berdua.”

“Apa yang dia ceritakan?”

“Tentang hubungan kalian di masa lalu.”

“Itu saja?”

“Itu saja. Aku minta Hana ke sini dan mengatur pertemuan ini untuk memperjelas semuanya, Ri.”

“Ini semua sudah jelas!” kataku tanpa sengaja meninggikan nada suara. Beberapa pengunjung lain dan pramusaji melihat ke arah meja kami. Ilham memberi tanda padaku untuk menurunkan nada suara.

“Melihat kalian bersama di sini sudah cukup. Kalian takperlu menjelaskan apa pun.”

Ilham sedikit emosi namun bisa menekan nada suaranya. “Lantas kau mau menelan kenyataan bahwa aku bukan lelaki yang baik karena menyerangmu dari belakang? Kau bukan anak-anak, Ar. Kita sudah ngerasain susah-senang bareng dari kecil. Kau tahu aku tidak akan pernah menyakitimu.”

Aku tidak mau menanggapinya. Emosi masih menguasai. Ada keraguan dan penyesalan yang hidup di wajahmu. Tanpa menanyakannya aku tahu. Begitulah yang kurasakan saat dulu memutuskan untuk melepasmu dan membuka lembaran baru dengan Indah.

Perasaan memang rumit bukan? Bahkan sedari tadi aku lupa tentang Indah. Tentang seorang wanita yang menjadi hujan dari segala api yang pernah membakar perpustakaan kenangan kita. Namun, dengamu, aku seperti melupakan segalanya karena semesta ini isinya cuman kamu dan aku.

“Arifin ....”

Suaramu kini serupa nyanyian elegi yang mengalun di dalam kamarku tak henti-henti. Menggaungkan kesedihan-kesedihan. Cukup, aku tidak ingin berlama-lama di sini. 

“Aku mau cari udara segar dulu.”

Aku mengambil parka krem milikku yang tergantung di badan kursi dan kemudian pergi meninggalkan restoran. Entah ke mana kaki ini akan membawaku pergi, tetapi yang jelas aku butuh udara segar. Restoran itu seperti ruangan kedap udara; sesak.

Lelaki yang selama ini dianggap Hana lebih baik adalah Ilham! Sahabatku sendiri!

Aku mempercepat langkah, menyeberang jalan ke arah Central Wersalna dan kemudian berbelok ke kanan. Lalu, hati ini menyarankan untuk menyambangi sebuah taman yang tiba-tiba kenangannya menyeruak begitu saja; Ogod Saski. Di sanalah segalanya bermula. Di sanalah aku ingin menumpahkan emosi ini.

  • view 86