23.0 Langkah Menuju(mu)Ilham memutuskan pulang duluan ke Jakarta karena harus me

Muhammad Ariqy Raihan
Karya Muhammad Ariqy Raihan Kategori Project
dipublikasikan 05 Desember 2017
Warsawa

Warsawa


Setelah kepergianmu tanpa kata dan air mata empat tahun lalu di Jantung Warsawa, aku memutuskan untuk mengambi kesempatan sekali seumur hidup; menemukanmu. Jakarta dan Yogyakarta ialah tempat segala bermula dan Warsawa ialah jembatan di antara hati kita.

Kategori Fiksi Umum

3.4 K Hak Cipta Terlindungi
23.0 Langkah Menuju(mu)Ilham memutuskan pulang duluan ke Jakarta karena harus me

Ilham memutuskan pulang duluan ke Jakarta karena harus mengurusi kontrak dari klien baru di Jakarta. Aku meminta izin pada Ilham untuk pulang lebih lama dan dia mengiyakan dengan cepat. Kami tidak ingin menjadikan kisah percintaan ini menjadi perusak persahabatan. Meskipun, secara tidak langsung itu benar.

Aku menikmati secangkir teh hangat dari beranda hotel. Menatap jalan raya di hadapanku. Pada lalu-lalang manusia yang menyeberang jalan dan berjalan di trotoar dengan cepat. Tidak ada yang bertahan di udara dingin seperti ini. Meskipun masih pagi.

Tentu saja aku mengenakan sweter untuk melindungi tubuhku dari rasa dingin. Pagi memang belum dingin menusuk seperti malam. Dan teh hangat adalah penawar yang tepat. Bukan wine atau semacamnya.

Kejadian semalam, sebelum Ilham bersiap-siap pulang takbisa kulupakan. Setelah sekian lama, pertengkaran itu menjadi yang paling hebat kali pertama di antara kami.

 

 “Hei, kau tak seharusnya pergi begitu saja, Ar. Pembicaraan kita tadi belum selesai.”

“Sudah jelas semua, bukan?”

“Tidak bagiku melihatmu seperti ini. Kau jelas-jelas tidak menganggap ini selesai. Reaksimu mengatakan hal sebaliknya.”

“Anggap saja aku sudah menganggapnya selesai. Aku hanya butuh waktu untuk memprosesnya. Empat tahun aku masih percaya kalau kesempatanku masih ada. Empat tahun!”

“Apanya yang empat tahun?”

“Aku mencintainya, Ilham! Seluruh hidupku berlalu dengan membangun perasaan dengan hatinya dan kini aku harus melepasnya begitu saja. Sahabatku sendiri ....”

“Kau tidak pernah mengatakan apa-apa soal Hana!”

Kata Ilham lagi, “Mengapa kau tidak mengatakannya dari awal? Kau bahkan tidak pernah menceritakan apa pun soal Hana. Bahkan ketika semasa SMA pun. Tak satu pun. Bagaimana aku tahu?!”

Di titik itu aku terdiam. Ilham sungguh benar. Aku tidak pernah menceritakan apa pun padanya.

“Ayolah, sungguh, aku tidak pernah tahu kalau selama ini kau mencintainya.”

Aku masih diam dan menyadari kebodohan itu. Betapa emosi mampu meracuni pikiran dengan cepat.

“Hana tidak pernah mengatakan bahwa dia menjalin hubungan sebelum ini. Aku tidak pernah menyangka bahwa gadis yang dimaksud ayah selama ini adalah dia. Teman SMA kita.”

“Ya, semua orang senang berbohong,” kataku berbisik.

“Wasiat ayah akan tetap dilakukan. Aku hanya ingin situasi ini menjadi jelas karena Hana juga belakangan mendadak berubah, seperti ragu. Dan aku tidak ingin dia jadi ragu. Arifin, kamu harus menerima kenyataan ini. Aku dan Hana tidak bisa mengkhianati wasiat itu.”

 

Mungkin suatu hari nanti, aku ingin menjadi percaya bahwa apa yang kita jalani saat ini ialah nyata. Tapi sayangnya, semua itu menguap menjadi kepulan-kepulan kecewa dari sesapan teh pagi ini. Pertengkaran semalam membuatku berpikir lebih jauh: haruskah mengorbankan perasaan demi sebuah cinta?

Apakah cinta sekejam itu?

Setahuku cinta adalah sebuah perasaan yang mendekap tubuh seseorang dengan lembut dan melahirkan rindu. Rindu untuk bertemu. Rindu untuk berbicara.

Apakah rindu sekejam itu?

Tidak mengenal waktu dan tanggal, tidak mengenal sesiapa, ia hanya lahir untuk menghadirkan cinta di hati manusia. Aku tidak pernah menyangka bahwa Waktu begitu membenciku; mencuri langkahku menujumu, hanya untuk membuatku menyaksikanmu menjahit bahagia bersama seseorang lainnya. Seakan semua penantianku menguap menjadi kepulan penyesala n.

Dan orang itu sahabtku sendiri. Lucu, bukan?

Aku kembali masuk ke dalam, menutup pintu kaca menuju beranda, dan meletakkan cangkir teh di samping televisi. Tubuhku rebah ke atas kasur. Tanganku menjadi alas bagi kepala. Benar kata Ilham, kita bukan anak-anak lagi. Menyelesaikan segalanya harus dengan kepala dingin.

Dan urusan kita belum selesai. Mungkin, kamu sudah mengambil sebuah keputusan. Namun aku harus membuatnya jelas. Aku pun harus mengambil sebuah keputusan.

Mataku memejam sejenak. Membiarkan ingatan demi ingatan kemarin menyusup ke dalam ruang-ruang pikiran. Ingatan itu menyambung seperti tali yang mengikat dan memanjang. Ingatan itu meresap.

Aku membuka pejaman mata dan meraih ponsel di meja samping kasur.

Aku harus ketemu kamu.

 

 

  • view 162