Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Project 5 Desember 2017   22:33 WIB
21.0 Tempat Segalanya Bermula

Indah mendapatiku tertidur di atas sofa di tengah siang bolong. Dia mengeluh karena sulit kali membangunkan karena tidurku sudah seperti orang mati. Dia sempat panik. TV dibiarkan menyala. Aku bilang padanya sudah sedari malam. Meja di ruang tengah penuh oleh beberapa cangkir kopi dan beberapa lembar kertas berisi tulisan dan coretan.

“Kamu kedatangan tamu semalam?”

Aku menggeleng. Berusaha menghirup udara segar. Dadaku berat. Tubuhku berat. Menyerah pada sofa. Indah duduk di sudut sofa dekat kakiku. Dia melepas tas dari bahunya dan diletakkan di lantai. Gadis itu merapikan meja dan membawa cangkir gelas ke dapur. Mengumpulkan lembaran kertas itu dan meletakkannya di kolong meja.

“Ini sudah jam satu. Walaupun hari Sabtu, kamu nggak bisa seperti ini terus, Sayang. Sudah sebulan hidupmu kacau. Aku nggak bisa terus-terusan datang dan menemukanmu kayak gini.”

Dia memperhatikanku dari kepala ke kaki. Kekhawatirannya sudah cukup untukku. Salah satu hal yang kucintai dari Indah. Dia melepas ikat kepala dan menggerai rambut hitam pekatnya.

“Ilham marah?”

He disappointed of you.”

Aku menghela napas panjang. Tiga hari yang lalu, aku mengajukan surat pengunduran diri ke manajer HRD, Lina. Gadis berkacamata dan rambut seperti mi itu mengecek surat itu berulang kali dan berharap bukan namaku di sana. Dia tahu bagaimana pendapat Ilham terhadapku. Lina sempat mencoba meyakinkan, tetapi keputusanku sudah bulat. Aku tidak bisa terus bekerja sementara kepalaku tidak pernah memikirkan pekerjaan itu lagi.

Indah mengambil kembali kertas yang dirapikannya tadi. Dia membacanya satu per satu. Terdengar gumaman “hmm” dari mulutnya, dan dia hanya mengangguk saja.

“Tulisan barumu? Buat diterbitkan.”

Bibirku dikedutkan ke kiri dan kugelengkan kepala. Indah kembali melanjutkan baca. Seharusnya kertas itu ada sekitar 25 lembar. Sejak semalam aku berusaha tidak tidur demi mengikuti tuntutan kepala yang terus sakit.

Kutuangkan setiap sakit itu ke dalam kata-kata. Dan empat cangkir kopi ternyata malah membuatku tumbang selepas salat Subuh. Aku berangsur bangkit dan kemudian mengambil posisi duduk. Menangkupkan tangan ke wajah. Memijitnya sebentar untuk menyegarkan mata.

“Tulisan ini ... bukan tentang kita, kan?”

“Maksudmu?” tanyaku belum segar betul.

“Pertemuan di makam. Pembuka tulisan ini. Kamu membicarakan tentang seorang yang membuatmu beku. Mimpi di malam hari, kamu membicarakan seseorang yang menghantuimu. Bahagia, kamu membicarakan dua orang. Satu di dalam hidupmu, satu di masa lalumu.”

“Itu ....”

“Tentang Hana, kan?”

Dugh. Seperti sebuah godam menghantam dadaku. Aku menoleh ke arah Indah, pada otot-otot wajahnya yang mulai menengang. Kupikir dia hendak marah. Tetapi dia hanya diam. Dan ketika seorang perempuan diam, tandanya dia tidak baik-baik saja.

“Ini bukan seperti yang kamu pikirkan, Sayang. Aku sudah berjanji padamu dan taksekali pun pernah melanggarnya, kan?”

“Ya ....”

Kunaikkan kakiku ke atas sofa, bersila, dan menghadap ke Indah. Kugenggam jemarinya. “Aku nggak akan bohong padamu bahwa pertemuan dengan Hana sudah mengacaukan pikiranku. Hubungan kita. Sungguh, aku minta maaf untuk itu.”

“Tetapi kamu tahu bahwa ketika aku menulis, selalu bercerita tentang orang yang menyiksa kepalaku. Dan kamu selalu tahu siapa orang tahu. Nggak ada cara lain untuk melupakan selain menuliskannya.”

“Kamu sendiri yang bilang dulu kalau Hana dan tulisan adalah satu bagian! Jangan bodohi aku, Ar. Kamu nggak melupakan. Kamu sedang mengingat. Itu nggak baik buat kita, Ar. KITA!”

Entah bagaimana emosimu memuncak begitu saja. Seperti bom waktu. Bisa meledak kapan saja. Kamu menyapu bulir air mata dari celung matamu. Aku menawari tisu dari atas meja. Kamu menerimanya. Sementara TV terus menyala, memuntahkan kebisingan ke telinga kita.

“Sebegitu fananya, kah, empat bulan ini untukmu? Apa semua ini tampak tidak nyata untukmu? Seperti waktu?”

“Hei, dengarkan,” kataku langsung memeluknya. Kamu membeku. Pelukan ini terasa dingin sekali. Bisa kurasakan air matanya yang jatuh di tengkukku. “Kita akan baik-baik saja. Beri aku waktu, oke?”

Aku melepas pelukan itu dan menegarkan Indah. Dia menahan sesenggukannya dan mencoba menguatkan dirinya. Terlihat jelas dari wajahnya yang muncul secercah cahaya dan senyuman semanis gula. Entah nyata atau pura-pura.

“You’ve gotta decide one, Hon. We can’t keep going like this way.”

“Aku tidak bisa mendefinisikan perasaanku saat ini. Masalah paling besar.”

“Jangan gantung perasaan seseorang. Jangan pernah menyeriusi seseorang kalau kamu tidak bisa benar-benar serius.”

Perkataan Indah begitu menohok. Aku mengambil tisu dan menyapu gerimis di matanya itu. Aku sedang tidak ingin melihat hujan hari ini. Indah diam saja.

“Beri aku waktu oke?”

Indah hanya tersenyum saja. Dia melihat kembali kertas berisi tulisan terbaruku tadi lalu menarik napas panjang.

“Mungkin kamu butuh liburan, Ar.”

“Sure. So, what is our next destination, Hon?”

Kamu menimbang sebentar. “Paris?”

Aku tersenyum lebar. Indah mengikuti, tetapi dengan senyuman yang seolah ingin menggodaku. “Baiklah. Kalau gitu aku bersih-bersih dulu terus kita berangkat ke bandara ... sepuluh tahun lagi!”

Kamu tertawa dan melemparkan bantal sofa ke arahku. Bahagia itu sungguh sederhana. Seperti momen ini. Seperti ... tunggu, benarkah sederhana? Dan ternyata pikiranku kembali kacau.

***

Aku sedang mengotak-atik tulisan di lembar kertasku ketika seseorang mengetuk pintu depan. Jam dinding menunjukkan pukul sembilan. Siapa yang bertamu di jam segini? Sementara suasana di sekitar sini sudah mulai sepi.

Aku berjalan dengan hati-hati ke arah pintu, membukanya, dan ... ternyata Ilham.

“Kau ngapain, Arifin? Mau pukul maling?” katanya melihat posisiku yang seperti hendak menghajar seseorang dan kemudian ngeloyor masuk tanpa menungguku mempersilakan masuk. Dia berjalan ke ruang tengah dan duduk di atas sofa. “Sudah lama sekali nggak ke sini. Sejak lulus SMA. Nggak banyak berubah, ya?”

Aku tertawa dan berjalan ke arah dapur.

“Nggak semua harus berubah, Il. Kau mau minum apa? Air putih atau teh?”

“Air putih,” katanya singkat.

Aku kembali membawakan segelas air putih dan meletakkannya di atas meja. Aku duduk di kursi kayu di seberang sofa dan menatap wajah lelaki itu yang tampak tidak begitu ceria.

“Ada apa malam-malam begini, Il? Hei, jika ini soal surat pengunduran itu, aku sungguh mint—“

“Bisa nggak kauundur rencanamu itu untuk beberapa hari lagi?”

Aku terkejut mendengar pertanyaan Ilham. Lelaki itu meneguk air putih yang kusediakan. Kupikir dia akan benar-benar marah ataupun kesal. “Berapa lama?”

“Satu minggu.”

“Baiklah,” kataku cepat, “ada apa, sih? Aku yakin kau menyembunyikan sesuatu.”

Tidak butuh waktu lama untuk mempertimbangkan karena itu hanya seminggu. Lagi pula Ilham tidak akan bernostalgia kemari kalau tidak ada sesuatu yang penting.

“Nggak, Ar,” balasnya tersenyum. Sayangnya, aku tahu senyum itu menandakan tidak baik-baik saja. “Minggu depan, ada trip bisnis ke Warsawa, ketemu klien. Aku butuh kamu di sana untuk ikut rapat denganku. Aku nggak paham budaya sana.”

“Oh,” ujarku singkat.  “Nggak ada orang lain lagi di kantor?”

“Aku hanya percaya dengan kau, Ri.”

Aku menimbangnya sebentar. “Baik. Satu minggu dan setelah itu aku ingin lepas dulu, ya, Il.”

“Aku harap kau bisa mengubah pikiranmu, Ar. Kau itu hebat. Apa pun masalahmu seharusnya nggak bikin kau menyerah, terutama soal pekerjaan. Kau bisa saja cerita padaku ....”

“Aku baik-baik saja, Il, untuk masalah ini. Hanya butuh waktu sendiri untuk memikirkan masalah tersebut sampai benar-benar menemukan jalan keluarnya.

Ilham beranjak dan menepuk-nepuk pundakku. Dia berlalu dan kemudian menghilang dari balik pintu. Warsawa. Tempat di masa segalanya bermula.

Karya : Muhammad Ariqy Raihan