20.0 Kekhawatiran Arifin

Muhammad Ariqy Raihan
Karya Muhammad Ariqy Raihan Kategori Project
dipublikasikan 05 Desember 2017
Warsawa

Warsawa


Setelah kepergianmu tanpa kata dan air mata empat tahun lalu di Jantung Warsawa, aku memutuskan untuk mengambi kesempatan sekali seumur hidup; menemukanmu. Jakarta dan Yogyakarta ialah tempat segala bermula dan Warsawa ialah jembatan di antara hati kita.

Kategori Fiksi Umum

3.8 K Hak Cipta Terlindungi
20.0 Kekhawatiran Arifin

Aku memandangi tempias yang menempel di jendela dengan gelisah. Beberapa malam ini tidurku tidak pernah tenang. Sedari tadi jemari ini tidak mau mengetik satu kata pun. Setelah sedikit pusing dengan laporan-laporan keuangan, menulis sesuatu yang fiksi sepertinya bisa mengobati. Namun, aku salah.

Setengah jam seperti itu, aku benar-benar harus beranjak dari ruangan ini.

“Indah, sepertinya aku ingin izin sebentar ke makam. Aku merasa ada sesuatu yang ingin diceritakan pada Ayah dan Ibu,” kataku menghampiri Hana yang duduk di seberang ruangan.

Mata cokelatnya berkilat-kilat, menyimpan pertanyaan. “Ada apa? Perlu diantar?” katanya cemas.

“Nggak usah. Tolong bilang ke Ilham, ya. Katanya setengah jam lagi baru balik.”

Indah mengiyakan dan takbisa melepaskan tatapan cemasnya padaku sampai aku benar-benar menghilang dari balik lift. Sesak yang mendera dada, ingatan yang meranggas kepala, semua itu berkelindan dan mencoba untuk menyergapku diam-diam.

Aku mengendarai mobil menuju Karet sedikit ngebut. Berpacu dengan jantungku yang mulai berdegup tak keruan. Dari Kemang ke Karet yang biasanya bisa mencapai dua jam perjalanan di siang hari begini, hanya ditempuh dengan 1 jam lima belas menit saja. Tuhan melengangkan jalan raya untukku.

Di depan pualam Ayah dan Ibu, aku menumpahkan semuanya. Perihal malam kemarin. Perihal pertemuan dengan Hana di sini seminggu yang lalu. Sementara awan menggulung keabuan dan kurasakan tetesan air sesekali jatuh menimpa kemeja kantor abu-abuku.

“Apa yang harus kulakukan, Yah, Bu?” tanyaku sembari membelai nisan Ayah dan Ibu. Sungguh tidak tahu lagi harus bercerita pada siapa. Meskipun ada Ilham, sebaiknya dia tak mengetahui masalah ini dulu. Di antara semua rahasia yang Ilham ketahui, hanya tentang perasaanku ke Hana saja yang tak dia ketahui.

Akan sangat aneh jika dia tahu karena kami satu sekolah. Aku dan Hana di kelas IPA dan Ilham di kelas IPS. Namun, selalu ada perasaan bersalah kepada setiap orang yang mencoba peduli padaku karena merahasiakan masalah perasaan ini.

“Ibu, Arifin harus membuat sebuah pilihan. Arifin sudah nggak bisa lagi mengkhianati perasaan perempuan. Arifin bahagia sama Indah. Tetapi dengan Hana, Arifin kenapa malah semakin bahagia lagi, ya? Jadi, bagaimana, Bu? Yah?”

Aku pun memejamkan mata. Tuhan selalu senang bermain-main dengan takdir. Menjemput Ayah dan Ibu ketika aku tak ada di sini. Membuatmu pergi. Mengembalikan Indah ke dalam perasaanku. Ini sudah cukup gila. Sesak kembali memenuhi dada. Rinai mulai banyak berjatuhan. Aku lupa membawa payung.

Tetapi, masa bodoh. Hujan kian menderas dan terus membasahi tubuhku. Biarkan saja hujan memadamkan api yang menyala di kepala dan dada ini. Aku ingin tenang. Aku ingin ....

“Hei, kamu kenapa basah-basahan begitu?”

Tiba-tiba tubuhku tidak lagi tersapu hujan. Seseorang duduk di sampingku, memayungi.

“Hana, apa yang kamu lakukan di sini?”

Aku menolehkan wajah dan melihat Hana duduk dengan kemeja flanel kota-kotak birunya. Sama seperti di Warsawa dulu.

“Mengunjungi makam Ayah. Kamu?”

Aku menunjuk ke arah pualam Ayah dan Ibu. Kamu mengeluarkan reaksi “oh” dan kemudian menatap pualam itu lamat-lamat. Alis matamu menekuk ketika membaca nama yang tertera di batu nisan.

“Aku nggak tahu kalau Paman dan Bibi dimakamkan di sini. Maaf, aku tidak pernah mengunjunginya ....”

“Nggak apa-apa, santai saja. Aku hanya ingin curhat dengan mereka saja. Nggak tahu mau ke mana lagi.”

“Apa yang terjadi?” kamu sekarang melabuhkan matamu di wajahku yang basah oleh hujan. Memandangi tiap lekuk kehilangan yang melekat di sana. Aku hanya bisa menggeleng tanpa kata. Sungguh lucu ketika takdir menempatkan kegilaan di kepala dan penyebabnya ada di sini bersamaku.

“Baik, aku tahu ....”

Aku mengepalkan kedua jemariku. Kehadiranmu yang tiba-tiba menjalarkan emosi ke seluruh otot dan sarafku. Kulihat kamu mencodongkan badan ke depan dan memangku siku di lututmu.

“Aku selalu ke sini setiap hari. Sama sepertimu, aku ingin curhat sama Ayah. Ibu selalu menasihatiku banyak hal, tetapi kamu tahulah, biasanya Ayah selalu punya jawaban yang berbeda.”

“Sejak kapan kamu di Jakarta?”

“Pas kita ketemu minggu lalu, Ari. Tujuanku ke sini memang untuk Ayah, bukan pekerjaan. Aku sedang berusaha untuk menguatkan hatiku ....”

Kamu tiba-tiba terdiam. Hanya suara tarikan napasmu yang dalam menggema di telinga. Sejenak aku menyadari maksud dari pembicaraanmu. Tetapi, semua ini sudah terlambat. Kita sudah memilih jalan masing-masing.

“Kita nggak bisa terus melakukan ini, Han. Aku ... sudah belajar untuk melepaskanmu sejak Yogyakarta itu. Mencoba bahagia dengan orang lain. Tetapi, pertemuan kita kemarin di sini ... merusak segalanya. Aku nggak bisa terus bertemu denganmu.”

“Aku tidak tahu bahwa kita bakal terus ketemu, Ari. Tuhan sepertinya ingin kita begitu.”

“Tetapi, kita bisa memilih. Dan aku memilih untuk menjauh. Bisakah kamu juga melakukannya?”

Kamu terdiam sesaat. Sementara hujan kian menderas. Membasahi segara rasaku yang mengering sedari pagi. Sudah beberapa hari sejak terakhir Indah membasahinya dengan ciuman bibir merahnya di bibirku. Sejak Indah membasuh hidupku dengan perasaanya.

“Ya, kita bisa melakukan itu. Aku harap kita tidak pernah bertemu lagi,” katamu dengan suara getir. Aku melihatmu sejenak. Pada gerimis yang juga jatuh di matamu. Sepertinya aku taklagi bisa membedakan, mana hujan, mana air mata.

“Sekarang, tolong biarkan aku sendiri di sini, Han. Thanks.”

Kamu pun beranjak dan meninggalkanku. Sejenak kamu menoleh ke belakang, menatapku, dan dengan pandangan nanar aku membuang wajah. Setelah itu, hanya suara deras hujan dan petrichor yang terasa olehku.

***

Terdengar suara ketukan di pintu ruanganku. Ilham berdiri dengan wajah cemas. Ah, pasti Indah melaporkan lebih dari sekadar izin padanya. Lelaki itu mendorong pintu kaca dan mengambil duduk di depanku.

“Ri, sebenarnya apa yang terjadi denganmu? Belakangan ini kau tampak kacau sekali. Ada yang bisa kubantu?”

“Nggak ada, Il. Aku oke-oke aja, kok,” kataku menepis udara. Ilham terlihat tidak begitu percaya. Dia menatapku dengan serius.

“Apa ada hubungannya dengan ... sesuatu di Warsawa? Yang kaubilang ketika pergi ke Yogya itu?”

“Nggak! Sama sekali nggak.” Aku berpura-pura tertawa, berusaha mengalihkan Ilham. Dia merapatkan kancing jas hitamnya. “Ini ... hal lain.”

“Indah?” tanyanya melihat ke seberang ruangan. “Lagi berantem sama dia?”

Aku terkesiap karena Ilham mulai menebak-nebak sesuatu. “Nggak, lah! Indah itu salah satu hal terbaik dalam hidupku.”

Ilham sedikit tertawa tanpa meninggalkan wajah cemasnya. “Aku dan tunanganku pun begitu. Kita sesekali bertengkar, tetapi, ya itu bagian dari mendewasakan hubungan, lah. Mungkin, barangkali kuajak kau makan malam bareng dia.”

“Wow,” kataku agak terkesima, “aku bakal datang, Il. Kapan?”

“Sesegeranya.”

Aku tersenyum. Ilham beranjak dari kursi dan kembali ke ruangannya. Setelah pintu kaca itu tertutup, mataku berlabuh di Indah yang melihat ke arah Ilham lalu padaku. Gurat wajahnya mempertanyakan, namun aku hanya mengedikkan bahu. Terkadang, ada satu-dua rahasia yang orang terdekat tidak ketahui. Bukan karena ingin menyembunyikan, hanya saja tidak tepat untuk menceritakannya. Seperti tentangmu pada Ilham.

Karena aku tahu, bagaimanapun juga, kamu adalah urusanku sendiri.

  • view 131