19.0 Misteri Seorang Perempuan

19.0 Misteri Seorang Perempuan

Muhammad Ariqy Raihan
Karya Muhammad Ariqy Raihan Kategori Project
dipublikasikan 05 Desember 2017
Warsawa

Warsawa


Setelah kepergianmu tanpa kata dan air mata empat tahun lalu di Jantung Warsawa, aku memutuskan untuk mengambi kesempatan sekali seumur hidup; menemukanmu. Jakarta dan Yogyakarta ialah tempat segala bermula dan Warsawa ialah jembatan di antara hati kita.

Kategori Fiksi Umum

4.5 K Hak Cipta Terlindungi
19.0 Misteri Seorang Perempuan

“Hoi!” seruku dari balik punggungmu. Kamu terperanjat dan menoleh ke belakang dengan tatapan sebal. Aku tergelak.

“Huh!” keluhmu, lalu kembali menoleh ke depan. “Nggak ada hal berfaedah lain yang bisa kamu lakukan selain bikin kaget?”

Hari ini cukup teduh, meskipun tidak sedang hujan. Cahaya matahari di bulan November merambati dinding-dinding tua di sekelilingku. Desau-desau angin meliuk di antara riuh rendah siang ini. Kesibukan orang di koridor di seberang kita tidak seperti di halaman fakultasku ini. Kita memang sepakat untuk nongkrong di tempat ini di hari Selasa.

Para mahasiswa lebih senang duduk-duduk santai menggelar tikar sembari berbincang atau merebahkan badan. Seperti yang kita lakukan sekarang dengan tikar cokelatmu. Rumputnya yang hijau, bersih, dan kering membuat halaman ini sangat nyaman untuk disinggahi.

Lokasi halaman ini berada di jantung gedung fakultas Ekonomi. Bangunan tua dengan gaya klasik Eropa tahun ’70s, dengan ukiran-ukiran yang sesungguhnya tak kumengerti maknanya. Setiap naik tangga aku selalu merasa seperti sedang berjalan menuju ruang kelas ramalan Profesor Trelawney di novel Harry Potter.

“Kelas Makroekonomi yang menyebalkan,” kataku mengeluarkan makanan ringan dan dua botol kecil mineral dari dalam tas. “Aku berharap bisa ber-apparate dari kelas itu ke Mal. Beli es krim.”

“Tinggal bolos. Gampang.”

“Itu, sih, kamu! Ngajakin nongkrong di jam kuliahmu begini.”

Dia mengedutkan bibir, semakin memasang wajah cemberut. Aku terkikik, berusaha sekeras mungkin supaya tidak terlihat sedang menertawai dia. Teman-teman dari kelas Makroekonomi melintas di koridor seberang kita. Ada Indah yang memeluk buku, Lily yang mengikuti di belakangnya sembari mengucapkan sesuatu—bibirnya bergerak, dan lainnya yang entah mau ke mana.

Di depan Indah ada Kryznek yang menyoraki kita. Suara paraunya begitu lantang. Aku mengacungkan jari tengah kepadanya. Anehnya, dia mengomel sendiri. Krzynek yang tidak mengetahui perihalmu mengira kita sedang pacaran. Nikola lalu melintas dan menoyor kepala plontos Krzynek. Dia protes. Nikola memelotot dan kemudian lelaki berwajah keras itu pergi. Gadis itu melambaikan tangan dari seberang.

“Temanmu itu sinting, ya?”

Aku mengedikkan bahu. Meneguk air mineral yang tadi kubawa. “Bisa jadi. Tetapi, dia, sih, orang yang sependapat denganku kalau memahami buku Chang tentang Matematika Ekonomi itu sama saja seperti tersesat di dalam labirin.”

Aku membagikan sebotol air mineral  lain padamu. “Ini minumlah dulu. Mumpung gratis.”

Kamu meneguknya dengan cepat, seperti lehermu kekeringan untuk seminggu. Sekelompok pemuda melintas di jalan setapak depan kita sembari membawa beberapa buku tebal di pelukannya. Lily duduk di samping kita, melirik ke arahmu dengan penasaran. Indah yang sedang bersamaya juga mengikuti, namun dia menatapku. Aku tersenyum saja. Dan dia membuang wajahnya seketika—mungkin malu.

“Bagaimana kabar kelasmu? Kenapa bolos?”

“Nggak, ye! Dosenku memang bilang dari minggu lalu dia nggak masuk. Makanya, aku ajak kamu ke sini semalam.”

“Ngajak itu pakai alasan, lah!” seruku. Tertawa.

“Lihatin laki-laki ganteng doang kok di sini. Asyik.”

Aku memasang badan di hadapannya. “Terima kasih.”

“Bukan! Percaya diri banget. Krzynek tadi, tuh. Ganteng,” ujarmu dengan nada suara yang dibuat-buat seolah ingin menggodaku.

“Laki-laki sinting itu? Aku lebih rela kamu memacari penjaga kantin daripada dia!”

Sekarang giliramu tertawa lepas. Wajahmu yang kuning langsat seakan memancarkan aura bahagia. Aku senang melihatnya. Setelah masa-masa ujian yang melelahkan, berpikir sesuatu yang positif memang bukanlah hal yang mudah.

Cericit burung gereja terdengar dari atas pohon. Kita memang mengambil posisi duduk di bawah lindungan pohon besar ini. Di sampingku, takbenar-benar di samping, Lily kembali menatap kita dengan rasa penasaran. Gadis berambut perak itu sepertinya berusaha mencuri dengar. Mata hijaunya berkilat-kilat. Mengawasi.

Satu jam kita menghabiskan waktu, membicarakan tentang patungan akuisisi satu dus indomi dari swalayan di Indonesia ke sini, tentang pertandingan Legia Warsawa di stadion yang sebenarnya bukan klub kesukaan kita, dan juga sedikit tentang masa depan.”

“Aku nggak tahu mau ke mana. Kota ini bikin aku senang. Kafe Hogsmeade, sungai Vistula, stadion bola, dan makan es krim bareng kamu!” katamu menggosok-gosokkan tangan.

“Kita bisa melakukannya setiap hari.”

“Bakalan keren banget!”

“Mungkin aku akan tinggal beberapa tahun dulu di sini, cari pengalaman kerja. Baru setelah itu pulang ke Indonesia.”

“Ya, aku juga punya rencana yang sama denganmu.”

Kamu melemparkan tubuhmu ke pelukan tikar. Memandangi biru langit dan riak-riak awan. Aku merasa alasanku untuk bertahan di kota ini semakin kuat. Aku ingin bersamamu. Sesederhana itu. Meskipun aku nggak tahu kapan harus menyatakan perasaan ini. Tetapi, sungguh. Apa yang kurasakan begitu hangat. Dalam.

“Hidup itu berat, tetapi kalau dibawa santai rasanya bakalan jadi ringan. Seperti burung di atas sana,” tunjukmu ke arah langit biru di atasku. “Bebas merentangkan sayap, berkelana ke mana pun ia mau.”

Takberapa lama kemudian, tampak Indah dan Lily beranjak dari duduknya dan menjejalkan buku ke dalam tas mereka. Lily menyapa kita dan pamit pergi. Sementara Indah berjalan dengan cepat. Berusaha menghindari mataku.

“Soal Indah, Han. Sekarang dia jadi suka menghindariku, deh. Padahal sekelas, loh.”

Kamu merogoh roti telur dari dalam tasmu dan merobeknya menjadi dua bagian. Satu dibagikan untukku. Mengawasi Indah dari kejauhan yang kemudian berbelok ke koridor lain.

“Kamu sudah selesaikan masalah kalian baik-baik, kan?”

“Sudah.”

Kamu merobek ujung kecil roti telur itu dengan geligi putihmu. “Beri dia waktu. Nanti akan baik lagi.”

Aku mengangguk saja. Sementara Krzynek kembali melintas di koridor yang sama di seberang sana dengan wajah sebal dan berjalan sedikit cepat. Dia menoleh ke arah halaman, menemukanku, dan kemudian meneriaki sesuatu dalam bahasa Polandia. Pemuda bengal itu memang aneh.

“Perempuan itu memang penuh misteri, ya. Terkadang kamu nggak bisa nebak mereka. Terkadang mereka menyimpan sesuatu dan justru ingin kamu menebaknya, walaupun nggak bilang.”

“Sungguh rumit.”

“Tetapi, itu cara mereka untuk mendapatkan perhatianmu. Seperti—“

Kamu tidak menyelesaikan kalimat itu. Aku mengernyitkan dahi tetapi kamu memilih bungkam. Benar, perempuan itu penuh misteri. Kita pun menghabiskan siang itu dengan menikmati roti telur. Meskipun senyum sudah terbit kembali di bibirmu, tetapi kesedihan itu belum sepenuhnya tersapu. Di matamu, lautan kehilangan itu masih bergelombang.

“Suatu hari nanti, kamu bisa memecahkan misteri itu. Cuman, kamu nggak akan tahu apakah jawabannya sesuai dengan harapanmu atau tidak.”

Kamu memejamkan mata dan kemudian tersenyum mengejek padaku.

 

 

 

| Warsawa, 2012 |

  • view 166