18.0

Muhammad Ariqy Raihan
Karya Muhammad Ariqy Raihan Kategori Project
dipublikasikan 05 Desember 2017
Warsawa

Warsawa


Setelah kepergianmu tanpa kata dan air mata empat tahun lalu di Jantung Warsawa, aku memutuskan untuk mengambi kesempatan sekali seumur hidup; menemukanmu. Jakarta dan Yogyakarta ialah tempat segala bermula dan Warsawa ialah jembatan di antara hati kita.

Kategori Fiksi Umum

478 Hak Cipta Terlindungi
18.0

Masa silam terus memantul-mantul di seantero ruang pikiranku. Menuntun setiap ingatan itu untuk mengusik kehidupan yang sekarang. Aku sudah berjanji pada Indah untuk bahagia bersamanya. Dia kemudian mengenalku sebagai manusia yang berbeda—menepati janji. Aku memandangi jendela di seberang kasurku. Pada halaman rumah yang gelap. Hanya cahaya rembulan yang sedikit memantul.

Tetapi, setelah semua yang kulalui selama ini, ada satu pelajaran yang bisa dipetik: takdir. Setelah dia membisikkan perasaanku untuk mulai menyamakan irama dengan milikmu, lalu memisahkan kita dengan tiba-tiba, hingga dia menjatuhkanku dalam dekapan perasaan dengan Indah.

Dan, sekarang, tiba-tiba, dia menarikku dari pelukan perasaan itu dan melemparkannya kembali ke pelukan yang pernah kurindukan: Hana. Selepas mengunjungi makam dan menemukanmu di sana, pikiranku berulang kali memanggil namamu. Aku berusaha menepisnya, namun suara itu tetap ada.

Ini gila! Aku duduk di bahu kasur, mencengkeram kepalaku sendiri. Jam di meja samping kasurku—dekat fotoku dan Indah— menunjukkan pukul tiga pagi. Aku membuncahkan isi kepalaku dengan suara yang lantang, yang memekakkan segala keheningan.

Indah mengetuk pintu kamarku tiga kali dengan cepat, membukanya tanpa menunggu balasan dariku, dan meraih tombol lampu kamar. Dia memakai piama cokelat dan menatapku dengan cemas. Indah kebetulan terpaksa menginap karena ada sebuah proyek khusus dari Ilham yang harus kami kerjakan di luar tugasku sebagai pengatur keuangan perusahaan.

“Ada apa?”

“Nggak ... aku baik-baik saja, kok ....”

“Kamu jauh dari kata baik-baik saja ... aku ada di sini untukmu, oke?” katamu duduk dengan bertopang pada lututmu. Kamu menggenggam kedua lututku, memijatnya sedikit. Kamu merapatkan bibir dan berusaha tersenyum. Aku tahu itu cara manusia bereaksi ketika mendengar permasalahan seseorang yang dipedulikannya.

“Sedari tadi aku terus memikirkan pertemuan dengan Hana kemarin itu. Aku tahu, maaf, hei, Sayang dengar dulu,” kataku berkilah, melihat wajah Indah yang berubah cemberut dan dia mengambil napas dalam. Lalu mengembuskannya perlahan dan duduk di sampingku. Aku sebenarnya tidak menginginkan dia ada di sini malam ini, tetapi entah kenapa semua ini terasa begitu aneh untukku.

“Aku capek mengatakan ini terus, Sayang. Tetapi, entahlah. Pikiranmu nggak mau pergi dari dia.”

Aku menatap Indah dengan dada yang sesak dan itu menyebabkan gurat wajahku yang menjadi tidak hanya nanar, tetapi juga serupa putus asa. “Pikiran itu terus terngiang di kepala. Seperti berusaha menyingkirkan kenangan kita. Tetapi, aku nggak bisa sekuat kamu untuk melawannya.”

“Pikirkan sesuatu yang jernih. Tentang kita?”

“Aku nggak bisa, Indah!”

Kamu terkesiap mendengar suaraku yang kembali meninggi.

“Kamu bisa, Sayang.”

“Aku harap begitu,” kataku kembali menekan kepalaku dengan tangan. “Aku harap ....”

“Tidur makanya. Jangan mikir macam-macam lagi,” kata Indah beranjak, mematikan lampu, dan kemudian menghilang dari balik pintu dan kembali ke kamar samping—dulu kamar Ayah dan Ibu.

Aku merebahkan badan di atas kasur. Memandangi langit-langit kamar yang gelap. Berharap ada pantulan lain di sana. Mungkin, pantulan jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku pada Tuhan yang masih berwujud ketiadaan.

Seperti apa bentuk bahagia itu? Mengapa sekarang aku merasa tidak bahagia lagi dengan Indah? Mengapa Hana harus berada di Jakarta? Mengapa aku terus bertanya?

Dan dalam beberapa kedipan mata berikutnya, aku benar-benar jatuh dalam mati sementara bernama tidur.

  • view 19