17.0 Hujan di Bulan November

Muhammad Ariqy Raihan
Karya Muhammad Ariqy Raihan Kategori Project
dipublikasikan 05 Desember 2017
Warsawa

Warsawa


Setelah kepergianmu tanpa kata dan air mata empat tahun lalu di Jantung Warsawa, aku memutuskan untuk mengambi kesempatan sekali seumur hidup; menemukanmu. Jakarta dan Yogyakarta ialah tempat segala bermula dan Warsawa ialah jembatan di antara hati kita.

Kategori Fiksi Umum

3.4 K Hak Cipta Terlindungi
17.0 Hujan di Bulan November

Aku selalu benci hujan di bulan November. Melihat rintik berjatuhan membuat sesak. Melabuhkan ingatan pada Ayah dan Ibu. Pada realita bahwa aku takbisa berada di samping mereka di saat-saat terakhir. Paman Ian meneleponku lewat Skype waktu itu.

Aku dan Indah berjalan gontai melalui jalan setapak setelah menaiki undak kecil anak tangga menuju jalan kecil yang lurus. Mataku tertuju pada sebuah kavling makam di sebelah kiriku, enam baris di depan kami. Indah merentangkan payung hitam besar. Seperti pakaian kami. Seperti hatiku. Makam yang dituju tidak jauh dari jalan kecil itu.

Di antara semua hal yang bisa meranggas mataku, hanya kepergian Ayah dan Ibu yang mampu meruntuhkan pertahanan celung mata ini. Aku mengambil sejumput tanah dari makam Ayah dan Ibu yang dijadikan satu kavling itu dan mengenggamnya erat-erat.

Indah meremas bahuku erat-erat. Berusaha menenangkan. Bukannya berdoa dengan panjang, aku malah membacanya sekenanya dan kemudian mengumpati takdir. Lima belas menit di sini terasa lama sekali. Seperti menahun.

“Kita semua harus belajar ikhlas, Ari. Suatu waktu nanti, bisa saja aku yang akan terbaring di sana. Atau kamu. Kita harus siap untuk itu.”

Segara rasa di mataku terus mengalir. Dan menderas. Rinduku takterbendung. Andai saja aku bisa pulang waktu itu. Tanganku basah. Pipiku basah. Indah ikut jongkok di sampingku dan menatap dengan sendu. Melihat barisan makam membuatku terbayang di akhir hidupku nanti. Aroma petrichor yang bercampur bau tanah basah dan penyesalan.

Sometimes we have to let go even we know it’s not possible.

Aku menggenggam jemari Indah di bahuku dengan lamat-lamat. Tiga bulan ini dia selalu ada untukku. Sejujurnya, lubang menganga di dadaku mulai tertambal meski belum sepenuhnya.

“Arifin,” kata Indah merapatkan jemarinya di rahangku, lalu ditarik ke arah wajahnya. “Hujan sudah deras. Kita harus pulang.”

“Oke.”

Aku menepuk-nepuk telapak tangan dan celanaku, lalu berdoa untuk terakhir kalinya, dan kemudian bangkit. Ingatan wajah Ayah dan Ibu masih jelas berkelindan di kepalaku. Indah benar. Sebesar apa pun penyesalanku, nggak akan bisa mengembalikan mereka. Indah menawariku sapu tangan untuk menyapu sisa air mata di pipi dan celung mata.

“Indah. Terima kasih, ya,” kataku tersenyum. Dia membalasnya. Dan itu benar-benar semanis gula.

“Ingat, aku selalu ada untukmu, oke? Jangan anggap aku kayak orang lain, dong.” Dia meraih jemariku dan menggenggamnya. Aku mencuri payung dari tangan Indah dan gantian berjalan memayungi kami.

Empat langkah dari makam, tiba-tiba langkahku tertahan. Seperti ada yang mencengkeram kedua kakiku. Indah terkejut dan menatapku heran. “Ada apa, Ari? Kok, berhenti?”

Aku tidak benar-benar mengindahkan pertanyaan Indah. Mataku terkunci pada sosok yang berdiri kira-kira seratus meter di seberangku. Dengan pakaian yang sama dengan Indah, kemeja dan celana jeans hitam, dan kerudung dengan warna serupa.

Wajah yang pernah kulihat di Warsawa. Wajah yang pernah kutemui di Yogyakarta tiga bulan lalu. Wajah yang langsung membuncahkan kenangan dari dalam hati ke ruang pikiranku.

Itu Hana. Apa yang kamu lakukan di sini?

Pandangan kita saling berpadu. Aku dan kamu. Dalam hening yang menguasai. Benar kata seseorang dalam buku yang pernah kubaca. Tiada yang baik-baik saja selama hujan menderas.

“Ari, kenapa? Kamu mematung gitu!” Indah mulai panik. Aku seperti robot yang mendadak mati mesinnya. Dia mencari ke mana arah mataku berlabuh. Setelah menemukannya, dia memasang wajah cemberut.

“Sayang, ayo pulang. Kamu mau diguyur hujan terus di situ?” nada suara Indah sedikit ketus dan mengguncang-guncangkan badanku. Aku terkesiap. Memandangi Indah yang wajahnya sudah sedikit cemberut.

“Eh, tunggu ... aku ...,” ujarku sedikit tergeragap, fokus teralihkan darimu dan juga Indah. Lalu, karena Indah kian cemberut, aku akhirnya mengikuti langkah gadis itu kembali ke parkiran. Sementara aku mengerlingkan pandangan ke arahmu lagi, memastikan itu benar-benar kamu.

Mata kita berpadu, kamu hanya diam dan menatap kepergianku. Aku benci hujan bulan November.

***

“Apa-apaan tadi, Ar?” tanya Indah masih dengan wajah cemberut ketika dia mendorong pintu rumahnya dan masuk ke dalam. Aku melempar tubuhku ke atas sofa. Indah ngeloyor ke dapur dan kembali membawa dua gelas air mineral. Dia membagikan satu kepadaku.

That was crazy ... I didn’t expect .....”

Her in there? Ya, yang aneh justru kenapa reaksimu seperti orang kemasukan setan, Ar.”

“Kamu melihatnya juga?”

“Tentu!” kata Indah duduk di sampingku. Sebelah sikunya bersandar pada kepala sofa dan bertopang ke pelipis gadis itu. Indah melemparkan sitatap dengan gurat wajah percampuran antara sedikit marah dan khawatir. Aku bisa melihatnya di matamu. “Kita sudah bicarakan ini, Sayang. Kamu sepakat melupakan semua masa lalu dan memulai sesuatu yang baru, kan? Aku senang dengan hubungan kita.”

“Ya, aku juga,” kataku meneguk air mineral dengan cepat. Rupaku memang seperti orang kesambet. Di sepanjang perjalanan dari Karet ke Simprug aku diam tanpa kata. Fokusku tidak pula jatuh ke jalan, tetapi ke momen di makam tadi—apakah Pakde dimakamkan juga di sana?

Aku mengetuk-ngetukkan jemari ke pahaku. Indah mengawasi dengan cemas. Kedua gelas kami sudah habis. “Hana ... aku sudah sepakat nggak bahas dia lagi. Cuman, tadi, aku kaget kenapa dia bisa ada di sana? Karena keluarganya tinggal di Yogyakarta. Dan tepat ketika pandangan kami bertemu ... kenangan lama itu kembali, Ndah. Aku tidak bisa menghentikannya. Terjadi begitu cepat seperti kilatan The Flash.

Indah sedikit tertawa mendengar kata The Flash; serial tv kesukaanku. Ada sedikit getir di dalamnya. “Jangan goda aku dengan recehanmu, Arifin Seno. Aku sadar betapa pernah berharganya dia di dalam hidupmu. Tetapi, ayolah, tidakkah kamu bahagia dengan apa yang kita jalani?

“Aku bahagia!”

“Lantas, kenapa satu pertemuan saja dan kamu menjadi orang lain?”

Aku terbada. Menoleh pada Indah yang matanya sudah sedikit nanar. Ada pantulan sungai yang sudah sedikit menggenanginya. Aku menggengam jemarinya. “Nggak. Aku bahagia dengan apa yang kita jalani, Sayang. Tetapi, terkadang, aku butuh waktu untuk memroses semua hal di dalam kepalaku. Aku mendiamkanmu waktu itu juga karena aku butuh waktu untuk membuktikan bahwa itu benar-benar dia.”

Indah terdiam. Sungai itu akhirnya benar-benar meluap. Aku meraih tisu di atas meja dan mengusapkannya ke kedua matanya. Sesaat, ketika tetesan air mata itu tumpah ke jemariku, ada tarikan-tarikan yang langsung menyelusup ke dadaku. Merasai sesak yang tumbuh di dada Indah.

Aku pun memeluknya erat-erat. Dalam-dalam.

“Aku nggak akan meninggalkanmu, Indah. Tiga bulan ini berjalan dengan sangat indah untukku. Atas apa yang kita lakukan bersama.”

Untuk saat ini. Dalam pelukan itu aku terkesiap. Ada sebuah suara dari dadaku, entah dari ruang yang mana, membisikkan itu di gendang telingaku. Apa maksudnya ini?

“Jangan sia-siakan kebahagiaan kita. Jangan buang itu hanya untuk masa silam yang kini memanggilmu kembali. Menghantuimu.”

Aku mengusap-usap punggungnya dengan perlahan dan kemudian melepaskan pelukan itu. Kamu tersenyum, mencium pipiku, dan kemudian beranjak ke arah dapur. Aku menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Tuhan, ada apa dengan hari ini?

  • view 112