Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Project 5 Desember 2017   22:19 WIB
16.0 Lembaran yang Berbeda

Penghujung Agustus adalah titik balik. Bagiku, bulan itu menjadi sebuah lembar baru setelah pertemuan terakhir kita bermuara pada keputusan untuk melalui jalan masing-masing. Semua langkah yang telah lalu itu gugur satu-satu. Semesta kita sudah berbeda tak memberi jembatan untuk memulai segalanya kembali. Semua sudah terbakar menjadi abu dan musnah bersama hening malam itu.

Pagi ini, matahari bulan November datang menembus melalui celah-celah ventilasi ruang pikiranku; menerangi ruangan itu yang kosong setelah kamu taklagi ada di dalamnya. Sekarang diisi oleh Indah. Dia selalu ada untukku. Tiga bulan kita menjalani rutinitas yang menyenangkan: makan siang di Kutu Buku, mengomentari perbedaan serial American God dengan novelnya, membahas novel romance lain, mampir kembali ke Kutu Buku menunggui macet, dan setelah kecupan hangat darinya di pipiku, kami berpisah jalan.

Selalu ada awal selepas akhir. Aku belajar mempercayai itu. Indah jadi sering mengunjungi ruang kerjaku dan berbincang apa saja selama Ilham tidak melihat, dan ketika Ilham menangkap basah kami, dia hanya akan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu.

Lelaki itu nggak bisa protes. Karena bagaimanapun juga, pekerjaan kami selalu beres. Namun, dia selalu memperingatkan bahwa kami seharusnya menjadi contoh teladan bagi karyawan lain. Setidaknya, keberadaan Indah di dalam hatiku bisa meredam beban yang memenuhi pikiran. Sekarang tabel-tabel berisi angka tidak pernah menjadi momok bagi kepala.

Selalu ada Indah di hadapan mataku. Selalu ada Indah di waktu luangku. Selalu ada Indah yang takpernah lelah mencoba untuk membuatku melupakanmu.

***

“Ari, aku sungguh minta maaf. Tetapi, memang sudah takdirnya begini. Andai kita punya waktu lebih dan mungkin itu cukup untuk membuatmu bertahan,” katamu di telepon ketika aku sedang berjalan menuju ruang ganti bandara.

Bertahan, katamu. Kini sudah jadi bayangan, kataku. Apakah kamu tidak sadar bahwa apa yang tersisa darimu hanyalah sebuah bayang yang lekat bersama kenanganku? Apakah kamu lupa bahwa Tuhan berkelakar kepadaku dengan memisahkan kita untuk kedua kalinya? Aku meneriakkan itu berulang kali di dalam dadaku.

Aku memutuskan panggilanmu tanpa pernah membalas ucapanmu. Kenangan. Gugur dedaunan yang ranggas dari reranting hatiku, menunggui seseorang yang kian hari kian dirantas oleh waktu. Sedari tadi suasana hatiku sungguh tidak enak, setelah tiba-tiba seorang pria tua menubrukku dari arah berlawanan menuju ruang tunggu, dan kemudian aku marah-marah. Semua mata tertuju padaku.

Sesampainya di ruang tunggu, aku memperlihatkan tiket pada meja konter di seberang mesin pemeriksa barang, lalu duduk di bangku yang kosong. Aku menatap layar ponsel lamat-lamat. Namamu tertera di sana. Lalu, setelah menimbang cukup lama, aku memutuskan untuk menghapus nomormu.

Sudah berakhir, kataku. Kini, masa silam sudah kukubur dalam-dalam. Sudah saatnya memulai lembar baru.

***

“Hei, ke mana kita hari ini?” tanya Indah, meraih lenganku dan mengalungkan di sana. Aku berdiri di ambang pintu kamarnya. Kami sepakat untuk mengenakan pakaian senada: kaus putih Pull Bear dan Levi’s biru dongker. Untuk sneakers kami punya selera masing-masing. Aku converse biru tua dan dia sneakers cokelat keluaran distro—aku lupa namanya. Sekarang pukul sepuluh.

“Kamu lupa? Jadwal rutin setiap hari pekan,” kataku tersenyum lebar. Mengawalmu menuju pintu depan. Mobilmu diparkir di luar pagar. Kamu menyusupkan kuncinya ke saku celanamu.

“Nggak bisa diubah urutannya? Bagaimana kalau nonton bola duluan sekarang baru nonton bioskop?”

Aku mencubit hidung Indah dengan pelat. “Mana ada bola jam segini. Serie-A mulainya selalu malam. Apalagi liga Polandia. Lech Poznan mainnya tengah malam. Lagipula, aku lagi ingin sekali nonton film, nih.”

“Kenapa, sih, kamu bisa suka klub Polandia? Menyebut namanya aja susah!” kata Indah menarikku keluar pagar. Aku menutupnya.

“Aku lama tinggal di sana. Jadi, sebagai penggemar bola aku harus mengikuti perkembangan sepakbola lokal. Lagipula, aku bisa menyebut nama mereka dengan baik.”

Indah tertawa mengejek. Aku tahu dia tidak suka nonton bola. Tetapi tiba-tiba mau diajak nonton bola? Semua orang pasti akan meneriakkan kami alay ketika mengetahui fakta tersebut. Ini kehidupan kami. Masa bodoh.

“Jadi kita ke mana, nih?” tanyaku. Indah belum juga memberi tahu ke mana dia ingin pergi. Perempuan selalu mengatakan terserah dan aku takingin mendengar kata itu.  Dia memasang ekspresi pura-pura mikir. Karena lama, akhirnya aku lagi yang berinisiatif. “Bagaimana kalau kita mampir ke Taman Suropati sebentar? Ikut ngelapak buku bareng komunitasnya teman sekolahku.”

Indah menimbang sebentar. Mengedutkan satu sisi bibirnya dengan telunjuk menempel pada pipinya. Aku tahu dia tidak benar-benar berpikir. Mobil melaju dan berbelok ke kanan dari ujung gang, ke jalan Arteri yang sudah mulai dipenuhi mobil. Untungnya, tidak terlalu macet.

“Lama, nih! Jadi, bagaimana?”

“Yaudah, boleh, deh. Ke Taman Suropati terus nonton Pengabdi Setan di Hollywood, dan malamnya nobar bola!”

“Oke, Sayang. Kita meluncur,” kataku membelai pipinya, kemudian mengarahkan kemudi ke arah Menteng. Memutar jalan dari  depan Gandaria City.

Tiga bulan yang membuatku lebih baik lagi. Senyuman dan ketulusan Indah yang selalu menemaniku. Ada banyak keputusan untuk meninggalkan beberapa hal di hidupku jauh di belakang. Karena kuyakin, untuk tidak kehilangan apa pun, aku harus merelakan sesuatu terlebih dahulu.

Meminjam perkataan Indah di malam tiga bulan lalu: segalanya butuh pengorbanan.

***

“Kamu yakin dengan keputusanmu, Ri?”

Indah menemaniku duduk di beranda atas rumahnya. Walaupun hanya berlantai satu, di salah satu sisi atap rumahnya dibentuk beranda yang cukup luas untuk menjemur pakaian dan dua bangku untuk duduk santai. Malam ini kami berada di sana; menikmati malam.

“Ya, aku harus membakar kenanganku tentang Hana mulai hari ini.”

“Tetapi, sampai harus berhenti menulis?”

“Aku nggak punya pilihan, Ndah.”

Langit malam ini begitu bersih—beda dengan suasana hatiku yang kacau balau selepas kamu menutup kesempatan kedua untuk kita. Meski sedikit terhalang atap-atap rumah lain di komplek perumahan Indah ini, kami masih bisa mendongakkan kepala ke langit dan menikmati samudra bintang. Mungkin, Tuhan mendengarku malam ini.

Pemandangan ini membuatku resap. Di senyap malam, aku membuang semua bagian-bagian diriku yang lekat tentangmu. Selama ini alasanku menulis adalah untuk menyampaikan perasaanku padamu. Malam ini aku memutuskan untuk berhenti mengolah kata-kata lagi.

“Tetapi, bagaimana dengan pembacamu? Bagaimana dengan hatimu? Setahuku, menulis adalah ‘jalan’ yang kamu cintai. Bahkan kamu mengatakan itu padaku sejak di Warsawa dulu.”

Aku menundukkan kepala dan memindahkan pandangan ke Indah. Dia mengucir rambutnya ke belakang, menyisikan poni yang disisir ke samping. Indah begitu sederhana malam ini. Itu yang membuatnya tampak begitu cantik malam ini.

“Aku tahu. Nggak gampang. Tetapi, bila kita ingin serius menjalani hubungan ini, aku harus berhenti menulis.”

“Kenapa?”

“Karena Hana adalah alasanku untuk menulis.”

Indah tercenung sebentar dan memberiku reaksi wajah “oh” seperti menyadari sesuatu dan kemudian seperti biasa lagi. Dia menaikkan kakinya ke celah di tengah pagar beranda bermotif itu.

“Menulislah untukku sekarang,” kata Indah singkat. Menatapku dengan sungguh-sungguh.

“Nggak bisa, Indah. Menulis dan Hana adalah satu bagian; dan itu menjadi segenggam ruang di dadaku. Aku harus berhenti agar aku bisa bahagia bersamamu mulai malam ini.”

Indah tersenyum. Dengan manis. Tidak dibuat-dibuat. Dia meraih jemariku, menggenggamnya. Mengalirkan kehangatan yang mendalam. Ya, aku akan belajar bahagia bersama Indah.

***

Inilah bagian dari hidupku yang bahagia. Apa yang kujalani dengan Indah sungguh berbeda dibandingkan sejarah pertama kami enam tahun lalu. Kali ini, baik Indah ataupun aku sudah sama-sama dewasa; masa depan adalah hal yang kerap diperbincangkan. Bahagia adalah sebuah konsep yang sama-sama sedang kita coba bangun.

Ada hidup yang sedang kujalani saat ini. Dan itulah yang harus kurawat selamanya. Suatu waktu nanti, aku akan mencapai titik di mana aku benar-benar mengikhlaskanmu. Mencapai bahagia melalui pertemuan yang baru. Kamu hidup bersama kenangan yang menjelma abu di udara malam—dan kata yang hidup di dalam rak berdebu di perpustakaan hatiku. Rak yang kini kumakamkan selamanya.

 

Karya : Muhammad Ariqy Raihan